Coro merupakan bahasa jawa dari kecoak, omong coro bermakna omongan ngelantur tapi dapat dinyatakan jujur. Maka ketenangan serupa apa lagi yang dicari di dunia yang fana ini selain kejujuran. Tulisan berikut merupakan contoh dari omong coro.

Translate

About Me

My photo
Hi, saya pungkas nurrohman yang mencoba dewasa dengan jalan-jalan

Monday, 12 February 2018

Serangan Sinar Ultrafeng Untuk Mpok Lela


Di sabtu sore ada sebuah tayangan yang sarat akan sampah ruang siar publik, apalagi kalau tidak tentang siaran live nikahan artis. Berbeda dengan live siaran olahraga, live kali ini nikahannya memang tak memberikan dampak buruk -seperti film Dilan yang ngejudge semua orang gak kuat- bagi penonton. Namun juga tak memberikan dampak baik juga bagi penonton.
Persis seperti makanan sampah yang bahasa Inggrisnya junk food. Nutrisi dan kandungan racunnya dapat dikatakan sama-sama kosongnya.
Nikahan yang terselenggara di pantai ancol ini berlangsung sangat glamour nan khayal. Seperti melihat Vicky bermain outdoor dengan meloncat dari helikopter dan beberapa aksi menegangkan -menurut Vicky sendiri- lainnya. Entah apa yang ada di benak orang trans tv corporate, seakan penonton dijadikan pengasuh Vicky dan Angel Lelga yang main nikah-nikahan.
Kok gak sekalian tim kreatifnya membuat perosotan setinggi setengah kilometer khusus buat nikahan mereka. Minimal gak setengah-setengah untuk menyajikan aksi yang menegangkan. Agar biayanya tidak terlalu mahal prosotannya dibuat dari styrofoam saja, toh hanya dipakai sekali saja.
Sangat mengecewakannya lagi saat akad nikah, akad apa-apaan itu? Menyebut nama Mpok Lela dengan nama artisnya. Kayak gak pernah dapat pembelajaran fiqih dari partai politik berlambang ka’bah saja. Sialnya figur seperti itu yang menyerap pajak rokok saya. Bayangkan anda ngerokok pajaknya perbatang paling murah 100 rupiah. Diserap untuk anggota dewan yang semanis itu, sangat mengurangi kenikmatan menghisab rokok dan keikhlasan untuk membayar denda tilang.
Entah itu adalah keluguan yang dibentuk untuk mendaki tangga popularitas atau memang kenihilan pengetahuan dari otak sang anggota dewan. Sesungguhnya ini adalah bencana moralitas yang terpercik sinar ultra feng terbalut dengan greenday. Bingung kan? Jangan khawatir, kebingungan anda telah ditemani jutaan orang indonesia yang melihat Vicky menyelam (ini lebih layak disebut berenang) dan berujung pinsan jadi-jadian.
Belum lagi para jomblo seperti saya, yang dapat dipastikan dilanda degradasi moral yang bertubi-tubi. Selain karena nikahan yang terlaksana di sabtu malam, juga ada aksi memberikan cincin yang katanya 200 juta. Sangat membikin congor saya mengucap kata jiangkrik sesuai kaidah bahasa dan tajwid. Mungkin ini tanda-tanda akhir zaman yang lebih tragis dari kemunculan ya’jud ma’jud. Wallahu a’lam bishowab.

0 comments:

Post a Comment