Coro merupakan bahasa jawa dari kecoak, omong coro bermakna omongan ngelantur tapi dapat dinyatakan jujur. Maka ketenangan serupa apa lagi yang dicari di dunia yang fana ini selain kejujuran. Tulisan berikut merupakan contoh dari omong coro.

Pencarian

Translate

About Me

My photo
Hi, saya pungkas nurrohman yang mencoba dewasa dengan jalan-jalan

Tuesday, 7 May 2019

Asyiknya Berburu Takjil di Kota Injil


Ramadhan di kota injil
Suasana Bubaran Terawih
Ini adalah puasa kesekianku di luar jawa. Setelah dua kali puasa di Balikpapan ini mungkin menjadi level yang lebih tinggi untuk dilalui. Bukan hanya status saya yang menjadi suku pendatang saja, pasalnya status Manokwari sebagai kota injil ini yang menambah level kesulitan.
Bukan tentang kesulitan berpuasanya saja, tapi kesulitan dalam menjalankan rutinitas ibadah saat bulan ramadhan. Seperti ngabuburit, tarawih, sahur, dan segala rutinitas yang biasa saya lakukan di jawa. Rutinitas yang dapat dirindukan itu yang terkadang hilang di tanah rantau. Dan tentunya orang-orang yang senantiasa saya temui di saat puasa ramadhan.
Tapi alhamdulilahnya ya banyak muslim jawa di Manokwari. Jadi banyak tradisi yang setidaknya kurang lebih sama dengan jawa. Salah satu hal yang terlihat mencolok adalah takjil. Mulai pukul 4 sampai Pukul 6 sore pasti berjajar penjual takjil. Memang mayoritas pendatang, entah es dawet khas jawa atau es palubutung khas makassar. Pembelinya pun bervariasi, tidak melulu muslim. Ada umat nasrani juga yang ikut membeli takjil untuk bersantap.
Mungkin menjadi dua sisi yang berbeda, ketika saya kehilangan tradisi yang biasa dilakukan di jawa tapi dapat menemukan hal yang baru. Bahkan kemarin waktu saya pulang setelah jalan-jalan untuk mencari takjil, tidak ada satupun ojek yang lewat antara maghrib dan isya’. Mungkin karena tukang ojeknya juga merayakan nikmatnya berbuka puasa.
Seperti ada perayaan memang bila saat berbuka puasa. Setiap masjid pasti mengadakan buka bersama, bisa membagikan takjil atau buka sepiring nasi. Ada kursi-kursi di depan masjid untuk mereka yang menikmati sajian buka puasa. Di setiap pelataran masjid akan menjadi lautan manusia, apalagi masjid yang berdiri di daerah yang jarang ada masjidnya. Bisa seperti ada acara besar hingga ada pihak keamanan yang berjaga.
Pun juga saat tarawih. Baru saat ini saya melihat bubaran sholat seramai ini. Karena mayoritas rumahnya jauh dari masjid, maka kebanyakan mereka membawa kendaraan juga. Sangat ramai dan bisa dikatakan sangat mirip dengan di Makassar.
Selain itu ada yang aneh juga sebetulnya, mayoritas di sini sholat tarawih hanya sebanyak delapan rakaat. Ada beberapa masjid yang sholat sebanyak 20, tapi jaraknya sangat jauh dari Amban tempat saya tinggal. Di sela-sela sholat isya’ dan tarawih juga ada tausiyahnya. Kalau hal ini saya bisa menyamakan dengan tarawih di masjid-masjid Balikpapan. Meskipun dulu saya antipati terhadap tausiah seperti ini -karena bosan dan waktunya sangat lama- namun kini sepertinya saya sudah bisa berdamai.
Semoga keasyikan berpuasa di kota injil ini tetap terjaga hingga hari esok. Karena sepertinya untuk tahun-tahun selanjutnya saya akan senantiasa melewatkan puasa ramadhan di kota ini. Semoga tetap asyik dan tak ada yang mengusik

Saturday, 20 April 2019

Diploma Dibanding Sarjana


Berbicara dengan rintihan hati dalam menjalani hari sebagai lulusan Diploma 3 yang menyandang gelar ahli madya sebenarnya tidak terlalu buruk. Hanya sebatas angan-angan saja yang menjadi pembeda secara nyata. Masih jelas teringat sebuah kalimat “bila kalian ingin menjadi akademisi silahkan mengambil sarjana, bila kalian ingin menjadi praktisi sebaiknya ambil diploma” pada sebuah acara ospek pada tahun 2011.
Mungkin ini hanyalah seperti membesarkan hati ribuan mahasiswa yang merasa minder dengan sarjana. Secara, bila dibandingkan dengan fasilitas kemahasiswaan, mahasiswa diploma yang dijadikan satu fakultas bernama vokasi universitas Brawijaya ini dapat dikatakan “miris”.
Tapi lain halnya bila yang menjelaskan orang luar, ya orang luar yang saya maksud adalah orang yang tidak ada gelar ataupun jabatan dari universitas. Let's say pemilik blog adykagr. Dia menjabarkan secara masuk akal dengan contoh pula perbedaan S1 dan D3. Lain halnya penjabaran dari guru besar UB.
Karena ya mustahil juga bila seorang yang lulusan S3 akan menjelekkan S1 atau memihak kepada D4. Karena mau tidak mau sandang, pangan mereka juga dari mahasiswa yang minat untuk kuliah di S1.
Pendek katanya, S1 dosennya pasti S2, S2 dosennya ya S3. Nah bila orang S3 menjelekkan S1 sehingga peminat S1 menurun pasti kerjaan mereka juga akan turun.
Kembali ke topik Diploma dan Sarjana sebetulnya hanya berbeda dari waktu kuliahnya saja. D3 paling cepat dapat ditempuh 3 tahun, S1 dapat ditempuh paling cepat 4,5 tahun. Bila ada kelebihan waktu adalah pengecualian dari artikel ini.
Masalah pekerjaan atau kemapanan dalam mencari kerja sebetulnya hanya masalah rejeki saja. Bu Susi yang lulus SMP saja bisa punya perusahaan penerbangan. Bila secara menedetil lapangan pekerjaan Diploma dan Sarjana juga dapat dinyatakan sama-sama memiliki bobot. Ada kok lowongan pekerjaan D3 yang memiliki gaji setara S1. Sama-sama fresh graduate-nya, sama-sama di satu lokasinya.
Tapi ya lulusan Diploma akan diuntungkan dengan lowongan yang melimpah ruah, bayangkan saja lulusannya hanya sedikit, otomatis saingannya juga sedikit. Tak harus sikut-sikut an kanan ataupun kiri

Wednesday, 17 April 2019

Pemilu Pilu


Tanda sah selesai mencoblos
Jari ungu pilunya pemiku

Pemilu kali ini berjalan tanpa ibuk. Ya beberapa hari yang lalu ibuku meninggal dunia, yang menjadi sebab kepulanganku ke jawa. Meskipun terlambat satu hari --karena harus meminjam sana-sini-- aku bersyukur dapat pulang dan ikut tahlil hingga 7 hari.
Ku hanya menemui pusaranya yang bertanah merah, khas tanah urug baru dengan nisan putihnya. Pertama keluar mobil travel yang ku pikirkan adalah menuju pemakaman dimana ibu dipendam. Bertemu ibu berbatas tanah makam berkedalaman 2 meter.
Memang mustahil melihat perotnya bibir ibu karena stroke, apalagi mendengar titahnya yang mayoritas orang tidak mengerti itu. Hanya dapat berkomunikasi melalui tangis dan doa. Entah mengapa saat itu luapan emosiku susah terkendali.
Hari ini pemilu yang termasuk pilu. Bagi aku, keempat kakakku dan bapakku yang kerap menangis saat sumpah KPPS sebelum pemilu pasti akan menjadi pemilu yang pilu. Entah mengapa bapak seakan menyakralkan sumpah KPPS di tiap-tiap pemilu yang bertempat di rumahku. Beliau menyumpah anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) bukan karena pemuka agama. Namun kewajibannya sebagai ketua KPPS.
Mulai orde baru pemilu terselenggara di rumah ketuanya bapakku. Ya, mungkin mulai aku lahir pemilu sudah diadakan di rumah. Karena seingatku tiap ada pemilu di rumah ya pasti di rumah. Mungkin bapak terlalu sosialis dan mengikhlaskan rumah sebagai Tempat Pemungutan Suara di tiap pemilu.
Pemilu pilu ini terlebih pada diriku, yang beberapa hari lalu sudah berencana ikut pemilu di tanah rantau malah sekarang pulang. Sedang galau pastinya, tapi urusan coblos mencoblos saya memilih pasrah ke bapak. Beliau urus sana urus sini, konsul sana konsul sini dan nama saya sudah bisa masuk daftar pemilih di tempat saya. Kepiluan tak sebatas berhenti di pemilu tanpa ibu, namaku yang sudah masuk daftar, tapi juga kebingungan dalam memilih calon legislatif.
Untuk presiden saya sudah mantap untuk tidak memilih, tapi tetap masuk bilik suara dengan catatan. Ini yang sama sekali belum pernah saya lakukan pada pilpres sebelumnya. Ya, membuat contekan agar tidak salah pilih karena hari-hari sebelumnya saya sudah riset pilihan yang memang sesuai.
Melalui kanal jariungu.com saya mencoba memilih dan memilah ribuan calon legislatif yang sesuai dengan keinginan. Susah pastinya mempelajari satu-satu dengan teliti dan mencoba komparasi data dengan caleg mantan koruptor. Dan berakhir pada pilihan berdasarkan alamat rumah terdekat dan pengalaman organisasi sang caleg.
Visi-misi pun saya abaikan, karena menurut saya kenapa harus melihat visi dan misi yang sesuai? Lha wong legislatif ini kan kebijakan yang dilahirkan berdasarkan musyawarah. Visi-misi mereka kuat dan sesuai pun akan musnah tergilas visi-misi fraksi ataupun partai. Terlebih jumlah kursi yang ada di dalam kantor dewan menjadi prioritas pengambilan keputusan.
Paling mudah dan efektif menurut saya ya lihat domisili rumahnya saja. Karena domisili ini secara insting manusia pasti dibela mati-matian. Seumpama ada kebijakan yang merugikan tempat domisilinya, meskipun caleg ini rapatnya di Jakarta pasti akan membela tempat domisilinya. Di tempat domisili bisa jadi ada aset atau keluarganya yang lagi-lagi secara manusiawi harus dibela.
Variabel kedua yang bisa dipertimbangkan adalah rekam jejak organisasi. Mungkin data ini hanya jariungu saja yang memiliki, karena website lain jarang menginformasikan hal ini. Dari rekam jejak organisasi ini bisa melihat bagaimana pengalaman caleg dalam berinteraksi dengan orang lain. Kemampuan negosiasi ala organisatoris pasti dimiliki bila caleg memiliki rekam jejak organisasi.
Memang kita hanya bisa memilih sejauh itu saja, untuk masa bertugas 5 tahunan sepertinya akan sangat mustahil bisa memantau dan mengganti bila mereka melakukan kesalahan. Memang untuk mencari orang baik kita hanya bisa belajar tentang sejarahnya saja. Meskipun masih belum ada korelasi antara sejarah seseorang dan masa depan seseorang. Selamat memilih.

Tuesday, 16 April 2019

Sexy Killer yang Sangat Berbahaya


Kubu prabowo dan jokowi
Diagram Oligarki Batu Bara (sumber: Film Sexy Killer)

Sexy Killer rasanya memang sang pembunuh yang sangat seksi, setidaknya dengan penegasan dalam film tersebut bahwa efek beruntun dari pembangunan PLTU baru yang akhir-akhir ini marak. Mungkin karena memang target kerja berlandaskan nawacita yang digaungkan 5 tahun lalu, menjadikan kebut sana kebut sini dengan tujuan mencukupi kebutuhan listrik yang ada di negeri ini.
Sedikit melenceng dengan kebutuhan energi tersebut, ternyata ada pihak yang dirugikan. Mulai dari batu bara sebagai bahan bakar PLTU, sampai pada abu PLTU yang mencemari masyarakat yang tinggal di sekitar PLTU. Tidak sampai penambangannya saja, tapi dalam film besutan Watchdoc ini menggambarkan satu rangkaian kerusakan yang timbul.
Mari saya ajak berasumsi bila pembangkit listrik tenaga uap dikurangi. Mungkin saya terlalu naif bila menuntut hal ini hilang, makanya lebih baik berasumsi untuk dikurangi saja. Energi alternatifnya bisa dari angin, panas bumi, panas matahari dan energi yang tak harus repot membakar-bakar atau biasa disebut green energy.
Bagaimana bila energi alternatif tersebut dibuatkan landasan hukum yang jelas sehingga bisa menjadi insentif bagi pemakainya. Sedikit berkaca pada Uni Eropa yang mewajibkan seluruh negara anggota memakai minimal 30% energi hijau dari total kebutuhan listrik di negeri tersebut. Kalau tidak bisa menyediakan? Ya terpaksa impor energi hijau dari negara lain. Ini menurut saya konsepnya menarik.
Selain dapat memaksa pengguna energi konvensional untuk berinovasi dengan energi hijau, juga dapat menjadikan insentif lebih bagi mereka yang sudah mau beralih dengan memproduksi energi hijau. Selain adanya ekspor impor energi ini dapat menjadi udara lebih baik, juga dapat menambah devisa negara dengan menjual listrik.
Rasanya hal ini yang perlu dikritisi, bukan tentang siapa pengusahanya yang berujung dengan inisiasi golput karena yang jadi itu-itu saja. Tapi apa yang bisa dilakukan setelah kita tahu banyak korban akibat ulah PLTU. Terus menghujat yang salah atau kita ikut berbenah. Rasanya bila saya ikut diskusi film ini, saya akan mengatakan hal ini. Bagi anda yang baru tahu Sexy Killer setelah booming di Youtube mungkin juga baru tahu kalau ada nonton bareng yang diakhiri diskusi. Sebelum dirilis di Youtube, film ini sudah diedarkan untuk ditonton bersama. Dan mayoritas nonton bareng ini diakhiri diskusi yang mendatangkan organisasi lingkungan hidup.
Mungkin pihak Watchdoc terlebih mas Dandhy Laksono sudah menyadari akan terjadi pro-kontra dari film ini. Maka dari itu diadakanlah skenario diskusi setelah nonton bareng, agar setidaknya ada pro dan kontra yang bertemu secara tatap muka, bukan hanya sekedar menjadi story WhatsApp.

Wednesday, 3 April 2019

Ibnu Battuta dari Kacamata Profesor Bule


Seorang musafir muslim abad 14
Buku petualangan Ibnu Battuta

Setelah saya membaca Rihlah Ibnu Battuta versi terjemahan rupanya saya ketagihan untuk membaca Rihlah Ibnu Battuta dari sudut orang bule. Buku ini merupakan syarah Rihlah Ibnu Battuta. Jadi seperti buku turunan yang menjelaskan isi dari Rihlah, tentunya dengan berbagai komparasi data dari sumber-sumber lain yang dibuat sesuai kaidah akademik.
Sebetulnya banyak peneliti yang menerbitkan buku terkait petualangan ibnu battuta, namun sangat jarang ada terjemahannya dan mengkomparasikan dengan petualang lain seperti Marcopolo dan Ibnu Khaldun. Dan juga sangat jarang buku terjemahan atas karangan persepsi bule dalam budaya arab.
Buku berjudul Petualangan Ibnu Battuta: seorang musafir muslim abad 14 ini diawali dengan berbagai fakta yang membuat saya berdecak kagum atas penelitian Prof. Ross E. Dunn. Karena penelitiannya yang seakan menghadirkan Ibnu Battuta secara nyata. Tentunya sosok pengembara tersebut tidak mungkin menceritakan dirinya pada buku yang ditulis oleh Ibnu Jubair. Namun Prof. Ross E. Dunn mengungkap semuanya. Baru kali ini saya tahu bahwa Ibnu Jubair merupakan juru tulis dari pengembara ahli fikih ini. Entah saya yang kurang teliti atau memang hal ini tak tercantum dalam Rihlah Ibnu Battuta versi terjemahan.
Selain decak kagum pada pembukaan berbagai decak kagum menyusul setelahnya, seperti pengurutan kejadian sesuai kronologinya, berbagai kejadian yang menimpa negeri setelah atau sebelum kunjungan Ibnu Battuta. Hal ini diungkap berdasarkan dari berbagai sumber yang didapat. Yang paling berguna sebetulnya kronologis kunjungan Ibnu Battuta yang sangat membingungkan. Karena di dalam Rihlah hal ini tidak terjelaskan dengan baik. Mungkin karena memang pertimbangan keindahan kata khas karya sastra timur tengah.
Bagi orang seperti saya pasti akan menyoroti Ibnu Battutah berdasarkan kunjungannya. Karena memang seperti yang saya jelaskan di tulisan saya sebelumnya. Tujuan saya membaca Rihlah untuk mengetahui keahlian Ibnu Battuta dalam bidang traveling. Sangat membosankan bila membaca Rihlah secara langsung, karena strategi travelingnya tentu sangat susah dimengerti. Selain tidak secara runut dalam urutan waktu, di dalam Rihlah juga menjelaskan beberapa daerah yang namanya masih asing. Tentunya ingin meneliti berdasarkan Google Map akan sangat mustahil untuk dilakukan. Jadi mustahil pula untuk napak tilas dengan jalur petualangan persis dengan seorang fakih tersebut.
Namun di buku ini seperti yang saya katakan di atas. Ada beberapa hasil riset yang juga ditempel untuk menguatkan pendapat profesor. Jadi sangat tepat bagi saya untuk melihat biografi ilmiah dan rasanya sangat kental dengan sejarah. Secara tidak langsung ketika kita membaca buku ini, kita sudah belajar sedikit tentang sejarah negeri-negeri yang dilalui ibnu battuta.

Friday, 29 March 2019

Wisuda Serasa Karnaval Budaya


Berawal dari perbincangan panjang saya dengan rekan-rekan dosen. Maka tertariklah saya untuk mendatangi wisuda. Ya, saya yang antipati pada pesta kelulusan itu, hari ini sangat bersemangat untuk mendatangi wisuda di Universitas Papua. Salah satu alasannya adalah adanya kabar burung bahwa nanti saat di wisuda ada yang memakai pakaian adat dan tari-tarian adat.
Wisuda unipa
Penyambut Wisuda Asrama Wamena
Ibarat saya mendatangi wisuda tapi berniat untuk wisata adat. Sangat menarik rasanya, bisa melihat keragaman papua lebih dekat. Sangat berbeda dengan wisuda di jawa yang lebih ribet dengan segala printilan untuk pemanis foto. Di sini memang perayaan yang berbalut adat khas mereka.
Benar saja sekitar pukul 11 siang mulai berdatangan penyambut dari masing-masing asrama dengan memakai pakaian adat. Terhitung ada tiga kelompok penyambut dari tiga asrama. Ya, mereka berangkat dengan dikoordinir teman-teman asrama. Namun penampil tarian tidak semuanya dari asrama, ada juga orang di luar asrama yang di tanggap untuk ikut meramaikan.
Tidak hanya itu yang sangat menarik ada rasa haru berbalut kebahagiaan, ada bapak-bapak dan mama-mama merangkul anaknya yang memakai toga dan meneteskan air mata. Sangat jarang ditemukan di jawa, karena di sini berasal dari daerah-daerah jauh. Untuk pulang pun mereka sangat mahal, jadi merupakan kebanggaan tersendiri saat anaknya menjadi sarjana.
Ramai Wisuda Univ. Papua
Ramai Di depan Aula Utama
Sampai-sampai ada mama-mama papua yang ikut merayakan dengan berjoget sembari jalan saat tabuhan gendang Sorong mulai berbunyi. Entah kalau gendang dan suling Sorong ini apakah memang rekan-rekan asrama yang mengkoordinir. Karena memang wisudawati yang ada di-arak hanya satu.
Lain halnya dengan tarian khas Wamena dengan beberapa orang memakai baju dari serat kayu seharga jutaan rupiah dan noken. Rasanya ini kelompok arak-arakan yang paling meriah. Dalam satu asrama ada sekitar belasan wisudawan dan wisudawati. Meskipun tidak memakai alat musik pukul kelompok ini mendendangkan lagu dengan mulut. Sepertinya tarian yang mereka bawakan adalah tarian perang.
Kelompok satu lagi dari Serui, ini juga kelompok arak-arakan yang terbilang kecil. Meskipun wisudawannya ada sekitar 8 orang kelompok ini di-arak oleh sebagian kecil saja. Ya, tentu sangat kalah meriah dengan dua kelompok. Selain musiknya hanya dengan gendang khas Serui, arak-arakan ini seakan tidak terlalu meriah.
Penari Adat Serui
Kakak Penari Adat Serui
Ketiga arak-arakan itu berjalan dari tempat wisuda menuju asrama masing-masing. Ritual kelulusan tidak sampai di situ saja, dari asrama masih ada doa untuk sang wisudawan dan diteruskan dengan makan-makan.
Bukan perayaan kecil-kecilan, karena semua orang di sekitar asrama diundang dan teman-teman wisudawan maupun semua mahasiswa asal daerah tersebut juga diundang. Sampai-sampai mereka sewa tenda di depan asrama untuk menampung para tamu undangan. Sangat mencengangkan bagi saya yang antipati pada kunjungan wisuda.

Monday, 25 March 2019

Berbagiku Untuk Nafasku, Kamu, dan Mereka


Berbagi hadiah
Sumber: foto Kim Stiver di Pexels.com

Berbagi rasanya sudah menjadi kebutuhan bagi saya. Kebetulan saat usia 19 saya rajin mengikuti kajian Ust. Yusuf Mansur pagi hari di stasiun televisi swasta. Rasanya masih melekat hingga saat ini ketika ustad bilang, “setelah sedekah minta sesuatu itu boleh, mintanya yang mewah jangan biasa-biasa saja”. Sangat impossible rasanya untuk meminta yang mewah, bagi saya saat itu ke luar pulau jawa adalah hal mewah.

Awal Mula Berbagi

Ketika itu saya berpikir apa yang bisa saya bagi? Hasilnya nihil. Tidak ada yang dapat saya bagi saat masih bersekolah di Madrasah Aliyah. Menginjak masa perkuliahan saya pun mulai memiliki rezeki, saya masih ingat sedekah saya waktu itu adalah sejumlah uang yang didapat saat menang lomba PKM Mahasiswa Baru. Tim saya berjumlah empat orang bersepakat untuk menge-nol-kan hadiah tersebut.
TIM PKM Maba
Setelah itu mulailah ketagihan untuk berbagi, sehingga berbagi saat ini merupakan kebutuhan. Menutupi kebutuhan orang lain tapi berbagi adalah menutupi kebutuhan saya. Itung-itungan matematis sampai saat ini tetap melingkar di otak saya. Satu kali sedekah akan mendapat imbalan sepuluh kali lipat.

Perpindahan Logika

Semakin hari saya menerapkan logika satu kali memberi akan mendapat sepuluh kali lipat rasanya sangat capek. Karena ketika kita memberi yang terpikirkan hanya imbal baliknya saja. Namun hitung-hitungan khas matematis ini tetap bersemayam di otak saya selama beberapa tahun.
Hingga saya bekerja di Balikpapan, saya rindu penerapan menge-nol-kan pendapatan yang telah saya lakukan beberapa tahun silam. Saya pun dengan nekat mencoba untuk menyedekahkan semua gaji saya pada bulan itu. Hasilnya? Bukan menjadi sepuluh kali lipat namun menjadi pas. Pas untuk hidup mewah sehingga lupa hitungan matematis.

Imbal Hasil Berbagi

Setelah itu saya sudah kehilangan pemikiran sedekah dengan mengharapkan imbal hasil. Tapi pikiran sedekah untuk memenuhi hasrat saya untuk berbagi masih lekat di otak. Tanpa memikirkan imbal hasil rasanya akan sangat ringan dan pastinya tidak asal memberi, tapi memberi mereka yang membutuhkan.
Hasil yang saya dapatkan rasanya sudah melebihi dari sepuluh kali lipat dari yang saya bagi. Bukannya sombong nih ya, saya dengan konsep berbagi kamar (share room) sudah berhasil solo traveling Kuala Lumpur, Johor Baru, Melaka, dan Singapura selama 10 hari. Buat yang takut berbagi, pasti akan tidur hotel dan tidak mungkin cukup uang tiga juta untuk jalan-jalan selama 10 hari di dua negara. Gak percaya? Ini ketiga hostel yang saya gunakan untuk berbagi kamar, makanya jangan takut berbagi.

Berbagi yang Benar

Saya sebetulnya kurang lebih juga termotivasi oleh tulisan Pandji Pragiwaksono, di buku Nasional Is Me dia menyatakan bahwa kita individu di dunia ini mempunyai tanggung jawab. Tanggung Jawab atas kelangsungan dunia yang sebesar ini, sedangkan masalah yang timbul di dunia ini tidaklah sedikit pula. Jadi meskipun kita peduli sebaiknya concern pada sebuah titik masalah.
#jangantakutberbagi
Foto oleh Skitterphoto dari Pexels

Di situlah saya merasa harus berdonasi tepat sasaran. Jatuhlah pilihan untuk berdonasi rutin di dompet dhuafa. Karena melalui badan penyalur seperti ini sudah ada riset siapa yang berhak disumbang, jadi dapat dipastikan tepat sasaran. Lembaga sekelas dompet dhuafa pasti memiliki berbagai program, mulai dari pembangunan rumah sakit untuk kaum papa, penghijauan, sumbangan bencana, sumbangan pendidikan, dan berbagai program lainnya.
Nah dari sinilah yang dikatakan Pandji harus saya terapkan, saat ini saya ingin concern ke program sedekah pohon. Alasan saya sederhana, karena saya bernafas orang lain pun bernafas, jika tidak ada yang concern ke hal ini pasti oksigen akan menipis. Maka dari itu saya memilih untuk fokus berbagi kebaikan melalui program tersebut. Kalau anda bagaimana?
Langkah paling penting setelah berbagi yang kita bisa, berapapun jumlahnya, adalah mengkonfirmasi donasi kita. Di link konfirmasi donasi ini anda bisa mengkonfirmasi dan diperuntukkan untuk program apa. Ini langkah penting karena akan menjadi “gong” bagi kegiatan fundrising anda.
Percayalah berbagi itu indah, mudah, dan bahagia. Jangan takut berbagi, karena Bill Gates dan puluhan orang terlanjur kaya lainnya masih bisa ketawa-ketiwi dengan berbagi.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Jangan Takut Berbagi yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa