Keterbatasan energi manusia dalam mengelola sumber daya yang dimiliki merupakan sebuah keniscayaan, mustahil untuk dapat ideal seperti halnya orang lain dapatkan. Sejalan dengan pendapat tersebut, saya kemarin menonton obrolan Pandji di Vindes mengenai filosofi empat tungku dalam kehidupan. Filosofi tersebut menyatakan bahwa tidak mungkin seseorang dapat menyalakan keempat tungku tersebut secara bersamaan. Hal ini sejalan dengan hukum kekebalan energi, bahwa energi tidak dapat dimusnahkan dan tidak dapat diciptakan. Sehingga energi yang ada hanya diubah-ubah saja.
Empat tungku kehidupan tersebut yaitu:
Karir
Jika tungku karir kita hidup, maka segala upaya dan sumberdaya yang kita miliki digunakan untuk menghidupi tungku tersebut. Hingga pada suatu saat kita mendapatkan kemapanan karir sebagai tujuan dari menghidupi karir. Tungku ini yang biasanya terhitung seksi untuk dihidupi semua orang, karena akan berdampak pada kemakmuran. Tapi juga para pengejarnya tidak serta merta menemukan jalan mulus, sekian jam harus dilewati, fokus penuh dan stres yang berlebihan merupakan tumbal dari menghidupi tungku karir.
Kesehatan
Tungku kesehatan menuntut kita menjaga gaya hidup, pola makan dan tirakat untuk tubuh yang displin dalam jangka panjang. Banyak orang sehat dengan proses yang tidak instant, semua itu dibentuk dan dijaga dalam jangka panjang. Sehingga setiap usaha yang diberikan pada tungku ini butuh disiplin dan konsistensi jangka panjang. Maka dari itu tungku ini dapat dikatakan memakan waktu yang panjang dalam hidup seseorang. Menjaga pola makan, pola tidur, olah raga dan lain sebagainya
Keluarga
Tungku ini berada di ranah ikatan terhadap anak-istri atau keluarga inti lainnya, dalam membina keluarga memang membutuhkan banyak waktu dan kehadiran penuh. Kehadiran penuh secara emosional ini yang membuat tenaga dan fokus kita habis untuk menghidupi tungku keluarga. Jika tungku ini tidak dihadiri secara penuh, maka mustahil untuk mendapatkan keintiman hubungan keluarga bila membagi fokus dan pikiran ke tungku lain. Maka dari itu waktu dan rasa hadir tersebut harus mengorbankan tungku lain.
Pertemanan
Pertemanan harus dihidupi dengan cara saling berkomunikasi, seling merasa antara satu dengan yang lain. Maka dari itu menghidupi tungku pertemanan tidak akan mungkin bisa secara singkat. Pun juga harus ada tensi pertemanan yang dijaga, biasanya dengan cara nongkrong bersama yang akan mengorbankan waktu dan juga biaya. Sehingga ketulusan pertemanan tersebut akan mengorbankan tungku-tungku lainnya pula, karena sumberdaya yang dimiliki sudah tercurahkan ke pertemanan ini.
Kondisi tungku yang menyala ini, tidak akan selamanya menyala. Dalam kehidupan pasti ada level-level prioritas di masa tertentu. Bisa juga pada masa muda memprioritaskan kesehatan dan pertemanan, namun saat menginjak usia 30 an akan berubah prioritas tungku yang akan dihidupi.
Seperti kondisi saya saat ini, saya jelas akan memprioritaskan keluarga dan kesehatan yang saya hidupi. Dengan cara itu maka saya tidak akan menyalakan tungku pertemanan dan karir dengan sangat membara, hanya menyala meskipun redup. Hal ini sangat berbeda saat saya menginjak masa remaja hingga waktu kuliah, saya akan memprioritaskan pertemanan dan keluarga. Saya sama sekali belum pernah mencoba menghidupkan tungku karir dengan sangat cemerlang. Entah mengapa, karena saya tidak tertarik untuk menghidupi tungku tersebut agar menyala membara seperti tungku keluarga yang saat ini sedang saya perjuangkan.
Filosofi hidup memang tidak ada yang benar dan salah, hanya kita saja yang dapat menganggap hal tersebut benar tanpa harus menyalahkan orang yang tidak sepemahaman dengan kita. Pun juga terkait empat tungku tersebut. Bila pembaca ada yang berkenan sharing mengenai tungku yang sedang anda hidupi saat ini, bisa mencoba bercerita di kolom komentar di bawah. Agar kita bisa saling mengetahui apa yang menurut anda dapat diperjuangkan dan mengapa harus memperjuangkan hal tersebut.
Terimakasih telah membaca!
Komentar
Posting Komentar