Coro merupakan bahasa jawa dari kecoak, omong coro bermakna omongan ngelantur tapi dapat dinyatakan jujur. Maka ketenangan serupa apa lagi yang dicari di dunia yang fana ini selain kejujuran. Tulisan berikut merupakan contoh dari omong coro.

Translate

About Me

My photo
Hi, saya pungkas nurrohman yang mencoba dewasa dengan jalan-jalan

Monday, 25 June 2018

Patut Bersyukur dengan Jalan Tol yang Panjang


Program “pemanjangan” tol akhir-akhir ini mulai gempar digembar-gemborkan. Sampai pada kesimpulan negeri ini akan gembur jika infrastruktur digenjot sedemikian mungkin. Tak dapat menutup mata jika ada bermacam efek positive yang ditimbulkan dari pembangunan tol. Selain sebagai resep mujarab pemerataan ekonomi, tol juga dapat mempercepat jarak tempuh.

Benar saja dengan aturan lumrah batas kecepatan tol antara 60-100 km/jam, yang biasanya hanya memakai gigi 4 ketika melaju dijalan biasa, saat masuk tol akan terpakai top gear. Tak ada macet di tol -kecuali ketika pintu tol tak efektif- dengan luas yang dapat menampung dua sampai tiga mobil.
Hal itu baru saya saksikan saat melaju dari gerbang tol Tamandayu keluar di gerbang tol Gresik. Menjadi sangat awesome ketika ada tulisan jarak total menuju Rembang. Terbayang jauhnya jarak tempuh ratusan kilometer hanya dapat ditempuh kurang dari satu jam.
Keindahan Sunrise exit tol tj. Perak

Dengan cara keluar masuk jalan tol yang membentang dari Tamandayu sampai Gresik rupanya sangat membantu. Selain itu ada kabar baik pula, mulai awal tahun 2019 tol Malang-Pandaan akan mulai di-geber. Artinya, bila berangkat dari Malang kita bisa masuk tol dan keluar pintu tol Gresik. Sangat singkat dan simple bila dibandingkan lewan jalan kota.
Tak perlu repot menunggu lalu lalang penyebrang, pun juga dapat cuek dengan aktifitas pasar yang jika diusut merupakan salah satu faktor kemacetan. Dengan sedikit catatan doa, agar tetap terawat dan terkelola dengan profesional.
Pintu tol Gresik
Pengguna jalan tol pun sebaiknya lebih profesional pula, dengan tetap mematuhi rambu-rambu lalu lintas yang tertancap. Contohnya tidak melanggar lajur yang seharusnya tidak terlewati, eh kalau masalah lajur sepertinya semuanya sih. Soalnya kemarin saat liat mobil double cabin bertuliskan Jasa Marga pun juga melanggar. Setelah lewat lajur kiri (dengan garis jalan tidak putus-putus) sekonyong-konyong pindah jalur ke lajur kanan.

0 comments:

Post a Comment