Berpihak Kepada Minoritas

Miniatur Pura (dokumen pribadi, CCBYSA 4.0)

Beberapa hari lalu saya menjalankan proyek wiki-wikian dengan tajuk Wiki Dharma Nusantara. Namanya terbilang tradisional, lebih ke arah nama kejawen. Karena dalam rangkaian acara wiki-wikian ini kita mengunjungi beberapa pura, wihara, dan klenteng. Awalnya hanya terbatas pada vihara dan klenteng saja, namun karena ada persyaratan jumlah yang harus dikunjungi, kami tambahkan beberapa pura di area Malang Raya.

Konsep awalnya cukup ekstrim, karena kami akan mengunjungi 27 vihara dan klenteng dengan sebaran yang cukup beragam dan jaraknya jauh. Kesemua vihara ini harus kami kunjungi dalam 4 hari. Awalnya begitu, setelah melakukan rapat dengan WMID kami menambahkan beberapa pura yang untungnya sebarannya tidak terlalu jauh. Setelah di tambahkan, maka kami memutuskan untuk mendatangi 37 titik pura/vihara/klenteng.

Hari 1 (7 Februari 2026)

Di hari pertama, meskipun tidak terlalu menyimpang jauh kami tetap berjalan jauh. Seperti konsep awal, kami mulai perjalan pada pukul 8 pagi dari titik kumpul. Saya sebagai pencari jalan (road manager) memilih untuk mengunjungi titik terjauh dari titik kumpul yang memiliki potensi ada sebaran cukup banyak titik dalam satu kecamatan. Yaitu Kecamatan Gedangan. Di Kecamatan ini ada sebuah vihara dan cetiya yang berdampingan, setelah sebelumnya melakukan penulusuran google map saya juga menemukan ada satu pura di sana.

Perjalanan jauh pun di hari pertama kita jalani dengan perasaan canggung, mengingat dalam tim kami saya hanya mengenal satu orang saja dan empat orang lainnya tidak mengenal juga tidak pernah bertemu sebelumnya. perjalanan 2 jam ke malang selatan kami lalui dengan perasaan canggung di mobil. setelah menemukan titik vihara barulah kami mulai mengobrol ringan disertai rencana selanjutnya. Alhasil hingga pukul 1 siang kami sudah mengunjungi 1 cetiya, 1 vihara, dan 2 pura. Perjalanan selanjutnya kami ke arah timur yaitu ke Kecamatan Ampelgading dan Tirtoyudo. Hingga menjelang maghrib kami sudah mengunjungi 1 vihara dan 3 pura. Meskipun hanya duduk di mobil, hari pertama ini saya merasa sangat lelah. Mungkin karena tidak seperti yang saya bayangkan.

Hari 2 (8 Februari 2026)

Karena saya sudah merasa lelah di hari kedua maka di hari kedua ini saya memilih untuk mengunjungi sebaran pura yang banyak namun tidak jauh dari rumah. Yaitu Kecamatan Pakisaji. Karena lokasinya yang tidak terlalu jauh dari rumah, maka saya memilih untuk menunggu anggota tim yang dari Kota malang di Kecamatan Pakisaji. Sembari menunggu saya berharap semoga hari ini lancar dan tidak semelelahkan hari sebelumnya.
Ternyata doa saya dikabulkan, hingga pukul 1 siang kami sudah berhasil mengunjungi 8 pura. Memang sebarannya kurang variatif, namun sudah cukup menggembirakan. Ditambah kondisi cuaca hingga siang hari sangat mendukung untuk melakukan pemetaan dan pendataan pura. Setelah selesai sholat dhuhur kami bergeser ke arah selatan untuk mengunjungi 2 pura yang ada di kecamatan Pagak. Dengan jarak tempuh yang lumayan jauh dari Pakisaji kami baru sampai di pura yang ada di Kecamatan pagak pukul 2 siang. Setelah melakukan pendataan, kami menuju ke pura kedua dan kabar buruknya kami harus memutar. Meskipun kedua pura ini berada di tepian telaga yang sama, namun jalan pintas hanya bisa dilewati oleh kendaraan roda dua. Alhasil kami menghabiskan waktu satu jam melewati jalan gunung Geger.
Waktu berlalu dan cuaca mulai berubah, langit menjadi gelap dan awan berubah menjadi mendung. Alhasil, kami memutuskan untuk mengakhiri hari kedua ini di Pagak.

Hari 3 (14 Februari 2026)

Setelah satu minggu kami tidak melakukan pendataan, kami kembali bersua dan suasana di mobil toyota Innova ini sudah cukup mencair. Ditambah saya sudah mulai mengenal tim dengan baik, sehingga saya tidak sungkan untuk berbagi cemilan meskipun ketiga tim lainnya cewek. Kami di hari ketiga ini berencana untuk mengunjungi vihara yang ada di Kota Malang dan Kota Batu. Karenanya saya berangkat lebih pagi untuk menuju ke kota, karena pagi itu cuaca gerimis, maka saya memilih opsi gocar untuk mengantar saya ke kota.

Ternyata diluar perkiraan saya, yang awalnya mengira perjalanan ke kota akan macet, ternyata perjalanan lancar longgar tidak ada kemacetan di sejumlah titik. Maka dari itu saya sampai duluan dan menghampiri sopir mobil kami yang menunggu di sebuah indomaret di Blimbing. di hari ketiga ini meskipun dari pagi mendung, ternyata semakin siang cuaca semakin cerah. Sehingga kami berhasil mengunjungi 12 titik termasuk vihara di Lawang yang cukup menyimpang jauh dari kota Malang.

Hari 4 (15 Februari 2026)

Hari ini saya mengubah rute yang awalnya ke Kecamatan Wagir, saya ubah ke selatan tepatnya di Kecamatan Kalipare. Mengingat di Kalipare ada 4 pura yang dapat dikunjungi dan bisa mampir sejenak di vihara yang ada di Kecamatan Sumberpucung. Jadi sekali jalan kami sudah mendata 5 titik, namun sayangnya di salah satu titik di Kalipare ada arisan umat hindu di pura. Sehingga 1 titik tidak dapat terdata. Meskipun ada sedikit sesal, kami melanjutkan perjalanan ke Gunung Kawi.

Di perjalanan menuju gunung kawi, kami mencari satu vihara yang tidak ketemu. Namanya vihara Mpu Tantular di daerah Kluwut. Mungkin jika ada pembaca yang mengetahui lokasinya bisa berkomentar. Meskipun tidak menemukan vihara tersebut, kami melanjutkan perjalanan ke arah pesarean gunung kawi. Banyak hal yang diberitahukan oleh sopir mengenai yang patut diwaspadai jika berwisata di Gunung Kawi. Salah satunya yaitu ada pemandu yang akan mengikuti wisatawan, ini cukup mengherankan karena saya beberapa kali ke pesarean tidak pernah menemukan hal tersebut karena memakai baju biasa seperti warga lokal. Hal lain yang membuat saya heran yaitu ongkos parkir 10 untuk mobil dan untuk tiket masuk perorang 5 ribu. Mungkin selama ini saya tidak dikenakan tarif karena saya bukan dianggap wisatawan.


Rangkaian acara 4 hari ini terselenggara karena adanya rasa keberpihakan kami terhadap minoritas. Dengan melakukan pendataan dan kemudian dimasukkan ke OpenStreetMap dan Wikidata, harapan kami tempat-tempat ibadah bagi kaum minoritas dapat diakses secara terbuka. Hal ini penting untuk dilakukan, karena misalkan ada pemeluk agama dari luar kota yang ingin sembahyang atau ingin sekedar berkunjung, bisa mendapatkan akses menuju lokasi yang cukup valid. Semoga keberpihakan saya terhadap kaum minoritas ini dapat terjaga dengan baik.

Terimakasih sudah bersedia membaca hingga akhir!

Komentar