![]() |
| Gold vs Stocks by TraderUnion berlisensi CC-ND |
"Emas turun, saham juga turun, lalu uangnya pergi kemana?", hal ini banyak ditanyakan oleh penikmat bisnis investasi akhir-akhir ini, pasalnya setelah saya membuat tulisan sebelumnya harga emas turun cukup tajam, diikuti dengan harga saham yang juga turun cukup drastis. Sehingga menjadi kelumrahan jika orang bertanya jika semua turun uangnya lari kemana?
Karena dalam prinsip investasi yang pernah saya pelajari, ada dugaan bahwa uang ini akan lari ke instrumen investasi yang likuiditasnya tinggi (mudah untuk dijadikan uang). Jika instrumen tersebut turun, maka dapat disimpulkan ada aksi jual yang dianalogikan untuk membeli instrumen lain. Misal, dalam beberapa tahun ini jika saham turun, maka dolar naik, atau jika saham seluruh dunia turun maka diimbangi dengan emas naik.
Namun awal februari 2026 menunjukkan peristiwa yang berbeda, saham turun dan emas juga turun. Kedua kejadian ini dapat dijelaskan sebagai fenomena yang tidak saling terhubung antara satu dengan yang lain. Saya akan menjelaskan tanpa menyangkut-pautkan antar kedua instrumen investasi.
Alasan Emas Turun
Beberapa hari lalu saya sudah memamerkan imbal hasil saya di Emas pegadaian, hal ini terjadi karena adanya kenaikan nilai emas yang diimbangi dengan FOMO investor yang belum memiliki emas. Sehingga kenaikan emas bukan hanya karena kekhawatiran investor pada kestabilan global yang diramal akan memasuki masa perang dunia ketiga, namun juga didorong oleh psikologi investor yang melihat adanya kenaikan sehingga mereka membeli.
Jika berbicara terkait psikologi, maka lebih cocok disambungkan dengan analisis teknikal, dengan mempelajari grafik harga emas saat ini. Dengan kenaikan ratusan persen selama setahun maka dapat dikategorikan kenaikan ini sudah memasuki masa jenuh beli (overbought). Di masa jenuh beli ini para investor yang memiliki emas akan tertarik untuk menjual emas yang telah dimiliki (termasuk saya). Di harga yang sudah melambung tinggi, yang belum memiliki emas akan enggan untuk membeli namun yang memiliki emas malah tertarik untuk menjual, sehingga menyebabkan penuruan harga.
Alasan Saham Turun
Bagi yang mengikuti berita ekonomi akan langsung memahami fenomena penurunan saham ini adalah karena indeks kapital Morgan Stanley (MSCI) mulai menurunkan ultimatumnya kepada bursa efek indonesia (BEI). Pasalnya bursa efek indonesia tidak memberikan respon atas permintaan data dari MSCI terkait kepemilikan saham yang ada di BEI. Sehingga MSCI mengancam akan menurunkan kelas ke frontier market yang merupakan kelas terendah dalam pembobotan indeks MSCI.
Dampaknya saat ini yaitu banyak modal asing yang keluar dari saham indonesia, karena mereka menggunakan indeks terebut sebagai acuan bahwa ekosistem pasar negara tersebut layak untuk diinvestasi. Jika dilakukan pembekuan sementara saham-saham indonesia terhadap MSCI, maka modal asing akan langsung menjual saham yang dimilikinya. Hal ini yang menyebabkan harga saham turun.
Di sisi lain, MSCI memberikan kritik yang memang berdasar. Karena selama ini banyak saham yang kurang sehat, terlihat dari porsi saham yang dimiliki publik kurang dari 20% sehingga MSCI menilai ini tidak menguntungkan, karena rawan untuk diperjual-beli kan antar sesama pemilik saham, sehingga likuiditasnya terlihat tinggi namun kenyataannya rendah.
Tidak Ada Hubungannya
Sehingga dari kedua penjelasan tersebut saya menilai tidak selalu berhubungan antara instrumen investasi satu dengan lainnya. Mungkin memang ada teori jika investor menjual instrumen satu akan membeli instrumen lainnya. Hal ini dapat terjadi bila ada instrumen yang dinilai buruk dan ada instrumen yang dinilai lebih baik. Perpindahan tersebut akan logis dilakukan. Namun jika kedua instrumen terlihat buruk di mata investor, maka tidak ada salahnya keduanya dijual dan dijadikan uang, seperti pada kasus emas dan saham ini.

Komentar
Posting Komentar