Coro merupakan bahasa jawa dari kecoak, omong coro bermakna omongan ngelantur tapi dapat dinyatakan jujur. Maka ketenangan serupa apa lagi yang dicari di dunia yang fana ini selain kejujuran. Tulisan berikut merupakan contoh dari omong coro.

Search This Blog

Translate

About Me

My photo
Hi, saya pungkas nurrohman yang mencoba dewasa dengan jalan-jalan

Thursday, 6 May 2021

Musikalisasi Kritik


 

DPR-Musikal
Sumber: Akun Instagram (skinnyindonesian24id)

Lama sudah kita tidak mendengar nama konten kreator skinnyindonesia, setelah beberapa bulan yang lalu membuat gimmick audisi di youtube dan beberapa kali ikut mengerjakan dalam hajatan tahunan youtube yang bernama Youtube Rewind. Setelah itu tak ada konten heboh lagi dari kedua youtuber kakak-beradik tersebut.

Kemarin kanal youtube milik mereka berdua merilis hal baru, bukan vlog berbasis anak muda perkotaan seperti biasanya yang sarat dengan kalimat “asyiap”. Tapi koten kali ini yang diluncurkan adalah drama musikal. Jujur saja saya sudah lama tidak menonton drama musikal. Jika diingat-ingat lagi ini adalah drama musikal pertama kali yang saya tonton di platform youtube. Karena drama musikal terakhir yang saya tonton adalah “petualangan sherina” dan beberapa film-film kartun seperti “frozen”.

Sebetulnya saat pertama kali saya melihat judul drama ini di berita online, saya merasa antipasti. Kesan “halah pasti juga gitu-gitu aja” muncul teramat kental pada momen itu. Selain karena saya mengklasifikasikan kanal ini menjadi satu level dengan candra liaw dan atta halilintar yang kental dengan pameran harta orangtua dan minim rasa, saya juga mengangap karya fantastis yang mereka lahirkan tidak cukup fantastik bagi saya yang awam ini. Meskipun mayoritas teman-teman yang cukup kawakan dalam menilai gambar menyebutkan bahwa karya candra liaw cukup megah.

Kembali ke drama musikal yang dilahirkan skinnyindonesia. Saya melihat dalam video youtube 36 menit saya dibuat terpana. Seakan asumsi-asumsi yang saya sebutkan di paragraf 3 tersebut sama sekali tidak terbukti dalam video yang diunggah tanggal 2 mei 2021 ini. Bungkusan karya yang sarat akan kritik menjadikan saya enggan menyebut ini drama musikal, dan menggantikannya menjadi musikalisasi kritik. Gumpalan kritik terhadap dewan perwakilan rakyat sangat kental terlihat di video ini. Alih-alih menampilkan kemewahan seperti halnya youtube rewind, kedua creator yang berdarah amerika latin ini menampilkan kondisi yang sangat nyambung bagi saya sendiri.

Bagaimana tidak? Awal video dibuka dengan panggung bertingkat ala teater dengan sorot lampu bergantian. Sangat terasa aura teater panggung sederhananya. Selain itu alur ceritanya juga terkesan mewakila kegemasan pada anggota dewan. Dengan mengangkat sosok mawar yang baru terpilih menjadi dewan perwakilan rakyat dan mencoba menggedor patron ortodok yang sarat akan kemunafikan dan penyengsaraan rakyat. Mawar dipaksa untuk melawan beberapa anggota dewan yang sudah kawakan untuk sekedar memperjuangkan ideologinya, yaitu membahas rancangan undang-undang flora, agrikultur dan kehutanan (RUU F.A.K).

Seperti dalam kenyataan, dalam film yang bertajuk DPR-Musikal tersebut mawar berinovasi dalam melahirkan undang-undang hanya untuk memikirkan jangka jauh, untuk urusan-urusan yang sangat jarang dipikirkan anggota dewan karena tidak memiliki nilai ekonomi. Dalam film ini juga disebutkan bahwa bencana hilangnya hutan Papua, kebakaran hutan di Kalimantan, serta Riau menjadi latar belakang lahirnya keinginan untuk membuat peraturan mengenai RUU F.A.K. perjalananya tentu tidak mudah, ada kuota suara yang harus dirangkul di dalam anggota dewan, agar menjadikan konsep tersebut menjadi prioritas.

Dalam perjalanannya ajakan untuk merangkul kawan sebanyak-banyaknya tersebut jelas ditentang anggota yang sudah memiliki kesepakatan dengan pengusaha saat mengikuti pemilu. Anggota-anggota tersebut merupakan anggota partai besar yang bisa menjadi penentu konsep tersebut dapat dibuatkan undang-undangnya atau tidak.

Dari sini terlihat kritik yang sangat apik terangkai begitu nyata oleh skinnyindonesia. Banyak diksi-diksi yang secara tegas menyatakan kritik terselip dalam setiap bait lagu yang dinyanyikan tiap aktor dalam film tersebut. Tapi dari berbagai kritik yang mencoba untuk menggedor patron curang yang sudah mengakar di negeri ini, ada gedoran yang sangat bagus untuk mengkritiki hati nuarni saya. Yaitu pesan penutup heroik berupa tulisan putih yang tayang diatas warna hitam. Seperti peralihan drama musikal menjadi motivasi perjuangan menuju bangsa yang lebih baik. 



Thursday, 29 April 2021

Betapa Repotnya Menatausahakan Aset Militer


KRI Nanggala

Beberapa hari yang lalu, indonesia berduka atas hilangnya KRI Nanggala. Awalnya putus hubungan tapi setelah 3 hari tidak ditemukan, kapal selam tersebut dinyatakan berpatroli untuk selamanya. Ada 52 awak kapal yang ikut tenggelam di kedalam 800 meter. Isak tangis duka haru menyelimuti negeri atas menghilangnya kapal selam yang direncanakan untuk latihan menembak rudal di selat bali tersebut.

Otak liar saya lantas menerawang jauh atas bencana ini. Perlahan-lahan terawangan tersebut merapat ke aktifitas sehari-hari saya. Yaitu pelaporan keuangan instansi. Menjadi sangat menarik jika melakukan eksplorasi, "bagaimana jika saya yang menangani penatausahaan kapal selam yang hilang tersebut?". Alhasil saya iseng mencari regulasi yang pas dan memang harus dilakukan jika kapal tersebut harus dihapuskan dalam daftar aset.

Ternyata penghapusan aset kapal selam seharga 7 trilyun itu mekanismenya sama dengan penghapusan aset biasa. Kapal selam yang termasuk dalam peralatan dan mesin sama dengan kendaraan lain, juga ada klasifikasinya dalam pencatatan BMN. Sub kelasnya menjadi kendaraan bergerak dengan klasifikasi khusus. Kelas peralatan dan mesin dengan klasifikasi tersebut menurut PMK no. 296 tahun 2019 memiliki nilai manfaat 10 tahun. Jadi jika kapal selam tersebut buatan tahun 1981 dapat dikatakan aset tersebut sudah disusutkan habis. Lantas apa masih perlu dihapuskan jika aset sudah tidak memiliki nilai?

Jawabannya adalah wajib, karena pencatatan aset negara tidak hanya terkait dengan nilai aset saja, tapi juga ada pencatatan jumlah aset secara fisik. Dalam laporan BMN juga diungkapkan secara kelayakan barang tersebut dalam kondisi baik atau rusak. Jadi dapat disimpulkan meskipun kapal selam bernomor 421 ini buatan tahun 1981 tetap harus ada penghapusan jika memang sudah hilang atau rusak seperti yang sudah kita ketahui di berita. Jika tidak dihapuskan nantinya pasti ada revaluasi dan satuan kerja pemilik aset tersebut akan kesulitan jika pihak KPKNL hendak melakukan revaluasi aset.

Penghapusan aset BMN secara normal sependek sepengetahuan saya jika kendaraan umum, memang harus ada surat keterangan dari samsat terkait pajak dan kesesuaian dokumen lain antara satuan kerja pemilik aset dan samsat. Tapi untuk kapal selam yang kecelakaan seperti KRI nanggala sepertinya cukup dengan surat keterangan dari kepolisian disertai dengan dokumentasi dari basarnas sudah bisa diurus dokumen penghapusannya di KPKNL dimana satuan kerja tersebut terdaftar.

Selain penghapusan saya juga tergelitik untuk berandai-andai jika ada sumbangan kapal selam dari masyarakat. Karena akhir-akhir ini saya lihat twitternya ustad salim a fillah, ustad abdul somad, beserta akun masjid jogokaryan menginisiasi untuk patungan kapal selam untuk indonesia. Lantas saya membayangkan jika patungannya tersebut sudah dapat membeli kapal bagaimana cara pencatatannya? Kemudian perlahan-lahan saya membagi menjadi dua skenario. Skenario pertama adalah masyarakat menyumbang dalam bentuk uang. Jika masyarakat menyumbang dalam bentuk uang maka dalam risalah sumbangan tidak dapat dicatatkan langsung menjadi aset. Saat serah terima sumbangan wajib adanya bukti acara serah terima, ringkasan hibah, dan juga perjanjian hibah. Masyarakat yang menyumbang juga dapat memberikan batas waktu dan dicantumkan dalam perjanjian hibah. Setelah satuan kerja penerima sumbangan sudah mendapat uang serta ketiga dokumen, maka wajib dilakukan pengesahan hibah ke Kantor wilayah DJPb. Setelah pengesahan selesai maka dilakukan mekanisme pengadaan barang. Tentunya dengan nilai sebesar itu akan dilakukan lelang dan kemudian dilakukan pemilihan dan kemudian pembangunan unit kapal selam. Di sini pasti akan memakan waktu yang lama, maka dari itu sebaiknya dicantumkan waktu pengadaan dalam naskah perjanjian hibah.

Lain halnya jika masyarakat langsung memberikan kapal selam kepada pihak TNI AL. Mekanisme serah terima hibahnya masih sama, yaitu mensyaratkan bukti serah terima barang, perjanjian hibah dan ringkasan hibah. Setelah itu tetap dilakukan pengesahan hibah ke kanwil DJPb, setelah dilakukan pengesahan lantas dilakukan pengadministrasian aset. Pencatatan aset hibah ini dilakukan di KPKNL. Setelah mendapat persetujuan dari KPKNL baru dilakukan pencatatan aset di tingkat satuan kerja penerima hibah.

Dari serangkaian panjang ini saya lambat laun bersyukur tidak menjadi orang pelaporannya militer. Mengingat rumitnya penghapusan aset dan pengesahan hibah itu sendiri. Belajar dari kerumitan penghapusan aset di satker saya sekarang, yang mensyaratkan berbagai persyaratan yang rasanya mustahil dapat dilakukan jika sebelumnya tidak melakukan pencatatan secara tertib. Selain itu juga pengesahan hibah secara kenyataan tidak semudah apa yang saya jelaskan. Saat pengesahan dari pihak kantor wilayah DJPb biasanya meminta hal yang tidak kita sadari. Lagi-lagi saya mengambil contoh dimana tempat saya bekerja. Awalnya saat penyerahan hibah kami tidak meminta nomor pengesahan hibah daerah, eh waktu pengesahan diminta nomor pengesahan hibah dari pemerintah daerah. Semoga saja dari mekanisme pengadministrasian tersebut dilancarkan semuanya. Agar pihak administrator BMN tidak pusing dan kemudian stres seperti operator BMN ditempat saya bekerja.

Saturday, 24 April 2021

ASN Harus Punya Dana Darurat


Yang pasti hanya ketetapan tuhan
Penghasilan PNS tidak

Akhir-akhir ini saya merenung tentang keberlangsungan hidup sebagai aparatur sipil negara. Karena setelah saling bercerita tentang profesi satu ini dengan mereka yang berdinas di instansi lain, saya menarik kesimpulan yang sama, yaitu pegawai negeri sipil adalah profesi yang paling cepat terdampak terhadap kebijakan politik. Jika arah politik bergeser sedikit saja, pasti profesi kita paling pertama terkena dampaknya.

Seperti contohnya di tempat saya berdinas, mulai januari kemarin kami belum menerima tunjangan kinerja karena perubahan kementerian. Regulasi kepegawaian yang seharusnya bisa "tembus" di kementerian sebelumnya kini gagal di kementerian sekarang. Sehingga ada sedikit penyesuaian terhadap unsur-unsur yang dapat dijadikan dasar dalam mengeluarkan tunjangan tersebut. Alhasil hingga sampai april kami belum mendapat tunjangan sebagai imbas dari penyesuaian regulasi tersebut.

Yang saya ceritakan di atas merupakan contoh yang termasuk bersih, lain halnya contoh kotor seperti penurunan jabatan karena pimpinan tidak menyukai kita sebagai subjek, dan contoh-contoh kotor lain sebagai dampak dari politik. Alhasil dampak yang diderita pegawai adalah berkurangnya penghasilan. Percaya tidak percaya berkurangnya penghasilan dapat mengganggu psikologi juga. Bisa-bisa kita akan terlilit hutang jika kita tidak siap.

Karena kesiapan orang pastilah beda-beda, jika penghasilan naik tentu semua orang akan siap, lain halnya jika penghasilan turun. Mayoritas pegawai terlilit hutang karena dampak perubahan arah politik di tempatnya bekerja. Ketidak siapan secara finansial membuat aparatur sipil negara enggan dalam mengubah kebiasaan yang biasanya berpenghasilan tinggi. Lagi-lagi di sini saya menyoroti terhadap pola pikir yang mayoritas mengatakan "pegawai negeri itu sudah pasti penghasilannya". Penghasilan jelas sudah pasti tapi nominalnya yang tidak pasti. Nominal yang sudah jelas-jelas pasti adalah gaji. Untuk tunjangan, honor kegiatan dan lain-lain dapat dikatakan naik turun.

Nah dari sini kalau saya boleh menarik kesimpulan terkait perencanaan keuangan, ternyata kita yang sudah dibilang penghasilannya sudah pasti oleh segenap warga negara indonesia ini tetap gak pasti juga. Buktinya bisa saja pergantian pemimpin jabatan kita turun. Atau tidak ada angin, tidak ada hujan tiba-tiba menjadi fungsional yang berdampak pada tunjangan jabatannya hilang. Maka dari itu rasanya tetap harus memiliki dana darurat untuk menjadi pengaman finansial. Mungkin hal ini sudah sering saya sebutkan, dana darurat standar adalah biaya hidup selama 3 bulan.

Jadi selama 3 bulan tersebut kita dapat beradaptasi terhadap penghasilan baru yang lebih rendah. Setidaknya kita mendapatkan waktu lebih untuk beradaptasi tanpa adanya bantuan fiskal berupa hutang dari orang lain. Karena jika kita sudah terpuruk ditambah lagi ada hutang ibarat kata kita sudah jatuh tertimpa bunga bank lagi. Sakitnya tidak hanya di pikiran, tapi juga di kantong karena terkuras.

Tuesday, 20 April 2021

Dua Ganjalan Saat Naik Batik




Beberapa hari lalu saya melakukan perjalanan naik pesawat Batik Air, dalam perjalanan tersebut setidaknya ada dua hal yang mengganjal di benak saya. Sebetulnya ganjalan ini sudah menjadi ganjalan semenjak beberapa waktu yang lalu. Dua ganjalan tersebut adalah

Turun Diatur per Lima Baris

Saat menjelang turun sudah nyaring berbagai himbauan dari pramugari. Salah satu himbauan tersebut adalah nanti jika turun akan digilir perlima baris. Yang menggilir jelas flight attendant yang bertugas di ruang kabin tersebut. Bisa pramugari, bisa pula pramugara.

Himbauan tersebut jika didengar betul-betul pasti semua penumpang tidak ada yang berdiri untuk turun. Karena tidak ada instruksi apapun dari awak kabin. Bukannya kesal saya malah menganggap ini hal lucu.

Dari penumpangnya juga tidak nurut sama aturan, pun juga dari pemilik aturan juga enggan menjalankan aturan. Alhasil tetap terjadi desak-desakan saat turun dari pesawat.

Lah terus aturan yang dibilang harus turun per lima baris sesuai yang diinstruksikan pramugara tadi untuk apa?

Ya jelas untuk melakukan polesan agar seakan-akan maskapai tetap melaksanakan protokol kesehatan. Jika terkesan melanggar protokol kesehatan pasti akan berdampak pada bisnis mereka.

Saya kurang tahu juga apakah ini hanya dilakukan oleh maskapai bergambar canting saja. Sependek pengetahuan saya saat ke Bali kemarin menggunakan Citilink awak kabinnya tetap menginstruksikan kursi berapa yang boleh mengambil barang lalu berjalan turun.


Fasilitas Batik Entertainment

Batik entertainment adalah fasilitas hiburan yang disediakan untuk mereka yang ingin menonton film melalui ponsel. Dengan cara menyambungkan wifi ke batik entertainment penumpang sudah dapat mengakses fitur yang disediakan batik.

Tentunya hal ini tidak hanya disediakan oleh batik saja, bahkan saat ramai-ramainya kasus sepeda Brompton dibawa naik garuda, Dahlan Iskan sempat menuliskan fasilitas itu ada di maskapai Citilink. Bahkan dalam tulisan Neo Baru tersebut, abah menuliskan fasilitas wifi tersebut sudah lebih sempurna. "Hingga bisa kirim WA" katanya.

Namun yang menjadi ganjalan sekarang saat kita duduk di kursi pesawat, pasti melihat pesan seperti gambar yang saya tempelkan di awal. Mengenai pelanggaran yang tidak boleh dilakukan di pesawat lengkap dengan dasar hukum serta ancaman hukumannya.


Sumber: edorusyanto.wordpress.com

Saat terbang dari Bali ke Makassar memang saya sempat mendapat teguran dari penumpang sebelah. Karena terlalu asyik bermain hp saat lepas landas. Karena memang di tulisan pas depan mata saat duduk di kursi pesawat, ada larangan tersebut.

Tapi jika memang dilarang, kenapa harus disediakan wifi?

Lagi-lagi ada kerancuan peraturan di sini. Seperti aturan sebelumnya yang dipublikasikan tanpa harus ditegakkan. Tentu akan menjadi ambigu bagi penumpang yang akan mengikuti aturan. Apalagi seperti saya yang jelas-jelas menjadi insan madani yang senantiasa menegakkan aturan, selama ada ketentuan perundang-undangannya.

Friday, 9 April 2021

Mal pertama di manokwari




Masih ingat dalam ingatan saya, saat kami yang di manokwari ini ikut diklat online ditanya "apa di Manokwari ada mall pelayanan publik?" Oleh widyaiswara saat mata pelatihan Whole of Government. Dengan lantang dan sedikit bercanda saya jawab, "jangankan mal pelayanan publik pak, mal buat belanja saja masih belum ada". Lantas seluruh siswa diklat yang mengikuti zoom pada waktu itu tertawa. Sedikit lucu memang tapi banyak mirisnya. Di saat semua daerah bertransformasi membuat mal pelayanan publik, di Manokwari sendiri mal biasa pun tak ada.

Tapi kemirisan tersebut pertanggal 3 April 2021 kemarin sudah putus. Manokwari city mal hadir di Manokwari. Seakan menjadi sebuah telaga di tengah keringnya padang pasir. Mal yang digagas oleh Hadi dan bertempat di belakang Swissbell hotel ini menjadi barang baru yang wajib disaksikan semua orang. Husen dan Mas Mallangi hari itu juga turut meramaikan pembukaan mal dengan sekedar jalan-jalan ke sana. Pun juga firman yang dosen FKIP itu juga sudah memajang status berfoto di lantai atas dengan background langit biru disertai awan putih.

Perlahan saya mengingat ciri khas swissbel yang biasanya pasti di samping mal. Awalnya Manokwari menjadi pengecualian ciri khas hotel itu. Namun kini lagi-lagi pengecualian tersebut tercerabut. Ternyata ada rekor yang terukir pun juga ada rekor yang terhapus dalam waktu bersamaan.

Sebetulnya banyak juga yang didobrak dari pembangunan mal yang sebetulnya sudah mau grand opening pada tahun lalu. Selain menjadi mal pertama di Manokwari, juga menjadi gedung bioskop pertama di Manokwari. Namun gedung bioskop itu masih belum dioperasikan. Entah memang masih belum siap atau menunggu tuan covid parlente dari negeri cina itu lenyap. Yang penting ini menjadi angin segar bagi saya yang memiliki circle pecandu film terbaru. Biar tidak ada drama menunggu film tersebut tayang di layar batik air lagi saat ada film baru.

Semoga saja mal ini dapat awet, tidak seperti fasilitas pemerintah lainnya. Meskipun mal ini bukan fasilitas pemerintah. Dan juga semoga mal ini dapat menjadi saingan yang seimbang untuk toko nurati dalam hal "The Real Toserba On Manokwari"

Friday, 2 April 2021

Beragama yang Berbahaya


Surat wasiat teroris
Surat wasiat dari teroris untuk keluarga


Minggu kemarin ada peledakan bom bunuh diri di depan gereja katedral. Hari minggu merupakan hari untuk beribadah bagi umat kristiani. Mungkin sang teroris memang menyasar momen tersebut. Untuk memberikan teror pada umat kristiani. Di dalam cctv juga tergambar jelas sang peneror memakai busana muslim dalam melakukan terornya.

Selang Tiga hari tepatnya hari rabu terjadi pula penembakan. Sebetulnya bukan penembakan sih, tapi lebih tepatnya aksi bunuh diri dari seorang yang ingin dianggap teroris. Karena penyerangnya juga hanya memakai pistol dan yang diserang markas besar polisi. Mendatangi markas besar polisi dengan pistol hanyalah aksi bunuh diri. Namun hal ini menurut berita berhasil disebut sebuah aksi teror karena berhasil menghadirkan ketakutan. Wanita muda belia ini dilumpuhkan hingga tewas hanya sampai di depan pos penjagaan. Tak heran memang, karena hanya bersenjata pistol gagal merangsek masuk markas berisi ribuan polisi dengan senjata lengkap merupakan kelumrahan.

Yang menarik bukan aksi terornya yang terjadi dua kali dalam seminggu. Tapi yang melatarbelakangi mereka melakukan aksi teror. Karena selang beberapa hari mulai beredar surat wasiat dari peneror yang melepaskan 6 tembakan di markas besar polri. Surat wasiat tersebut berisi permohonan maaf dari mbak-mbak berkerudung biru ini.

Tak hanya berisi permohonan maaf, tapi juga ada kesan bahwa sang peneror sudah kalah dengan kerasnya kehidupan. Surat tersebut diawali dengan permohonan maaf karena tidak dapat membalas kebaikan orang tuanya. Berlanjut dengan memberikan jastifikasi terkait tata kenegaraan yang terkesan digagas oleh pemerintahan yang sesat dan tidak sesuai dengan agama islam. Dalam secarik surat yang berisi dua halaman itu juga ada pesan untuk para keluarga agar beribadah dan meninggalkan hal yang sekiranya mendatangkan dosa.

Dari sini saya bisa belajar, betapa berbahayanya jika separuh-separuh dalam beragama. Ingin fokus beragama dengan mempermasalahkan agama lain akan menjadi beban tersendiri. Kira-kira dalam surat tersebut sang peneror seakan mempermasalahkan kekayaan orang lain yang tidak teguh dalam beragama. Yang lain beragama dengan sekenanya tapi kok malah kaya? Sedangkan dia sendiri beragama dengan teguh tapi kok malah gagal membahagiakan orang tua. Seakan sang penulis merasa bersalah atas keteguhan beragamanya sendiri.

Alhasil ada pemikiran lain yang masuk dan ada kemungkinan menjadikan sang peneror menjadi eksklusif jadilah penyerangan yang terkesan bunuh diri tersebut dilakukan. Korbannya tidak seberapa malah sang penerornya yang terbunuh. Yang untung ya yang menanamkan ideologi. Sang penanam ideologi sudah untung besar, karena berhasil meracuni orang hingga melancarkan aksi teror.

Maka dari itu marilah kita beragama dengan lurus, hingga kita takut menyakiti umat beragama lain. Tanpa pemikiran seperti ini bisa-bisa malah kita terjebak dalam tingkat eksklusifitas beragama. Sehingga kita menjadikan kematian adalah hal biasa, apalagi saat kita menjadi kaum yang kalah dalam mengarungi kerasnya kehidupan. Sang peneror ini dapat kita jadikan contoh betapa berbahayanya keinginan untuk menjadi pemenang.

Alih-alih agama menjadikan sebagai penenang, malah kita jadikan ajang untuk berkompetisi menjadi pemenang. Rasa untuk menggenggam kejayaan menjadi hal yang nyata. Tidak memiliki harta malah merendahkan mereka yang berkelindan harta. Sehingga keikhlasan dalam menjalani perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya menjadi kegamangan tersendiri.

Friday, 26 March 2021

Kehilangan Karena Covid


Swab antigen
Langsung Tes Swab Antigen

Semua sudah ditakdirkan namun dalam islam masih mengenal qadha (qadla') dan kadar (qadar). Mungkin ini yang menimpa keluarga Mas Tomo. Seperti yang sempat saya ceritakan dahulu dalam catatan harian selama kerusuhan di manokwari. Mas Tomo merupakan sosok yang sangat berjasa dalam kehidupan saya selama di papua. Beliau yang memberikan tempat saat saya masih belum memiliki tempat tinggal di Manokwari, selama kerusuhan mungkin tanpa peran Mas Tomo saya akan menemukan kesulitan yang cukup berat.

Kemarin hari selasa beliau mendapat cobaan yang cukup berat, yaitu kehilangan istrinya yang sangat dicintai. Awal mula istrinya mengidap malaria, penyakit endemik papua yang cukup berbahasa ini sudah melanda tubuh mbak Mufidah selama seminggu. Namun tidak dibawa ke dokter. Hingga hari senin, kondisinya terus menurun tanpa menemukan obat yang manjur. Alhasil mbak dibawa ke rumah sakit, seperti yang sudah kita ketahui saat musim covid ini mencari rumah sakit sesulit mencari jodoh. Karena sudah tidak ada tempat lagi. Di Manokwari pun juga begitu.

Pak Heru tetangga Mas Tomo yang mengantarkan ke rumah sakit bercerita, bahwa susah mencari rumah sakit untuk menangani sakit malaria mbak Mufidah. Alhasil memakai cara "orang dalam" dan menemukan tempat untuk dirawat di RS Angkatan Laut. Sebelum dirawat tentunya di SWAB dahulu untuk menentukan calon pasien ini mengidap Corona atau tidak. Hasil SWAB ternyata reaktif. Dan ada yang bilang, Belakangan sebelum mengidap malaria beliau bersama ibu-ibu pengajian berlatih sholawat di rumah ini. Sudah Malaria terkena covid pula lengkap sudah penderitaan Mbak Mufidah.

Hari selasa, kira-kira jam setengah 5 saya mendapat telepon dari Mas Tomo sembari menangis beliau hanya berucap, "innalilahi wainnailaihi rajiun". Kalimat pendek itu pun berhasil membuat saya mengetahui bahwa mbak sudah tiada. Tanpa ada kalimat lanjutan lagi telepon pun dimatikan seketika oleh Mas Tomo. Saat itu pikiran saya mulai berkelana, apa yang harus dilakukan di situasi mencekam sepagi itu. Mau ke Rumkital (rumah sakit angkatan laut) pun juga terlalu pagi.

Selang 30 menit setelah sholat subuh saya memilih untuk menelpon kembali dan menanyakan apa yang harus dilakukan. Seperti halnya suami lain yang baru kehilangan istrinya, Mas Tomo sepertinya masih dalam kondisi terpukul. Dan menyuruh saya ke rumah sakit untuk mengambil kunci rumah dan membuka rumah duka. Tanpa berpikir panjang saya langsung menuju rumah sakit untuk mengambil kunci dan membuka rumah.

Sesampainya di rumah saya mendapati tetangga kiri-kanan sudah mulai memasang terpal dan menata kursi. Saya pun langsung membuka gerbang serta pintu rumah dan menata meja kursi persiapan untuk kedatangan jenazah. Saat itu saya masih belum mengetahui bahwa mbak ternyata dikuburkan dengan cara covid. Setelah beres semua barulah pukul 9 saya menelpon kembali untuk menanyakan jenazah ditangani di rumah atau di rumah sakit dan dijawab dengan singkat bahwa "jenazah langsung dibawa ke pemakaman, tidak mampir ke rumah." Dari sini barulah saya mengetahui bahwa jenazah memang meninggal karena corona.

Singkat cerita setelah selesai pemakaman Mas Tomo pulang ke rumah, raut sedih kecewa dan terpukul terpampang jelas di mukanya. Dengan memakai masker air mata terus menetes di wajahnya. Tak ada lagi orang yang menemani di perantauan. Anaknya pun masih di Malang, kondisi terpukul masih menyelimuti pria yang berjasa dalam hidup saya ini. Saya memilih untuk membiarkan dia meluapkan kesedihannya hingga kesedihannya pudar dengan sendirinya. Saya temani hingga semuanya pulih dan normal kembali. Sembari saya memulihkan mentalnya, saya juga bantu untuk kegiatan tahlil di masjid.

Di hari ketiga hasil tes SWAB PCR beliau keluar dan dinyatakan positif. Saat hari kedua sudah menunjukkan gejala positif memang, kondisi batuk kering yang terjadi seperti yang diceritakan imam darto saat di channel youtubenya gofar hilman. Hari ketiga sudah sangat parah batuknya, saya semakin hari semakin rajin untuk mencuci tangan. Saat hari ketiga ini Mas Tomo dijemput tim covid untuk kemudian tinggal di rumah susun PU yang difungsikan untuk mengisolasi pasien covid yang tidak terlalu parah.

Setelah beliau dibawa oleh petugas penanganan pandemi dengan mobil terios hitam, saya menyemprot kembali seluruh ruangan yang ada di rumah ini. Setelahnya saya memilih untuk SWAB antigen sebelum pulang ke kontrakan. Dan hasilnya negatif.

Tiga hari ini saya menjadi merenung kembali atas risiko terbesar saat di perantauan. Tanpa sanak famili, tanpa ada saudara yang memiliki hubungan darah. Kondisi psikis yang tidak stabil terpampang jelas di tubuh Mas Tomo. Pemulihan psikis pasca kehilangan juga tidak dilakukan oleh siapapun. Teman dekat dan tetangga dekat hanya dapat menemani saat acara pemakaman, selebihnya dia sendirian di rumah memulihkan kondisi psikis sembari telpon ke saudara yang ada di jawa. Dari sini saya menyadari bahwa sadisnya covid tidak hanya memenuhi paru-paru dengan cairan, tapi juga ada luapan kesedihan dan kehilangan pada mereka yang ditinggal pergi untuk selamanya.