Coro merupakan bahasa jawa dari kecoak, omong coro bermakna omongan ngelantur tapi dapat dinyatakan jujur. Maka ketenangan serupa apa lagi yang dicari di dunia yang fana ini selain kejujuran. Tulisan berikut merupakan contoh dari omong coro.

Search This Blog

Translate

About Me

My photo
Hi, saya pungkas nurrohman yang mencoba dewasa dengan jalan-jalan

Sunday, 2 February 2020

Selain aku


Malam itu terasa sangat panas, tidak seperti biasa Luna malam ini berusaha menyalakan kipas angin dan kembali menonton televisi. "Terpaan suhu panas pada akhir-akhir ini, disebabkan karena pemanasan global". Papar seorang pakar ilmu lingkungan di dalam televisi tersebut. "Pantesan bulan januari yang harus hujan sehari-hari malah jadi kering seperti ini", celetuk luna sembari memencet remote kipas angin untuk mengubahnya menjadi kecepatan penuh.
Tiba-tiba terlintas di otaknya untuk membuat gerakan yang dapat menimbulkan efek gebrakan. Gerakan untuk mengantisipasi bumi yang semakin panas meradang. Di televisi yang masih tetap di hadapannya pakar tersebut berkata bahwa kekeringan tersebut merupakan efek dari banyaknya lahan yang gundul. Banyak tanaman yang mulai ditebang. Sederhanya manusia bernafas dengan oksigen tapi penghasil oksigennya kian hari kian sedikit. Pantas saja bumi semakin panas.
Sembari makan snack kemasan Luna menyimak penjelasan tersebut. Guna memikirkan gebrakan apa yang dapat ia lakukan untuk menghalau bumi yang semakin panas. Diraihlah telepon pintar yang berada di sampingnya. Dengan iseng ia mengetikkan ide untuk menanam pohon bersama lalu ajakan pendek tersebut dikirim ke Twitter dan Facebook miliknya. Setelah itu ia kembali mengalihkan perhatiannya ke acara televisi.
Diskusi tersebut semakin seru untuk diikuti karena menghadirkan kelompok yang kontra dengan gagasan menanam pohon. "Kok sangat pintar sekali orang ini ya? Bumi sudah panas kok ada gagasan bagus seperti ini malah kontra, rumahnya sudah ada AC-nya kali nih orang", geram Luna saat kelompok yang menentang gagasan tersebut mulai angkat bicara.
Namun rasa geram tersebut tidak berlangsung lama, ketika kelompok yang berasal dari luar jawa tersebut mulai menyampaikan pendapatnya. Ternyata kelompok tersebut adalah kelompok yang ingin memperjuangkan desanya untuk maju seperti di kota. Pak Ubaldus yang mewakili kelompok tersebut memang sangat memahami suhu perkotaan yang makin panas. Tapi di kota sudah ada listrik, mati sedikit sudah mendapat ganti rugi.
Sangat kontras dengan desanya, meskipun sehari sekali mati tetap tidak ada ganti rugi. Alhasil kelompoknya mengusulkan untuk perusahaan listrik mendirikan pembangkit baru. Tapi gagal. Karena kelompok peduli lingkungan yang dipimpin pakar yang dari tadi disimak oleh Luna. Pakar tersebut mengatakan bahwa jika mendirikan pembangkit listrik baru akan menebang banyak pohon. Perlahan Luna juga memahami kegelisahan yang mendera kelompok kontra.
Lantas ingatan Luna mundur saat beberapa bulan yang lalu mati lampu. Bukan hanya panas saja yang ia rasakan, tapi mati gaya juga kian melanda. Bagaimana tidak? Semua listrik yang sudah menjadi kebutuhannya mati. Kipas angin, televisi, hingga gawai juga menjadi dampak kematian listrik. Luna seperti kaum menengah perkotaan lainnya sangat bergantung dari listrik.
Seakan jengah dengan kegalauannya, Luna kembali mengalihkan fokus ke sosial media tempat ia memposting ajakan tadi.
Seakan sejalan dengan program televisi yang sedang ia lihat. Pro-kontra mewarnai kolom komen di Facebook maupun mention di Twitter. Ada satu komentar di facebook yang berhasil mencuri perhatiannya, "ajakan untuk go green adalah ajakan konyol yang disponsori oleh negara maju. Lihat saja negara maju yang mengajak untuk menghijaukan bumi adalah mayoritas memiliki hutan yang sangat sedikit. Sebaliknya negara yang memiliki hutan adalah negara berkembang. Itupun yang memiliki hutan luas hanya daerah-daerah yang kurang maju. Karena memang populasi manusia semakin sedikit maka semakin susah untuk maju daerah tersebut".
Hmmm bener juga ya, mungkin teori konspirasi seperti ini bisa saja salah tapi juga ada kemungkinan untuk benar. Sambil meracau sendiri tak terasa kedua jempol Luna mengetik, "memang tidak ada yang benar-benar benar, ada manusia yang mati-matian teriak penghijauan di tengah hutan beton, pun juga ada manusia yang hidup di hutan hijau tapi terdampak teriakan mereka yang ada di hutan beton. Yah salain aja aku."

0 comments:

Post a comment