[Resensi] Cinta Ditolak, Gaspol Bertindak

Masjid Jami Sumenep
Masjid Jami Sumenep (sumber: Pxhere CC0)

Buku yang sering melewati feed instagram saya ini, akhirnya saya terpapar oleh promosi buku dan memutuskan untuk membeli buku ini. Buku yang ditulis oleh seorang dosen dari madura ini, pertama saya ketahui karena banyak teman-teman saya yang berkutat di seputaran aktifitas buku seperti bedah buku, jualan buku, dan pekerjaan literasi lainnya sering memposting aktifitas literasi yang dilakukan oleh penulis.

Buku yang ditulis oleh Royyan Julian ini berisi kumpulan tulisan tentang madura, berbagai seluk beluk tentang madura diulas di buku ini. Banyak teman-teman saya takjub dengan tulisan-tulisannya, yang dinilai menilai madura dari sisi orang dalam (insider). Namun bagi saya yang meminati tulisan budaya, menurut saya masih ada jarak antara penulis dan budayanya sendiri. Mirip seperti tulisan mahasiswa KKN yang menulis tentang daerah KKN-nya. Merasa mengetahui dunia luar namun kurang mencerminkan realita kebudayaan sekitar.

Hal ini memang bisa dimaklumi, karena profesi penulis sebagai dosen yang memiliki lingkungan akademis yang cukup mapan. Sehingga dengan realitas yang ditulis mengenai Madura -termasuk Madura pinggiran- ada jarak yang cukup terlihat di sini. Semakin kita selami tulisannya, maka semakin terlihat jaraknya.

Sebagai gambaran pada sebuah tulisan berjudul "Lahir dari Gedebog Pisang", banyak teori-teori melangit yang ia sebut dalam tulisan untuk membantah pemahaman lokal terhadap sebuah peristiwa. Memang hal tersebut sesuai dengan pandangannya yang ditulis di dalam tulisan "Catatan Kaki yang Pincang", bahwa ia tidak dapat begitu saja memaklumi budaya Madura yang dibilang Alay. Karena jika memaklumi hal tersebut, berarti ia juga menyepakati budaya Madura ke jurang kematian karena ketidak tahuan. Tapi justru dengan membalut budaya Madura dengan pengetahuan, maka buku ini gagal memotret budaya Madura. Otomatis karena gagal memotret budaya tersebut, maka buku ini dapat dikatakan gagal pula mengulas Madura dari sudut pandang orang dalam. Penulis sudah menjadi kaum liyan bagi budaya Madura.

Namun terlepas dari justifikasi penulis yang memang tidak saya sukai, ada sisi Madura yang selama ini tidak saya ketahui dan sepertinya menarik untuk dieksplorasi. Terlebih dengan referensi sejarah yang dibalut dengan rapi oleh Royyan. Hal ini bisa membuat saya tertarik untuk mengetahui pulau garam tersebut lebih jauh. Selain dari sisi sejarah, saya juga tertarik untuk memiliki keris berkat tulisan "Keris yang Ditempa Rahim Api". Rupaya penulis dapat menulis dengan penggambaran yang bagus untuk sesuatu yang ia sepakati, namun hal itu tidak dapat terjadi untuk sebuah fenomena yang sama sekali tidak ia sepakati.

Secara keseluruhan buku yang berisi 19 tulisan ini tidak sesempurna bayangan saya, masih ada jarak antara penulis dan Madura-nya. Dengan berbagai teori yang disisipkan di setiap tema yang ditulis, menurut saya buku ini tidak dapat dibilang sebagai buku yang enteng. Pun juga dengan 180 halaman yang berisi 19 judul tulisan, juga tidak dapat dikatakan buku yang terlampau berat. Setiap tulisan dapat dinikmati dengan sekali duduk. Saya sendiri yang tidak sebegitunya suka membaca buku, dapat menyelesaikan buku ini selama 15 hari saja. Maka dari itu meskipun dengan berbagai kekurangannya, buku ini masih pantas untuk dibeli dan dinikmati oleh mereka yang tidak terbiasa membaca buku. Tapi bagi anda yang penasaran lebih jauh, dapat melakukan pencarian lebih dalam mengenai berbagai tulisan yang ditulis oleh Royyan.

Komentar