Emas, Reksadana, Saham, atau Obligasi



Beberapa hari lalu saya menyimak perdebatan para pengguna Twitter (X) tentang berbagai instrumen investasi, berawal dari seorang pengguna yang menanyakan "jika kamu mendapat uang 10 Milyar uangnya mau diapain?". Pertanyaan pancingan seperti ini menuai berbagai tanggapan, salah satunya tanggapan seorang pengguna ini yang menyatakan ia akan masukkan obligasi. Berlanjut dengan balasan pertanyaan apakah cocok mahasiswa membeli obligasi.


Meskipun saya sudah menulisnya dalam blog ini di tahun 2019, namun saya ingin mengulasnya kembali. Mengingat tulisan saat itu saya tulis tanpa mendapatkan dampak investasi secara langsung. Namun saat ini saya sudah memiliki keempat instrumen tersebut dan mendapatkan dampaknya secara langsung, sehingga saat ini pengalaman yang saya dapatkan tidak hanya berkutat pada teori saja.

Emas

Dalam hal ini emas pegadaian ya, mengingat emas saat ini naik hampir dua kali lipat dalam satu tahun 2025 ini. Instrumen ini merupakan instrumen lindung nilai, sehingga harganya akan mengikuti harga barang/inflasi. Menurut saya instrumen lindung nilai kurang cocok bila dijadikan investasi, karena harganya akan mengikuti inflasi dari masa ke masa, kita tidak akan untung pun juga tak akan rugi bila membeli emas.

Kelebihan emas pegadaian adalah saat ini dengan memanasnya negara-negara besar, maka emas akan naik. Karena instrumen ini menjadi instrumen pelarian saja. Ketika negara-negara besar berkonflik (bersiap untuk perang) para investor besar mengamankan hartanya di emas, sehingga harganya akan naik drastis. Namun perlu diingat, emas adalah instrumen lindung nilai sehingga kurang cocok pula untuk dibeli dengan tujuan investasi jangka pendek. Selain itu juga emas memiliki selisih harga antara harga beli dan harga jual, sehingga akan memunculkan ilusi keuntungan dengan menarik harga belinya saja, padahal jika dijual juga harganya tidak sebesar itu.

Reksadana

Reksadana merupakan produk turunan dari beberapa instumen investasi, sehingga naik-turunnya cukup fluktuatif, namun tetap terkontrol dengan adanya manajer investasi yang dapat dikatakan mumpuni di bidang investasi. Lebih lengkapnya tentang reksadana dapat membaca pada blog saya sebelumnya. Reksadana bagi seorang investor dapat menjadi pilihan karena kita yang ingin berinvestasi tidak harus mengikuti berita pasar dan tidak harus menguasai ilmu investasi, cukup dengan disiplin memasukkan uang ke instrumen investasi yang sudah tersedia saja.

Akhir-akhir ini hampir setiap bank menawarkan reksadana dalam aplikasi mobile bankingnya, sehingga hal ini memudahkan calon investor untuk memiliki rekening investasi reksadana. Keunggulan reksadana sebagai instrumen investasi dibarengi dengan risikonya, yaitu cairnya lama sekali dan kinerja investasinya kalah dengan indeks.

Maksud saya kinerja investasi yang kalah dengan indeks adalah kenaikan atau penurunan reksadana kalah dengan indeks kumpulan saham (seperti LQ45, IHSG, dan lain sebagainya). Misal LQ45 mulai awal hingga akhir tahun 2025 naik 10%, namun reksadana saham hanya naik 5%. Risiko ini yang cukup menghantui, karena kita sudah membayar lebih untuk manajer investasi namun tidak memiliki keuntungan lebih.

Saham

Menyambung paragraf di atas, jika keuntungan tidak memuaskan padahal kita sudah mengeluarkan uang lebih, maka sepatutnya langsung saja kita membeli instrumennya langsung. Salah satunya saham. Dalam sudut pandang investasi, saham termasuk instrumen yang diperuntukkan investor yang tergolong sebagai agresif. Artinya, saham ini diperuntukkan bagi investor yang siap dengan risiko kehilangan uang lebih banyak dan dengan imbal hasil lebih tinggi.

Dalam investasi kita mengenal high risk high return. Jika investor siap dengan risiko yang besar, maka akan mendapatkan imbal hasil yang besar pula. Sehingga instrumen saham ini hanya diperuntukkan bagi yang siap dengan risiko tinggi. Pun juga banyak ujian jika masuk di saham, seperti bujukan untuk menjadi trader, ajakan untuk bergabung dengan kelas berbayar agar mendapat return yang tinggi, dan yang paling tragis adalah ajakan untuk menjual dan membeli dengan tanpa adanya rasa tanggung jawab.

Jika sekali saja kita terbawa bujukan-bujukan tersebut, maka instrumen investasi kita yang diperuntukkan bagi masa depan dapat tergerus dalam beberapa tahun. Alih-alih dapat memberikan imbal hasil yang menarik, malah kita terjebak dalam permainan judi yang sama sekali tidak menguntungkan.

Obligasi (Surat Utang Negara)

Instrumen yang satu ini jika dapat terbilang konservatif mirip dengan deposito. Dalam hal ini saya akan mengulas keuntungan dan kekurangan dari obligasi yang dikeluarkan oleh pemerintah. Di twitter yang saya tempel di atas, pengguna tersebut memberikan rekomendasi Surat Utang Negara (SUN) karena hanya memasukkan uang dan menunggu imbal hasil di transfer tiap bulan. Tanpa harus repot mempelajari grafik, membaca berita dan melihat reaksi investor lain terhadap kondisi dunia saat ini.

Hal ini terbilang benar, namun tidak sepenuhnya benar. Karena dalam SUN seorang investor harus menyiapkan uang nganggur yang dipinjamkan selama lebih dari 2-4 tahun, sehingga bila pemilik uang tidak memiliki rasa sabar dan ternyata yang dipinjamkan bukan uang nganggur, maka akan memiliki risiko yang melebihi imbal hasil yang didapatkan. Risiko lain adalah psikologi investor akan terganggu bila teman-teman investor lain sudah memperoleh imbal hasil yang tinggi namun ia hanya mendaptkan imbal hasil yang rendah dengan risiko yang rendah pula.

Maka dari itu, jika kita berinvestasi wajib untuk melakukan menerapkan disiplin yang tinggi. Agar konsep investasi yang sudah kita tetapkan sebelumnya dapat berjalan dan tidak berubah di pertengahan jalan.

Karena investor yang bijak adalah ia yang memasukkan uangnya dalam instrumen investasi tanpa mengganggu waktu tidurnya untuk memikirkan keputusannya.

Komentar