Coro merupakan bahasa jawa dari kecoak, omong coro bermakna omongan ngelantur tapi dapat dinyatakan jujur. Maka ketenangan serupa apa lagi yang dicari di dunia yang fana ini selain kejujuran. Tulisan berikut merupakan contoh dari omong coro.

Search This Blog

Translate

About Me

My photo
Hi, saya pungkas nurrohman yang mencoba dewasa dengan jalan-jalan

Thursday, 6 August 2020

Tentang Konsumsi Pemerintah


Data Pertumbuhan Ekonomi (Sumber:BPS)


Awal agustus ini dikejutkan isu resesi di manapun, mulai orang keminter di twitter hingga emak-emak muda yang biasa posting tiktok pun juga ikut menuliskan status terkait kerisauan terhadap resesi ekonomi. Lambat laun akhirnya tanggal 5 kemarin baru saya sadar, BPS telah merilis laporan ekonomi triwulan kedua (april-juni). Hasilnya anjlok tidak karu-karuan. Hasilnya minus di sana-sini. Terlebih yang menjadi sorotan adalah PDB yang sudah merah dengan angka minus 5,32. Pantas semua orang beramai-ramai khawatir terkait kondisi ekonomi kekinian.

Tapi saya merasa ada yang klop dengan data yang diberikan oleh BPS. Terlebih bagi saya yang beberapa bulan terakhir ini bergelut dengan mekanisme pencairan APBN. Ada banyak hal yang cocok dengan hasil data BPS saat triwulan kedua ini. Terlebih terkait konsumsi pemerintah, yang beberapa hari yang lalu dikoreksi mati-matian oleh presiden. Beliau mengeluhkan realisasi yang masih dibawah 50% padahal kondisi ekonomi semakin turun. Tidak ada yang salah dengan ungkapan presiden, karena negara sebagai lembaga yang paling gendut dalam mengolah keuangan. Jika semua uang masih tertahan di dalam maka sudah dipastikan dapat berdampak ke pihak swasta.

Kemarahan presiden ini jika dicocokan dengan kondisi keuangan masing-masing unit kerja di daerah (sebagai penyalur APBN) sangatlah benar. Terlebih jika ditarik garis lurus ke data yang dihasilkan BPS. Pasalnya saat triwulan kedua itu kita biasa mulai gas realisasi. Karena triwulan pertama biasanya digunakan untuk revisi DIPA dan mencocokkan data dengan usulan DIPA yang dimiliki masing-masing unit. Alih-alih penyaluran ini sudah berjalan, malah muncul regulasi baru sebagai dampak dari wabah COVID. Mulai dari kerja dari rumah, sampai pengadaan barang dan jasa harus ditunda dahulu.

Sepertinya tiap unit masih gagap akan pergeseran regulasi ini. Sehingga ada unit penyerap anggaran yang belum dapat merealisasikan kegiatan yang sudah tertulis di rencana kerja anggaran. Seperti contohnya, saat di triwulan kedua tersebut ada aturan yang menurut saya sangat mustahil untuk dilakukan di Papua Barat. Peraturan yang berasal dari kementerian keuangan tersebut memberikan batasan penanganan pengajuan pembayaran. Satu KPPN (Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara) menaungi 300 unit kerja. Namun satu hari hanya dapat melayani 150 permintaan pembayaran. Aturan ini berlangsung mulai 5 Mei 2020 sampai 15 Juni 2020. Entah apa yang melatarbelakangi lahirnya aturan yang sukses menghambat realisasi anggaran ini. Sebagai perumpamaan untuk unit sekelas Universitas Papua saja, setiap harinya rata-rata mengajukan 7 permintaan pembayaran. Tapi menjadi terhambat karena mendapat kuota pengajuan tersebut.

Untungnya peraturan tersebut tidak berlaku lama, sehingga realisasi anggaran hanya tertahan sekitar 40 hari saja. Bahkan ada sebuah unit yang tidak dapat mengajukan permintaan pembayaran sama sekali, karena lagi-lagi sinyal internet yang akhir-akhir ini menjadi ujung tombak keberhasilan realisasi tidak mereka miliki. Harus turun ke kota dahulu barulah dapat mengajukan pembayaran, tapi saat mengajukan pembayaran secara online kuota penanganan KPPN untuk hari itu sudah terpenuhi.

Memang selain kendala teknis sebagai implementasi kerja dari rumah seperti yang saya sampaikan di atas ada juga kendala anggaran yang tidak mungkin terpakai saat pandemi seperti saat ini. Salah satunya anggaran perjalanan dinas yang memiliki porsi cukup besar. Tapi kembali lagi ke hasil pengolahan data BPS, dari kesulitan yang mendera hampir selama separuh triwulan tersebut berhasil mengguncang konsumsi pemerintah. Dapat kita lihat konsumsi pemerintah turun juga sebesar 6,9 persen.

Seperti yang saya sebutkan di atas, negara sebagai lembaga gendut jika konsumsinya menurun pasti akan berdampak ke sektor swasta. Jika anggaran tersebut menumpuk di Rekening Negara dan tidak lekas turun ke masyarakat pasti ada daya beli yang turun. Apakah lantas ini sebagai faktor terbesar penurunan konsumsi secara keseluruhan? Bisa jadi. Tinggal kita simak saja hasil data BPS untuk triwulan ketiga ini. Jika tetap PDB minus dan konsumsi pemerintah sudah tidak minus, berarti analogi yang saya bangun dalam tulisan ini jelas-jelas salah.


Friday, 31 July 2020

Demo Untuk Pegawai Negeri


Tanggal 30 Juli 2020 adalah hari yang cukup bersejarah bagi pelamar lowongan kerja untuk menjadi pegawai negeri di tanah papua. Alasannya cukup dramatikal meskipun diceritakan dengan cara biasa, karena sudah sekitar dua tahun pengumuman tersebut tertunda. Jadi calon yang mendaftar untuk formasi pegawai negeri tahun 2018 baru mendapat pengumuman penerimaannya kemarin. Mungkin karena tarik ulur kebijakan antara pejabat daerah dan juga pusat. Cukup seru jika diikuti perjalanan panjang pelamar yang sangat mengharapkan menjadi manusia dengan kendaraan plat merah. Karena perjuangannya tidak seperti di jawa yang hanya berjuang di atas kertas lembar jawaban. Perjuangan mereka yang melamar di pemerintah daerah berjuang secara kertas dan juga secara politik.


Kantor BKD pegaf terbakar
Kantor BKD Dibakar


Lagi-lagi ada ketidak tepatan waktu yang menambah pikulan beban yang ditanggung pelamar di pemerintah daerah tanah papua. Saya yang saat itu menunggu pengumuman selama 6 bulan saja sudah terasa berat, apalagi mereka yang saat ini menunggu sampai bertahun-tahun. Ketidak tepatan waktu yang sangat tidak tepat tersebut membuat isu yang meluas di masyarakat berubah-ubah. Pun juga ketidak pastian dalam open recruitment menjadi cukup besar. Bayangkan saja jika kita menjadi pemberi kerja, kecukupan tenaga kerja sudah terhitung dengan matang, eh malah pas harusnya pekerjanya datang malah molor sampai tahunan. Pun juga jika dibalik jika kita berpikir di sisi pencari kerja. Rencana kita sudah matang jika diterima jadi pegawai negeri akan begini, sedangkan jika tidak rencananya akan begitu. Malah keputusan akhirnya nunggunya sampai tahunan.

Selain kemoloran tersebut, semenjak diumumkan kemarin ada pendemo yang merasa dicurangi. Entah penghitungan mereka bagaimana, yang jelas mereka merasa dibalik. Harusnya memang menurut peraturan orang asli papua(OAP) memperoleh porsi 80% sedangkan untuk non OAP 20%. Saat saya tes PNS dulu ada yang namanya formasi khusus putra-putri asli papua. Formasi ini diperuntukkan mereka yang memiliki darah asli papua (bapak atau ibunya orang papua) atau lahir besar di papua yang biasa disebut asli papua kelas tiga. Namun saat pengumuman ada beberapa pihak yang merasa justru yang lolos didominasi oleh orang non papua.


Pemalangan jalan menuju holtekamp
Pemalangan di Jayapura (sumber: @jayapuraupdate)

Karenanya hingga tulisan ini saya buat ada 4 pemerintah daerah yang didemo. Keempat kejadian demo tersebut adalah: pembakaran kantor BKD pemerintah kabupaten pegunungan arfak (foto 1), pemalangan jalan menuju jembatan Holtekamp, Jayapura (gambar 2), demo di pegunungan bintang, dan demo sekaligus pemalangan jalan di perempatan Sanggeng, Manokwari (gambar3). Tuntutan mereka seperti biasa, ingin agar keadilan dapat ditegakkan di tanah Papua. Mungkin karena mereka menganggap sebagai korban kecurangan.

Hal yang sangat unik, karena jelas di Jawa sangat jarang ditemui demo karena hasil tes yang dicurangi. Berbagai kesalahan administratif memang sangat lumrah ditemui di Jawa, namun orang tidak sampai turun ke jalan. Mungkin karena memang peluang bekerja di Jawa sangat besar, dan pamor pegawai negeri cukup merosot dibandingkan dengan Papua. Di Papua pegawai negeri masih cukup memiliki hati di kalangan kaum muda.


Pemalangan cpns sanggeng
Pemalangan Sanggeng, Manokwari (sumber: facebook arman amsa) 

Masih memiliki gengsi. Karena memang kesempatan bekerja juga tidak sebesar di Jawa. Iklim industri di Papua juga cukup sepi. Mungkin karena infrastruktur atau (agar saya tidak dianggap pro pemerintah yang gemar mendewakan infrastruktur) adat yang gemar melakukan pemblokadean aktifitas jika hak mereka tidak terpenuhi. Kedua hal ini membuat investor juga enggan membuat pabrik di tanah papua. Bahkan untuk membuat industri yang paling strategis seperti penyedia air dan listrik pun juga mikir dua kali. Kedua penyebab tersebut cukup sukses untuk membuat biaya melonjak. Alhasil industri akan sepi dan lagi-lagi menjadi pemakan uang pajak dan retribusi menjadi pilihan yang paling logis. Tarik ulur kebijakan dengan cara kecurangan pun menjadi halal saja, selama ada uang yang mengalir di rekening. Apa ini penuntutan hak berbasis kecurangan?

Monday, 22 June 2020

Sedikit Hal Baru Saya Tahu



Syekh Nursamad Kamba (sumber: akun Twitter @maiyahan)



Tahukah anda jika saya mengucap nama Nursamad Kamba? Mungkin sama sekali asing jika anda sangat jarang mengikuti kabar maiyah. Saya pun sesekali mengikuti maiyah dan baru kali ini mendapati fakta yang lumayan mengejutkan dari seorang yang biasa duduk di samping Cak Nun saat Kenduri Cinta. Beberapa hal yang menurut saya mengejutkan adalah sebagai berikut.


Profesor

Ternyata orang yang terlihat awam tersebut juga memiliki karir akademik yang lumayan moncer. Ternyata beliau merupakan profesor di bidang Tasawuf Psikoterapi. Jenjang akademisnya tidak diragukan lagi, mulai dari S1 hingga S3 di kairo mesir selama beberapa tahun di mesir tidak hanya belajar, beliau juga menelurkan berbagai pemikiran untuk kemajuan keilmuan yang beliau geluti. Semenjak mengambil gelar magister beliau sudah rutin menuangkan pemikirannya pada berbagai jurnal. Hingga akhirnya pulang dari kairo mengembangkan pendidikannya di tanah air.


Pencetus Jurusan Psikoterapi Tasawuf

Buya Kamba merupakan salah satu pencetus Tasawuf di Indonesia, beliau tidak hanya berkarir. Tapi lagi-lagi merekonstruksi pemikiran yang awalnya Tasawuf hanya sejalan dengan tirakat keagamaan, diubahnya menjadi sebuah jawaban atas kebutuhan psikologis insan manusia. Alhasil beliau mencoba memberikan pembelajaran yang diberi nama jurusan psikoterapi tasawuf di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Dari sanalah beliau bergelut dengan sesuatu yang semakin hari semakin populer di kalangan universitas islam lainnya. Hal ini ditengarai karena pemahaman beliau terhadap jurusan aqidah filsafat yang dipelajari dari timur tengah.


Ahli Fikir di Dua Pijakan

Saya mendapati istilah ini dari ngaji ihya' di youtube yang dipandu oleh gus ulil (anak mantunya gusmus). Beliau mengapresiasi Al-ghazali sebagai salah satu ilmuwan yang dapat berdiri di dua pijakan, dua pijakan tersebut adalah pijakan keilmuan tertulis (fikih, hadits, bahasa) dan keilmuan tidak tertulis (tasawuf). Dan ini jika ditarik garis secara serampangan saya menemukannya dalam seorang profesor yang kelahiran pinrang satu ini. Beliau di dalam pemikirannya ahli dalam kondisi kebatinan yang disponsori oleh ilmu psikologis, sekaligus dapat menemukan salah satu obat kebatinan dalam hal ini diwakili oleh ilmu tasawuf.


Namun sayangnya saya baru mengetahui berbagai hal tersebut kemarin saat masyarakat beramai-ramai mengucapkan belasungkawa atas kepergiannya. Sangat terlambat sekali sepertinya saya baru mengenalnya saat beliau tiada. Hanya buah pemikiran berupa tulisan saja yang kini dapat saya nikmati. Sembari mengirimkan satu dua untaian doa terhadap beliau yang sudah membuatkan buah karya. Ila ruhi syekh Muhammad Nursamad Kamba, lahumul fatihah


Sunday, 21 June 2020

Malas Nulis dan Serangkaian Evaluasinya


Hadiah event glam
Hadiah wikimedia GLAM


Akhir-akhir ini saya susah untuk menulis, bukan karena sibuk. Tapi gairah untuk menulis sudah hilang. Entah mengapa setiap saya membuka google docs (piranti untuk menulis) pasti ada saja ujian yang menghadang. Entah kerjaan yang tiba-tiba datang dari bos, atau sesuatu yang seakan diciptakan oleh semesta untuk menggagalkan niat menulis saya. Yang jelas seketika itu juga gairah untuk menuangkan isi kepala kedalam tulisan sudah musnah. Mungkin ini sebuah alasan yang melatarbelakangi saya sama sekali tidak merangkai kata untuk sebuah konten di blog yang saya miliki ini.

Awal sebuah kemalasan tersebut bermula dari adanya kompetisi di GLAM (anak cabangnya wikimedia). Bukannya menyalahkan kompetisi tersebut, tapi sekedar memaparkan hasil penelusuran selama ini. Seketika saat itu fokus saya beralih kepada tugas untuk menulis ulang scan dokumen yang diberikan oleh GLAM. Demi sebuah hadiah untuk mengikuti acara yang diperuntukkan para wikipediawan seluruh indonesia. Tapi ya seperti yang kita ketahui, saya yang memiliki karakter sangat susah berkompetisi tidak memenangkan hadiah utamanya. Namun alhamdulilahnya panitia penyelenggara masih berbaik hati mengirimkan hadiah hiburan, yaitu sebuah kaos, totebag, pin dan stiker ala anak wikimedia.

Setelah kompetisi tersebut berakhir. Alih-alih saya memfokuskan diri kembali ke rutinitas nulis, saya malah keasyikan bermain sosial media hingga lupa waktu. Mungkin ini yang harus menjadi evaluasi habis-habisan. Setidaknya harus mendisiplinkan diri untuk terus menulis. Meskipun tidak ada hadiah dari tulisan tersebut, seorang pemilik blog setidaknya harus bertanggungjawab kepada perencanaan blog yang selama ini sudah dipikirkan.

Sampai-sampai saat saya membuka blogger.com saya terperangah dengan tampilan dashboard yang sama sekali berubah. Semenjak saya tidak menulis entah berapa hari yang lalu. Awal saya membuka dashboard blogger saat menulis panduan pendaftaran. Ya itu sebetulnya adalah konten panduan saja, demi mendulang pengunjung yang bertambah. Tapi lumayan juga hasilnya, menghasilkan puluhan ribu pengunjung dalam dua hari. Setelahnya (apalagi saat pendaftaran tutup) pasti akan kembali normal kembali alias tidak ada yang mengunjungi blog saya.

Jujur saat kerja di rumah saya malah banyak membuang waktu untuk hal yang sama sekali tidak berguna, seperti menghubungi lagi mantan saya. Ujungnya hubungan tidak berangsur baik malah pesan saya hanya dibaca begitu saja tanpa tanggapan. Mungkin karena adanya putus cinta itu kali ya? Yang membuat saya enggan untuk memeras otak untuk serangkaian kata yang enak dibaca. Selain karena enggan memberikan kontribusi saya juga akhirnya enggan membaca. Beberapa buku masih belum ada yang saya baca selama kurang lebih 3 bulan ini.

Sangat tidak produktif memang, dan akhirnya saya berinisiatif untuk asal menulis saja. Curhat kesana kemari tanpa memikirkan alur tulisan yang akhirnya jadilah tulisan ini. Kata orang-orang yang sudah rutin menulis sih, cara seperti ini yang akan berhasil untuk membuka blok pikiran. Ya harapan saya semoga setelah ini tetap bisa mencurahkan pikiran dengan untaian kata yang dapat terpintal dari rangkaian huruf. Inisiatif ini apakah efektif?

Sangat relatif sebenarnya.

Tapi ini saya sudah ada berbagai ide untuk membuat sebuah tulisan. Entah nanti dapat dipublikasikan di blog ini atau di kompasiana. Yang penting sekarang ini saya omong coro dulu, setelah ini saya melanjutkan membaca buku dan berakhir dengan produktifitas yang kembali mengalir deras.

Mohon doanya ya.

Saturday, 6 June 2020

Panduan Pendaftaran Online Universitas Papua Seleksi Lokal


Universitas papua saat ini membuka pendaftaran mahasiswa baru jalur seleksi lokal secara online. Calon mahasiswa baru bisa masuk ke website :


Kalau gambarnya terlalu kecil bisa diklik biar agak besar.



lalu ikuti langkah-langkah pendaftaran seperti gambar di bawah ini.
halama login pendaftaran unipa
Halaman pendaftaran


isi biodata sementara
Isi daftar ujian sesuai dengan jam yang bisa dipenuhi



sesi ujian
jadwal jam sesi ujian

Sebaiknya sesuaikan sesi ujian dengan jam yang anda inginkan. Karena universitas papua membebaskan calon mahasiswa baru untuk ujian di jam yang tertulis di atas ini




cetak bukti pendaftaran
Cetak bukti ujian, jangan klik selesai






lembar bukti pendaftaran
Simpan Konfirmasi pendaftaran



print dan simpan baik-baik konfirmasi pendaftaran ini. seperti yang tertulis di gambar, nomor booking ini dapat digunakan untuk login setelah membayar uang pendaftaran ke BRI.

jika sudah dilakukan pembayaran, maka nomor booking dan password sudah bisa digunakan untuk masuk.
halaman login seleksi lokal unipa
Halaman Login

Saturday, 25 April 2020

Penghitung Jumlah Tarawih


Yang Penting Bisa untuk Menghitung

Bulan ramadhan adalah bulannya beribadah bagi muslim yang taat. Tak hanya berpuasa saja, serentetan ibadah sunah juga dianjurkan saat bulan ini. Salah satu ibadah sunah yang terasa berbeda adalah sholat tarawih. Bagi saya mau tidak mau di saat pandemi seperti ini adalah menuruti perintah pemerintah. Tak hanya pemerintah saja yang menyuruh ibadah sendiri di rumah, tapi juga majelis ulama merekomendasikan hal ini. Kapan lagi kadar keimanan kita yang biasa ditunjukkan di depan jamaah kompleks (yang bisa diklaim saat tarawih seperti ini waktunya bidadari kompleks sekitar rumah) ini hanya dapat disaksikan oleh malaikat dan allah. Saya rasa menjadi tantangan tersendiri saat eksistensi ibadah hanya kita persembahkan ke tuhan yang maha kuasa. Tapi masalah yang biasa saya hadapi adalah hitungan sholat tarawih. Bagi saya yang seorang pelupa rasanya akan mustahil tarawih saya lancar jika tidak ada alat bantu. Di artikel kali ini saya akan mengulas alat-alat yang bisa digunakan alat bantu dalam menghitung sekarang tarawih ke berapa?

Counter

Biasanya counter ini disebut sebagai cetekan, yang biasa digunakan anak teknik sipil dalam menghitung jumlah angkot yang melewati jalan. Tak hanya anak teknik sipil saja yang berakrab karib dengan alat ini, petugas LLAJ dan polisi lalu lintas juga menggunakan alat ini saat mendapat tugas menghitung arus mudik. Masih belum tahu? Alat ini juga biasa digunakan pramugari atau pramugara dalam menghitung penumpang di pesawat sesaat sebelum lepas landas. Biasa alat ini berbunyi cetek-cetek sehingga saya menyebutnya cetekan.
Nah alat ini bisa anda gunakan untuk membantu menghitung jumlah sholat yang sedang anda laksanakan. Selain itu juga bisa pengganti tasbih dalam menghitung jumlah kalimat yang anda ucapkan saat dzikir.

Kode Koper

Ini adalah alat alternatif jika anda tidak memiliki counter, atau juga anda enggan dalam membeli alat tersebut. Karena memang pasti akan keberatan membeli alat yang hanya berfungsi untuk menghitung saja. Jika di rumah ada koper yang berkode dapat menggunakan angka-angka dikode tersebut yang biasa ada 3 digit. Kode ini biasa berada di samping atau atas koper. Berfungsi untuk mengunci koper anda saat masuk bagasi, sehingga lebih aman. Nah kode ini kan dapat diputar dengan angka yang menunjukkan 0-9. Dari kode tersebut anda dapat pergunakan untuk mengingatkan sekarang sholat tarawih ke berapa. Koper dapat dis anda saat sholat, sehingga dengan memutar kode tersebut saat salam anda akan ingat.

Batang Lidi

Ini alternatif kedua jika di rumah para pembaca sekalian tidak ada counter ataupun koper. Batang lidi menjadi alternatif berikutnya. Caranya patahkan batang lidi tersebut menjadi 10 atau 4 bagian yang menggambarkan jumlah sholat tarawih yang akan anda ambil. Dari jumlah lidi tersebut dapat anda pindahkan ketika setelah salam sebagai pertanda anda sudah mengambil jumlah yang sudah terpindahkan. Jika tidak ada lidi dapat digantikan dengan sobekan kertas atau barang apapun. Sangat simpel kan?

Dari ketiga alat tersebut mana yang akan menemani sholat tarawihmu? Semoga dengab adanya alternatif penghitung ini dapat membantu dalam beribadah. Jangan lupa doakan agar wabah ini cepat usai.

Friday, 24 April 2020

Kemampuan Dasar yang Hilang


Makan adalah skill mendasar manusia
Makan Adalah Skill Dasar Manusia
Di musim pandemi seperti ini semakin terlihat skill dasar yang seharusnya kita miliki mulai hilang. Terbukti dengan tutupnya toko ada kekhawatiran esok tidak bisa membeli bahan makanan. Tutupnya warung makan berhasil menimbulkan kekhawatiran tidak bisa makan. Dan tutupnya berbagai penyedia kebutuhan dasar kita yang membuat kekhawatiran bagi kita pemilik uang.
Karena selama ini kita sudah dimanjakan dengan kemudahan-kemudahan. Sekali lagi kemudahan tersebut harus kita bayar dengan nominal. Alih-alih kita belajar untuk membangun kemampuan menyediakan kebutuhan dasar manusia (yaitu makan), malah kita membangun kemampuan untuk mendapatkan uang yang ujungnya juga untuk makan.
Akibat paling seram dari semua ini yaitu kita akan kesusahan untuk mendapatkan makan meskipun hidup kita berkelimpahan uang. Kurang lebih seperti saat tulisan ini saya tulis. Banyak orang memiliki uang yang khawatir esok tidak bisa makan. Alhasil kita perlahan tersadarkan oleh cobaan ini, agar kemampuan dasar kita adalah untuk mencari makan. Bukan untuk menumpuk uang dan ujungnya juga susah mencari penyedia pangan.
Sebelum saya diberikan justifikasi yang aneh-aneh saya ingin mengatakan bahwa tulisan ini saya buat bukan untuk anda yang membaca, tapi untuk saya sendiri. Jika kebetulan anda membaca ini dan tersindir, saya memohon maaf sebesar-besarnya. Karena tidak dipungkiri akan muncul komentar, "Lha memang kamu selama ini bagaimana? Begitu juga toh?".
Ya benar, saya saat ini memang masih nyaman dengan berkelindan uang. Masak pun juga masih belum bisa memenuhi kedaulatan yang mestinya menjadi hak lidah saya. Masih sangat sering membeli lauk, atau meminta tolong Budhe sebelah rumah untuk memasakkan. Tapi jika boleh saya sedikit berimajinasi. Jika terus-terusan begini, pasti kita semakin jauh dengan kedaulatan pangan. Jangankan kedaulatan pangan sekelas negara, kedaulatan pangan untuk diri kita sendiri saja kita masih kesusahan.
Angan-angan saya tarik mundur kebelakang, saat masih kecil tentunya generasi 90-an akan ingat dengan game legende "Harvest Moon". Setidaknya kita bisa separuh dari game tersebut dalam mengaplikasikan kedaulatan pangan. Untuk sepenuhnya mengaplikasikan kedaulatan pangan seperti permainan tersebut pasti sangat susah. Karena akan banyak waktu yang dikorbankan untuk mengaplikasikannya secara paripurna.
Jika sedikit-sedikit kita sudah dapat memenuhi kebutuhan dasar kita sendiri, maka meskipun jalur logistik tersendat seperti masa pandemi ini. Kita akan tetap berdaulat atas diri kita sendiri. Tidak perlu khawatir atas alur distribusi, tidak perlu berebut beras di-supplier. Dan hal ini berujung pada penghargaan kita atas sepiring nasi beserta lauk pauknya yang terhidang di jam makan. Bukan hanya penghargaan sebagai objek foto saja, yang berujung jika (sudah) tidak fotogenik kita akan membuang begitu saja. Tapi penghargaan atas terhidangnya makanan tersebut, sehingga tidak ada makanan yang tersisa apalagi terbuang.