[Resensi Buku] The Psychology of Money: Memaknai Kekayaan
Saya membaca buku ini versi terjemahannya yang diterbitkan oleh Penerbit Baca. Buku ini ditulis oleh Morgan Housel seorang mantan kolumnis Wall Street Journal. Awal saya tahu buku ini pada konten Raditya Dika saat masa covid-19. Buku ini memiliki genre personal financial dengan isi 20 Bab 293 Halaman.
Di era yang cukup menguras emosi dalam mengumpulkan kekayaan sekaligus mempertahankan kekayaan ini, sepertinya kita membutuhkan sudut pandang yang lebih bijak dalam menyikapi kekayaan. Buku ini dapat memberikan sudut pandang baru bagi saya yang berusia 30 an dan memiliki keluarga kecil, dalam mencukupi kebutuhan sekaligus memiliki kesadaran terhadap kekayaan yang saya miliki. Hal ini terbilang penting di tengah tawaran investasi dan pinjaman yang cukup beragam dan membingungkan. Kekhawatiran yang menumpuk tersebut seakan mengajak kita untuk kembali berpikir, bagaimana cara paling tepat untuk menyikapinya.
Buku ini seakan menjadikan jawaban yang argumentatif terkait bagaimana sebaiknya kita menyikapi kekayaan, bagaimana sebaiknya kita memupuk kekayaan yang lebih mendamaikan. Morgan Housel sebagai mantan kolumnis Wall Street Journal menjelaskan hal ini tidak hanya berupa opini, namun disertai dengan pelajaran yang dipetik dari sejarah. Saya menyebutnya lebih tepat sebagai buku sejarah keuangan. Meskipun ini buku terjemahan saya tidak sulit untuk menalar apa yang disebutkan, beberapa bab yang dijelaskan lebih tepat dan cocok dalam kehidupan sehari-hari.
Namun dengan latar belakang penulis yang "sangat amerika sekali", berbagai sejarah yang disebutkan lebih ke arah sejarah keuangan amerika. Bagi saya yang berada di negara berkembang, harus lebih sering menggunakan google untuk mengerti apa yang dimaksud oleh Morgan. Seperti 401 (k) dan contoh kasus-kasus terkait reksadana yang tidak ada penjelasannya dalam kebiasaan masyarakat Indonesia. Sehingga saya hanya bisa menerka apa yang dimaksud.
Secara keseluruhan saya mendapatkan pesan penting dalam menyikapi kekayaan, sudut pandang sejarah yang ia kemukakan memang tidak semuanya nyata (beberapa menggunakan teori konspirasi). Tapi jika disimpulkan tulisan-tulisan dalam buku ini membuat saya berkata "iya juga ya". Seperti pesan tentang "Mendapat kekayaan tidak sama dengan mempertahankan kekayaan", hal ini cukup relevan ditengah tawaran investasi masa kini yang seakan menawarkan cara cepat mendapat kekayaan. Tanpa didasari dengan pemahaman kekayaan yang cukup, kita hanya dapat menikmatinya sebentar saja. Selebihnya akan miskin lagi dan realitas ini lumrah ada di sekeliling kita.
Kutipan yang saya suka dalam buku ini adalah kurang lebih kalimatnya begini, "Jika kita gemar menabung, maka nilai penumpukannya akan menakjubkan". Ia mencontohkan pada kasus zaman es yang berulang. Zaman es tidak datang dalam sekejap, setelah diteliti ternyata zaman es datang dengan pola adanya musim panas yang tidak terlalu panas. Sehingga es yang tersisa saat musim dingin, menumpuk hingga bertahun-tahun dan mempengaruhi lingkungan dengan tumpukan es berpuluh-puluh meter. Hal ini juga dapat diaplikasikan dalam investasi, tidak ada yang datang tiba-tiba. Investasi dengan keuntungan besar dalam sekejap, akan kalah dengan keuntungan sedikit namun diinvestasikan kembali secara konsisten. Kekayaan itu akan bertumpuk-tumpuk dalam masa puluhan tahun.
Sehingga saya menyimpulkan buku ini berisi puluhan kalimat bijak mengenai perencanaan keuangan pribadi, meskipun sebagian orang lebih suka menyebutnya sebagai buku keuangan, tapi saya menyebutnya sebagai buku sejarah keuangan. Tak heran buku ini dapat terjual jutaan dan menjadi best seller international. Karena buku ini dapat memberikan kebijaksanaan dalam melihat kekayaan.
Setidaknya itu yang saya ambil setelah berminggu-minggu membaca buku ini. Apakah kamu juga pernah membaca buku ini dan mendapat kesimpulan yang sama? Atau kamu malah belum membaca buku ini?

0 comments:
Post a Comment