Coro merupakan bahasa jawa dari kecoak, omong coro bermakna omongan ngelantur tapi dapat dinyatakan jujur. Maka ketenangan serupa apa lagi yang dicari di dunia yang fana ini selain kejujuran. Tulisan berikut merupakan contoh dari omong coro.

Pencarian

Adsense camp

Translate

About Me

My photo
Hi, saya pungkas nurrohman yang mencoba dewasa dengan jalan-jalan

Saturday, 19 May 2018

Resensi Buku Profesor Tua Berjiwa Muda


Di tengah hiruk pikuk kesibukan menjelang ramadan, bulan lalu saya menyempatkan untuk membeli dan membaca bukunya prof. Ariel Heryanto, berjudul Identitas dan Kenikmatan : Politik Budaya Layar Indonesia. Buku ini sebetulnya berawal dari penelitian beliau yang dibiayai oleh Australian Research Council. Tentunya inilah adalah buku terjemahan, meskipun beliau merupakan orang Indonesia produk yang beliau hasilkan berbahasa Inggris. Sedikit warning bagi anda yang terbiasa membaca buku populer. Sebaiknya anda meminjam atau membaca buku yang sudah dibuka dahulu, karena bahasa yang dipakai dalam buku ini menurut saya lebih seperti buku materi dalam perkuliahan.
Hal ini perlu saya tekankan agar anda tidak kaget ketika membaca buku ini. Meskipun begitu isi dari buku ini sangat bagus. Mengurai berbagai hal yang awalnya kita anggap biasa, beliau angkat menjadi titik tumpu penelitian. Bagi anda yang kepo dengan agenda penelitian secara teknis tidak perlu khawatir. Pasalnya Profesor Ariel menjelaskan pada tiap bab penelitian tentang metodologinya. Bahkan di beberapa bab beliau menjelaskan secara teknis, seperti pengamatan peneliti terhadap remaja saat diputarkan film G30S.
Menurut saya keseruan membaca buku ini justru pada subjek yang diteliti. Sedikit spoiler bagi kamu yang belum membaca buku ini, bahwa buku ini sebagian menjadikan film populer sebagai sumber penelitiannya. Seperti yang terkutip dalam anak judul buku ini, mengangkat budaya layar Indonesia. Film populer mulai Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, dan lain sebagainya. Beliau juga mengangkat tradisi K-Popers berhijab. Tentunya tradisi ini sudah lumrah kita lihat dalam kehidupan sehari-hari.
Ditambah lagi secara gamblang beliau juga menuliskan kejadian behind the scene sebuah film yang sudah awam kita kenal. Memang tidak semua beliau ulas tuntas, tapi hanya satu film saja. Menurut saya sebagai pembaca awam menilai buku ini sedikit membingungkan sekaligus mencerahkan. Bahkan saya harus mengulang-ulang membaca dalam sebuah halaman. Karena memang bahasa yang dipakai membuat otak saya bilang “ehmmm, anu, gimana?”, tapi masih tertolong dengan -yang saya bilang tadi- subjek penelitian yang sangat familiar bagi saya (yang tergolong Gen-Y).

0 comments:

Post a Comment