![]() |
| Foto dulu saat di Manokwari dokumen pribadi (CCBYSA 4.0) |
Sejak beberapa bulan yang lalu saya sudah memikirkan untuk sejenak menepi ke rumah istri saya di Kediri selama sebulan ramadhan. Mungkin terdengar remeh tapi saya sudah memikirkannya dan mendiskusikan hal ini secara mendalam dengan istri. Mengenai risiko saya tidak dapat mencari kerja sampingan dengan mengirim obat di Okejek, mengenai anak saya yang harus sebulan penuh tidak bersekolah di PAUD dan mengenai berbagai macam kepindahan selama sebulan yang patut untuk dipikirkan ulang.
Topik yang Kami Diskusikan
Sudah setahun ini saya membantu untuk mengirim obat dengan layanan pengiriman obat yang dikelola kakak saya di Okejek, mekanisme kiriman obat ini adalah mengirim obat dari rumah sakit kepada para pasien yang ada di RSUD kanjuruhan. Mekanisme kiriman ini memudahkan pasien dalam pengambilan obat yang biasanya harus menunggu beberapa jam di depan apotek rumah sakit. Saya sebagai kurir obat yang mengantar obat hingga rumah pasien, biasanya mendapatkan pendapatan kurang lebih 100 ribu. Dalam pekerjaan ini saya tidak setiap hari mengirim, dalam seminggu biasanya hanya 2 hari saja, karena kiriman tidak menentu, biasanya saya ikut mengirim obat hanya pada kondisi ramai saja.
Kondisi kedua yang kami diskusikan adalah sekolah anak kami yang masih bersekolah di PAUD. Saat ini anak kami sudah setahun bersekolah, jam sekolahnya mulai jam 8 hingga setengah 10. Dalam seminggu ia bersekolah mulai senin hingga jumat saja, itupun rekan sekolahnya ada yang dalam seminggu hadir di hari jumat saja. Sehingga kami menganggap bisa ditolelir untuk sekolah anak kami. Toh jika tidak bersekolah tidak ada kurikulum yang tertinggal untuk anak kami. Terakhir ia bersekolah saat tanggal 11 Februari 2026 kemarin, ia ada outing class bersama pemadam kebakaran. Rencananya saat di Kediri ini nanti akan kami ikutkan kelas playdate, agar berinteraksi dengan anak lain dan mendapat pembelajaran yang lebih bervariatif.
Pertimbangan terakhir kami yaitu meninggalkan rumah selama sebulan penuh adalah hal yang tidak kami lakukan selama setahun terakhir sejak di Jawa. Berbeda dengan saat di Manokwari, kami sering pulang ke jawa lebih dari sebulan. Hal ini yang membuat kami mempertimbangkan ulang, apakah yang kami lakukan tepat. Dan tidak ada yang berpotensi rusak saat rumah kami tinggal beberapa minggu. Namun dengan berbekal pengalaman keluarga kami yang sering meninggalkan rumah beberapa hari di Manokwari, kami merasa cukup yakin perilaku-perilaku yang kami terapkan di rumah Manokwari dapat diterapkan di rumah ini. Seperti, menyebar kapur barus di setiap sudut rumah, menggambar kapur semut di pintu keluar, dan hal-hal lain yang selama 3 tahun terakhir kami lakukan di Manokwari.
Alasan Mendasar Kami Pindah Sementara
Selain saya yang cukup jenuh berada di rumah terus menerus, karena sebelumnya di Manokwari saya biasa ke Jawa setidaknya setahun sekali. Juga ada perasaan rindu dengan suasana ramadhan yang jauh dari rumah. Mengingat rumah saya di Kepanjen yang sudah cukup ramai dan bahkan saya saat ini mengkategorikan sangat ramai saat ramadhan, sehingga selayaknya saya ingin menikmati istirahat sejenak dari keramaian tersebut.
Sebaliknya, suasana di desa Gayam, Kecamatan Gurah, Kediri saat ramadhan cenderung seperti hari-hari biasanya. Tidak ada penjual takjil yang dikerubungi masa pada jam 4 hingga jam 6. Karena memang daya beli di sini terbilang kurang. Malah di sekitar rumah ada masjid yang menawarkan buka bersama setiap hari selama ramadhan, sehingga lebih hemat dari pada di rumah Kepanjen. Semoga saja penghematan ini dapat terwujud hingga akhir ramadhan.
Di sisi lain, ada ketenangan yang ditawarkan oleh keluarga istri saya. Tradisi keluarga yang biasa tidur jam 8, menurut saya dapat membuat pola tidur keluarga saya lebih sehat dari pada di Kepanjen. Sehingga suasana tidur sudah tercapai pada pukul 9 dan anak istri saya dapat tidur lebih panjang daripada di Kepanjen. Selain tradisi tidur di Gayam juga tidak ada wifi dan tv yang terhubung dengan Mi Stick seperti di Kepanjen, sehingga saya dapat meluangkan waktu lebih untuk membaca buku dan berinteraksi dengan warga sekitar.
Terimakasih telah membaca tulisan pindahan sementara kali ini, semoga kamu juga dapat merasakan kenikmatannya berani dalam mengambil sebuah perpindahan. Jangan lupa share cerita keberanianmu di kolom komentar ya!

Komentar
Posting Komentar