Coro merupakan bahasa jawa dari kecoak, omong coro bermakna omongan ngelantur tapi dapat dinyatakan jujur. Maka ketenangan serupa apa lagi yang dicari di dunia yang fana ini selain kejujuran. Tulisan berikut merupakan contoh dari omong coro.

Pencarian

Translate

About Me

My photo
Hi, saya pungkas nurrohman yang mencoba dewasa dengan jalan-jalan

Saturday, 24 August 2019

Catatan Harian Selama Kerusuhan Manokwari


Pemalangan unipa
Pemalangan Unipa Oleh Mahasiswa

Minggu, 18 Agustus 2019

Malam itu terasa mencekam, terlebih lagi setelah tadi sore jam 5 mendapat kabar dari saudara bahwa akan ada aksi huru-hara di Manokwari. Setelah itu Mas Tomo yang merupakan tetangga saya di Jawa menyarankan untuk malam ini tidur di rumahnya. Karena selain rumahnya sangat jarang terdampak aksi huru-hara, juga di kompleks perumahannya lebih jauh jauh dari kampus unipa ketimbang tempat kos saya.
Awalnya saya menanggapi telpon itu tetap dengan tenang, bahkan saya sempat meremehkan. Karena beberapa hari sebelumnya memang sudah ada aksi dari mahasiswa Unipa, aksi itu menuntut penurunan SPP dan pembatalan kampus Ransiki, Manokwari Selatan. Sepanjang pemantauan saya, saat berjalannya demo terlihat damai. Meskipun tidak dipungkiri ada penutupan jalan saat orasi berlangsung, tapi tidak ada aksi anarki sampai menghajar orang yang lewat atau menjarah tempat usaha di sekitar lokasi aksi.
Tapi saya malam itu saya memilih untuk menuruti kata Mas Tomo. Bukan karena takut, tapi lebih untuk menjaga perasaan beliau dan menjawab kepedulian beliau kepada saya. Karena besok hari senin, saya memilih untuk membawa dua stel baju saja. Satu pakaian santai untuk melewati malam dan satu pakaian formal lengkap dengan sepatu untuk bekerja keesokan paginya.
Semua dokumen penting tidak saya bawa, hanya SK CPNS yang saya bawa. Karena kemarin pada hari jumat saya mendapat informasi bahwa senin harus mengumpulkan persyaratan pembayaran gaji. Di dalam persyaratan itu ada fotokopi SK CPNS sebanyak dua lembar. Saya berniat untuk meng-copy di kantor saja, toh nantinya juga persyaratan itu diberikan ke divisi saya juga.
Sebelum sampai di rumah Mas Tomo saya sempatkan untuk makan bebek dahulu bersama Darius teman kos saya. Dalam perjalanan Darius tetap keukeuh menyebutkan bahwa besok akan aman terkendali, sebetulnya tidak perlu mengungsi. Tapi saya juga tetap mengamini pendapat dia dan mengatakan hanya untuk menghargai himbauan dari Mas Tomo.
Setelah sampai rumah Mas Tomo saya memulai perbincangan tentang peta kejadian dan validitas informasi yang beliau dapat. Ternyata beliau mendapat bahwa besok akan terjadi kerusuhan dari grup WhatsApp Arema Manokwari. Dari perbincangan ini baru saya percaya informasi yang beliau dapat. Lagi-lagi beliau dan istrinya memberikan himbauan bahwa besok tidak usah masuk kerja. Berdasarkan informasi yang ia peroleh, sepanjang jalan menuju kampus pasti akan chaos.
Karena kepercayaan saya terhadap informasi tersebut masih belum sepenuhnya, saya mencoba untuk menguji informasi dengan membandingkan dengan demo mahasiswa unipa yang sudah saya ceritakan di atas. Jawabnya hanya singkat dan cukup jelas, "kalau kemarin itu hanya masalah mahasiswa unipa, tapi besok ini masalah papua. Pasti semua orang akan turun ke jalan". Dari jawaban itu saya langsung meyakini bahwa informasi tersebut A1 alias valid.
Saat malam ini berbagai informasi di grup CPNS sudah mulai simpang siur. Ada yang besok berangkat ke kantor asa yang memilih untuk diam di rumah. Berbagai himbauan dari demonstran mengalir deras di grup. Sejalan dengan grup WhatsApp, grup Facebook "Info Manokwari dan seputaran" juga menebar ajakan untuk turun ke jalan. Berbagai ajakan dengan sedikit bumbu provokasi mengalir deras di grup FB pada malam itu.
Malam itu saya mencoba untuk mengomentari tweet mas Dandhy Laksono "Sexy Killer". Untuk menerangkan tweet kekhawatiran dia atas ejekan rasis kepada mahasiswa Papua di Surabaya. Dengan melampirkan brosur ajakan aksi yang saya dapat di FB.

Senin, 19 Agustus 2019

Pagi itu saya dibangunkan dengan notifikasi pesan WhatsApp. Tepat pukul 6 pagi saya baru bangun. Penyebabnya adalah semalam saya baru tidur pukul 12 malam. Berbagai pesan dengan video yang mencekam pagi itu kembali mengalir deras. Ternyata memang mulai pagi sudah terjadi chaos di berbagai tempat. Bagi saya yang belum pernah mengalami kejadian seperti ini pasti akan setres.
Saya mencoba mengabarkan informasi terkini di Tweet lanjutan dari komen saya pada mas Dandhy "sexy killer". Alhasil beliau pun me-Retweet informasi terkini dengan dilampiri video yang saya kabarkan. Saat itu kondisi gamang antara pergi ke kantor atau tidak pun melanda. Jika tidak berangkat ke kantor apa kata orang, karena memang saya masih beberapa hari masuk. Masak masih beberapa hari masuk kantor saya sudah membolos.
Kebingungan saya pun terobati dengan kabar bahwa hari itu kampus diliburkan. Keputusan tersebut dikeluarkan oleh Wakil Rektor  II dan disebarkan ulang oleh ibu Kepala Biro. Info tersebut menyebar tepat pukul 8. Sebelumnya juga ada info dari kepegawaian bahwa situasi tidak kondusif dan semua aktifitas kampus diliburkan.
Setelah itu berbagai video penjarahan, pemalangan (penutupan jalan), pembakaran kios maupun ban muncul di semua sosial media. Mulai dari grup Facebook, WhatsApp, Twitter. Untungnya saat pagi hingga siang hujan pun turun, jadi efek pembakaran tidak sebegitu parah.
Saya memantau kesemuanya itu dari sosial media maupun dari atas teras rumah. Suara-suara banyak orang berteriak, tiang listrik dipukul, hingga suara tembakan, seakan menjadi pemacu adrenalin. Ketegangan pun menyelimuti pada pagi hingga siang hari. Jika dilihat dari atas atap kepulan asap hitam menjadi alarm tersendiri bahwa situasi masih belum aman.
Bertubi-tubi chat dari sanak saudara, teman hingga mantan pun masuk ke handphone. Sekedar menanyakan kabar dan penyebab kejadian. Meskipun lelah berbagai pertanyaan saya jawab, karena saya sangat senang dengan mereka yang bersimpati terhadap saya. Saat itu saya merasa bersyukur memiliki sanak saudara dan teman yang peduli.
Hingga tengah hari suara adzan pun tidak berkumandang. Mungkin takmir masjid melihat kota injil masih kurang kondusif untuk mengundang sholat berjamaah. Baru terdengar kumandang adzan saat maghrib. Sangat terasa chaos yang disebabkan oleh demonstran yang memilih untuk menyingkirkan kaum pendatang.
Sekitar pukul 11 siang suara demonstran pun mulai tidak terdengar. Menurut info yang beredar pendemo mulai turun ke seputaran kota. Saya mulai bersyukur dengan kegaduhan yang sudah mereda. Meskipun suara ricuh sudah tidak terdengar saya masih belum berani melihat situasi di jalan raya.
Sekitar pukul 1 siang tersebar kabar bahwa gedung DPR Manokwari sudah dibakar massa. Situasi kerusuhan yang terbungkus ketakutan sudah pasti tercermin pada saat itu. Beberapa kali saya hubungi anak-anak kos mereka mengatakan bahwa dikos aman. Tapi mulai siang memang listrik daerah Amban Permai mati.
Saat maghrib sudah terdengar adzan saya pun sembahyang berjamaah di masjid. Situasi pada malam itu sudah tidak mencekam, tapi jalur informasi sudah terputus. Karena pada malam itu sinyal internet se-Papua sudah dimatikan, ada beberapa lokasi yang tidak terdampak kerusuhan hanya diperlambat saja kecepatannya. Sehingga malam itu hingga pagi hari tulisan ini dibuat kami tidak bisa memantau informasi di seputaran Manokwari.
Untung saat kejadian ini saya mengungsi ke rumah Mas Tomo. Jika saya tidak mengungsi mungkin saya bisa kelaparan. Karena memang beberapa kios memilih untuk tidak melayani pelanggan daripada kios mereka terkena jarah. Dan jika saya tidak mengungsi pasti saya tidak tahu informasi apapun. Baru kali ini saya bersyukur atas kepatuhan saya kepada himbauan. Sebelumnya saya tidak pernah bersyukur karena kepatuhan.

Selasa, 20 Agustus 2019

Hari ini keadaan perlahan meredam, mungkin karena sinyal internet dimatikan oleh menkominfo, jadi provokasi pun terhenti dan hanya beberapa pemabuk yang masih melangsungkan kerusuhan. Semalam kata teman kos saya, di depan kos ada sedikit kerusuhan. Semalam ada pembakaran ban dan kayu mulai tengah malam hingga pagi.
Kejadian semalam itu yang membuat saya mengurungkan niat untuk kembali ke kos. Menurut keterangan anak-anak kos juga di kos sedang ada pemadaman listrik. Mungkin ada kabel listrik yang putus sehingga jaringan listrik di sekitar kos mati. Sekali lagi saya beruntung sudah mengungsi dan tidak merasakan lampu mati.
Meskipun suasana pagi itu sudah kondusif saya memilih untuk tidak berangkat ke kantor dahulu. Pagi itu saya telpon Pak Ruben yang satu divisi dengan saya beliau memilih untuk tidak berangkat. Karena meskipun kerusuhan sudah reda tapi jalan-jalan masih banyak kayu dan gerobak-gerobak hasil pembakaran kemarin.
Semua informasi saya kumpulkan dengan cara menelpon kesana-kesini. Karena sinyal internet masih saja belum dapat dipakai. Hingga malam tiba pun juga masih belum bisa terpakai. Mungkin karena memang masih ada potensi penyebaran hoax dan provokasi, jadi untuk berjaga-jaga akses informasi pun dibatasi.
Tapi hari ini saya sudah mulai melihat-lihat situasi ke jalan raya. Semua warung tenda di depan perumahan Marina mayoritas hangus terbakar. Siang itu saat saya berjalan-jalan kedepan pemalangan sudah tidak terlihat. Tapi kondisi jalan memang masih dan sangat sepi. Abang batagor di pojokan Marina Mart juga masih belum berdagang.
Sore hingga malam sepertinya kondisi sudah kondusif. Bahkan kata kristin yang nge-kos tidak jauh dari kosan saya di depan kos sudah mulai banyak ojek lewat. Ojek merupakan parameter keamanan Manokwari. Jika ojek sudah beroperasi berarti semua jalan sudah bersih dari kayu yang melintang di jalan. Artinya sudah aman.
Terdengar kericuhan pada malam harinya saja. Malam itu sekitar pukul 11 malam terdengar suara orang teriak-teriak. Entah dari mana. Yang jelas suara tersebut seperti suara yang saya dengar saat kericuhan tanggal 19 kemarin. Disertai suara motor dengan knalpot yang bising. Lumayan mencekam.

Rabu, 21 Agustus 2019

Hari itu saya berniat mengantor, namun seperti biasanya, saya harus cek dulu kondisi kantor bagaimana. Pagi hari saya pergi ke kosan dan sekalian melakukan cek ke kampus. Saat keluar perumahan situasi tetap mencekam langsung tergambar dari suasana jalan yang kanan kirinya berhiaskan sisa-sisa pembakaran. Terlebih lagi jalan di depan universitas, masih banyak sisa-sisa ban dan kayu terbakar.
Masuk di daerah kosan, kondisi sudah tidak terlalu mencekam. Sama sekali tidak terlihat sisa pembakaran. Hanya beberapa kayu dipinggiran jalan bekas pemalangan. Pemalangan adalah nama Papua dari blokade jalan. Biasanya mereka memblokade jalan dengan menaruh begitu saja barang-barang keras seperti kayu, daun kering, semak, tong, dan lain sebagainya. Tujuannya hanya agar jalan tidak bisa terlewati oleh pengendara.
Setelah dari kos saya sekalian melihat ketiga gerbang yang dipalang oleh mahasiswa saat jumat lalu. Ternyata ketiga gerbang pun masih tetap terpalang dan di gerbang rektorat malah ada mahasiswa yang bertugas untuk menjaga, mungkin karena palangnya sangat mudah diterobos jadi mereka menjaga agar tidak ada siapapun yang menerobos jalan.
Pilihan gerbang selain lewat ketiga "gerbang resmi" tersebut adalah lewat jalan belakang. Sepanjang pengetahuan saya, hanya ada satu jalan tak lain hanya lewat perumahan dosen. Meluncurlah saya melewati papan nama LPMP yang sudah roboh dihajar massa. Saat masuk lorong tersebut situasi mencekam kembali melanda. Karena memang di sana adalah perumahan warga asli Papua, jadi sepanjang jalan akan terlihat orang-orang asli Papua. Sampai pada perumahan dosen, seluruh rumah tidak ada yang terbuka kecuali rumah dosen yang hitam kulit dan keriting rambut.
Masuk terus hingga keluar fakultas MIPA ternyata kondisi universitas lebih mencekam lagi. Hanya ada orang-orang asli Papua dengan mengenakan baju santai. Dari sini dapat disimpulkan kampus masih libur dan di dalam kampus hanya orang-orang main (tidak untuk bekerja ataupun kuliah) saja.
Saat naik ke rektorat di UPT komputer saya melihat pak Ronaldo dengan mengenakan setelan baju rapi lengkap dengan sepatunya. Pak Ronaldo ini adalah CPNS juga, dia bertugas di UPT Komputer.
Saya menyempatkan diri untuk berbincang sejenak dengan dia. Ternyata dia memang berniat untuk bekerja pada hari ini. Namun UPT komputer saat itu memang masih tutup dan terkunci, dia memilih untuk menunggu dulu setengah jam. Jika setengah jam masih belum ada orang di UPT Komputer dia akan mengurungkan niat untuk bekerja.
Setelah berbincang dan berbasa-basi saya pun naik ke rektorat. Dengan harapan akan bertemu dengan orang kantor dan bertanya apakah saya harus masuk hari ini. Tepat di persimpangan jalan saya bertemu dengan bu Agustin (orang kepegawaian). Tanpa ditanya beliau langsung memberitahukan bahwa hari ini saya libur. Tanpa pikir panjang saya pun langsung putar balik menuju Marina.
Setelah sampai rumah saya menelpon beberapa orang untuk menceritakan kondisi kampus. Saat siang hari saya berinisiatif untuk jalan-jalan ke mbak Naimah (CPNS bagian kepegawaian). Selain untuk menanyakan kabar kampus terkini saya juga ingin refreshing dahulu. Karena memang internet mati dan di rumah tidak ada kegiatan.
Ternyata di rumah mbak Naimah ada akses Wifi. Dari sinilah saya baru mengetahui kenapa saya disuruh pulang oleh bu Agustin tadi. Dalam grup WA ada beberapa keterangan yang menyatakan bahwa tadi tepat saat saya naik ke rektorat, ada beberapa orang yang menyuruh pendatang (orang non-Papua) libur. Ternyata informasi ini sudah menyebar luas dan yang mengetahui informasi ini hanya yang memiliki akses wifi.
Saat malam hari saya mencoba mengkonfirmasi ke pak Giarto (kepala bagian keuangan). Beliau mulai masuk kantor pada hari selasa. Hingga rabu tadi beliau dan beberapa orang di bagian keuangan lainnya (termasuk pak Ruben) masuk seperti biasa. Menurut keterangan beliau tadi sama sekali tidak ada apa-apa di kantor.
Wah berita mulai simpang siur, namun saya merasa enggan untuk mencari konfirmasi. Karena memang saat ini saya mulai menikmati bagaimana rasanya liburan yang baik dan benar. Mengantor pun jika hanya beberapa orang pasti tidak akan nyaman. Pun juga saya saat ini hanya bertindak sebagai pembantu umum yang masih belum memegang tanggung jawab.

Kamis, 22 Agustus 2019

Tepat pada hari itu saya benar-benar bosan. Sampai-sampai saat bangun pagi saya sempatkan mencabut rumput dan mengurus halaman depan rumah Mas Tomo. Hari ini isu mulai bermunculan, mulai dari adanya aksi lanjutan sampai gubernur Jawa Timur ibu Khofifah akan berkunjung ke Papua. Entah yang benar mana, yang jelas saya mulai malas untuk bermalas-malasan di rumah.
Muncullah ide untuk berjalan-jalan ke rumah Bang Najib. Lokasinya tidak jauh dari rumah Mas Tomo. Bahkan terletak di satu perumahan, hanya berjarak dua blok perumahan saja. Saat siang setelah sholat dzuhur saya pun mulai menelpon Bang Najib. Dan alhamdulilahnya dia ada di rumah. Seperti saat berkunjung ke Mbak Naimah, saya pun berkunjung hanya untuk menghabiskan waktu saja.
Saat ke rumahnya pemandangan di depan kosnya saat siang hari sangat enak dipandang. Jadilah saya menghabiskan waktu ditengah kematian internet di rumahnya. Mungkin ini hikmah yang dapat dipetik dari matinya internet. Saya bisa menyambung silaturahmi tanpa repot dengan pesan WA yang ingin cepat dibaca.
Lagi pula di depan kosnya ada kediaman Bupati Manokwari yang megah bak istana. Di atas lantai dua kosnya saya bisa memandang kondisi yang sudah relatif aman. Namun masih sangat jarang pendatang yang mondar-mandir di jalanan. Jadi bila boleh menyimpulkan, dapat dikatakan aman tapi tetap mencekam. Bahkan di jalan perumahan pun sangat jarang pendatang non-Papua mondar-mandir.

Monday, 12 August 2019

Info Lomba Blog Deadline 31 Agustus 2019



Lomba Blog Search Engine Optimation (SEO) bertema Merdeka Kirim Uang.

Hadiah:

  •          Juara 1 : Rp. 3.000.000
  •          Juara 2 : Rp. 2.000.000
  •         Juara 3 : Rp. 1.000.000
  •          3 Blogger dengan Trafik Tertinggi : @ Rp. 500.000
  •          3 Blogger Share terbanyak di social media : @ Rp. 500.000
  •          8 Pemenang Mingguan : @ Rp.125.000

Syarat dan Ketentuan Lomba:

  •          Lomba ini diperuntukkan seluruh Blogger di Seluruh Indonesia dengan platform apapun (TLD maupun non TLD seperti blogspot, kompasiana, wordpress, dll);
  •          Lomba ini gratis tidak dipungut biaya;
  •          Peserta wajib mem-follow dan like akun sosmed true money (Instagram, Twitter, dan Facebook) dan juga taudariblogger.info ;
  •          Page yang dilombakan wajib di-share ke Instagaram, Facebook, dan Twitter dan mention akun true money dan taudariblogger.info dan jangan lupa membubuhkan hashtag: #TrueMoneyId #TrueMoneyPengirimanUang #KirimUangTanpaRekening #TauDariBlogger
  •          Judul artikel harus sesuai dengan tema lomba yaitu “Merdeka Kirim Uang”;
  •          Panjang artikel minimal 400 kata;
  •          Artikel merupakan karya sendiri (tidak Plagiat);
  •          Artikel tidak mengandung unsur SARA;
  •          Artikel harus mengandung 3 kata kunci dari kata kunci berikut ini:

o   Pengiriman Uang
o   Pengiriman Uang Mudah
o   Pengiriman Uang ke Luar Negeri
o   Pengiriman Uang Dalam Negeri
o   Mengirim Uang
o   Mengirim Uang Tanpa ATM
o   Mengirim Uang Tanpa Bank
o   Cara Mudah Kirim Uang
o   Cara Mudah Kirim Uang Tanpa ATM
o   Cara Mudah Kirim Uang Dalam Negeri
o   Cara Mudah Kirim Uang ke Luar Negeri
o   Cara Mudah Kirim Uang Tanpa Bank
  •          Judul harus menggunakan kata kunci ;
  •          Peserta Wajib memasang banner lomba (di sidebar ataupun di bawah artikel)dan diberikan link ke https://www.truemoney.co.id/ ;
  •          Peserta boleh mengirimkan lebih dari satu judul dalam satu blog ;
  •          Tulisan yang diikutkan lomba wajib di submitke form pendaftaran di sini ;
  •          Setiap peserta berhak memenangkan hadiah mingguan dan hadiah utama ;
  •          Artikel yang dilombakan akan menjadi milik True Money dan dapat digunakan promosi ;
  •          Artikel wajib dipost di blog saat periode Lomba ;

Periode Lomba:

·         Submit tulisan                                   : 10-31 Agustus 2019
·         Penilaian                                            : 1-20 September 2019
·         Pengumuman Pemenang                   : 21 September 2019

Wednesday, 7 August 2019

Tak Perlu Repot Dengan Asuransi Astra


Inovasi Teknologi Keuangan
Kakakku dan Motor Barunya (sumber: Dokpri)
Beberapa bulan kemarin kakak saya yang ke-4 membeli motor baru. Senang rasanya setelah beberapa tahun tidak pernah membeli motor akhirnya terbeli juga. Entah memang tradisi keluarga atau bagaimana, yang jelas di dalam keluargaku tidak ada tradisi untuk membeli motor di dealer secara kredit. Kata bapak, cara membeli motor dengan kredit akan terlihat sangatlah mahal.
Mungkin ada-adanya bapak saja, lha wong bapak ini adalah petinggi koperasi karyawan bernama Karya Tirta kok. Jelas saja beliau pasti menuding instrumen keuangan lain bunganya menggunung. Ibarat kata bapak ini melakukan strategi promosi dengan cara kampanye hitam. Menjelekkan penyedia jasa keuangan lain demi meninggikan koperasinya.
Tapi meskipun bapak ketua koperasi karyawan, sangat jarang sekali beliau membeli motor baru. Sepertinya semenjak saya lahir tidak pernah melihat pick-up dealer warna putih dengan logo merah mengantar kendaraan baru ke rumah kami. Pasti setiap beli motor ya ke penyedia motor bekas. Kata bapak lebih masuk akal harganya daripada membeli motor baru yang harga bekasnya pasti turun.
Mulai dari kelima putranya belum pandai menaiki vespa sampai salah satu putranya pernah touring lintas pulau, bapak tetap melanggengkan adat membeli motor bekas. Mau tidak mau tradisi tersebut menular ke semua putranya. Tapi kakak saya yang ke empat ini sepertinya anti-mainstream. Berusaha mendobrak tradisi keluarga dengan membeli motor baru.
Mungkin dia sudah merasa cukup untuk menanggung turunnya harga motor bekas bila dijual ke pasar. Namun lagi-lagi bapak mempromosikan koperasi karyawan dinas pengairan tersebut. Trik beliau tergolong unik. Dengan menyuruh kakak mencari referensi jasa keuangan untuk kredit kendaraan. Setidaknya pat brosur dengan mekanisme cicilan sudah dikumpulkan.
Lalu bapak membuat mekanisme cicilan berdasarkan perhitungan ala koperasinya. Beliau mencorat-coret bagian belakang kalender untuk memberikan analogi sederhana cicilan. Memang kalah rapi dengan brosur lembaga finansial yang sudah terkumpul. Tapi hasilnya cukup mencengangkan. Hasil perhitungan dari pulpen tersebut dapat membuktikan berhutang kepada koperasi lebih murah dari keempat brosur yang terkumpul tersebut.
Tiba-tiba saya teringat teman bapak yang mengkredit dengan mekanisme tersebut lalu motornya hilang. Seingat saya baru lima bulan membayar cicilan motor teman bapak hilang. Sudah lapor ke Polres tapi tetap saja masih belum ketemu. Alhasil kawan bapak yang seorang pensiunan tersebut tetap membayar cicilan ke Koperasi meskipun motor hilang diambil pencuri.
Dengan pengalaman saya yang pernah belajar tentang perencanaan finansial, saya memberikan saran untuk mengasuransikan motor baru tersebut. Bukan karena buruknya anggapan di masa mendatang. Tapi sekedar antisipasi saja. Karena setiap mengangsur kendaraan pun perusahaan finansial juga memberikan asuransi kendaraan. Mungkin kalau perusahaan finansial melakukan hal itu karena memang paham resiko pelanggan yang pasti enggan untuk membayar cicilan motor yang sudah hilang.
Syukurnya kakak saya mendengarkan nasehat saya. Maka dicarilah perusahaan asuransi kendaraan. Mungkin kakak saya sudah lelah untuk mengumpulkan brosur lagi. Maklum setelah kesana kemari mencari brosur penyedia kredit kendaraan, sepertinya tenaganya juga sudah habis. "Hanya untuk mencari referensi saja masak harus lari-lari lagi?", Keluhnya.
Saya pun mencari referensi dengan sebatas berselancar di dunia maya. Maka bertemulah dengan Asuransi Astra. Asuransi satu ini sepertinya sudah berinovasi dalam memberikan penawaran. Inovasi teknologi keuangan ini sebetulnya yang kami tunggu-tunggu. Dengan mempelajari produk hanya dari genggaman telepon pintar, pasti tidak harus berpanas-panas hanya untuk mengumpulkan brosur.
Garda oto botchat
Icon Botchat Garxia (Sumber: playstore Garcia)

Namun seperti yang saya bilang di atas. Inovasi teknologi keuangan sepertinya yang membuat salah satu lini bisnis Astra Financial Service ini dipilih oleh kakak saya. Salah satu inovasi teknologi yang digunakan adalah chatbot yang bernama Garxia. Untuk berinteraksi dengan robot yang digambarkan wanita dengan rambut panjang ini kita cukup mengunduh aplikasi Garda Mobile Otocare. Di sana kakak saya bercengkrama dengan robot chating yang berbaju biru tersebut.
Setelah mendapatkan penjelasan tentang pembelian asuransi, tiba-tiba saya menghentikan pembeliannya. Karena sepertinya ada yang mengganjal bila tidak tahu produk atau perjanjian antara penanggung dan tertanggung. Kembali lagi saya berselancar untuk mencari referensi. Voila! Saya menemukan informasi produk yang dibutuhkan kakak saya. Menurut saya penjelasannya sangat mencerahkan, seperti muka yang setiap hari tersiram air wudlu. Bagaimana tidak? informasi seperti di link ini sudah menjelaskan risiko yang dijamin, prosedur klaim, sampai pengecualian sudah tertulis dan mudah untuk dipelajari. Sekali lagi dari sini Garda Oto sudah berhasil untuk menjelaskan tanpa membawa polis asuransi.
Jika masih kurang pas di hati karena kurang interaksi dengan manusia. Ada namanya layanan Garda Akses. Jadi hanya untuk memantapkan hati pelanggan yang biasa bercengkerama dengan penjualnya. Karena tidak dipungkir masih ada sebagian orang yang kurang mantap hati ketika membeli produk tanpa bertanya langsung ke penjual.
Sepertinya bila diulik lebih dalam pasti sangat banyak lagi inovasi teknologi oleh Astra Financial Service. Jadi sangat memudahkan bila mendaftar asuransi dengan berbalut teknologi informasi seperti Garda Oto ini. Tidak hanya asuransi motor hilang dan kecelakaan saja. Setelah saya berselancar juga ada beragam asuransi konvensional maupun syariah yang disediakan. Jadi lebih mudah.
Setelah memantapkan hati kakak saya memilih Garda Oto untuk menanggung asuransi motor barunya. Setelah membeli motor hanya memasukkan beberapa data yang diperlukan dan asuransi sudah ada. Artinya bila motor baru tersebut hilang dapat melakukan mekanisme klaim yang sudah dipelajari sebelumnya. Cukup mudah rasanya bila semua penjual jasa sejenis juga menyediakan informasi sejelas dan semudah ini. Mudah untuk dipelajari juga mudah untuk dibeli.

Tuesday, 6 August 2019

Ketika Anak Emas Disuruh Mencuci


Ketika anak emas disuruh mencuci
Listrik atau Lampu yang mati?
Jakarta blackout, semenjak beberapa hari setelah gempa di Banten, Jakarta dan sebagian daerah di Jawa Barat dan Jawa Tengah mengalami lampu mati. Tentu peristiwa yang biasa dialami masyarakat luar jawa ini menjadi sangat bombastis. Bukan karena lampu matinya tapi karena di Jakarta.
Mungkin kalau lampu matinya di Sangatta sana menjadi hal yang biasa. Salah satunya yang membuat ini mencuat ke permukaan karena segala peralatan di ibukota tersebut sebagian besar menggunakan listrik. Mulai dari alat masak, alat produksi, sampai alat transportasi menggunakan listrik. Bila listrik mati mungkin sebagian kehidupan kota metropolitan tersebut juga ikut mati.
Saya yakin lampu mati yang disebabkan adanya kendala teknis di SUTET Ungaran dan Pemalang tersebut efeknya tidak se-bombastis di Manokwari. Sinyal HP saya yakin di sana masih 4G. Lain halnya di Manokwari saat mati listrik karena defisit daya di Maripi, sampai sinyal HP anjlok ke 3G tapi kualitas 2G. Iya, tulisannya di HP 3G tapi internet sama sekali tidak dapat dipakai.
Tapi ya taulah ya, Jakarta adalah ibukota dan Jawa adalah "anak emas"-nya indonesia. Jadi ibarat kata Bawang Merah yang di suruh nyuci satu baju sudah sambat. Tapi Bawang Putih tetap mencuci tumpukan baju satu keranjang dengan riang gembira. Jadi ya bisa dimaklumi lah ya, kalau mereka mati listrik selama 6 jam saja sudah merasa WOW sedangkan masyarakat luar jawa merasa halah biasa.
Perasaan seperti inilah yang membuat Jakarta tidak menjadi kota seribu jenset seperti Samarinda. Sehingga lampu mati pun sama sekali luput dari prediksi mereka. Sampai muncul berbagai hal yang membuat geleng-geleng kepala, seperti mereka yang tidak punya genset memilih pindah hidup di hotel, nikahan yang full tanpa memakai listrik, dan tingkah pola lainnya. Memang susah rasanya jika terlalu enak hidupnya, sampai-sampai untuk kondisi terburuk mereka tidak siap.
Konflik hukum pun menjadi buntut panjang. Mulai dari tuntutan ganti rugi ke PLN sampai memnuntut stakeholder untuk memberikan ganti-rugi. Sekali lagi saya membandingkan Jakarta dengan kota-kota yang byar-pet-byar-pet. Terlebih di Manokwari sini, yang petugas listriknya sangat labil. Ibarat kata petugas ini suka mainan listrik. Setelah mati dihidupkan lagi, lalu dimatikan lagi, lalu hidup lagi. Kulkas banyak yang terbakar, AC banyak yang rusak tapi ya gak ada yang nuntut ganti rugi.
Lain halnya dengan warga jekadah yang tradisi lu guenya sampai ke Kulonprogo tersebut. Mati tanpa ada yang TV rusak saja mereka menuntut kerugian. PLN pun mengamini ganti rugi tersebut dengan memangkas 35% tagihan listrik. Hanya kalimat "hadeeeehh" saja yang dapat mewakili hal ini.
Terlepas dari kelakuan warga ibukota indonesia dan juga perilaku penyedia listrik tersebut. Sudah pantaskah warga indonesia non pulau Jawa dan non Jakarta menuntut untuk merdeka? Merdeka secara keseluruhan seperti Jawa dan Jakarta. Bukan lepas dari indonesia tapi minimal diangkat dari status anak tiri menjadi anak kandung. Apa yang berlaku di Jawa juga berlaku di daerah lain. SEMOGA SAJA MENJADI AMIN YANG TERKABUL OLEH PEMERINTAH.

Monday, 5 August 2019

Ria Richis dan Prediksi Saya


Ria ricis dan netizen
Caption Pamit
Beberapa hari yang lalu saya mendengar kabar melalui Line Today bahwa Ria Richis pamit dari Youtube. Insting saya mengatakan ini Youtuber tidak akan mungkin melakukan hal seperti Reza Arab. Karena selain dia subscriber- nya sangat banyak, pun sepertinya Ria ini tergolong Youtuber yang tidak nekat. Seringkali kontennya mengikuti trend dan sangat membosankan. Meskipun Reza Arab juga membosankan tapi si Reza juga sebelumnya sudah mulai merambah industri musik.
Dan beberapa hari setelah berpamitan muncul kabar lagi bahwa Ria kembali melakukan aktivitas seperti layaknya Youtuber lainnya. Ya benar, dia kembali meng-upload videonya. "Lho ya kan, sesuai prediksi saya", kalimat ini meluncur secara spontan setelah Line Today memberikan kabar terbaru itu. Kurang lebih 2-3 hari yang lalu setelah saya memberikan prediksi.
Netizen pun langsung menyerang kanan kiri depan belakang kepada Ria. Level damage-nya sejenis dengan serangan warganet kepada Revina saat pamer tas mahal. Saya yakin Ria tidak akan menanggapi hingga makan tidak enak dan tidur tidak nyenyak. Untuk sekelas Ria yang sudah mengalami manis pahitnya dunia kolom komentar, pasti akan menanggapi ini secara lumrah. Saat itu prediksi saya seperti itu.
Lha kok ujug-ujug Line Today saat siang ini tadi mengirimkan berita bahwa Ria menuju ke Polres terdekat. Seperti seorang prediksi yang gagal saya pun mengumpat. Prediksi saya salah atas respon Ria. Ternyata ini membuktikan bahwa saya bukan cenayang sejati. Prediksi pertama benar tapi prediksi kedua salah.
Tapi saya sekarang ini juga menyayangkan Ria yang berangkat ke Polres untuk melaporkan netizen julid unfaedah. Pun juga yang saya sayangkan bukan hanya Ria tapi juga warganet yang seakan tertipu. Kok ya mereka itu percaya-percaya saja dengan Ria. Padahal sebelum-sebelumnya juga sudah ada si Awkarin yang anggun lengkap dengan kuda bertopengnya.
Awkarin dulu pernah menyatakan bahwa akan menjual akunnya. Entah saya lupa karena memang tidak penting untuk diingat dia berbicara dimana. Entah di Twitter, IG atau jangan-jangan saya juga hanya lihat di Line Today. Setelah dia mengatakan akan menjual akun, eh malah posting lagi. Ternyata dia menjual akunnya ke dirinya yang baru. Terlihat wagu dan membingungkan memang.
Dari peristiwa ini kok ya masih ada warganet yang percaya dan mem-bully Ria. Ibarat kata warganet yang terlanjur percaya kemarin itu mirip kyk squishy, udah dipencet sana dipencet sini masih balik lagi. Seakan tidak membekas sama sekali peristiwa "jual akun"-nya Karin Novilda. Maka kalau kata kalimat bijak anak aktivis Organisasi Mahasiswa Ekstern Kampus sih Jas Merah.
Dari sekian peristiwa khas artis non TV ini, sepertinya malah memberikan dampak yang sangat signifikan kepada sang artis. Sampai-sampai tidak kuat dan memilih untuk memasukkan cercaan itu ke ranah pidana. Lain halnya dengan artis TV, karena memang tidak ada kolom komen di TV ataupun acara entertainment, sehingga interaksi antara penonton dan yang ditonton tidak dapat terfasilitasi dengan baik.
Mungkin hikmah bagi saya atas pamit yang kembali khas Ria ini adalah saya mengetahui makna dari akun Line. Karena memang hampir semua teman saya tidak menggunakan fasilitas chat di Line, jadi hanya dapat melihat kabar di Line Today atau membagikan link blog di Line Square.

Saturday, 3 August 2019

Setitik Nila yang Hampir Rusak (7)


Baca Cerita Sebelumnya
Sumber: https://twitter.com/bemb_beng

Siang itu terasa terik sekali, Ashari pun juga rewel. Maklum bayi yang belum
cupak pusar akan sangat terganggu dengan teriknya siang. Baru umur beberapa hari, penglihatan belum sempurna, pusar masih terbungkus kain kasa selepas digunting. Nila antara bingung dan senang memberikan ASI kepada Ashari.
Saat sedang asyik merasakan nikmatnya memiliki anak, pintu kamar pun diketuk ibu. "Ashari kenapa dari tadi menangis?", Tanya ibu sembari dengan membuka pintu kamar. "Enggak bu cuma pingin netek", jawab Nila sambil menggendong Ashari.
Rupanya ucapan itu cuma modus ibu yang ingin menggendong cucu pertamanya. "Apa kamu tidak capek dari subuh nggendong Ashari? Sini ibu gendong", ibu melancarkan modusnya yang disusun semenjak mengetuk pintu kamar. Sembari menikmati peran sebagai nenek, dengan tangan kanannya ibu mengelus kepala Nila. "Kami cantik Nil, lebih putih dari saat kamu keluar rumah", kata Ibu. Entah mengapa Nila sangat menikmati momen ini. Momen merasakan nikmatnya menjadi seorang anak sekaligus seorang ibu.
Perlahan air mata pun menetes di mata kedua ibu tersebut. Entah rasa bangga, haru, senang, dan tercengang atas banyaknya tikungan dalam lika-liku kehidupan ini. Terlebih Nila yang saat beberapa bulan lalu sempat mengkhianati Ibu demi seorang setan yang berbaju pemuka agama. Masih membekas di ingatan, petuah Ibu yang memang bersumber dari grup WA PKK. Ia berpikir kekhawatiran itu muncul bukan karena info tersebut saja, tapi ada faktor naluri keibuan yang ikut berperan di sana.
***
"Suamimu apa sudah diberikan kabar?", Suara Ibu membuyarkan lamunan Nila. "Belum bu, dianya aja nggak peduli", jawab Nila dengan cuek. "Jangan begitu nak, sebejat apapun dia memperlakukanmu. Dia tetap suamimu. Apa kamu gak takut kena azab karena tidak berbakti pada suami?". Kali ini Nila rupanya ingin berdiskusi dengan kedua orang tuanya. Apakah yang sebaiknya dilakukan olehnya. Setelah mengirim pesan singkat kepada Habib berisi kabar bahwa ia melahirkan beberapa hari yang lalu, Nila mencari bapak untuk diajak duduk bersama Ibu di ruang tamu.
Bapak dan Ibu memberikan pendapatnya terkait menantunya yang tidak bertanggung jawab itu. Inti dari pendapat keduanya adalah melarang Nila untuk kembali ke rumah Habib, sampai Ashari bisa merangkak. Karena sangat susah untuk mengurus bayi. Bila Nila sendiri di rumah sebesar itu, takutnya akan kerepotan sendiri untuk mengurus pekerjaan rumah tangga, dirinya dan juga anaknya. Peran seorang lelaki yang mengayomi sangat dibutuhkan di saat ini. Bila di rumah orang tuanya pasti Nila akan terbantu, dan pasti juga banyak yang membantu.
Di tengah percakapan sore itu yang ditemani teh buatan Nila sebagai ucapan terimakasih atas urun rembuk kedua orang tuanya, tiba-tiba telepon genggam Nila berdering keras. Khawatir mengganggu Ashari yang sedang tidur, langsung diangkat tanpa melihat siapa yang menelpon. Ternyata ada suara pria yang familiar di kuping Nila, ya diujung sana ada Habib Turmudzi yang menelpon. Ia mengucapkan selamat kepada bunda baru dan menyatakan talak sebanyak 3 kali sebagai isyarat cerai.

Friday, 2 August 2019

Cara Berpenghasilan dari Blog


Bloging (Credit By: Negative Space on Pexels.com)


Kerap kali saya mendapat pertanyaan di grup ataupun di line square bagaimana cara dapat uang dari nge-blog. Di jaman yang serba membayar ini rasanya lumrah pertanyaan itu lahir. Kerasnya kehidupan dan sistem keuangan yang serba meningkatkan nilai membuat semua orang ingin bekerja dengan mudah sekaligus murah.
Blogging merupakan hal yang paling mudah dan juga murah, hanya otak-atik di depan layar sudah selesai. Bila ditarik mundur ke belakang saya jadi ingat iklan rokok berbunyi, "Ngantor hanya pakai kolor di pulau Alor". Sangat mengasyikkan memang. Di saat orang lain bekerja dengan pakaian formal, seorang blogger hanya bekerja dengan kolor.
Tapi kebanyakan orang hanya memandang keasyikannya saja, tanpa berfokus pada apa yang harus dilakukan seorang blogger secara keseluruhan. Bila bekerja di kantor anda secara garis besar hanya dituntut untuk datang dan mengerjakan pekerjaan yang diperintah oleh bos. Lain halnya dengan seorang blogger yang tidak memiliki bos. Anda akan diperintah oleh diri sendiri. Bukan absen yang anda incar tapi adalah hasil.
Beberapa orang blogger seperti pak Himam, mbah Efendi, dan pak Dahlan menulis setiap hari. Setidaknya ada konten yang dipublikasi di setiap harinya. Sepertinya bukan hanya blogger saja yang memasukkan kata rutin dalam setiap karyanya. Youtuber, Podcaster, dan berbagai pembuat konten kekinian lainnya juga melakukan hal itu. Untungnya membuat tulisan tidak sesusah membuat video, gambar atau konten lainnya. Bila konten lain harus seminggu dua kali, untuk blogger sebaiknya setiap hari kita publish tulisan kita.
Sebelas dua belas dengan wartawan memang, tapi bukannya setiap hari anda juga harus absen dengan karya. Bila anda malas untuk berkarya di setiap harinya maka akan susah untuk menjadi blogger setiap hari. Jika ingin menjadi blogger setiap hari maka seharusnya ya berperilaku sebagaimana blogger. Menulis untuk mengisi blog atau hanya mempromosikan blognya dan juga mengunjungi blog lain untuk memperluas khasanah blogging.
Jangan hanya menulis saja, bila menulis selama setiap hari berturut-turut sudah membuat anda penat, sebaiknya anda mulai mencari konten lain. Blogging bukan hanya menulis. Anda dapat mempublikasi hal yang bermanfaat. Seperti misalnya saya setiap Agustus mencari jadwal karnaval. Bisa dengan copy paste informasi seperti itu. Setidaknya ada informasi yang mendorong orang lain berkunjung ke blog anda.
Karena tidak dapat dipungkiri penghasilan anda akan datang dari jumlah pengunjung blogger. Ibarat kata pengunjung anda adalah subscriber di youtube. Lantas bagaimana jika anda tidak posting tiap hari? Apakah akan ada pengunjung? Sebetulnya bisa saja dengan menggunakan teknik SEO. Tapi sepertinya SEO pun akan kalah dengan cara posting setiap hari. Setidaknya pengunjung blog anda tidak bosan hanya membaca informasi itu-itu saja.
Kuncinya seperti yang dikatakan Raditya Dika. Jangan berfokus pada uangnya saja, sehingga akan merusak otak kita untuk berkarya. Sebaiknya berfokuslah kepada karya itu sendiri. Dengan berkarya secara rutin pasti akan mendapat nilai material.
Setidaknya bila anda sudah rutin untuk menulis, sumber penghasilan dari blogger yang mana dari adsense dan lomba sudah anda capai. Setiap ada lomba menulis anda pasti tidak keberatan untuk ikut, karena selain ada konten untuk mengisi blog, anda juga sudah dapat menjadi peserta. Jadi kalah pun anda tetap bahagia, karena anda hanya ingin publish tulisan setiap hari.
Jadi inti dari tulisan ini adalah anda harus rutin untuk menjadi blogger agar mendapat penghasilan dari blog. Caranya? Ya rutin untuk membuat konten setiap hari. Semakin banyak konten yang anda miliki maka anda semakin cepat mendapat penghasilan. Tidak perlu banyak-banyak kalimat dalam satu artikel, cukup batasi 250 kata per artikel. Dulu kata seorang ahli SEO minimal 500 kata, tapi hal itu terbantahkan setelah artikel saya terbentur, terbentur dan terbentuk saya masuk first page di google.