Wisata Edukasi Ke Kondang Merak

Beberapa hari yang lalu saya bersama keluarga mengikuti workshop tentang mangrove dan terumbu karang yang diadakan dalam rangka memperingati hari bumi, di pantai Kondang Merak. Workshop bersama teman-teman Impala UB, MPA Adiwangsa Condro Singo dan SALAM ini sepertinya program yang mereka inisiasi untuk berdampak nyata terhadap lingkungan.

Peserta Umumnya hanya saya, istri dan anak saya. Namun kami tetap bisa belajar banyak dengan melihat pantai Kondang Merak sebagai sebuah lingkungan. Karena kami sebelumnya sudah pernah menyambangi pantai ini dengan tujuan wisata, sehingga saat kami berkunjung kembali ke tempat yang sama dengan konsep belajar melestarikan alam, maka pantai ini menjadi tempat baru lengkap dengan ekosistem yang akan dilestarikan.

Di pertemuan awal, kami dijelaskan oleh mas Andi dari SALAM, mengenai masalah lingkungan yang tidak dapat diselesaikan dalam satu malam. Karena begitu kompleksnya masalah yang dihadapi untuk melestarikan lingkungan, tidak sebatas pada perusakan ekosistem saja, namun ada masalah sosial, ekonomi dan berbagai masalah yang melatarbelakangi kerusakan lingkungan. Menurut mas Andi, menanam mangrove merupakan hal yang mudah, namun merawat mangrove menjadi soal lain karena orang yang peduli dengan alam hanya mengupayakan sesi seremonialnya saja.

Sesi awal dibuka dengan kalimat yang berat dan masalah yang cukup kompleks, membuat saya memikirkan ulang, apa bisa pelestari alam paruh waktu seperti saya dapat melestarikan ekosistem secara penuh? Namun pertanyaan tersebut tak terjawab karena otak saya kini mulai beralih ke pemaparan mas Andi mengenai mangrove dan ekosistemnya.

Sebelum melakukan penanaman mangrove kami mendapat materi mengenai cara penanaman dan lebih jauh lagi dampak yang kita hasilkan setelah menanam. Mungkin ini yang saya cari, karena selama ini jika ada penanaman pohon, kita tidak mendapat edukasi apapun mengenai penanaman tersebut. Dengan adanya penjelasan di awal kegiatan, membuat kegiatan ini lebih bermakna.

Setelah rampung presentasi, maka kini saat kita menanam mangrove. Penanamannya pun juga berbeda dengan penanaman lainnya, kita diajak untuk membibitkan mangrove langsung dari pohonnya. Maka kami bersama-sama menuju hilir sungai yang berair payau. Salah satu dari teman-teman MPA Adiwangsa Condro Singo mulai memanjat dan memanen bakal benih dengan menggoyang pohon mangrove. Alhasil bakal benih tersebut berjatuhan ke air payau di sungai tersebut. Bakal benih inilah yang kita bibitkan dengan cara menanam ke polybag, agar tidak pembibitannya tidak terganggu oleh faktor alam. Setelah bibit tersebut sudah berdaun, maka bibit tersebut sudah siap untuk dipindah ke hilir sungai.

Saat proses menanam bibit inilah saya dan anak meminjam kano untuk sekedar berkeliling hilir sungai, mungkin cukup berisiko dengan anak saya yang aktif menaiki kano yang kecil. Namun syukurlah tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Hanya saja sebelum kami berlanjut ke materi terumbu karang dan membersihkan terumbu karang, mendung pun datang dan petir menyambar. Karena kami khawatir kehujanan maka kami sekeluarga berpamitan untuk pulang duluan. Setidaknya di hari itu kami sudah belajar bahwa dampak lingkungan tidak serta merta karena konflik lingkungan, tapi juga ada penyebab ekonomi dan sosial yang melatarbelakanginya.

Dari ikut penanaman mangrove dan berwisata edukasi ini saya belajar betapa kompleksnya untuk menjaga kelestarian alam, tugasnya tidak hanya menanam dan menangkap mereka yang merusak alam, namun berlanjut untuk menyelesaikan akar permasalah yang berada dibaliknya. Mas Andi SALAM sebagai mentor, memang sudah memaparkan beratnya bergelut dengan isu lingkungan, dan hal ini tidak dapat dilakukan secara separuh-separuh.

Komentar