Krisis Kuba: Balasan Dunia Setelah Dibantu Dokternya

Santa Clara (Cuba)
Santa Clara oleh Виктор Пинчук, lisensi CCBYSA 4.0, Via Wikimedia Commons

Havana merupakan ibu kota negara kuba yang sempat terkenal karena menjadi judul lagu populer yang dinyanyikan Camila Cabello. Namun akhir-akhir ini saya melihat liputan Havanah yang berbeda, tidak terlihat menyenangkan malah berbentuk suram dan tidak memiliki masa depan. Kesimpulan ini saya ambil saat melihat video youtube Joe Hattab dan OS Indonesia saat melakukan peliputan di Kuba (video tercantum di bawah).

Dalam liputan tersebut keduanya mendapati hal yang sama, seakan Havana menjadi gelap dengan listrik yang mati 10 jam dalam sehari dan berbagai bahan makanan subsidi yang disediakan pemerintah sudah menghilang dari pasaran. Hal tersebut karena adanya embargo minyak yang dilakukan oleh Amerika, semenjak presiden Venezuela ditangkap oleh polisi, maka sejak itulah stok minyak Kuba mulai menipis dan berujung krisis energi. Karena Amerika menganggap Kuba sebagai ancaman luar biasa bagi keamanan nasional amerika.

Embargo tersebut sebenarnya tidak secara langsung dilakukan oleh Amerika, tetapi Amerika memberikan ancaman bagi siapapun yang memasok minyak kepada Kuba akan dikenakan tarif lebih tinggi. Maka dari itu, negara lain yang memiliki sumber minyak enggan untuk memasok minyak kepada Kuba.

Padahal sudah sejak lama Kuba menghadapi embargo ekonomi dari Amerika. Salah satu penyebabnya adalah karena semenjak revolusi Kuba memilih ideologi komunis khas Fidel Castro. Karena ideologi tersebut semenjak 1976 Kuba tidak mendapatkan pasokan barang dari Amerika (melalui Cuban Democracy Act). Sehingga sebelum embargo minyak yang sekarang ini, kendaraan yang berjalan di atas jalan Kuba adalah kendaraan-kendaraan kuno era tahun 80-an.

Perang ideologi memang sangat meresahkan, bahasa dari Amerika adalah untuk melindungi Hak asasi manusia bagi rakyat Kuba, sehingga dilakukan embargo disana sini agar kuba menerapkan demokrasi dan Hak Asasi Manusia lebih dihargai oleh pemerintah Kuba. Namun jika dilihat dari sistem pemerintahan Kuba sudah memikirkan kebutuhan hidup rakyatnya menggunakan konsep Liberta.

Liberta adalah konsep subsidi bahan pangan bagi warga Kuba, dengan menggunakan buku kecil untuk mencatat jatah subsidi yang telah diambil oleh pemilik buku kecil tersebut di toko resmi pemerintah yang disebut bodega. Sehingga setiap warga dapat dipastikan bisa makan, jika rutin mengambil jatah subsidi dari pemerintah tersebut. Namun semenjak 2021 sistem tersebut tidak terlaksana, dikarenakan inflasi yang melambung tinggi dan anggaran pemerintah sudah menipis, sehingga ada beberapa belanja sosial yang dikurangi oleh pemerintah.

Namun dari beberapa embargo sekaligus dampak yang dialami oleh Kuba tersebut saya merasa kasihan. Mengingat saat covid-19 melanda, Kuba memiliki program yang disebut Brigade Henry Reeve ke berbagai negara. Program ini bertujuan untuk membantu negara-negara terdampak pandemi yang kekurangan dokter, sehingga Kuba memiliki misi membantu negara lain dengan mengirimkan dokter ke berbagai belahan dunia. Bahkan negara maju seperti Italia sempat mendapatkan kiriman dokter untuk membantu di saat kasus pandemi di negara pizza tersebut meningkat.

Bantuan pada saat itu mendapat apresiasi oleh berbagai negara termasuk Indonesia, apresiasi saja ternyata tidaklah cukup. Setelah dibantu oleh dokter-dokter Kuba dan pandemi sudah mulai reda, tidak ada yang hadir untuk membantu Kuba dalam menghadapi embargo minyak yang kini mulai berdampak ke seluruh sisi kehidupan rakyatnya. Bahkan jika kita lihat data ekonomi Kuba pun juga amatlah miris, dengan GDP perkapita 2025 7,44 USD, inflasi yang cukup tinggi 15%, dan pertumbuhannya yang semakin lama semakin menurun.

Apresiasi tinggallah apresiasi, Kuba yang dulu gencar membantu kini harus menghadapi musuh besarnya sendiri. Musuh tersebut sudahlah kejam (karena berani menculik presiden Venezuela), sok benar lagi dengan menyalahkan ideologi komunis.

Maka dari itu, saya berencana mempublikasikan artikel saya yang berjudul "Keberhasilan Jaminan Kesehatan di Indonesia" di jurnal administrasi publik bisnis Kuba. Sebagai rasa solidaritas terhadap Kuba. Semoga ia segera lekas pulih dan menjadi negara yang makmur dengan diberlakukan lagi liberta-nya.

Komentar