Coro merupakan bahasa jawa dari kecoak, omong coro bermakna omongan ngelantur tapi dapat dinyatakan jujur. Maka ketenangan serupa apa lagi yang dicari di dunia yang fana ini selain kejujuran. Tulisan berikut merupakan contoh dari omong coro.

Pencarian

Translate

About Me

My photo
Hi, saya pungkas nurrohman yang mencoba dewasa dengan jalan-jalan

Saturday, 22 June 2019

Setitik Nila yang Hampir Rusak (1)


Nila hampir rusak
Sumber: https://twitter.com/bemb_beng

Hari ini Nila merasa uring-uringan. Ditengarai hari ini ada alasan terlalu baik yang diucapkan Hendri pacarnya. Kutukan bercampur sumpah serapah mewarnai hari-hari Nila.
Sebetulnya alasan Hendri memutuskan Nila karena saat pesta semalam ia menolak untuk diajak tidur. “Memang semua cowok bangsat semua”. Semenjak itu Nila seakan gontai kehilangan belahan jiwanya. Ibarat separuh dari kehidupannya dibawa lari Hendri yang memutuskan untuk berpisah.
Hampir tujuh hari Nila tidak keluar kamar, tidak makan, dan tidak kuliah. Ibarat seorang Putri dalam lagu Jamrud, gadis belia yang baru melek ini memilih untuk tidak meninggalkan kamarnya dan membuat status galau di berbagai sosial media sembari sesekali melihat foto kebersamaannya dengan Hendri.
Ibarat luka gores, perlahan-lahan pasti sembuh juga. Sejalan dengan bergantinya waktu seorang mahasiswa sastra semester 4 tersebut mulai bisa menyembuhkan luka lama. Serpihan luka yang dulu tergores cukup dalam kini mulai sembuh.
Berganti semester Nila mulai menyembuhkan diri dengan sering mengikuti kajian dari unit kerohanian islam. Perubahannya cukup drastis, dari Anila yang dulu sering tidak sholat kini mulai rajin sholat wajib beserta sholat sunahnya. Dulu sering jalan-jalan ke mall yang lumayan dekat dengan kampus, namun kini lebih sering menghadiri kajian-kajian yang diadakan pihak kampus dan beberapa organisasi lainnya.
***
Lambat laun Nila menjadi Nila yang baru. Menjadi sosok muslimah idaman dengan baluran gamis dan cadar yang tidak lain hanya digunakan untuk menutup aurat. Renovasi tidak hanya terlihat dari sosok nyatanya saja, melainkan akun sosial medianya juga begitu. Kini foto wajah tidak menghiasi instagram, mengingat foto wajah perempuan adalah aurat, maka dia lebih memilih untuk menghiasi dinding instagramnya dengan ajakan beribadah dan amalan sunah lainnya.
Banyak yang berubah dengan Nila, bahkan jaringan pertemanannya pun ikut berubah. Kini mayoritas temannya adalah aktifis keagamaan kampus yang dulu sering ia jadikan bahan omongan di kantin saat menunggu kelas. Maka dari itu saat wisuda kelulusan ini, Nila memilih untuk memakai sarung tangan dan sama sekali tidak memakai make up.
Terpaksa wajah cantiknya yang berbalut hijab coklat terlihat oleh khalayak yang masuk gedung utama tempat wisuda. Karena memang pihak universitas tidak merestui pemakaian cadar pada saat wisuda. Meskipun tidak muhrim dengan bapak rektor, Nila tetap bersalaman dengan sarung tangan sebagai satir agar tidak bersentuhan secara langsung.
Di dalam gedung wisuda, banyak yang tercengang dengan perubahan mantan mahasiswa hedon ini. Termasuk Hendri, diam-diam ia menyesali keputusannya untuk meninggalkan Nila. Seakan tidak menghiraukan perubahan yang dialami Nila, Hendri dengan santainya memeluk Nila dari belakang dan membawa satu bouquet mawar yang indah.
“Selamat wisuda ya mantan”, sepersekian detik berikutnya. PLAK! Tangan Nila berhasil mendarat di pipi Hendri dengan keras. “Bukan muhrim tau! Dasar gak sopan!”.
Hendri dengan wajah merah pun meminta maaf namun Nila mengabaikannya. Entah wajah Hendri merah karena tamparan yang teramat keras atau karena malu. Dengan merundukkan wajah, Hendri pergi begitu saja dengan menggenggam bouquet yang gagal diterima karena ketidak sopanannya.
***
Setelah lulus kuliah Nila tetap mengikuti kajian-kajian di kampus ataupun di luar kampus. Rupanya kelulusannya tak sedikitpun menyurutkan minatnya untuk memahami beberapa firman tuhan. Karena sudah terpatri kuat didalam hatinya ilmu yang sangat penting di muka bumi ini adalah ilmu agama.
Pagi itu Nila ikut pengajian Habib Turmudzi di masjid Al-Ishlah. Ini adalah pertama kalinya ia mengikuti pengajian Habib muda nan kharismatik ini, atas ajakan teman Rohisnya dulu bernama Gendis. Menurut Gendis Habib satu ini memiliki hukum yang lumayan tegas, tidak pandang bulu dalam memberikan hukum halal haram pada sebuah kasus. Makanya Nila diajak untuk menimba ilmu di sana.
Tapi saat kedatangan ada yang aneh, Nila disambut Gendis di depan masjid dan langsung mengajak Nila duduk di depan layaknya tamu agung. Kali ini campur aduk antara gemetar, senang, dan bertanya-tanya mendera hatinya. Seakan Nila sudah diberikan kehormatan oleh Gendis dan entah kenapa Gendis juga seakan mudah untuk mengajak Nila duduk di depan ratusan jamaah yang hadir.
Nila pun sepanjang pengajian mendengarkan dengan sungguh-sungguh sembari menyunggingkan senyum di balik cadar saat pengajian mulai hingga usai. Rupanya gadis manis ini masih merasa bahagia karena bisa diistimewakan Gendis sang teman lamanya. Hingga pulang pun Nila masih menyunggingkan senyum di sepanjang jalan antara masjid dan rumahnya.

*Ini cerita selanjutnya

0 comments:

Post a Comment