Coro merupakan bahasa jawa dari kecoak, omong coro bermakna omongan ngelantur tapi dapat dinyatakan jujur. Maka ketenangan serupa apa lagi yang dicari di dunia yang fana ini selain kejujuran. Tulisan berikut merupakan contoh dari omong coro.

Pencarian

Adsense camp

Translate

About Me

My photo
Hi, saya pungkas nurrohman yang mencoba dewasa dengan jalan-jalan

Friday, 15 February 2019

Podcast Horor #3 cerita kontrakan tampomas




Lanjut modkes lagi, kali ini saya menceritakan hal horror yang saya alami di kantor web sebelah, yaitu di Jl. Tampomas. Agak kacau editan podcast kali ini. Karena banyak suara yang frekuensinya over, bisa diakali dengan mengecilkan volume. Tapi lumayan puas sih, untuk efek-efek yang ada, seakan keramat yang di-online-kan.

Wednesday, 13 February 2019

Hitam Putih Kehidupan di Papua


“Hidup di Papua itu keras, apalagi kalau sama masyarakat (orang asli papua)”, kalimat ini adalah kalimat wejangan pertama yang saya dapat dari Mas Tomo. Meskipun sebelumnya saya dijemput dan diantar oleh Yames (kawan saya asli Papua), saya tetap memanggutkan kepala saja tanda mengerti.

Papua Tempat Tinggal Baru

Kali ini kedatangan saya ke Manokwari tidak secepat di Sorong yang hanya numpang tidur di pesawat saja. Saya datang ke Manokwari untuk menjadi tempat tinggal baru saya. Setelah beberapa tahun di Jawa, beberapa bulan di Makassar dan hampir 2 tahun di Balikpapan.
Seakan menjadi nomaden traveler saya tetap memiliki niat hanya berjalan-jalan, namun berkonsep nomadic. Seperti pada diary sebelumnya, saya hanya mengikuti kehendak orang tua.
Ya, bila orang normal pasti memaknai ke Manokwari untuk menjadi PNS. Tapi karena saya mungkin kurang normal maka dua alasan tersebut saya kedepankan, bukan hanya di artikel ini namun di dunia nyata pun juga seperti itu.
Awal kedatangan saya memenuhi pemberkasan PNS ke Universitas Papua, kabar burungnya panggilan PNS ini akan saya terima pada bulan maret. Dan untuk menghemat modal saya menginap di rumah tetangga saya yang juga mengadu nasib di sini, namanya mas Tomo yang saya ceritakan di awal.

Bekerja Sembari Menunggu

Hanya seminggu saya tinggal di rumah mas Tomo, lalu saya direkomendasikan untuk ikut rekannya sebagai assisten service AC. Hingga tulisan ini dibuat saya masih ikut kawan mas Tomo bernama bang Amek. Seorang Aceh yang sudah mulai 2005 pindah ke Manokwari.
Banyak hal unik terjadi saat saya bekerja sambil menunggu SK CPNS turun ini. Salah satu hal unik adalah kerasnya kota Manokwari seakan saya rasakan langsung. Jadi saya bekerjanya di jalan, ketika bos ada panggilan kerja saya dan bos berangkat ke rumah pelanggan. Entah itu cuci AC, pindah AC ataupun service AC. Semua tools wajib dibawa, lengkap mulai pompa air untuk cuci AC sampai tangga.
Apalagi jarak rumah bos ke kota sekitar 12 kilometer. Jarak ini ditempuh dua kali pulang-pergi, karena anak bos sekolah di kota dan harus mengantar dan menjemput. Kembali lagi ke kerjaan saya, jadi pekerjaan saya selalu bersinggungan dengan masyarakat atau pun pendatang. Sangat cocok sebenarnya untuk adaptasi sebelum saya bekerja.

Hampir Kecopetan Di Papua

Ada sebuah kasus yang membuat saya shock. Ketika saya hampir saja kehilangan telepon genggam. Ceritanya saya sedang menunggu bos masuk ATM. Sebetulnya sama Mas Tomo sudah mengingatkan untuk tidak bermain HP dipinggir jalan. Saya tetap memainkan HP sembari menunggu di pinggir jalan.
Tiba-tiba dari belakang langsung ada remaja usia belasan yang mencoba mengambil HP yang saya genggam. Namun syukurnya gagal, dan pencopet tersebut tersenyum dengan bibir yang merah tanda telah mengunyah pinang lalu memukul dengan keras bahu saya. Saya pun lari menuju ATM, dan mereka pun kabur.
Mungkin dari hal ini dapat diambil pelajaran, bukan tentang urusan yang harus diperpanjang, namun ada nyawa yang harus diselamatkan. Karena ada dendam dari mereka yang merasa pribumi. Jadi ada cerita bahwa meskipun kita benar dan mereka salah, tetap kita sebagai pendatang akan salah.
Mungkin ungkapan ini harus diuji lebih mendalam lagi, apakah mereka sebagai pribumi merasa seperti masyarakat indonesia saat penjajahan belanda dan menganggap pendatang seperti penjajah. Memang setelah beberapa minggu di sini ada kasta seperti itu, mungkin ini dapat dilihat dan diteliti lebih mendalam saat sudah menatap lebih lama lagi di sini. Semoga saja dapat melihat dalam sudut pandang yang netral.

Wednesday, 6 February 2019

Mansinam Pulau Manis dengan Acara Keagamaannya


Feri gratis ke Mansinam
Masyarakat adat menunggu kapal ke Mansinam

Pagi itu cuaca cukup indah untuk menjalani hari, terlebih lagi karena selasa pagi itu merupakan pekabaran injil di Papua. Tepat 164 tahun yang lalu C.W. Ottow dan J.G. Gaissler mendarat pertama kali di Pulau Mansinam. Kedua missionaris tersebut merupakan missionaris pertama yang membumikan injil di Papua. Maka dari itu setiap 5 Februari diperingati Pekabaran Injil sekaligus ulang tahun Kota Manokwari atau pada saat penjajahan Spanyol bernama Dore-Mnukwar (menurut suarakritingfree.blogspot.com).
Jemaat Mansinam berpakaian rapi
Batik khas Papua
Saat hari pekabaran injil berbondong-bondong penduduk asli papua terlebih yang beragama nasrani berkunjung ke sana. Seperti pada hari kemarin, meskipun saya berangkat sekitar jam 8 pagi, sudah banyak masyarakat yang berdatangan memenuhi pelabuhan dan dua tempat penyeberangan lainnya. Dan lalu lalang perahu dari dan ke pulau mansinam berlangsung hingga pukul 6 sore.
Meskipun ibadah resmi berlangsung mulai pagi pukul 8 pagi hingga pukul 12 siang, tetap saja tak menjadikan lalu lintas antar Mansinam ke pelabuhan, pasar ikan, dan Wakwi sebagai tempat berangkat dan berlabuh perahu itu sepi.
Peribadatan biasanya dilakukan di halaman gereja Mansinam yang disulap bak altar gereja yang sangat luas. Halaman tersebut diberi tenda untuk berteduh dan ribuan kursi sebagai tempat duduk jemaat. Meskipun udara panas yang menyengat, kala itu nuansa kekhidmatan peribadatan tetap terpancar di wajah ratusan jemaat.
Bagi saya seorang muslim tetap merasa tertarik mengikuti dan memperhatikan urutan peribadatan. Karena tidak dapat menutup mata, momen peribadatan kali ini tetap dibungkus dengan budaya lokal. Seperti pembukaannya, para pendeta memasuki lokasi acara diiringi dendang musik gereja dan gemulai penari Papua.

Patung Yesus

Patung yesus di mansinam
Patung Yesus Mansinam
Setelah mengikuti rangkaian acara, rasanya wajib untuk mengunjungi landmark pulau Mansinam. Yaitu patung yesus raksasa berwarna putih mirip di Rio de Jeneiro, Brasil. Namun bila di Rio patungnya ada di tepi jurang karang yang belakangnya dipenuhi pemukiman warna-warni, di Mansinam patung tersebut berada di tengah hutan.
Jalan menanjak ke lokasi patung wajib untuk dilalui. Karena patung ini berada di atas ketinggian. Tidak terlalu terjal pun juga tak terlalu landai. Bila berjalan santai memakan waktu sekitar 30 menit untuk sampai di atas.

Museum Mansinam

Bagi anda yang tertarik sejarah wajib rasanya untuk berkunjung dan mempelajari proses masuknya injil di tanah Papua. Museum ini juga menyimpan berbagai hal tentang masuknya missionaris ke tanah Papua.
Meskipun anda seorang non-nasrani pasti akan menjawab pertanyaan, “bagaimana mereka sukses masuk di Papua?”. Pasalnya dahulu Papua terkenal dengan pulau yang berpenduduk sangat tertutup. Apalagi penyakit malaria saat itu pasti sangat mungkin menyerang pendatang. Kondisi alam yang keras tersebut dapat ditaklukan oleh kedua missionaris tersebut.
Di depan museum tersebut juga ada pantai Mansinam. Bagi anda yang ingin menjelajahi pulau mansinam lebih dalam, dapat melihat peta wisata pulau Mansinam di depan pantai ini. Peta yang berjejer tiga tersebut dibuat oleh Universitas Papua untuk memudahkan wisatawan.

Wisata Bawah Laut

Spot Snorkeling Mansinam
Peta Spot Terumbu Karang
Berbicara tentang wisata di pulau Mansinam ada pula karang yang siap untuk memanjakan mata anda. Lagi-lagi memang harus observasi sendiri dan mempersiapkan alat sendiri. Karena di sini memang belum ada operator olah raga bawah air.
Entah memang saya belum menemukan operator snorkeling ataupun diving atau memang belum ada. Karena di sekeliling Mansinam bertaburan spot olahraga bawah laut yang dapat memanjakan mata.
Mulai dari laguna, tempat karamnya kapal perang dunia sampai terumbu karang yang berada di sisi selatan.

Mungkin Mansinam akan menjadi sangat menarik bila dikunjungi saat hari Pekabaran Injil bagi anda yang ingin berwisata adat. Berangkat dengan kapal feri gratisan akan menjadikan nilai lebih untuk menangkap kebiasaan masyarakat asli Papua.
Namun bagi anda yang ingin merasakan wisata bawah laut sebaiknya berkunjung saat hari-hari sepi. Karena saat hari ramai lalu lalang perahu pasti akan sangat mengganggu aktifitas melihat terumbu karang.

Saturday, 2 February 2019

Diary Pengorbanan untuk Bapak


Dear diary,
Ternyata menuruti kemauan orang tua demi meminta ridhonya tidak selalu mudah, aku kira mencari ridho orang tua hanya sebatas menuruti kemauan sekolah yang hanya setor badan tanpa harus setor uang. Ternyata salah, tak semudah itu ferguso.
Menuruti kemauan orang tua sesusah ingin menjadi entrepreneur tapi orang tua ingin anaknya menjadi pegawai negeri. Awalnya keinginan itu saya anggap bisa diakali, salah satunya dengan hanya sebatas daftar tes PNS. Tanpa belajar, tanpa rasa optimis, dan tanpa rencana “bila jadi PNS beneran nanti bagaimana?”.
Saya mencoba hal itu, dengan tidak memikul beban maka saya kerjakan semua soal tes CPNS Kemenristekdikti untuk unit kerja Univ. Papua. Saat itu tes Seleksi Kompetensi Dasar ada di Surabaya. Dan hasilnya saya tidak lolos passing grade yang ditetapkan.
Bersyukur? Pastinya. Saat keluar gedung secepat kilat saya kabarkan kepada bapak bahwa saya masih belum lolos (dengan nada kecewa yang di dramatisir).
Cpns rambut gondrong
Bahkan saat tes masih enggan potong rambut

Dua bulan berselang muncullah pengumuman tes Seleksi Kompetensi Dasar (SKD). Banyak yang bilang pengumuman tersebut tidak dapat di download, kecemasan tersebut berbuah ide kreatif untuk re-upload dan menyematkan link di blog saya. Tentunya untuk menambahkan trafik blog saya agar lebih WOW.
Saat sibuk memproses strategi re-upload tiba-tiba ada WhatsApp masuk dari Beti teman saya kuliah. Dia tanya link pengumuman SKD, saya berikan link tersebut meskipun saya belum pernah membacanya. Setengah jam berselang dia chat lagi, berisi ucapan selamat atas kelulusan saya.
Wadaw, itulah ekspresi pertama saya. Kok jadi gini? Dan lain sebagainya.
Singkat cerita re-upload sudah selesai, link blog saya sudah tersebar di beberapa pertanyaan yang sangat intens di Twitter ataupun Facebook. Saya pun membicarakan kelulusan ini pada bapak, ekspresi gembira otomatis terpancar dari mukanya. Kekecewaan saya pada diri saya yang lulus tes CPNS tersebut langsung hilang.
Selang beberapa hari muncullah pengumuman tes yang menjelaskan bahwa tes akan terselenggara 2 hari setelah pengumuman tersebut terbit, dan yang paling membuat adrenalin saya memuncak adalah tes tersebut bertempat di Sorong.
Singkat cerita bapak menyuruh berangkat dan uangnya beliau beri hutang. Pikiran pun terpecah, bila uang tiket pulang pergi total seharga 5 juta rupiah bisa untuk ekspansi toko yang saya punya. Kenapa harus berhutang untuk sekedar tes yang belum menemukan kepastian.
Tapi demi menuruti orang tua saya tetap mengambil jalan terjal tersebut. Dengan niat dan trik mengakali yang sama. Yaitu hanya sekedar tes tanpa belajar dan berpikir. Karena sepertinya pada saat itu saya berpendapat saya tetap menjaga toko kelontong yang saya punya.
Bahkan saat tes di Sorong saya sempat menawarkan opsi menyerah kepada saingan saya. Opsi tersebut kurang lebih seperti ini “mbak, bayar saya satu juta rupiah untuk ke Raja Ampat maka saya tidak akan mengikuti tes”. Karena saat itu saya hanya memiliki satu saingan saja, bila saya tidak mengikuti tes, dia pasti akan lolos sebagai calon tunggal.
Sangat disayangkan, dia menolak sampai saya tawarkan tiga kali. Ya sudahlah mungkin saya memang harus menyelesaikan kewajiban mengerjakan tes ini.
Gundul sebelum cpns
Baru potong saat H-1 keberangkatan ke Manokwari

Singkat cerita selang beberapa hari saya menanyakan hasil tes saingan saya ke orang yang duduk di sampingnya. Dia bilang nilai dia hanya 180 sedangkan saya mendapat 285. Otomatis saya lebih tinggi dari dia. Benar saja, saat hasil kelulusan diumumkan saya masuk sebagai CPNS yang lolos.
Mulai gamang, galau, dan bingung. Karena harus melepas toko, bukan karena saya harus bertugas di Manokwari. Saya malah bersyukur karena bertugas di tanah yang katanya surga kecil jatuh ke bumi. Papua adalah salah satu idaman saya, selain karena ada nasionalisme yang dibangun juga ada alam dan suku budaya yang sama sekali berbeda.
Mungkin bila saya melawan bapak tak akan mendapatkan kesempatan untuk ke Papua. Di pulau kelima yang pernah saya kunjungi ini, saya ingin menghabiskan masa hidup sampai tua kalau bisa. Saya ingin menikmati pengorbanan saya untuk mendapat restu bapak dan yang terpenting saya ingin berkontribusi lebih pada ibu pertiwi, memperjuangkan kalimat “indonesia bukan hanya di jawa”.

Sunday, 27 January 2019

Belajar Beragam(a) di Manokwari


Asimilasi kebudayaan di tanah rantau memang cukup mencengangkan. Seakan menjadi budaya dari percampuran budaya yang terjadi. Salah satunya adalah budaya beribadah.
Asimilasi beragama masjid manokwari
Masjid di Manokwari

Saat awal datang di Manokwari saya merasa tidak ada yang salah. Namun setelah masuk masjid ada tradisi beribadah yang menurut saya unik. Entah ini tradisi beribadah yang salah atau tidak. Karena menurut saya hanya kesunahan saja yang diasimilasikan.
Tumpang tindih cara ibadah yang saya maksud adalah seperti di masjid Sidoarjo. Percampuran antara cara beribadah Muhammadiyah dan NU. Bila di masjid Sidoarjo percampurannya antara konstruksi dan cara beribadahnya saja, lain halnya di Manokwari. Di sini terjadi percampuran ibadah antara kedua ormas islam terbesar di Indonesia itu.
Salah satu contohnya saat sholat jum'at kemarin, saya sempat terperangah dengan cara khutbahnya. Asal tahu saja, NU biasanya jum'atannya awal pasti ada namanya bilal yang mengiringi sholawat saat imam menuju mimbar. Tapi tidak dengan muhammadiyah. Tapi di masjid tempat saya sholat jum'at tidak melakukan hal itu.
Dari sini saya mulai merasa ini mungkin bilalnya berhalangan hadir, karena sebelumnya sudah ada adzan dan setelah khotib naik mimbar sang muadzin melantunkan adzan lagi. Adzan dua kali biasanya sudah sepasang dengan bilal yang mengiringi sholawat. Tapi tidak dengan masjid ini.
Khotib pun tidak membawa tongkat seperti tradisi NU. Malah sang khotib berkhutbah di atas podium khas khotib Muhammadiyah. Dan terjadilah kebingungan yang mendalam saat saya mendengarkan khutbah. Sampai-sampai saya tidak sempat ngantuk saat mendengarkan sang khotib.
Meskipun berdirinya di podium khas Muhammadiyah, saat peralihan khutbah pertama ke khutbah kedua ada sholat dari ta'mir masjid. Dan saat khutbah kedua sang khotib berbahasa arab (mayoritas khotib muhammadiyah saat khutbah kedua dengan bahasa indonesia).
Artikel ini saya buat bukan untuk menyatakan salah kebiasaan yang ada di Masjid ini. Namun untuk memberikan pengetahuan bahwa ada lho hal unik dalam beragama seperti ini. Ya, memang bila artikel ini dibaca kamu yang suka mengkafirkan. Pasti akan menganggap hal ini salah. Tapi bukankah kita sebaiknya melihat hal ini dari sisi asimilasi keberagaman saja?
Bila kamu yang dari jawa menganggap hal ini salah dan kamu hanya menyalahkan dari sana, bukannya malah provokatif ya? Masalah bukannya selesai malah melebar ke mana-mana.
Soalnya bila dikritik dari jauh tanpa ada pertemuan langsung pasti tidak akan bisa melihat dan memetakan jamaah yang hadir. Jelas pemetaan jamaah dan jumlah masjid yang tidak sebanyak di jawa setidaknya akan memberi pengaruh pencarian “jalan tengah” pada cara ibadah. Jelas sudah ada terbentur berkali-kali sebelum menjadi terbentuk “pakem” seperti ini.
Cukup kita menempatkan hal ini berdasarkan keunikannya saja. Jangan merembet ke aqidah ataupun fiqih. Karena saya sebagai penulis artikel sama sekali tidak memiliki kiblat ke sana. Meskipun ini dalam hal beribadah saya hanya menyoroti bahwa ini unik. Bukan benar atau salahnya, melainkan uniknya.

Wednesday, 23 January 2019

Menyongsong Era Digital Kok Lamaran Ditulis Tangan


Agak geretan saat pemberkasan pegawai negeri harus tulis tangan surat lamaran pekerjaan. Geregetannya bukan karena tulisan saya jelek, namun sebuah kritik di dalam jiwa yang memberontak dan mengatakan, “sumpah ini primitif banget lho”.
Yang primitif itu bukan hal menulis sebuah kata dengan tangan, karena mbah Richard Branson dan Bill Gates pun masih melakukannya. Tapi lebih kepada menulis suratnya. Di era yang sudah ada Microsoft Word dan bertebaran e-book dimana-mana rasanya kok sudah sudah nggak njamani buat nulis sesuatu untuk orang lain dengan tangan.
Selain tulisan tangan orang berbeda-beda keasyikan membaca tulisan tangan seseorang juga berbeda-beda. Tentunya harapan tulisan tersebut adalah terbaca oleh orang lain, dan maksud dari tulisan tersebut dapat ditangkap secara verbal seperti pesan chat Whatsapp.
Meskipun dalam tulisan tangan surat lamaran tersebut sudah diberikan format dan kita (calon aparatur negara) hanya disuruh untuk menulis ulang, pun tetap harapan kita agar tulisan kita dibaca oleh sang penerima.
Lucu ya? Saya pun geli bila memikirkan hal ini lebih dalam.
Apalagi pemerintah ingin menggiring negara ini menjadi lebih maju, wah malah geli lagi. Nggiring menuju negara maju dengan tetap mengukuhkan tradisi seperti menulis surat lamaran dengan tangan ini sangat mustahil.
Paling tidak bila negara siap untuk menyongsong industri 4.0 ya bisa mengirim lamaran via surat elektronik. Tanpa ada berkas yang nyangkut di jasa ekspedisi dan berbagai formulir yang harus ditulis tangan. Ujung-ujungnya bila pelamarnya tulisannya jelek seperti saya pasti pihak BKN akan kesulitan membaca kan. Dan berbagai informasi yang harusnya sangat berharga pasti akan susah ditangkap oleh pencari informasi di pusat sana.
Juga dengan jasa pengiriman, bila tetap menggunakan metode pengiriman yang kuno dan menutup diri dari “fasilitas” internet. Ya ujung-ujungnya pasti ada berkas yang tak kunjung datang seperti gebetan yang sekarang diakui sebagai mantan.
Bila dua hal itu terjadi, tak hanya sang pengirim surat dan pemberi informasi saja yang sakit. Ada pihak pemberi kerja yang membutuhkan informasi yang sakit pula. Tahukan rasanya digantung dan tidak diberikan kepastian? Mungkin sebelas dua belas rasanya seperti itu.
Di sisi lain ingin mendapat tambahan pegawai, namun ada prosedur kolot yang menjadi sekat. Pasti seperti mencintai namun tak ada restu dari orang tua. Cinta namun harus merelakan karena keadaan.
Entah prosedur ini siapa yang membuat, dan apakah memang terikat kepada UU sehingga tidak dapat ditolelir oleh kementerian pendayagunaan aparatur negara maupun BKN. Harusnya bila memang ada evaluasi pasti dapat dikoreksi.
Masak hanya prosedur pengiriman yang seharusnya dikirim secara fisik dan formulir informasi yang harusnya ditulis dengan tulisan tangan, menjadi lebih modern dengan versi digital sangat susah untuk diubah?
Semoga para pejabat tidak menjawab dengan, “tidak semudah itu ferguso”.
Karena ini sangat mudah untuk diubah dan menurut saya sangat penting. Demi hati yang menolak tersakiti dan posisi yang ingin segera diisi pasti akan lebih mudah untuk mengubah dengan digitalisasi. Hanya cara pengisiannya saja, untuk tanda tangan sebaiknya tetap ditulis dengan pulpen tinta hitam. Karena di poin tanda tangan pasti ada meterai yang ditempel dan ada pendapatan negara di sana.
Kok jalan kemana-mana ya? Iya karena saat ini saya membatasi tulisan saya menjadi minimal 500 kata, awalnya 300 kata pun tak ada masalah. Maklum seiring berkembangnya jaman Google permintaannya semakin naik. Harapannya opini sereceh ini bisa masuk dalam mesin pencari dan dapat mewakili hati calon pegawai yang tersakiti.

Tuesday, 8 January 2019

Kaleidoskop Kehidupanku 2018


Kaleidoskop merupakan runutan peristiwa atau hal yang berkesan dalam satu tahun. Saya lebih menyukai membuat kaleidoskop selama satu tahun yang telah dilalui, ketimbang membuat resolusi untuk tahun yang akan dilalui.
Kali ini saya ingin membuat beberapa hal yang saya lalui sendiri, bukan seperti kaleidoskop 2017 yang saya buat terkait kaleidoskop wisata yang pernah dilalui Malang.

Bertemu Influencer
Beberapa kali saya bingung terkait profesi apa yang sedang saya geluti di “web sebelah”. Akhirnya saya menemukan penyebutannya saat diundang telkomsel untuk gathering dengan rekan-rekan Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan NTB. Gak semua yang mereka undang, hanya beberapa saja.
Sebetulnya acaranya tak begitu penting, hanya telkomsel memperkenalkan cara baru dalam menjalin kerjasama. Mereka memperkenalkan dashboard baru, untuk mempermudah mengecek progress paid promote produk mereka.
Ternyata saya influencer
Sumber: blog.digimind.com

Yang terpenting adalah mengobrol saat sesi santai dengan tamu yang diundang. Dari pembahasan progres akun yang mereka miliki, hingga cara kerja mereka dalam mengarahkan akun. Ngobrol sembari meminum kopi di saat break sesi diskusi formal, adalah kunci. Saling mengenal dan saling berbagi cara menggeluti profesi yang mereka sebut influencer ini sangat menarik. Hal yang paling menarik adalah saat saya mendapat kamera Leica Sofort.

Mulai Menjadi Singgle Writer
Hal yang menarik adalah ketika kawan seperjalanan saya memutuskan untuk berhenti menjadi content writer di “web sebelah”. Ini artinya bila saya tidak dapat menemukan partner baru saya harus menelan pil pahit ini sendiri.
Sekedar informasi target yang ditetapkan pak bos yaitu satu konten per hari. Bila memiliki partner kerja pasti akan sangat terbantu. Intinya berapapun penulisnya tetap harus ada konten 30 tulisan/bulan.
Baru kali ini saya merasa bergairah dan mutung saat sudah berjalan 7 bulan. Menulis dan mencari konten setiap hari sangatlah berat. Tak terbayang seperti rekan jurnalis, yang diharuskan membuat tiga tulisan perhari. Pasti akan sangat terbebani.
Namun di sisi lain saya merasa hal ini keren. Saya harus berpeluh demi kekerenan yang saya damba. Yaitu bekerja di rumah namun tetap memiliki kontribusi. Yang saya pelajari dari hal ini adalah disiplin menulis tak semudah menulis status Facebook atau meracau di Twitter. Tetap disiplin untuk menulis sehari sekali saja sangat berat. Itupun sudah diberikan keringanan yang harusnya 500 kata saya hanya mendapat ambang minimal 300 kata.

Bertemu Kawan yang Sakit
Entah mimpi apa saya harus bertemu dan kenal dengan 2 orang seumuran saya yang terkena penyakit aneh. Di waktu yang tidak bersamaan saya bertemu dan kenal dengan 2 orang yang berpenyakit langka.
Dua-duanya menderita penyakit yang diluar nalar. Yang satu mendapat kiriman guna-guna sehingga punggungnya (lebih tepat tulang ekornya) bila digunakan berdiri lama akan terasa nyeri. Seperti terkena asam urat.
Meskipun dia menderita penyakit aneh tersebut selama satu tahun dia pantang berdiam dan tidak menghasilkan produk. Dia memilih untuk membuat stiker Line. Hasilnya menurut saya sangat lumayan, dari pada berdiam saja tanpa adanya kontribusi apa-apa.
Teman saya yang kedua mengidap penyakit aneh pula. Dia terkena sejenis virus yang menyerang tulang belakangnya dan menyebabkan sangat susah sekali untuk berdiri. Sehari-hari dia hanya berada di atas tempat tidur saja. Alhamdulilah untuk yang satu ini saya bisa membantu dengan mencarikan pengobatan alternatif yang ada di rumah.
Dari kedua teman tersebut saya bisa mensyukuri nikmat dasar yang sudah saya miliki selama ini, yaitu berdiri dan berjalan. Untuk berjalan saja bila ingat mereka berdua saya sudah bersyukur. Mungkin ini yang dimaksudkan tuhan atas pertemuan saya dengan mereka berdua.

Taarufan
Saya sudah beberapa lama belajar mengenai teori untuk mentaaruf seseorang. Namun baru tahun 2018 saya berhasil mengaplikasikannya.
Taaruf yang saya percaya adalah taaruf sekedar berkenalan. Seperti yang pernah saya sebutkan di twitter. Untuk lebih jelasnya silahkan scroll kultwit yang saya tempelkan ini.


Entah memang tuhan belum meridloi atau memang ini ditakdirkan sebatas training taaruf. Saya menemukan kegagalan di taaruf yang pertama kali ini. Banyak sekali pengalaman kegagalan yang tidak dijelaskan di text book. Banyak teori yang menurut saya gak match dengan teori yang pernah saya baca. Mengenai risiko bertaaruf pun juga sama, tak disebutkan di buku.

Berkunjung Ke Papua
Ceritanya demi mendapatkan ridlo orang tua saya mengikuti sebuah tes pegawai negeri sipil. Pemilihan lokasinya pun saya memilih tidak seperti biasanya. Bila orang kebanyakan memilih yang dekat dengan rumah, saya memilih untuk jauh dari rumah, yaitu Universitas Papua.
Saya kira semua tes dapat dilaksanakan di Surabaya. Ternyata saya salah, tes dasar saja yang dilaksanakan di Surabaya, seleksi lanjutannya harus ke Sorong.
Dan akhirnya saya berangkat ke Sorong untuk mengikuti tes lanjutan. Lagi-lagi saat di perjalanan menjadikan hal tersebut unik. Karena ini adalah pertama kalinya saya naik pesawat lebih dari tiga jam. Sampai mati gaya di pesawat, ya bagaimana lagi? Untuk pesawat direct berangkat dari Surabaya pukul 5 pagi sampai di Sorong pukul 11 waktu setempat.
Televisi di pesawat sorong

Mulai tertidur, sampai terbangun, sampai tidur lagi. Meskipun pesawatnya ada televisinya saya sangat tidak tertarik.
Tapi di sisi lain papua adalah pulau ke 7 yang pernah saya kunjungi. Tentunya ini akan menjadi seru bila saya memang diterima sebagai aparatur negara di Universitas Papua. Karena saat saya tes tersebut tidak sempat ke Raja Ampat. Padahal ada paket wisata raja ampat yang berangkat dari Sorong. Sangat disesalkan.