Coro merupakan bahasa jawa dari kecoak, omong coro bermakna omongan ngelantur tapi dapat dinyatakan jujur. Maka ketenangan serupa apa lagi yang dicari di dunia yang fana ini selain kejujuran. Tulisan berikut merupakan contoh dari omong coro.

Translate

About Me

My photo
Hi, saya pungkas nurrohman yang mencoba dewasa dengan jalan-jalan

Wednesday, 3 April 2019

Ibnu Battuta dari Kacamata Profesor Bule


Seorang musafir muslim abad 14
Buku petualangan Ibnu Battuta

Setelah saya membaca Rihlah Ibnu Battuta versi terjemahan rupanya saya ketagihan untuk membaca Rihlah Ibnu Battuta dari sudut orang bule. Buku ini merupakan syarah Rihlah Ibnu Battuta. Jadi seperti buku turunan yang menjelaskan isi dari Rihlah, tentunya dengan berbagai komparasi data dari sumber-sumber lain yang dibuat sesuai kaidah akademik.
Sebetulnya banyak peneliti yang menerbitkan buku terkait petualangan ibnu battuta, namun sangat jarang ada terjemahannya dan mengkomparasikan dengan petualang lain seperti Marcopolo dan Ibnu Khaldun. Dan juga sangat jarang buku terjemahan atas karangan persepsi bule dalam budaya arab.
Buku berjudul Petualangan Ibnu Battuta: seorang musafir muslim abad 14 ini diawali dengan berbagai fakta yang membuat saya berdecak kagum atas penelitian Prof. Ross E. Dunn. Karena penelitiannya yang seakan menghadirkan Ibnu Battuta secara nyata. Tentunya sosok pengembara tersebut tidak mungkin menceritakan dirinya pada buku yang ditulis oleh Ibnu Jubair. Namun Prof. Ross E. Dunn mengungkap semuanya. Baru kali ini saya tahu bahwa Ibnu Jubair merupakan juru tulis dari pengembara ahli fikih ini. Entah saya yang kurang teliti atau memang hal ini tak tercantum dalam Rihlah Ibnu Battuta versi terjemahan.
Selain decak kagum pada pembukaan berbagai decak kagum menyusul setelahnya, seperti pengurutan kejadian sesuai kronologinya, berbagai kejadian yang menimpa negeri setelah atau sebelum kunjungan Ibnu Battuta. Hal ini diungkap berdasarkan dari berbagai sumber yang didapat. Yang paling berguna sebetulnya kronologis kunjungan Ibnu Battuta yang sangat membingungkan. Karena di dalam Rihlah hal ini tidak terjelaskan dengan baik. Mungkin karena memang pertimbangan keindahan kata khas karya sastra timur tengah.
Bagi orang seperti saya pasti akan menyoroti Ibnu Battutah berdasarkan kunjungannya. Karena memang seperti yang saya jelaskan di tulisan saya sebelumnya. Tujuan saya membaca Rihlah untuk mengetahui keahlian Ibnu Battuta dalam bidang traveling. Sangat membosankan bila membaca Rihlah secara langsung, karena strategi travelingnya tentu sangat susah dimengerti. Selain tidak secara runut dalam urutan waktu, di dalam Rihlah juga menjelaskan beberapa daerah yang namanya masih asing. Tentunya ingin meneliti berdasarkan Google Map akan sangat mustahil untuk dilakukan. Jadi mustahil pula untuk napak tilas dengan jalur petualangan persis dengan seorang fakih tersebut.
Namun di buku ini seperti yang saya katakan di atas. Ada beberapa hasil riset yang juga ditempel untuk menguatkan pendapat profesor. Jadi sangat tepat bagi saya untuk melihat biografi ilmiah dan rasanya sangat kental dengan sejarah. Secara tidak langsung ketika kita membaca buku ini, kita sudah belajar sedikit tentang sejarah negeri-negeri yang dilalui ibnu battuta.

0 comments:

Post a Comment