Sebelum saya menceritakan kesan menghadiri pesta pernikahan, saya mengucapkan selamat menempuh hidup baru bagi mbak Titta yang merupakan anaknya pak Kashudi. Semoga pernikahannya sakinah mawaddah warahmah.
Jadi ceritanya pada awal agustus ini saya mengunjungi mantan bos saya yang kini sudah pensiun di Malang. Dalam kunjungan tersebut saya sekeluarga niatkan untuk ziarah haji. Memang sangatlah terlambat untuk berziarah haji jauh setelah kepulangan haji. Karena ada beberapa musibah yang menyebabkan tertundanya ziarah haji, maka saya baru berkunjung untuk ziarah haji pada awal Agustus ini. Sekaligus saya mengunjungi pak Giyarto yang merupakan mantan bos saya juga.
Beliau berdua ini sama-sama mantan bos saya dan sama-sama akrabnya dengan saya. Sehingga setiap ada kesempatan ke Malang, pak Giyarto pasti menginap di rumah pak Kashudi. Tanpa saya ketahui maksud dan tujuan pak Giyarto ke Malang adalah menghadiri pesta pernikahan mbak Titta yang merupakan anaknya pak Kashudi. Maka dari itu saya berkunjung seperti biasanya, berbincang dan tidak membawa apapun.
Hingga pada pukul setengah tiga siang pak Kashudi dan bu Kashudi pamit karena harus ke Batu untuk persiapan pernikahannya mbak Titta. Dua hal yang mengagetkan bagi saya dan istri. Pertama, kami kaget beliau berdua pamit. Padahal yang punya rumah kan beliau berdua, sedangkan kami dan pak Giyarto hanya tamu di rumah dengan banyak pintu kamar kos-kosan tersebut. Kedua, tentunya saya dan istri kaget karena baru mendapat kabar bahwa mbak Titta menikah. Seketika itu pula kami (saya dan istri) merasa tidak enak.
Namun dibalik ketidak enakan tersebut membuat kami bertiga (saya, istri dan anak) diundang ke pernikahan yang ternyata konsepnya intimate. Konsep ini mengundang sangat sedikit orang, bukan karena terpaksa seperti jaman saya menikah. Namun karena memang menginginkan mengundang orang-orang tertentu untuk menyaksikan momen penting tersebut. Sehingga tidak ada adegan bersalam-salaman hingga kita tidak tahu siapa yang kita salami.
Sampai-sampai saya kira datang terlalu dini, karena dalam undangan tertulis pukul 7 hingga selesai merupakan akad nikah, sedangkan resepsi pernikahan dimulai pukul 10 hingga 12. Saat di meja terima tamu saya melihat hadirin yang sangat sedikit (kurang dari 100 orang). Di tempat acara yang terbilang mewah dengan konsep outdoor berlatar gunung panderman, melihat hadirin sesedikit itu membuat saya bertanya, "mas, ini acaranya sudah mulai?". Dan mas penerima tamu menjawab dengan mantab, "Sudah pak, dari jam 7 tadi sampai jam 12".
Dengan percaya diri saya melangkah masuk ke sebuah tanah lapang yang didekorasi sedemikian rupa, sehingga layak untuk tempat acara pernikahan. Awal kedatangan saya mencari pak Giyarto, satu-satunya orang yang saya kenal dan pasti datang ke acara tersebut. Ternyata yang menghadiri undangan ini adalah orang-orang penting di Manokwari. Sependek sepengetahuan saya, ada dua profesor yang datang. Yang jelas saya kenal mereka, namun mereka tidak mengenal saya.
Kesan mewah namun santai dari pesta ini langsung menghampiri saya, ketika ada seorang panitia acara (dari wedding organizer) mengatakan bahwa hadirin bisa menikmati acara dengan duduk di manapun dan makan kapanpun. Saya yang tidak terbiasa dengan acara semacam itu, memilih menunggu tamu lain untuk mengambil makan/cemilan, dan saya mengikuti di belakangnya. Hal ini bukan perkara mudah, karena undangan yang terlalu sedikit membuat saya khawatir ada kesalahan perilaku. Sedikit kesalahan saja bisa ketahuan, karena tamu undangannya hanya segelintir.
Kesan santai ditambahkan pula dengan rangkaian acara yang tidak tegang namun tertata, MC yang keliling untuk mengajak berbincang, menyanyi, dan melakukan games. Membuat acara ini terlihat layak dan cukup elit. Kesan dan rasa takjub tersebut harus diakhiri setelah saya sekeluarga berpamitan, meskipun sempat ditahan oleh mbak Titta karena akan ada sesi potret yang kekinian, namun saya tetap berpamitan karena anak saya sudah mulai bosan dan menginginkan pulang.
Sebetulnya saya menyesal tidak mengikuti sesi potret kekinian tersebut, karena konsep potretnya berupa video yang diambil ke tiap meja yang menggunakan baju yang sama/satu tone. Jadi videonya dijalankan dari pengantin, menuju ke tamu undangan dengan baju yang memiliki tone yang sama. Terlihat seru, namun saya mengetahuinya setelah berpamitan, jadinya ingin bergabung sudah tidak enak duluan.
Tapi terlepas dari keseruan yang tidak saya ikuti tersebut, saya cukup terkesan pada undangan dadakan ini. Pertama kalinya diundang di acara penting dengan hadirin yang rata-rata orang penting. Membuat saya cukup teperangah dan merasa menjadi orang penting pula. Selain itu dengan konsep makan prasmanan dan boleh mengambil berkali-kali, membuat saya cukup kenyang sedangkan anak saya juga cukup terurus, karena ada es krim dan crepes yang dapat diambil beberapa kali. Ini menjadi pengalaman yang tak terlupakan, terimakasih pak Kashudi dan bu Kashudi.
Komentar
Posting Komentar