Coro merupakan bahasa jawa dari kecoak, omong coro bermakna omongan ngelantur tapi dapat dinyatakan jujur. Maka ketenangan serupa apa lagi yang dicari di dunia yang fana ini selain kejujuran. Tulisan berikut merupakan contoh dari omong coro.

Search This Blog

Translate

About Me

My photo
Hi, saya pungkas nurrohman yang mencoba dewasa dengan jalan-jalan

Sunday, 18 January 2026

Sewa Atau Beli Rumah?


sewa atau beli rumah?

Setelah saya membaca buku The Psychology of Money, di halaman belakang saya melihat beberapa penawaran buku yang diterjemahkan oleh penerbit Baca. Salah satu yang membuat saya tertarik adalah just keep buying yang ditulis oleh blogger keuangan bernama Nick Mackgiulli. Setelah melihat namanya yang susah dieja dalam bahasa indonesia itu, saya mencoba mencari harga bukunya. Ternyata masih belum sesuai dengan kantong saya, yang masih harus bertahan setelah menerima gempuran di hari libur tahun baru.

Masih diliputi rasa penasaran, saya mencoba melihat blognya Nick. Saya penasaran seorang blogger keuangan yang berhasil menulis buku, pasti isi blognya juga tidak seremeh dugaan kebanyakan orang. Maka rasa penasaran ini membuat saya mencari alamat blognya, dan saya menemukan blognya yang berjudul Of Dollar and Data. Cukup rutin menulis data keuangan khas amerika.

Selain tulisan-tulisan analisa terhadap data-data ekonomi makro Amerika, ia juga memaparkan bagaimana ia mendapatkan data tersebut. Berbagai kueri untuk mendapatkan data ia buka secara gratis di Github. Ini yang membuat saya berpikir, ternyata blog ini cukup serius dalam menggali dan memaparkan data. Keterangan dalam mendapatkan data ia tulis dengan cermat di catatan kaki setiap artikel blognya. Ia memberikan nomer di masing-masing artikel untuk memberikan identitas pada Github.

Keseriusan ini yang membuat saya berlangganan setiap artikelnya untuk ditampilkan di bilah "Daftar Bacaan" di Blogger saya. Sejak itulah saya mulai menyimak artikel-artikel yang ditulis rutin hampir setiap minggu dengan data yang cukup detil dan kesimpulan yang cukup mengejutkan. Meskipun blog ini berbahasa inggris dan saya kurang fasih, saya berusaha untuk menterjemahkan semampunya dengan bantuan Google Translate. Toh yang saya lakukan tidak mengubah isi dari yang disampaikan Nick.

Selain artikel-artikel, dalam blog ini juga berisi kalkulator-kalkulator tentang perencanaan finansial. Yang terbaru saya coba sebelum membuat artikel ini adalah kalkulator pertimbangan apakah saya sebaiknya menyewa atau membeli rumah. Dengan asumsi bahwa jika saya harus menyewa maka selisih uang untuk membeli rumah saya investasikan atau dimasukkan ke deposito saja.

Misal jika harga rumah KPR 300 juta, jika dicicil selama 25 tahun, maka menurut kalkulator KPR sebulannya saya harus membayar sekitar 2,5 juta dengan DP 20% (60 juta). Simulasi ini jika dimasukkan dalam kalkulator pertimbangan yang ada di blognya Nick, maka akan mendapatkan kesimpulan kita harus menyewa atau membeli rumah tersebut.

Katakanlah jika kesimpulannya "menyewa", maka kita tetap harus mengeluarkan uang tersebut untuk menyewa rumah dengan tipe yang sama dan sisanya kita masukkan ke instrumen investasi atau deposito. Dengan imbal hasil yang dihitung, maka kita bisa memiliki harta yang lebih banyak dari pada membeli aset tersebut dan menjualnya di kemudian hari (dalam kalkulator tersebut menghitung hingga 30 tahun mendatang).

Pemikiran seperti ini baru saya pahami setelah membaca tulisannya yang membandingkan antara kenaikan harga rumah dan harga sewa. Ia menjelaskan bahwa dengan naiknya harga rumah, bukan berarti kita lebih kaya. Karena meskipun harga tempat tinggal kita naik, jika kita jual dan membeli harga rumah lainnya juga sama. Sehingga kenaikan harga rumah lebih ke arah langkanya pasokan rumah yang ada.

Jika dipikir-pikir benar juga, yang saya alami juga begitu. Saya memiliki rumah kosong yang saya sewakan. Jika dihitung harga sewa tersebut juga terlalu murah dengan pertumbuhan harga sewa hanya dibawah 10% pertahun. Sedangkan harga rumah dan harga tanah di lingkungan saya naik diatas 10% pertahunnya. Sebagai pemilik kontrakan saya juga harus mengeluarkan ongkos perawatan di tiap tahunnya sekitar ratusan ribu.

Di sisi lain ada pendapat bahwa sekitar tahun 2035 pasokan rumah di dunia akan melonjak, dikarenakan mereka yang lahir tahun 50 an (yang memiliki rumah) mayoritas akan meninggal. Sedangkan generasi setelahnya natalitasnya tidak semenakjubkan pada tahun 50 an, sehingga akan banyak orang yang memiliki warisan rumah yang yang kemungkinan besar akan menjual warisan tersebut. Hal ini akan membuat harga properti akan turun tajam, dan berlaku hukum permintaan. Dimana permintaan menurun saat harga naik.

Dari berbagai artikel ini membuka mata saya lebih luas terhadap pentingnya untuk mempertimbangkan aset yang dimiliki, meskipun saya sudah beberapa tahun belakangan memilih untuk memiliki aset investasi yang tak terlihat, namun dengan adanya artikel blog tersebut membuat saya lebih mantap untuk memegang keyakinan tersebut. Tentunya dengan tetap berperilaku disiplin dalam membelanjakan harta dan memasukkan uang di instrumen investasi.

0 comments:

Post a Comment