Coro merupakan bahasa jawa dari kecoak, omong coro bermakna omongan ngelantur tapi dapat dinyatakan jujur. Maka ketenangan serupa apa lagi yang dicari di dunia yang fana ini selain kejujuran. Tulisan berikut merupakan contoh dari omong coro.

Pencarian

Adsense camp

Translate

About Me

My photo
Hi, saya pungkas nurrohman yang mencoba dewasa dengan jalan-jalan

Saturday, 2 February 2019

Diary Pengorbanan untuk Bapak


Dear diary,
Ternyata menuruti kemauan orang tua demi meminta ridhonya tidak selalu mudah, aku kira mencari ridho orang tua hanya sebatas menuruti kemauan sekolah yang hanya setor badan tanpa harus setor uang. Ternyata salah, tak semudah itu ferguso.
Menuruti kemauan orang tua sesusah ingin menjadi entrepreneur tapi orang tua ingin anaknya menjadi pegawai negeri. Awalnya keinginan itu saya anggap bisa diakali, salah satunya dengan hanya sebatas daftar tes PNS. Tanpa belajar, tanpa rasa optimis, dan tanpa rencana “bila jadi PNS beneran nanti bagaimana?”.
Saya mencoba hal itu, dengan tidak memikul beban maka saya kerjakan semua soal tes CPNS Kemenristekdikti untuk unit kerja Univ. Papua. Saat itu tes Seleksi Kompetensi Dasar ada di Surabaya. Dan hasilnya saya tidak lolos passing grade yang ditetapkan.
Bersyukur? Pastinya. Saat keluar gedung secepat kilat saya kabarkan kepada bapak bahwa saya masih belum lolos (dengan nada kecewa yang di dramatisir).
Cpns rambut gondrong
Bahkan saat tes masih enggan potong rambut

Dua bulan berselang muncullah pengumuman tes Seleksi Kompetensi Dasar (SKD). Banyak yang bilang pengumuman tersebut tidak dapat di download, kecemasan tersebut berbuah ide kreatif untuk re-upload dan menyematkan link di blog saya. Tentunya untuk menambahkan trafik blog saya agar lebih WOW.
Saat sibuk memproses strategi re-upload tiba-tiba ada WhatsApp masuk dari Beti teman saya kuliah. Dia tanya link pengumuman SKD, saya berikan link tersebut meskipun saya belum pernah membacanya. Setengah jam berselang dia chat lagi, berisi ucapan selamat atas kelulusan saya.
Wadaw, itulah ekspresi pertama saya. Kok jadi gini? Dan lain sebagainya.
Singkat cerita re-upload sudah selesai, link blog saya sudah tersebar di beberapa pertanyaan yang sangat intens di Twitter ataupun Facebook. Saya pun membicarakan kelulusan ini pada bapak, ekspresi gembira otomatis terpancar dari mukanya. Kekecewaan saya pada diri saya yang lulus tes CPNS tersebut langsung hilang.
Selang beberapa hari muncullah pengumuman tes yang menjelaskan bahwa tes akan terselenggara 2 hari setelah pengumuman tersebut terbit, dan yang paling membuat adrenalin saya memuncak adalah tes tersebut bertempat di Sorong.
Singkat cerita bapak menyuruh berangkat dan uangnya beliau beri hutang. Pikiran pun terpecah, bila uang tiket pulang pergi total seharga 5 juta rupiah bisa untuk ekspansi toko yang saya punya. Kenapa harus berhutang untuk sekedar tes yang belum menemukan kepastian.
Tapi demi menuruti orang tua saya tetap mengambil jalan terjal tersebut. Dengan niat dan trik mengakali yang sama. Yaitu hanya sekedar tes tanpa belajar dan berpikir. Karena sepertinya pada saat itu saya berpendapat saya tetap menjaga toko kelontong yang saya punya.
Bahkan saat tes di Sorong saya sempat menawarkan opsi menyerah kepada saingan saya. Opsi tersebut kurang lebih seperti ini “mbak, bayar saya satu juta rupiah untuk ke Raja Ampat maka saya tidak akan mengikuti tes”. Karena saat itu saya hanya memiliki satu saingan saja, bila saya tidak mengikuti tes, dia pasti akan lolos sebagai calon tunggal.
Sangat disayangkan, dia menolak sampai saya tawarkan tiga kali. Ya sudahlah mungkin saya memang harus menyelesaikan kewajiban mengerjakan tes ini.
Gundul sebelum cpns
Baru potong saat H-1 keberangkatan ke Manokwari

Singkat cerita selang beberapa hari saya menanyakan hasil tes saingan saya ke orang yang duduk di sampingnya. Dia bilang nilai dia hanya 180 sedangkan saya mendapat 285. Otomatis saya lebih tinggi dari dia. Benar saja, saat hasil kelulusan diumumkan saya masuk sebagai CPNS yang lolos.
Mulai gamang, galau, dan bingung. Karena harus melepas toko, bukan karena saya harus bertugas di Manokwari. Saya malah bersyukur karena bertugas di tanah yang katanya surga kecil jatuh ke bumi. Papua adalah salah satu idaman saya, selain karena ada nasionalisme yang dibangun juga ada alam dan suku budaya yang sama sekali berbeda.
Mungkin bila saya melawan bapak tak akan mendapatkan kesempatan untuk ke Papua. Di pulau kelima yang pernah saya kunjungi ini, saya ingin menghabiskan masa hidup sampai tua kalau bisa. Saya ingin menikmati pengorbanan saya untuk mendapat restu bapak dan yang terpenting saya ingin berkontribusi lebih pada ibu pertiwi, memperjuangkan kalimat “indonesia bukan hanya di jawa”.

0 comments:

Post a Comment