Refleksi Donasi



Akhir-akhir ini saya memiliki keresahan mengenai orang yang meremehkan sebuah donasi. Memang hal ini tidak serta merta datang dari kejulidan mereka yang sudah melakukan aksi nyata, namun berangkat dari berbagai donasi yang terkesan mendikte dan menganggap rendah mereka yang tidak berdaya. Seperti contoh misalnya, pengabdian masyarakat ke pulau-pulau terpencil, yang seakan menganggap mereka tidak tahu apa-apa. Sehingga donasi yang diberikan bukan membantu malah terkesan mendikte. Hal ini yang disoroti banyak pihak khususnya mereka yang terlibat dalam pekerjaan-pekerjaan sosial.

Selain itu juga muncul tren pelibatan berbayar untuk sebuah proyek sosial. Misal, ada sebuah pengabdian masyarakat ke kawasan miskin. Dalam sebuah proyek tersebut dibuka pendaftaran sukarelawan yang ingin urun daya dalam proyek tersebut. Di sebuah pendaftaran tersebut ada biaya yang dikenakan tergantung kelas pelibatannya, ada gratis, berbayar separuh dan berbayar penuh tergantung hasil seleksi yang didapatkan. Mereka yang tidak lolos seleksi, biasanya membayar penuh akomodasi yang dibutuhkan sekaligus barang-barang yang akan dibagikan untuk kegiatan sosial. Sehingga kegiatan sosial yang diadakan akan terasa komersial dan warga yang dibantu hanya dijadikan subjek rekreasi semata.

Dari kedua kondisi tersebut saya ingin berbagi sedikit kesadaran yang membuahkan donasi rutin saya tiap bulan. Tentu kesadaran tersebut tetap akan berubah-ubah sesuai dengan kondisi literasi yang membuahkan kesadaran itu sendiri. Sehingga hal ini menentukan kemana saya akan berdonasi dan donasi saya berupa apa. Karena semenjak tahun 2014 saya berpindah-pindah tempat donasi, bukan karena tertipu atau tidak yakin kepada penerima donasi, namun karena saya memiliki kesadaran-kesadaran baru yang membuat saya berpindah tempat donasi.

Pentingnya Donasi

Sebelum saya berbagi mengenai kesadaran saya dalam menjalankan donasi saat ini, terlebih dulu saya membagikan pemahaman saya terhadap sebuah donasi. Ternyata donasi rutin memberikan bahan bakar yang luar biasa bagi penggerak kesukarelawan dan bagi kita sendiri sebagai donatur. Tentu kita akan bersepakat, bila sebuah kesukarelawanan tidak melulu tentang harta, tapi dapat berupa tenaga waktu dan lain sebagainya. Namun harta menjadi sebuah unsur penting (setara dengan unsur lainnya yang saya sebutkan sebelumnya). Jika tidak ada uang, maka sebuah proyek sosial tidak dapat berjalan.

Sebaliknya pula, bila uang tersebut tidak didonasikan maka kehidupan akan lebih egois dan individualis. Misal, kita enggan untuk berbagi dengan siapapun untuk memperoleh kemakmuran. Maka ketika kita makmus, tentu orang disekitar kita tidak akan merasakan kemakmuran yang kita rasakan, karena kita memiliki sudut pandang uang tidak perlu untuk didonasikan. Jika ada kesenjangan ekonomi, kita dengan entengnya menyalahkan pemerintah sebagai pengelola negara. Meskipun hal itu benar dan tidak dapat disalahkan. Namun jika hal itu terus terjadi maka kesenjangan tidak akan menemukan solusi, selain diri kita egois dan selalu memikirkan diri sendiri. Alhasil kemakmuran yang kita peroleh akan berbalut kekhawatiran untuk hilang, karena kita sendiri yang makmur sedangkan sekeliling kita tidak merasakan kemakmuran tersebut.

Hal ini saya pahami sebagai cara alam bekerja, ketika saya mahasiswa sempat mengikuti organisasi kepecinta alaman. Sehingga saya memiliki kesadaran bahwa seharusnya ada kelompok yang memperjuangkan alam agar tetap seimbang. Kita tetap dapat menghirup oksige yang bersih, tetap mendapatkan air yang layak dan mengkonsumsi makanan yang tidak beracun. Maka dari itu saat setelah merampungkan kuliah, saya berdonasi ke organisasi yang memperjuangkan alam dengan rutin.

Donasi Rutin

Sebelum berjalan ke kesadara-kesadaran saya yang lainnya, syaa ingin sedikit membahas mengenai donasi yang rutin. Ternyata donasi dengan rutin tersebut merupakan donasi yang dapat memberikan pengaruh ke berbagai organisasi non pemerintah, ya mungkin di sisi lain para fundraiser ingin mempermudah beban kerjanya dengan mencari donatur rutin untuk memenuhi kebutuhan NGO.

Namun kemarin saya sempat mendengarkan paparan dari Ramzy (staf Wikimedia Foundation), bahwa organisasi sebesar wikimedia juga mengandalkan sumber pendanaan ini. Karena sumber pendanaan ini terbukti lebih berkelanjutan untuk organisasi non pemerintah. Selain Wikimedia Foundation, WWF juga memilih hal ini namun dibungkus dengan keterlibatan sebagai anggota yang disebut MoNa. Dari keanggotaan ini akan dilakukan autodebit setiap bulannya untuk memperpanjang keanggotaan.

Jika dipikir-pikir memang kerutinan dalam berdonasi ini dapat membuat keberlanjutan perjuangan lebih panjang nafasnya. Karena akan memudahkan dalam melakukan perencanaan kegiatan. Lain halnya jika donaturnya bersifat insidentil, meskipun sekali berdonasi langsung besar. Untuk bulan selanjutnya belum tentu akan berdonasi lagi, sehingga sumber pendanaan proyek juga memiliki ketidakpastian. Sehingga kepastian tersebut yang akan menjadi power dalam sebuah perjuangan.

Perubahan Kesadaran

Sebelumnya saya memiliki kesadaran bahwa memperjuangkan keseimbangan alam akan sangat penting, karena pengetahuan saya saat kuliah memberikan literasi yang sangat cukup (bahkan lebih) tentang keseimbangan alam. Sehingga pada saat saya lulus kuliah dan mendapat pekerjaan pertama saya di sebuah proyek google map, saya mulai berdonasi rutin kepada profauna.

Hingga pada sebuah titik saya menjadi relijius dan mengikuti pengajiannya ustad Yusuf Mansur. Dengan muatan relijiusitas dan nasionalisme khas ustad Yusuf Mansur, saya mengalihkan donasi saya ke hal yang relijius dan bermuatan nasionalis. Misal, karena saya memiliki kesadaran bahwa berbagai daerah di Indonesia seharusnya setara maka saya berdonasi pada program-program Dompet Dhuafa untuk masyarakat pelosok. Namun di titik ini saya masih berdonasi secara insidentil kepada WWF pada program My Baby Tree, yaitu program menjadi orang tua asuh untuk sebuah pohon. Hal ini sebagai rasa tanggung jawab saya yang tidak dapat terlepas begitu saja dari sebuah keseimbangan alam.

Lantas saat saya menjadi ASN di Manokwari, saya memiliki kesadaran baru bahwa berhenti berdonasi untuk pulau jawa merupakan keharusan, Mengingat pulau jawa merupakan pulau paling maju di Indonesia dengan akses informasi yang sudah dapat dipastikan tersentuh oleh media. Maka bila di pulau jawa membutuhkan bantuan, akan lebih mudah mendapatkan bantuan ketimbang di pulau lainnya. Meskipun saya sebelumnya pernah bekerja di Balikpapan dan Makassar, tapi saya baru mendapat kesadaran ini di Papua. Karena ketimpangan jelas terlihat di depan mata.

Maka sejak itu saya selalu berdonasi di Papua, khususnya pada program edukasi. Karena memang dengan edukasi kita dapat merawat keberlanjutan. Seperti yang sempat saya ceritakan di artikel berikut. Maka dari itu, hingga tulisan ini saya buat, saya masih berlanjut untuk mendonasikan harta saya kepada akun instagram Merawat Papua. Karena meskipun yang dikerjakan berseberangan dengan agama Islam (seperti membeli babi sebagai cara untuk melakukan literasi pangan, memberikan pendidikan kepada anak non muslim), tapi mereka lebih membutuhkan untuk dibantu. Tidak ada sorot media untuk membantu mereka yang non muslim namun tetap mau bernegara dengan kita, biarlah itu menjadi hadiah bagi mereka yang sudi tetap menjadi warga negara Indonesia.

Maka dari itu, dari berbagai perubahan kesadaran terhadap penempatan donasi. Saya ingat perkataan Pandji Pragiwaksono bahwa isu di kehidupan kita terlalu banyak, dan mustahil untuk mempejuangkan isu sebanyak dan sekompleks itu. Isu yang dimaksud banyak tersebut adalah isu kemiskinan, kemanusiaan, keberlanjutan alam, dan berbagai isu lainnya. Tugas kita hanyalah mengambil satu isu yang mungkin untuk kita selesaikan dan dengan suka cita bergelut dengan isu tersebut. Sehingga kita tetap dapat memperjuangkan isu tersebut secara konsisten. Kalau saya sedang memperjuangkan isu pendidikan di Papua, kalau kamu sedang memperjuangkan apa?

  • Hook: Mulai dengan keresahan atau mitos umum tentang donasi (misalnya: donasi sering kali hanya dilihat sebagai aksi melepas uang atau sekadar rasa kasihan/amal).

  • Tesis/Pandangan Utama: Nyatakan pandangan pribadi Anda bahwa donasi adalah cara konkret untuk berpartisipasi dalam perjuangan yang Anda yakini kebenarannya. Uang yang didonasikan adalah bentuk "suara" atau dukungan nyata kita pada suatu isu.

  • Gambaran Singkat: Sebutkan bahwa arah donasi Anda berubah seiring berjalannya waktu, mengikuti evolusi kesadaran dan nilai-nilai yang Anda anut.

2. Fase Pertama: Fokus pada Lingkungan (Kesadaran Awal)

  • Nilai yang Diyakini Saat Itu: Menjelaskan masa ketika Anda menganggap isu lingkungan dan penghijauan adalah prioritas paling krusial.

  • Aksi Nyata: Mengapa Anda memilih menyalurkan donasi rutin ke WWF. Apa yang Anda harapkan dari donasi tersebut bagi masa depan bumi.

  • Refleksi: Bagaimana perasaan Anda saat itu ketika berkontribusi pada isu yang Anda anggap paling penting.

3. Titik Balik dan Kesadaran Baru (The Turning Point)

  • Proses Belajar: Ceritakan secara singkat bagaimana Anda mulai terekspos pada isu-isu sosial, kemanusiaan, atau keadilan (tanpa harus terlalu mendetail jika sifatnya personal, cukup proses kedewasaan berpikir).

  • Pergeseran Perspektif: Menyadari bahwa ada isu lain yang tidak kalah mendesak, yaitu tentang keadilan kemanusiaan.

  • Lahirnya Keyakinan Baru: Anda sampai pada kesimpulan kuat bahwa "Kesetaraan adalah hal yang penting dan mendasar."

4. Fase Kedua: Memperjuangkan Kesetaraan (Aksi Saat Ini)

  • Fokus Baru: Menjelaskan mengapa fokus Anda kini bergeser atau bertambah ke arah merawat sesama manusia, khususnya di Papua.

  • Mengapa Papua? Hubungkan antara nilai "kesetaraan" yang Anda yakini dengan realitas atau perjuangan yang sedang terjadi di Papua (misalnya: kesetaraan hak, pendidikan, kesejahteraan, atau akses).

  • Makna Donasi Rutin Saat Ini: Menegaskan bahwa donasi rutin Anda untuk Papua adalah bentuk komitmen aktif untuk ikut serta "merawat" dan memperjuangkan kesetaraan tersebut.

5. Kesimpulan & Penutup (Conclusion)

  • Sintesis: Menegaskan kembali bahwa donasi itu dinamis. Ia tumbuh bersamaan dengan kedewasaan berpikir dan nilai-nilai hidup yang kita peluk.

  • Pesan Utama: Donasi bukan tentang tren, melainkan tentang manifesto personal—ke mana kita ingin mengarahkan perubahan di dunia ini.

  • Call to Action (CTA) untuk Pembaca: Mengajak pembaca merenung: "Isu apa yang saat ini paling Anda yakini kebenarannya, dan bagaimana Anda ikut memperjuangkannya?"

💡 Tips Tambahan untuk Menulis:

  • Gunakan Gaya Bahasa yang Jujur (Authentic): Karena ini blog pribadi, jangan takut menggunakan kata "Saya" dan menceritakan bahwa manusia itu wajar jika pandangannya berubah. Berubah fokus bukan berarti pilihan masa lalu itu salah, melainkan tanda bahwa Anda terus belajar.

  • Beri Jembatan yang Halus: Saat menjelaskan transisi dari WWF ke Papua, tegaskan bahwa kedua isu itu penting, namun kapasitas Anda sebagai individu membuat Anda harus memilih mana perjuangan yang paling mendesak di hati Anda saat ini.

Komentar