Emas Fisik Atau Digital

Beberapa hari lalu ramai di twitter kasus gagal bayar emas di China. Beberapa orang menyoroti ini sebagai ancaman yang akan melanda di Indonesia. Mengingat semakin maraknya penjualan emas digital di Indonesia, diimbangi dengan harga emas yang semakin hari semakin naik. Mulai dari bank, pegadaian, toko online, dan penyedia jasa beli emas digital sebagai instrumen investasi.

 


Beberapa bulan yang lalu saya sempat kaget dengan kejadian berebut emas fisik karena FOMO dengan kenaikan emas. Saya saat melihat kejadian itu jadi mikir, kenapa harus berebut emas? bukannya bisa beli di pegadaian seperti yang saya lakukan selama ini?

Sudah sekitar 4 tahun terakhir saya membeli emas di pegadaian, hingga kini kenaikan asetnya memang cukup signifikan, bisa sampai dua kali lipat. mengingat harga emas beberapa tahun terakhir memang naik tajam hingga menyebabkan tren baru untuk investasi di emas. Di emas fisik atau pun digital, trennya sama-sama naiknya.

Tren berinvestasi ini mirip dengan tren investasi saham saat masa covid, beberapa artis ternama secara terbuka menceritakan investasinya yang lebih mirip trading, karena setiap kenaikan dan penurunannya diceritakan sedemikian rupa ditiap harinya. Teman-teman saya pun juga begitu, pada saat itu banyak teman yang bangga atas kenaikan saham dan mengajak untuk membeli saat harga turun. Saat tren emas ini teman-teman saya juga berperilaku sama. Meskipun orangnya berbeda, namun teman-teman saya banyak yang mengajak beli atau membuat status di WhatsApp atau sosial media lain terkait kondisi harga emas.

portofolio emas digital


Pada akhirnya muncullah perdebatan mengenai sebaiknya membeli emas digital atau fisik. Keduanya tentu memiliki kekurangan dan kelebihan, berikut saya ulas kekurangan dan kelebihannya jika memilih membeli emas secara digital ataupun fisik.

Kekurangan

Setiap orang tahu jika membeli emas fisik akan rawan untuk hilang atau rusak. Mengingat emas fisik juga sebuah barang yang jika di jual akan dilihat kualitasnya pula. Saya sempat ngobrol dengan salah seorang teman yang menjual dan membeli emas fisik (pegadaian, antam, dan UBS). Ia menjelaskan saat membeli emas fisik tidak hanya dilihat kualitas emasnya atau merknya, namun juga hingga melihat kualitas bungkusnya. Biasanya jika bungkusnya lecet sedikit atau malah rusak, akan mempengaruhi harga jualnya. Selain itu menurut saya emas fisik juga rawan hilang, maka jika membeli emas fisik sebaiknya sediakan brangkas penyimpanan.

Seperti yang tercantum dalam postingan twitter di atas, emas digitalpun juga memiliki kekurangan. Yaitu gagal bayar oleh penjual emas digital. Lumrahnya, jika ada pembeli emas digital, penjual emas digital tersebut juga harus membelikan emas fisik dan menyimpannya. Namun jika penjual emas digital nakal, biasanya hanya menyanggupi pembelian emas digital tanpa membeli emas fisik. Karena ada keuntungan antara harga jual dan harga beli, jika pembeli melakukan transaksi jual-beli di hari yang sama. Pun juga akan ada keuntungan jika harga emasnya turun, karena tidak harus membelikan emas fisiknya. Namun jika ada kenaikan yang cukup drastis, maka ada risiko gagal bayar. Karena penjual emas digital tidak memiliki emas fisiknya dan tidak dapat menjual emas fisik yang dimiliki. Dan ini mirip skema Ponzi.

Kelebihan

Selain memiliki kekurangan, kedua pilihan ini juga ada kelebihannya. Jika membeli emas fisik akan memiliki kepuasan tersendiri, karena tidak harus menitipkan emasnya ke pihak ketiga, namun dapat disimpan dan dijaga sendiri. Emas fisik tidak akan mengalami gagal bayar, karena tidak memiliki skema transaksi memutar seperti emas digital.

Sebaliknya, emas digital memiliki kelebihan bagi orang yang teledor seperti saya. Sering lupa menyimpan barang dan kemungkinan besar akan lupa jika membeli emas fisik. Maka emas digital dapat menjadi pilihan. Memang masih ada pilihan untuk membeli emas fisik lalu dititip di pegadaian atau menyewa brankas (SDB) di bank. Tapi pilihan ini memiliki biaya yang cukup mahal. Di sisi lain emas digital dapat dibeli dengan nominal ratusan ribu, tidak seperti emas fisik yang hanya dapat dibeli dalam ukuran gramasi. Minimal satu gram dengan harga Rp. 2.852.000 (saat blog ini ditulis).

Sehingga jika disimpulkan kedua pilihan tersebut memiliki  kekurangan dan kelebihannya masing-masing, tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah. Hanya jika membeli emas mengganggu jam tidur dan aktivitas harian, maka anda berada di jalur yang salah. Karena prinsip investasi sebenarnya adalah kenyamanan, bukan kegusaran karena ada tren naik-turun, jual-beli, dan fisik-digital. Jika mengikuti pertimbangan orang lain namun anda sebagai pemilik kekayaan merasa tidak nyaman, maka segeralah berpindah mengikuti kenyamanan anda.

Komentar