Cara Mengajarkan Finansial Kepada Anak

Poster acara smart money talk (FPSB Indonesia)

Beberapa hari lalu, saya ditawarkan untuk mengikuti pelatihan tentang finansial oleh agen asuransi prudential saya yang adalah ibunya teman saya. Tante ini sering menawarkan pelatihan finansial dan segala hal tentang finansial. Hingga beberapa kali ia menawarkan investasi yang beberapa kali pula saya tolak karena terlihat investasi bodong. Namun beberapa hari lalu, entah kenapa saya tidak menaruh curiga saat disodorkan poster seperti yang saya sematkan di atas, karena sepertinya memang ini program edukasi keuangan, alhasil saya baca dan mencoba membuka website pendaftarannya.

Dan benar saya, seketika saya membuka website pendaftarannya ternyata mengarah ke sebuah website lembaga sertifikasi perencanaan keuangan bernama FPSB. Saya cek opsi jasa yang ditawarkan lembaga ini cukup beragam, tapi selayaknya lembaga sertifikasi. Penawaran jasanya hanya jasa pelatihan dan ujian sertifikasi seperti lumrahnya. Tidak ada penawaran bombastis, seperti mendapatkan 1 milyar tanpa kerja dan penawaran lainnya. Dalam mencari ilmu, khususnya ilmu keuangan cara melakukan cek terhadap pelatihan seperti yang saya lakukan adalah hal penting, karena akan menghindarkan kita pada seminar keuangan yang berisi penawaran investasi, dan ujung-ujungnya investasi yang ditawarkan adalah investasi bodong.

Setelah melakukan telaah singkat tentang lembaga yang mengadakan, saya melakukan telaah terhadap program/acara yang diadakan. Yaitu Global Money Week yang ternyata adalah acara rutin yang diadakan oleh OECD. Dan tanpa pikir panjang saya langsung mendaftar kelas onlinenya yang memiliki tema yang cukup menarik, yaitu tips finansial untuk anak (6-13 Tahun), remaja (13-17 Tahun), dan pemuda dewasa (18-25 Tahun). Meskipun anak saya masih umur 3 tahun, saya rasa butuh untuk mengetahui bagaimana memberikan tips pada anak hingga usia produktif. Mengingat saya sendiri sejak kecil memang tidak ada yang mengajarkan literasi keuangan, sehingga saya belajar sendiri di forum perencanaan kaskus yang saat itu diasuh oleh Aidil Akbar.

Singkat cerita, saya mengikuti kelas daring ini. Pembicara pertama adalah Ita Guntari yang membicarakan tips mengajarkan perencanaan keuangan pada anak secara bertahap. Ia memberikan banyak tips dasar agar anak dapat cerdas finansial sejak dini. Salah satu yang saya ingat, adalah jangan memberikan perintah untuk menabung. Karena anak akan tidak memiliki tujuan atas tabungan tersebut. Alih-alih mengajak untuk menabung saja, ia menganjurkan untuk memberikan landskap tujuan atas menabung. Seperti, jika anak menginginkan mainan yang terlihat mahal, maka jangan langsung diberikan, tapi ajaklah anak tersebut untuk menabung untuk membeli mainan tersebut. Setelah tujuan tersebut tercapai, maka berilah apresiasi.

Materi kedua dibawakan oleh Anastasya Anita, yang memberikan beberapa tips untuk mengenalkan literasi finansial kepada anak yang menginjak masa remaja/ SMP-SMA. Sejalan dengan materi sebelumnya yang menekankan pemberian tujuan atas uang yang dimiliki dan mengajak anak untuk belajar mengatur uang sendiri. Namun karena rentang umurnya sudah agak dewasa, ia memberikan pandangan untuk memberikan uang saku yang lebih lama yaitu seminggu/sebulan sekali. Ini bertujuan untuk mengajarkan perencanaan keuangan sejak dini, agar jika rencana keuangannya salah, akan secara langsung menerima dampaknya. Selain itu anak usia remaja, perlu diberikan pengenalan terhadap keinginan dan kebutuhan. Karena dua hal ini yang saat ini memberikan dampak cukup signifikan terhadap penggunaan aplikasi pinjaman dan akan memberikan dampak hingga masa tua.

Berlanjut dengan pembicara terakhir yaitu Lolita Setyawati yang memberikan beberapa tips untuk lulusan SMA hingga menginjak masa produktif. Dimana usia ini adalah usia terbanyak dalam hal pinjaman online. Usia ini cukup berisiko tinggi bila tidak memiliki perencanaan keuangan yang matang, karena sudah bisa meminjam di platform pinjaman online ataupun di bank konvensional. Tips yang diberikan cukup kompleks, dengan mengajarkan persentase pos anggaran yang cukup kompleks pula. Yaitu 50% untuk kebutuhan pokok,  10% untuk dana darurat, 20% untuk tabungan, dan 20% untuk keinginan. Metode ini dapat diotak-atik sedemikian rupa jika ada kondisi tertentu yang mewajibkan untuk mengalokasikan anggaran lebih. Metode ini disebut sebagai metode zero based, sehingga setiap pos anggaran memiliki tugas masing-masing hingga tidak tersisa. Metode yang lebih komples namun fleksibel ini dapat diajarkan kepada anak lulusan SMA dengan kondisi yang lebih variatif.


Terimakasih telah membaca blog ini, tulisan ini saya buat dalam rangka review materi yang saya dapat kemarin (16 Maret 2026). Mungkin ada salah penyampaian atau salah review, saya sangat terbuka untuk dikoreksi di kolom komen. Khususnya bagi ketika pemateri yang menyampaikan materi di hari itu.

Komentar