Coro merupakan bahasa jawa dari kecoak, omong coro bermakna omongan ngelantur tapi dapat dinyatakan jujur. Maka ketenangan serupa apa lagi yang dicari di dunia yang fana ini selain kejujuran. Tulisan berikut merupakan contoh dari omong coro.

Search This Blog

Translate

About Me

My photo
Hi, saya pungkas nurrohman yang mencoba dewasa dengan jalan-jalan

Saturday, 25 April 2020

Penghitung Jumlah Tarawih


Yang Penting Bisa untuk Menghitung

Bulan ramadhan adalah bulannya beribadah bagi muslim yang taat. Tak hanya berpuasa saja, serentetan ibadah sunah juga dianjurkan saat bulan ini. Salah satu ibadah sunah yang terasa berbeda adalah sholat tarawih. Bagi saya mau tidak mau di saat pandemi seperti ini adalah menuruti perintah pemerintah. Tak hanya pemerintah saja yang menyuruh ibadah sendiri di rumah, tapi juga majelis ulama merekomendasikan hal ini. Kapan lagi kadar keimanan kita yang biasa ditunjukkan di depan jamaah kompleks (yang bisa diklaim saat tarawih seperti ini waktunya bidadari kompleks sekitar rumah) ini hanya dapat disaksikan oleh malaikat dan allah. Saya rasa menjadi tantangan tersendiri saat eksistensi ibadah hanya kita persembahkan ke tuhan yang maha kuasa. Tapi masalah yang biasa saya hadapi adalah hitungan sholat tarawih. Bagi saya yang seorang pelupa rasanya akan mustahil tarawih saya lancar jika tidak ada alat bantu. Di artikel kali ini saya akan mengulas alat-alat yang bisa digunakan alat bantu dalam menghitung sekarang tarawih ke berapa?

Counter

Biasanya counter ini disebut sebagai cetekan, yang biasa digunakan anak teknik sipil dalam menghitung jumlah angkot yang melewati jalan. Tak hanya anak teknik sipil saja yang berakrab karib dengan alat ini, petugas LLAJ dan polisi lalu lintas juga menggunakan alat ini saat mendapat tugas menghitung arus mudik. Masih belum tahu? Alat ini juga biasa digunakan pramugari atau pramugara dalam menghitung penumpang di pesawat sesaat sebelum lepas landas. Biasa alat ini berbunyi cetek-cetek sehingga saya menyebutnya cetekan.
Nah alat ini bisa anda gunakan untuk membantu menghitung jumlah sholat yang sedang anda laksanakan. Selain itu juga bisa pengganti tasbih dalam menghitung jumlah kalimat yang anda ucapkan saat dzikir.

Kode Koper

Ini adalah alat alternatif jika anda tidak memiliki counter, atau juga anda enggan dalam membeli alat tersebut. Karena memang pasti akan keberatan membeli alat yang hanya berfungsi untuk menghitung saja. Jika di rumah ada koper yang berkode dapat menggunakan angka-angka dikode tersebut yang biasa ada 3 digit. Kode ini biasa berada di samping atau atas koper. Berfungsi untuk mengunci koper anda saat masuk bagasi, sehingga lebih aman. Nah kode ini kan dapat diputar dengan angka yang menunjukkan 0-9. Dari kode tersebut anda dapat pergunakan untuk mengingatkan sekarang sholat tarawih ke berapa. Koper dapat dis anda saat sholat, sehingga dengan memutar kode tersebut saat salam anda akan ingat.

Batang Lidi

Ini alternatif kedua jika di rumah para pembaca sekalian tidak ada counter ataupun koper. Batang lidi menjadi alternatif berikutnya. Caranya patahkan batang lidi tersebut menjadi 10 atau 4 bagian yang menggambarkan jumlah sholat tarawih yang akan anda ambil. Dari jumlah lidi tersebut dapat anda pindahkan ketika setelah salam sebagai pertanda anda sudah mengambil jumlah yang sudah terpindahkan. Jika tidak ada lidi dapat digantikan dengan sobekan kertas atau barang apapun. Sangat simpel kan?

Dari ketiga alat tersebut mana yang akan menemani sholat tarawihmu? Semoga dengab adanya alternatif penghitung ini dapat membantu dalam beribadah. Jangan lupa doakan agar wabah ini cepat usai.

Friday, 24 April 2020

Kemampuan Dasar yang Hilang


Makan adalah skill mendasar manusia
Makan Adalah Skill Dasar Manusia
Di musim pandemi seperti ini semakin terlihat skill dasar yang seharusnya kita miliki mulai hilang. Terbukti dengan tutupnya toko ada kekhawatiran esok tidak bisa membeli bahan makanan. Tutupnya warung makan berhasil menimbulkan kekhawatiran tidak bisa makan. Dan tutupnya berbagai penyedia kebutuhan dasar kita yang membuat kekhawatiran bagi kita pemilik uang.
Karena selama ini kita sudah dimanjakan dengan kemudahan-kemudahan. Sekali lagi kemudahan tersebut harus kita bayar dengan nominal. Alih-alih kita belajar untuk membangun kemampuan menyediakan kebutuhan dasar manusia (yaitu makan), malah kita membangun kemampuan untuk mendapatkan uang yang ujungnya juga untuk makan.
Akibat paling seram dari semua ini yaitu kita akan kesusahan untuk mendapatkan makan meskipun hidup kita berkelimpahan uang. Kurang lebih seperti saat tulisan ini saya tulis. Banyak orang memiliki uang yang khawatir esok tidak bisa makan. Alhasil kita perlahan tersadarkan oleh cobaan ini, agar kemampuan dasar kita adalah untuk mencari makan. Bukan untuk menumpuk uang dan ujungnya juga susah mencari penyedia pangan.
Sebelum saya diberikan justifikasi yang aneh-aneh saya ingin mengatakan bahwa tulisan ini saya buat bukan untuk anda yang membaca, tapi untuk saya sendiri. Jika kebetulan anda membaca ini dan tersindir, saya memohon maaf sebesar-besarnya. Karena tidak dipungkiri akan muncul komentar, "Lha memang kamu selama ini bagaimana? Begitu juga toh?".
Ya benar, saya saat ini memang masih nyaman dengan berkelindan uang. Masak pun juga masih belum bisa memenuhi kedaulatan yang mestinya menjadi hak lidah saya. Masih sangat sering membeli lauk, atau meminta tolong Budhe sebelah rumah untuk memasakkan. Tapi jika boleh saya sedikit berimajinasi. Jika terus-terusan begini, pasti kita semakin jauh dengan kedaulatan pangan. Jangankan kedaulatan pangan sekelas negara, kedaulatan pangan untuk diri kita sendiri saja kita masih kesusahan.
Angan-angan saya tarik mundur kebelakang, saat masih kecil tentunya generasi 90-an akan ingat dengan game legende "Harvest Moon". Setidaknya kita bisa separuh dari game tersebut dalam mengaplikasikan kedaulatan pangan. Untuk sepenuhnya mengaplikasikan kedaulatan pangan seperti permainan tersebut pasti sangat susah. Karena akan banyak waktu yang dikorbankan untuk mengaplikasikannya secara paripurna.
Jika sedikit-sedikit kita sudah dapat memenuhi kebutuhan dasar kita sendiri, maka meskipun jalur logistik tersendat seperti masa pandemi ini. Kita akan tetap berdaulat atas diri kita sendiri. Tidak perlu khawatir atas alur distribusi, tidak perlu berebut beras di-supplier. Dan hal ini berujung pada penghargaan kita atas sepiring nasi beserta lauk pauknya yang terhidang di jam makan. Bukan hanya penghargaan sebagai objek foto saja, yang berujung jika (sudah) tidak fotogenik kita akan membuang begitu saja. Tapi penghargaan atas terhidangnya makanan tersebut, sehingga tidak ada makanan yang tersisa apalagi terbuang.

Saturday, 18 April 2020

[Resensi Film] Mantan Manten


Poster mantan manten
Poster Mantan Manten (sumber: imdb.com)

Saya melihat film ini saat penerbangan dari Manokwari ke Jakarta, dalam rute penerbangan yang dapat dibilang cukup jauh tersebut saya cukup terhibur dengan film yang disutradarai oleh Farishad Latjuba. Film yang dirilis tahun lalu itu menceritakan seorang pekerja kantoran yang kesehariannya sibuk di ibukota. Selayaknya pekerja kantoran seorang Yasnina yang diperankan oleh Atiqah Hasiholan mencurahkan hidupnya hanya untuk pekerjaannya. Apalagi ia merupakan lulusan luar negeri, pasti akan memiliki minat yang dapat dikatakan powerfull untuk mengerjakan semua tanggung jawabnya. Setiap hari terhabiskan untuk mengerjakan seluruh tanggung jawab yang ia emban dari pimpinan perusahaan.
Sekian lama berlalu seorang manager investasi tersebut jatuh hati ke anak kepala perusahaan yang diperankan oleh Arifin Ilham. Anak kepala perusahaan yang juga menjabat sebagai manager tersebut dinilai sebagai sandungan kecil. Seperti layaknya seorang anak pemilik perusahaan Surya mau tidak mau mengemban tanggung jawab besar untuk ikut mengatur kemana perusahaan tersebut akan melaju.
Konflik pertama pun menghadang, seorang Yasnina dijadikan kambing hitam atas keputusan yang diambil oleh pemilik perusahaan. Yasnina difitnah habis-habisan atas keputusan yang salah. Fitnah tersebut dilontarkan oleh seorang pemilik perusahaan yang diperankan oleh Tio Pakusadewo di depan para investornya.
Alhasil atas fitnah tersebut seluruh aset yang dimiliki oleh Yasnina habis tak bersisa. Hanya ada satu aset yaitu villa yang ada di Tawangmangu. Namun sayangnya villa tersebut hanya dibeli begitu saja tanpa diurus kelengkapan administrasinya seperti pergantian nama di sertifikat. Pemilik lama pun juga masih belum pindah. Seorang pemilik villa tersebut berprofesi sebagai pemaes (perias).
Dalam tradisi jawa seorang perias pasti menjalani laku tirakat untuk memberikan kesan hasil riasannya yang sempurna. Kesempurnaan hasil riasan dalam tradisi jawa bermakna pengantin seperti menjadi orang lain. Selain itu seorang tukang paes pengantin juga merangkap sebagai penata acara. Nah peran ini yang tidak dimiliki oleh Make Up Artis kekinian. Karena pengantin sekarang sudah menyerahkan semuanya kepada Wedding Organizer.
Dalam film ini pemilik villa merasakan adanya bakat yang terpendam dari Yasnina. Sehingga perburuan tanda tangan yang semula digunakan untuk merubah nama di sertifikat mengalami hadangan yang luar biasa. Karena seorang manager yang bangkrut tersebut dipaksa untuk menjadi pembantu pemaes dalam beberapa bulan.
Sekali lagi bukan untuk mencurangi, namun karena seorang pemaes sudah menemukan penggantinya dan hal ini dirasa perlu untuk melakukan kaderisasi dalam dunia paes. Namanya seorang yang memang butuh uang dan dalam keadaan down pasti semua dilakukan. Hanya untuk mendapatkan kembali haknya.
Saya merasakan konflik batin di sini, karena memang profesi seperti ini kini sudah mulai jarang terlihat. Adanya moto hidup, "Sekali mendapat tanggung jawab harus diselesaikan secara tuntas" tergambar jelas di setiap adegan pemaes yang diperankan oleh Tutie Kirana. Dalam menjalankan profesinya, ia sama sekali tidak melirik upah yang diberikan oleh mempelai. Peran tersebut seakan dijalankan dengan tulus ikhlas dengan niat hanya untuk membantu.
Berbagai tragedi disaksikan langsung oleh seorang mantan manajer investasi tersebut. Lama kelamaan seorang murid yang dipaksakan tersebut mengetahui seluk beluk seorang pemaes. Dan tanpa disadari ia sudah mahir dalam menjalankan laku tirakat dan tahap-tahap yang dijalankan demi suksesnya sebuah pesta pernikahan. Sangat diluar nalar memang, ada berbagai hal yang dapat diberikan justifikasi seperti itu. Sekali lagi seorang pegawai di ibukota dan juga lulusan luar negeri pasti akan susah untuk mempercayai laku tirakat tersebut. Namun efek nyata dari laku tirakat khas jawa tersaji nyata di depan matanya.
Pada akhirnya seorang manager tersebut sudah menguasai ilmu paes dan mengemban tanggung jawab yang sangat berat. Seperti judulnya Mantan Manten. Ia diberikan tanggung jawab untuk menikahkan Mantannya sendiri tanpa ia sadari. Sekali lagi moto "Sekali mendapat tanggung jawab harus diselesaikan secara tuntas" seakan sudah mengikatnya. Sekalipun mempelai yang harus dia sukseskan pesta pernikahannya adalah seorang penghianat.
Saya sempat meneteskan air mata melihat film ini, pembangunan emosi yang dapat dikatakan berhasil dalam membuat rasa haru saya tergugah untuk meneteskan sedikit air mata. Apalagi bagi kamu yang pernah ditinggal menikah oleh seorang mantan. Saran saya hanya satu, siapkan tisu atau jika tidak ada jangan melihat film ini.

Thursday, 16 April 2020

Nasib Investasi di Tengah Pandemi dan Perubahan Ideologi


Downtrend (sumber: kursusforex.id)

Investasi saya akhir-akhir ini mulai kacau, selain karena kiblat haram saya terhadap riba sudah mulai meluas, akhir-akhir ini kondisi ekonomi juga mulai terguncang. Saya akan jelaskan satu persatu.
Kiblat haram saya sebelumnya hanya menganggap riba dalam pinjam meminjam adalah hal yang salah. Karena memang tidak ada penjelasan logis ketika kedua pihak bersepakat untuk bertransaksi utang-piutang. Namun pemahaman tersebut akhirnya terpatahkan juga oleh hati nurani saya, karena satu bulan yang lalu beredar berita ojek online bentrok dengan debt collector. Tak hanya itu seperti yang sudah saya tuliskan sebelumnya, saya juga bentrok dengan Gandeng Tangan karena hutang yang tak kunjung dibayar.
Dari kedua tragedi tersebut saya menyimpulkan bahwa ada kesalahan dalam sistem utang-piutang yang dibentuk. Sehingga sang pemberi hutang akan menagih hutang sekaligus bunganya. Sedangkan penerima hutang akan mendapat kewajiban untuk membayar cicilan bagaimanapun kondisinya. Hal ini menurut saya pribadi merupakan penyebab konflik. Selain itu pasti kamu yang membaca ini akan sangat paham dengan mental nekat pengutang yang lebih ganas daripada yang memberikan hutang. Sudah menjadi rahasia umum.
Nah celah ini yang menyebabkan konflik yang menyebabkan jatuhnya hukum haram dalam transaksi. Selain itu pula saya memiliki dendam yang tak berkesudahan dengan seorang debt collector. Meskipun saya tidak pernah ditagih, karena memang saya sudah mengharamkan meminjam uang dengan riba sejak dulu. Tapi saya benci dengan profesi tersebut lebih karena kesewenang-wenangannya. Nah jika saya memberikan pinjaman alias supply dana kepada peminjam secara terus menerus, tentunya saya akan sangat salah dan tidak konsisten dalam mempertahankan pemahaman saya terhadap haramnya berhutang. Jika berhutang saja haram maka memberikan hutang juga akan haram.
Lantas apa hubungannya dengan kondisi ekonomi? Nah terguncangnya kondisi ekonomi ikut memukul turun beberapa uang saya yang ditempatkan di saham. Berbagai saham yang saya miliki harganya ikut anjlok. Semenjak pandemi corona yang memaksa krisis ekonomi melanda negeri ini. Saham yang saya miliki pun ikut tergerus hingga separuh. Kesalahan saya juga tidak mengambil keputusan untuk cutloss atau memangkas kerugian sejak covid-19 masuk ke Indonesia.
Alhasil produk investasi yang saya beli saat ini hanya dua pilihan, jika tidak saham ya emas. Dengan dua logika yang berbeda tentunya. Jika ekonomi sekarang sedang terpuruk dan ada kemungkinan membaik saya pasti akan berinvestasi saham. Namun jika ekonomi sudah mapan dan saya memiliki prediksi akan turun pasti saya akan membeli emas.
Alhasil meskipun pahit krisis ekonomi ini harus saya nikmati, dengan membeli saham saat ini dengan harga murah. Tentunya saya memiliki gambaran kedepannya 2-3 tahun lagi harganya akan naik. Jikalau tidak naik saya masih mendapat dividen. Karena perusahaan yang saat ini saya beli merupakan BUMN, sehingga kemungkinan bangkrutnya sangat kecil.
Tak hanya itu yang menjadi pertimbangan saya, juga adanya laporan keuangan yang dapat menjadikan perusahaan ini berstatus aman secara fundamental. Labanyanya stabil, hutangnya tidak melampaui aset, dan lagi-lagi rutin memberikan dividen. Nantinya akan average down jika saya terus menerus membeli saham di harga murah. Apalagi sekarang adalah masa-masa pembagian dividen. Mungkin dividen yang dibagikan akan sangat kecil, karena memang masa seperti ini perusahaan akan memikirkan pencadangan kerugian dahulu. Agar arus kasnya lebih baik pasti akan mencadangkan untuk keperluan produksi.
Semoga wabah ini cepat pulih dan disusul ekonomi yang cepat kembali. Mungkin kesedihan ini akan sama-sama ditanggung, maka dari itu seberapa kacau pun posisi investasimu saat ini, jangan bersedih. Minimal kamu tidak sedang sendiri. Jangan terlalu berpikir ekonomi agar krisis ini cepat pulih. Semangat!

Monday, 13 April 2020

Perjalanan yang Menengangkan di Tengah Virus



pemeriksaan corona di bandara rendani
Situasi Penjagaan Ketat di Bandara Rendani
Hari berganti akhirnya tiba juga waktu saya untuk kembali ke Manokwari. Beberapa hari sebelumnya banyak bertebaran surat keputusan bupati yang berisi larangan untuk KTP luar Manokwari/Papua Barat masuk. Pun juga larangan untuk warga yang memiliki KTP Manokwari untuk keluar daerah menggunakan pesawat. Semakin mencekam rasanya untuk kembali ke Manokwari.
Alhasil saya semakin risau dan memutuskan untuk menyiapkan dokumen pendukung. Meskipun tidak ada pengecualian dalam surat keputusan tersebut, saya tetap menyiapkan dokumen pendukung yang dibutuhkan. Dokumen tersebut adalah SK, Surat keterangan bekerja yang dibuat atasan, dan surat tugas. Sebetulnya surat tugas yang saya bawa adalah surat tugas saat audit BPK di Jakarta. Tapi tak mengapa, daripada tidak membawa dokumen sama sekali.
Surat-surat tersebut sengaja saya bawa untuk memperkuat argumen saya, bahwa saya memang bekerja di Universitas Papua. Selain itu surat tugas tersebut untuk berjaga saja, karena saat ini memang seluruh jajaran aparatur sipil negara wajib bekerja dari rumah. Nah nanti jika ada pertanyaan, "kan harusnya bisa bekerja di jawa?" Saya sudah siap dengan surat tugas yang saya bawa. Karena sudah rahasia umum jika aparatur sipil negara yang melakukan perjalanan dinas wajib membawa boarding pass sebagai laporan.
Singkat cerita sampailah saya pada hari keberangkatan. Dari bandara Juanda saat check-in saya mulai ditanyakan terkait KTP yang non Manokwari itu. Karena saya ber-KTP non Papua Barat maka saya untuk sementara waktu ditahan, hanya untuk menanyakan beberapa hal. Mulai dari maksud dan tujuan saya ke Manokwari hingga penjelasan bahwa jika saat di Manokwari saya disuruh kembali ke Surabaya maka pihak maskapai (Batik Air) tidak akan bertanggung jawab. Alias saya harus kembali ke Jawa dengan modal sendiri. Dan pernyataan itu dituangkan dalam surat yang dibubuhkan oleh tandatangan saya dan pihak maskapai.
Setelah mengisi dan menandatangani surat tersebut saya sudah mendapatkan boarding pass dan melanjutkan perjalanan ke Makassar. Saat transit di Makassar pun terkesan disaring lagi. Lagi-lagi saya terselamatkan oleh beberapa dokumen yang saya bawa. Saat mengambil boarding pass UPG-MKW saya mendapatkan pertanyaan yang sama. Dengan melampirkan surat tadi dan surat pertanyaan yang sudah dibuat di Surabaya saya lolos.
Surat larangan ke manokwari
Redaksional Larangan Pendatang Ke Manokwari


Setelah menunggu penerbangan subuh sampailah saat boarding. Saat penerbangan saya dipanggil di gate mas-mas yang biasanya bagian sobek tiket kali ini ikut mengecek ktp dan menanyakan kelengkapan dokumen. Untuk ketiga kalinya saya terselamatkan oleh dokumen yang sudah saya persiapkan. Dan dipersilahkan untuk melanjutkan perjalanan menuju Manokwari. Meskipun penerbangan kali ini lebih ramai daripada penerbangan sebelumnya, saya mendapatkan tempat duduk sendirian. Di deretan kursi saya kosong, sehingga saya bisa tiduran sampai Manokwari. Karena keasyikan tidur sampai-sampai menu makan jatah di pesawat tidak saya ambil.
Tibalah waktu pemeriksaan terakhir, di Manokwari. Di luar perkiraan saya, pemeriksaan saat di pintu kedatangan bandara Rendani Manokwari dilakukan oleh aparat TNI dan Polri. Kami yang baru datang dibagi menjadi 3 kelompok. Kelompok pertama yang beridentitas Manokwari, kelompok kedua yang beridentitas non Manokwari tapi masih dalam Provinsi Papua Barat, kelompok ketiga merupakan kelompok identitas non Papua Barat.
Untuk kelompok ketiga hanya ada 5 orang saja termasuk saya. Kami berlima disuruh menunggu pejabat yang berwenang untuk meloloskan, pejabat tersebut berasal dari BPBD yang memimpin satuan gugus tugas penanganan covid-19 di Manokwari. Kami diberikan pertanyaan yang sama persis dengan sebelumnya. Untuk keempat kalinya saya terselamatkan dengan menunjukkan dokumen yang sudah saya bawa. Mungkin jika tidak ada dokumen tersebut saya tidak dapat masuk Manokwari dan terpaksa membeli tiket penerbangan kembali ke Juanda dengan uang sendiri.
Perjalanan saat itu sungguh perjalanan yang sangat menyeramkan bagi saya. Bukan karena virusnya yang sewaktu-waktu dapat menular lewat setiap orang yang kita temui saat perjalanan, tapi karena bayang-bayang larangan masuk Manokwari. Pemeriksaan di Bandara Rendani juga lumayan lama, saya yang biasa jam 7 sudah sampai rumah, kali ini pukul sembilan saya baru masuk rumah. Karena butuh waktu untuk pemeriksaan identitas dan pemeriksaan kesehatan.
Semoga pengalaman ini dapat menjadi pembelajaran bagi kamu yang mau ke daerah yang memang melarang orang luar masuk. Karena jika memang terpaksa masuk, pasti ada kebijakan dari pejabat yang berwenang. Meskipun dengan persyaratan yang cukup ketat. Untuk mendapat kebijakan masuk sebaiknya siapkan dokumen pendukung saja. Selamat mencoba.

Sunday, 12 April 2020

Hal yang Mulai Diperhatikan Saat WFH


Hal Yang Mulai Diperhatikan saat wfh
Gegoleran adalah pekerjaan mayoritas saat tetap di rumah
Di masa kerja di rumah dengan serangkaian prosedur social distancingnya ini, kita mulai berkawan dengan hal remeh yang ada di sekitar kita. Mulai dari piranti tidur, segala macam hal yang ada di dalam kamar, dan juga berbagai hal yang sangat jarang kita perhatikan di rumah. Mungkin selama ini kita sudah sibuk dan lupa untuk memperhatikan barang-barang di sekitar kita. Mungkin saat ini sudah genap 28 hari kita bekerja, kuliah, belajar melalui rumah. Kita mulai memperhatikan berbagai barang yang dahulu sempat kita acuhkan namun kini mulai kita tekuni. Sekedar berbagi, saya mencoba untuk memberitahukan berbagai hal yang dulu saya acuhkan namun kini mulai saya perhatikan.

Kesehatan

Entah mengapa saya sudah 6 hari di Manokwari ini mulai kambuh kebiasaan bangun siang saat kuliah dahulu. Kalau bangun kesiangan biasanya malamnya begadang. Entah itu sembayang malam, nonton film, youtube hingga hanya merokok dan gak ngapa-ngapain.
Efek dari bangun kesiangan yang menjelang sore ini biasanya kepala langsung sakit saat bangun. Seperti peredaran darah menuju kepala kurang lancar. Mungkin karena ketagihan kopi.
Tapi hal ini dulu memang ada, tapi saya cenderung acuh dan tidak mempermasalahkannya. Saat sakit kepala saya pasti minum kopi sejenak dan sudah dapat melanjutkan aktifitas seperti biasa. Lain halnya dengan sekarang, saya saat sakit kepala pasti bingung mau beraktifitas apa? Kan tidak bisa ke kampus untuk bekerja. Pilihan terakhir adalah berolahraga. Mulai olahraga ringan hingga olahraga lari keliling komplek perumahan. Karena jika tidak begitu pasti sakit kepalanya susah untuk hilang.

Kebersihan Rumah

Nah ini pasti bapak-bapak atau ibu-ibu yang mulai berumah tangga ataupun sudah lama berumah tangga pasti akan merasakannya. Kalimat, "ini kok kotor gini ya?". Pasti dapat muncul setidaknya seminggu dua kali. Dan ini berujung untuk mengambil perangkat pembersih seperti sapu, lap, dan piranti pembersih lainnya. Kemudian mengajak anak atau partner untuk mulai kerja bakti bersih-bersih rumah.
Nah lain halnya untuk para single yang hidup sendiri, di kos-kosan atau kontrakan pasti akan tetap agak kotor namun masih ada sedikit perhatian lebih untuk kebersihan. Biasanya baru bersih-bersih sebulan sekali, pasti akan meningkat sebulan dua hingga tiga kali. Karena pasti akan worry jika hidup terkurung di tempat kotor. Sekali lagi ini untuk anda yang sudah memiliki tanggung jawab hidup sendiri ya.

Berita

Siapa yang di hari kerja sangat enggan untuk membaca berita? Ya sama saya juga termasuk orang yang enggan membuka situs berita. Kecuali jika ada link yang dishare di sosial media. Itupun jika tautan yang dishare menarik dengan minat atau isu yang berhubungan dengan kehidupan saya. Kalau sama sekali tidak bersinggungan dengan kehidupan saya, pasti akan skip dahulu. Karena memang masih banyak hal lain yang harus diprioritaskan, salah satunya mengerjakan urusan pekerjaan.
Tapi akhir-akhir ini saya mulai memperlakukan situs berita sebagai koran digital. Apapun yang diberitakan dan menjadi hot topic di sana saya perhatikan. Mungkin karena memang keadaan bingung mau ngapain, jadinya semua situs berita pun tetap dihajar habis. Mungkin para pembaca juga merasakannya, karena memang intensitas kita memegang ponsel akhir-akhir ini sangat tinggi. Apapun yang ada dalam notifikasi pasti akan disikat.

Marketplace

Khususnya pengguna internet di Jakarta, pasti akan sering membuka marketplace dan berbelanja di sana. Alasan simpelnya kembali ke poin atas, yaitu karena sering membuka gawai. Sehingga berbagai hal meskipun kurang berguna tetap kita akan tergoda. Apalagi jika promosi produknya intens. Pasti psikologi kita akan tergiring untuk tertarik dengan produknya. Jaman sekarang memang suka begitu, sekalinya pembuat materi promosinya jago, pasti banyak pelanggan yang tergiring.
Di sisi lain juga ada orang yang membuka marketplace bukan untuk membeli, tapi untuk menjual. Beberapa teman karyawan yang dirumahkan memilih untuk jual beli online untuk memenuhi hari-hari mereka. Selain itu juga untuk menambah penghasilan mereka saat dirumahkan. Banyak mereka yang mulai berhasil berjualan produk, mungkin karena melihat peluang yang saya sebutkan di atas ya. Jadi ketika peluang tersebut dipergunakan semaksimal mungkin, berujung adanya penghasilan yang juga maksimal.

Dari keempat hal tersebut, saya paling sering memperhatikan kesehatan dan kebersihan saja. Karena memang sangat berdampak bagi saya, jika berusaha untuk cuek pun sama sekali tidak ada yang mengalihkan perhatian. Kalau kamu gimana? Apa hal yang selama kerja di rumah ini menjadi perhatian?

Thursday, 26 March 2020

Keuntungan Selama Menjadi Tahanan Rumah


lockdown rumah
Foto Wuhan Kota Wuhan (Sumber: Merdeka.com)

Tanpa pagebluk rasanya kita tidak mungkin bisa restart kehidupan bersama keluarga, mungkin bagi yang tidak bisa bekerja dari rumah setidaknya merasakan lengangnya jalanan. Atau malah menjadi khawatir terkait isu yang berhembus begitu saja. Setidaknya ada yang berbeda bukan dengan kehadiran keluarga baru yang bernama CoVId-19, kata Cak Nun merupakan sesama makhluk tuhan yang diciptakan untuk kita. Salah satu cara menanganinya bukan dengan lari tapi hadapi.

Kali ini dari pada saya mengulik berbagai isu yang jujur dalam relung hati saya menyatakan tidak ada yang masuk akal. Lebih baik saya mengulik berbagai keuntungan kita sebagai manusia yang tinggal di negara kepulauan ini. Awalnya mau mengulik dari segi keuntungan dan kerugian, tapi mungkin sudah menjadi rahasia umum untuk hal kerugian yang disebabkan. Maka dari itu saya ingin mengulik dari sisi keuntungannya saja.

Polusi Terjaga

Bagaimana tidak? Ketika isu virus CoVId-19 mencuat ke permukaan semua orang diajak untuk tetap dirumah saja, sembari menunggu pandemi berlalu. Yang bekerja dapat dikerjakan di rumah sangat dianjurkan untuk bekerja melalui rumah. Siswa hingga mahasiswa yang bersekolah maupun berkuliah dianjurkan untuk libur dan tetap belajar lewat rumah. Banyak orang tidak keluar rumah menyebabkan kendaraan banyak yang tidak beroperasi dan tingkat polusi sangat rendah.

Kualitas udara yang baik ini lah yang diidam-idamkan banyak warga ibukota. Setiap hari menghirup asap kenalpot rasanya sudah membuat paru-paru warga ibukota jengah dengan kepulan asap hitam. Meskipun juga ada asap vapour dan rokok yang mereka antisipasi juga, setidaknya sudah ada satu produsen asap yang berhenti beroperasi.

Kota Menjadi Alami

Prof Ariel mencuitkan foto burung yang keluar saat masa Bekerja melalui rumah. Ya tentunya suasana sedamai itu sangat mustahil didapat ketika mesin-mesin bekerja. Mesin pabrik maupun mesin kendaraan bermotor memiliki kebisingan yang cukup untuk mengusir hewan liar seperti burung, capung dan kupu-kupu. Maka dari itu hewan liar sebelumnya memilih untuk menepi ke pinggiran kota yang masih sepi dan masih sedikit mesin yang beroperasi. Namun saat masa tenang seperti ini, mungkin mereka menganggap kota sudah sepi, sehingga mulai berani bermain ke kota. Sebelum akhirnya nanti ramai kembali.

Banyak Waktu dengan Keluarga

Di era kiwari banyak yang mulai stres dengan pekerjaan, bukan karena tekanan pekerjaan yang membuat sakit kepala. Namun karena rutinitas yang dikerjakan secara terus menerus. Ada juga yang sangat jarang bertemu dengan keluarga karena berangkat pagi buta dan pulang sudah gelap. Ada sebuah rasa kangen dengan keluarga, meskipun tinggal satu rumah, sangat jarang bertemu dan mengobrolkan sesuatu yang santai. Nah saat bekerja di rumah beginilah bisa digunakan untuk membuang waktu bersama keluarga.

Menyalurkan Hobi dari Rumah

Mungkin biasanya kita menyalurkan hobi saat weekend di luar rumah. Tanpa kita sadari ada hobi yang dapat disalurkan dari dalam rumah. Entah itu memanfaatkan beberapa barang yang bersangkutan dengan hobi melalui dalam rumah, atau malah memilih hobi baru untuk sekedar menghabiskan waktu di rumah saja. Bisa jadi iman anda terhadap hobi lama akan goyah sehingga berpindah kepada hobi yang baru. Sepanjang perpindahan hobi dapat menambah relasi apa salahnya? Atau menjalankan dua hobi sekaligus dan tetap menjalankan hobi yang lama.

Menjalankan Pekerjaan Baru

Seperti halnya hobi, tidak semua pekerjaan dapat dikerjakan dari rumah. Ada beberapa pekerjaan yang memang menuntut harus hadir di tempat kerja. Pegawai pabrik misalnya, jika tidak hadir ataupun libur pasti penghasilan akan berkurang. Pilihan lain adalah mencoba untuk menjadi pegawai online untuk sementara waktu. Setidaknya dengan ikut mengerjakan pekerjaan online dapat menambah sedikit penghasilan. Ragam pekerjaan online pun di era internet ini sangatlah banyak, bisa ikut menyumbang tulisan, bisa menjual barang dengan cara online, ataupun dengan menawarkan keahlian yang dapat dijual secara online.

Mungkin adanya wabah ini sangat susah untuk kita yang terbiasa bergerak maju seperti iklannya transportasi online. Namun sepertinya tidak ada yang bisa kita lakukan selain tetap di rumah dan membatasi diri untuk bertemu manusia lain. Sembari kita bertirakat untuk sama sekali tidak keluar rumah dan tetap mengikuti perintah, mari kita buat hal baru dari rumah. Selamat menjalani tahanan rumah.