Coro merupakan bahasa jawa dari kecoak, omong coro bermakna omongan ngelantur tapi dapat dinyatakan jujur. Maka ketenangan serupa apa lagi yang dicari di dunia yang fana ini selain kejujuran. Tulisan berikut merupakan contoh dari omong coro.

Translate

About Me

My photo
Hi, saya pungkas nurrohman yang mencoba dewasa dengan jalan-jalan

Saturday, 20 July 2019

Setitik Nila yang Hampir Rusak (5)


Baca Juga Cerita sebelumnya
Sumber: https://twitter.com/bemb_beng

Pesta pernikahan yang sederhana pun telah usai, kini Nila mulai mengarungi luasnya kehidupan dengan bahtera rumah tangga bersama dengan Habib dan Umi. Satu bulan bersama rasanya tak terasa, agaknya Nila menikmati setiap ayunan gelombang laut kehidupan. Tak seperti yang dikatakan orang-orang, bahwa menjadi istri kedua pasti akan dikalahkan dengan istri pertama.
Entah karena kebijaksanaan Habib Turmudzi atau kebaikan Umi Sakdiyah. Hampir satu bulan Nila tidak pernah ada konflik sama sekali dengan Umi sebagai istri pertama habib. Setiap habib pergi ke pengajian Nila di rumah menemani Umi. Karena memang seorang istri tidak diperbolehkan keluar rumah ketika suami pergi. Menurut Nila hal ini sangat adil, ketika Nila tidak diajak pergi Umi juga tidak diajak pergi. Saat itu Habib di mata Nila sudah sangat adil, bahkan satu tingkat di bawah nabi dalam mengagungkan keadilan. Kebetulan juga ia tinggal satu rumah, jadi ia acap kali menyaksikan secara langsung cara hidup Habib dan Umi.
Nila sempat tercengang ketika selama seminggu Umi tidak di rumah. Memang secara batin ia sangat senang, karena dapat menjadi istri satu-satunya yang berbakti pada habib. Namun di sisi lain ada rasa yang mengganjal, apakah Umi sedang tidak enak hati dengannya atau ada konflik antara Umi dan Habib. Ia pun memberanikan diri bertanya kepada sang suami tercinta.
Tepat setelah sholat isya' sang suami yang memiliki panggilan sayang "abi" tersebut menerangkan bahwa Umi sedang ada urusan ke rumah orang tuanya. Saat itu Nila memang tidak tahu menahu tentang rumah orang tua Umi dan asal usul keluarga Umi, pun juga di usia perkawinannya yang masih satu bulan tersebut Nila juga belum mengetahui rumah dan orang tua Habib. Nila pun memaklumi dan mempercayai jawaban Habib.
***
Genap dua bulan Nila mulai mual-mual, rupanya ia mengandung anak pertama. Hal yang lumrah saat testpack sudah menyatakan positif adalah bahagia sekaligus lemas. Lemas karena pertama kali rahim berisi janin, sehingga masih belum terlalu beradaptasi. Usia kandungan yang masih dini ini juga membuat Nila kerap meminta hal aneh kepada Habib, namun sayangnya Habib beberapa kali tidak mempedulikan keinginannya. Alhasil Nila memilih untuk meminta ke Bapak yang sangat senang untuk mengabulkan keinginan calon cucunya itu.
Umi juga sepertinya acuh tak acuh. Tepat setelah seminggu keluar dari rumah, Umi seakan menjadi makhluk yang sangat berbeda. Yang awalnya setiap selesai makan malam selalu menonton TV bertiga dengan Habib dan Nila, kini mulai membeli TV di kamar dan menontonnya dengan Habib. Sejalan dengan Umi, habib seakan menuruti semua kemauan Umi. Seakan Nila dan janin yang dikandungnya dicampakkan begitu saja.
Merana dengan usia kandungan seumuran jagung tidaklah mudah. Selain mood yang naik turun karena jabang bayi, ada juga rasa menyesal Nila musabab keikhlasan Nila untuk dimadu. Berparuh kasih rasanya tidak semudah jihad melawan kaum kafirin. Ada saja rintihan perih setiap harinya, sayatan kecil yang menyebabkan luka tak berdarah menyerang hati Nila. Setiap malam Nila mencoba untuk sholat malam untuk menyembuhkan luka sembari berdoa, agar yang maha membolak-balikkan hati dapat membuat hati Habib dan Umi kembali seperti dulu.
***
Jamaah pengajian Habib semakin lama semakin banyak, dulu murid Habib tidak pernah sampai di pelataran masjid. Kini jamaah pengajian yang terlaksana setiap malam selasa itu sudah membanjir sampai depan rumah Habib yang berjarak 30 meter dari masjid.
Sejalan dengan bertambahnya jamaah, nama besar habib pun menggaung bak dai kondang. Berbagai undangan ceramah kini mulai memadati jadwal. Sampai-sampai habib membuat tim tersendiri untuk menyiapkan jadwal dakwahnya. Ibarat ketiban nama agungnya, habib kini hanya pulang seminggu dua kali, rentetan jadwal on-air maupun off-air menumpuk setiap pagi.
Nila pun ikut bahagia dengan hal itu. Kini di usia kehamilan 7 bulan itu harus mandiri mengurus diri sendiri. Pasalnya Umi selalu ikut kemanapun Habib pergi. Seakan menjadi makhluk antah-berantah yang ada di dalam rumah tangga, Nila tidak pernah sekalipun diajak. Semenjak kejadian Umi pergi meninggalkan rumah, Habib Turmudzi seakan mengacuhkan Nila begitu saja.
Setiap datang dan keluar rumah jangankan pamit, salam pun sangat jarang diucapkan. Nila hanya berteman sepi untuk menyelesaikan segala pekerjaan rumah tangga. Mencuci, menyapu, mengepel, dan juga memasak ia lakukan sendiri. Tidak ada orang lain di rumah. Jika memang sudah mencapai ambang batas emosi tertinggi, ia hanya bisa menelpon bapak dan ibu dengan isak tangis di balik burqa yang menemani.
Entah posisinya dalam rumah mewah tersebut seperti apa. Sebagai pembantu rumah tangga namun diberikan nafkah secara lahir. Sebagai istri namun tak diberikan nafkah secara batin. Keluar rumah pun ia dilarang, namun memang Habib dan Umi mencukupi bahan pangan yang disimpan di dalam lemari pendingin. Maka dari itu Nila sama sekali tidak diijinkan untuk keluar rumah, untuk sekedar membeli makanan pun Habib menyuruh untuk memesan pada Umi. Nila pun memilih untuk mematuhi.
*Cerita Selanjutnya klik di sini

0 comments:

Post a Comment