Sudah menjadi rahasia umum, bila bulan Agustus di Malang adalah bulan tersibuk, padat, dan penuh dengan rentetan acara warga. Pasalnya di bulan ini warga Malang kerap merayakan hari kemerdekaan (agustusan), sembari menjadi ajang acara guyub rukun warga kampung. Acara guyub rukun ini beragam, mulai dari agenda baru untuk sebuah RT/RW/Kelurahan, ataupun acara rutin tahunan seperti bersih desa dan slametan.
Hal ini yang biasa dikeluhkan para pendatang atau pun wisatawan, Malang di bulan agustus akan bertabur kemacetan dan karnaval yang akhir-akhir ini marak dengan konsep horeg. Lain lubuk lain ilalang, lain dahulu lain sekarang. Karnaval di jaman dahulu tidak menonjolkan suara musik yang menggelegar, namun adu kreatifitas dengan maskot besar (mirip ogoh-ogoh) yang dibawa oleh mobil pick-up. Namun konsep seperti itu di Malang saat ini sudah hampir tidak ada, setiap karnaval akan menonjolkan suara musik yang menggelegar hingga membuat bangunan bergetar, maka dari itu kerap disebut dengan horeg yang memiliki arti bergetar.
Pada bulan agustus ini, kelurahan kami di Kepanjen juga mengadakan karnaval sejenis. Dengan musik menggelegar dan aksi joget yang hampir seragam. Tapi setiap RW memiliki temanya masing-masing. Meskipun kelompok pesertanya dibagi pergabungan RT, namun tema yang diusung masing-masing RW wajib diterapkan dalam kostum setiap kelompok.
Karnaval ini berjalan saat malam hari, entah mengapa pemilihan waktu karnaval tersebut malam hari. Padahal saat sebelum sound horeg mencuat, setiap karnaval dilakukan pada siang hingga sore hari. Mungkin panitia karnaval ini khawatir bedak peserta yang luncur. Kembali pada cerita jalannya karnaval, kelompok kami yang sedianya mendapat plotingan kostum solo, memilih untuk menggunakan baju batik saja. Ide ini muncul dari ketua RT kami yang enggan repot untuk menyewa pakaian seperti warga RT lainnya.
Hal ini sebetulnya masuk akal juga, karena minat warga RT kami yang kurang untuk ikut berjalan meramaikan karnaval, ditambah lagi kami juga enggan untuk berjoget di tengah gempuran suara sound system. Maka dari itu kami mengusung tema karnaval seperti dahulu, dengan modal seadanya dan kreatifitas semaksimal mungkin.
Alhasil, RT kami berinisiatif untuk membuat replika tumpeng yang dibawa oleh mobil pick-up. Persis dengan konsep yang saya ceritakan di awal tulisan ini. Saya dengan modal seadanya pun juga berinisiatif menggunakan udheng dan berpakaian batik lengkap dengan sandal selop. Kekurangannya hanya kami menjadi pembeda di antara mereka yang mengusung konsep horeg. Maka dari itu setiap berjalan kami berhenti beberapa kali, karena kelompok yang mengusung konsep horeg harus berjoged dahulu. Benar-benar memakan waktu yang cukup lama.
Keluh kesah kelompok kami pun tidak sampai di sana, karena merupakan rombongan yang bisa dikatakan terakhir, maka kami mulai berjalan sekitar pukul 9 malam. Berjalan biasa sesekali berhenti karena menunggu kelompok lain yang sedang bergoyang, hingga sampai finish pukul 1 dini hari. Mungkin lelah, letih dan mengantuk sudah menggelayuti kepala setiap peserta di RT kami. Hingga pembubaran peserta pun kami langsung berinisiatif untuk pulang masing-masing tanpa berombongan. Dari sekian keluhan tersebut, saya merasa di lingkungan yang benar. Karena tetangga kanan kiri saya, ternyata juga malu dan enggan untuk mengusung diskotik ke jalan.


Komentar
Posting Komentar