Coro merupakan bahasa jawa dari kecoak, omong coro bermakna omongan ngelantur tapi dapat dinyatakan jujur. Maka ketenangan serupa apa lagi yang dicari di dunia yang fana ini selain kejujuran. Tulisan berikut merupakan contoh dari omong coro.

Pencarian

Translate

About Me

My photo
Hi, saya pungkas nurrohman yang mencoba dewasa dengan jalan-jalan

Sunday, 10 March 2013

Awal Pembangunan, Akhir Kehidupan




Pemahaman nasib sebuah bangsa juga di tentukan oleh nasib kearifan masyarakat dalam mengelola dan memanfaatkan sumber kekayaan alamnya, dapat dikatakan kurang tepat. Setidaknya bagi bangsa kita. Sejarah mencatat bahwa sejak jaman penjajahan yang kurang lebih berlangsung pada satu setengah abad, kita tidak bernah berdaulat atas kekayaan alam negeri kita sendiri. Setelah teks proklamasi kemerdekaan di bacakan-pun kita hanya berdaulat atas tanah air indonesia namun setelah masa kemerdekaan itu negara ini cenderung berkonsentrasi pada pembangunan ekonomi. Dan akhir dari pembangunan ekonomi tersebut ternyata kesejahteraan masyarakat kian hari kian memburuk. Memang ini adalah hal yang tak bisa kita pikirkan secara nalar, namun kita tak dapat memungkiri hal tersebut karna itulah yang terjadi.
Pada jaman dahulu, nenek moyang kita selalu memanfaatkan alam untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti sandang (pakaian), papan (tempat tinggal) dan pangan (makan). Pada saat itu kelestarian alam masih terjaga dengan baik dan juga populasi manusia masih sangat sedikit. Nenek moyang kita ternyata memiliki kearifan lokal yang menekankan keserasian hidup bersama alam. Entah itu dengan adanya mitos untuk tidak merusak alam atau biasa mereka sebut dengan gak ilok atau pamali atau dengan pengetahuan bersandar pada agama, yang menilai lingkungan alam adalah perwujudan dari ciptaan tuhan yang terwujud asli dan tidak dirancang oleh tangan manusia, dan oleh karenanya alam harus dijaga agar dapat hidup serasi.
Mungkin kita tak sadar bahwa bencana alam yang akhir-akhir ini selalu melanda negeri ini adalah karna diri kita sendiri, yang di sengaja maupun tidak kita ini layaknya seksi humas kepanitiaan yang terus menerus mengundang bencana alam itu sendiri. Yang saya maksud mengundang bencana alam adalah kita selalu menganggap bahwa apa yang kita dapatkan dari alam secara gratis adalah kuno. Lalu sebagian dari kita mulai mengembangkan teknologi untuk melipatgandakan produk-produk alam. Pembangunan ekonomi yang selalu menjadi alasan utama untuk menebang pohon tanpa memikirkan efek jangka panjangnya. Jika beberapa kebiasaan ini tidak diubah maka perlahan tapi pasti kita akan dihadapkan kepada beberapa bencana yang sangat dahsyat antara lain:
·         Buruknya kualitas udara yang kita hirup
·         Krisis air
·         Rusaknya keanekaragaman hayati
·         Maraknya kemunculan wabah penyakit baru
·         Kestabilan iklim yang tak menentu
Terakhir saya hanya ingin berkata mari kita melakukan kegiatan yang bermanfaat bagi bumi ini karna siapapapun anda bumi ini masih membutuhkan anda. Mungkin anda melakukan kegiatan yang berskala besar dan bermanfaat bagi orang yang ada di kota anda ataupun melakukan kegiatan yang berskala kecil yang hanya bermanfaat bagi diri anda sendiri. Toh akhirnya anak cucu anda dan juga anak cucu teman dan tetangga anda akan menikmati usaha anda sebagai pejuang hijau.

0 comments:

Post a Comment