Naiknya harga dollar, turunnya harga rupiah, jarak harga antara jual dan beli emas yang sangat jauh. Merupakan fenomena yang pernah kita alami saat Covid. Jika diingat waktu Covid tersebut, tiba-tiba banyak orang yang berbondong-bondong melek investasi, membuat status WhatsApp bahwa punya saham di perusahaan. Mirip anak yang baru memiliki mainan dan mengambil peran sebagai pemilik perusahaan. Namun ya sah-sah saja, kan masih baru.
Kebaruan itu saat ini semakin melebar, tidak cuma saham, namun berbagai instrumen investasi banyak yang memamerkannya. Entah emas, obligasi negara, reksadana dan berbagai instrumen (termasuk instrumen digital). Namun ditengah mereka yang pamer kepemilikan instrumen, ada pula investor lama yang pamer kerugian. Entah motivasi mereka ingin mendapat perhatian pemerintah bahwa ekonomi sedang tidak baik-baik saja, atau dilandasi motivasi lain untuk kepentingan diri sendiri. Karena memang kenyataannya bila memiliki instrumen investasi sejak sebelum juni 2025, akan fluktuatif tidak karuan di seluruh instrumen investasi.
Emas yang digadang-gadang sebagai instrumen lindung nilai, beberapa bulan ini naik turunnya seperti roller coaster disebabkan ketidak pastian global perang Iran-Israel+USA. Hal ini menimbulkan penyedia jasa jual-beli emas (digital/fisik) menaikkan selisih harga jual-belinya (spread). Beberapa kali saya lihat selisih harga jual-beli emas di aplikasi pegadaian digital (Tring) masih di atas seribu rupiah per 0,01 gram. Sependek sepengetahuan saya, hal ini baru terjadi dua tahun belakangan. Sebelumnya saya biasa membeli emas pegadaian dengan spread lima ratus rupiah. Biasanya yang spread seribu rupiah adalah emas fisik, saya ingat betul hal ini karena ini adalah alasan saya tidak pernah membeli emas fisik.
Instrumen kedua yang volatilitasnya tinggi adalah dollar. Entah mengapa akhir-akhir ini rupiah terhadap dollar naik turunnya sangat drastis. Beberapa kali dollar diumumkan naik hingga menembus all time high (sejak Indonesia berdiri dollar tidak pernah setinggi ini). Hanya butuh waktu empat bulan, dollar naik hingga puncaknya. Banyak yang bilang karena ketidakbecusan pemerintah dalam mengatur negara, namun sebagai investor sebaiknya hanya fokus pada naik turunnya saja. Jika di lihat naik turunnya juga hampir mirip dengan emas. Hal ini menyebabkan spread dollar juga setebal emas. Padahal saya dulu pernah mencoba investasi dengan menukar uang dengan dollar, karena memprediksi perang Ukraina dan Rusia akan menaikkan dollar, tapi kenaikannya tidak se-signifikan saat ini.
Terakhir yang dapat dikatakan dampaknya cukup besar di orang sekeliling saya adalah saham. Instrumen ini memang dari dahulu memiliki dampak yang cukup whas whus, responnya terhadap ekonomi global dan nasional juga langsung. Saat ada ketidak beresan instrumen, saham langsung merespon lebih cepat daripada instrumen lain. Maka dari itu saham diperuntukkan investor yang memiliki profil agresif, yang siap rugi besar dan siap melihat naik turun yang signifikan. Namun tahun ini dapat dikatakan signifikannya keterlaluan.
Kondisi saham saat ini, mirip dengan masa Covid. Sejak diumumkannya Covid pada maret 2019 IHSG juga langsung turun ke bawah, semenjak penurunan tersebut pasar saham diisi oleh para trader/spekulan. Masa depan ini sebetulnya yang saya khawatirkan. Kerugian saham saat ini yang belum terealisasi, perlahan juga akan pulih. Sepanjang saham yang turun tersebut tidak dijual. Namun jika ada banyak spekulan baru yang mempertaruhkan uangnya di saham, maka akan ada lebih banyak orang rugi karena stop loss. Hal ini cukup mencemaskan bagi saya.
Karena instrumen saham yang dulu pernah turun dimasa covid, juga bisa kita lihat bisa naik hingga saat ini turun kembali. Dari penurunan saham ini kita bisa menemukan saham-saham murah yang bisa kita beli dan tunggu hingga saatnya naik. Namun jika tetangga atau saudara kita membelinya dan stop loss berkali-kali, maka masa menunggu saham tersebut akan lebih berat. Karena melihat sanak saudara kita menderita kerugian.
Maka dari itu, dari pengalaman kita di Covid yang menyaksikan fluktuasi pasar. Sebaiknya kita memakai ilmu kita dimasa Covid itu pula. Saat ini strategi yang saya pakai yaitu mempersempit masa membeli. Yang biasanya saya beli sebulan sekali, saat pasar turun begini saya membelinya seminggu sekali. Agar harga yang saya miliki sesuai dengan harga rata-rata pasar. Meskipun dalam instrumen reksadana, saya mengalami kerugian yang cukup dalam, namun strategi averagedown dengan membeli seminggu sekali tersebut saya lakukan dalam sebulan terakhir.

Komentar
Posting Komentar