Coro merupakan bahasa jawa dari kecoak, omong coro bermakna omongan ngelantur tapi dapat dinyatakan jujur. Maka ketenangan serupa apa lagi yang dicari di dunia yang fana ini selain kejujuran. Tulisan berikut merupakan contoh dari omong coro.

Search This Blog

Translate

About Me

My photo
Hi, saya pungkas nurrohman yang mencoba dewasa dengan jalan-jalan

Friday, 17 September 2021

Cerita Mendaftar Haji di Manokwari


Cara Mendaftar Haji Bagi Pendatang di Papua

Haji adalah rukun iman kelima yang wajib dipenuhi oleh setiap umat islam, termasuk saya. Kemarin pas sebelum nikah saya memiliki rejeki untuk mendaftar haji. Karena sebuah rukun menurut saya adalah sakral, lebih sakral dari yang berhukum sunah. Mungkin saya bisa saja mendaftar umroh dan melawat ke tanah suci, tapi umroh kan berhukum sunah, sedangkan haji adalah rukun. Umroh tanpa haji menurut saya seperti membaca surat pendek tanpa membaca alfatihah di dalam sholat. Jelas kita melangkahi rukunnya tapi mengerjakan sunahnya. Maka dari itu saya ingin menulis cara mendaftar haji di Manokwari untuk memudahkan yang ingin berhaji namun terkendala syarat yang lumayan ribet. Mengingat di Manokwari ini sulit ditemukan KBIH yang biasa mengurus pendaftaran haji.

Mengurus pendaftaran ke Kanwil Kemenag

Singkat cerita saya mendaftarlah ke bank, karena ketidak tahuan saya. Harusnya memang mendaftarnya ke Kanwil Kementerian Agama. Tapi untungnya ada kertas yang berisi beberapa persyaratan yang dapat kita siapkan. Saat mendaftar ke bank Muamalah tersebut saya menemukan persyaratan unik yaitu harus memperoleh surat rekomendasi dari Wakil Bupati. Persyaratan ini berlaku jika ber Nomor Induk Kependudukan luar Papua Barat (dibuktikan dengan NIK dengan awal selain 920). Mungkin karena sebelumnya ada kecurangan, ada pendaftar dari luar Papua. Karena daftar antrian Papua Barat ini paling cepat, mengingat jumlah umat muslim di sini sedikit, makanya diberikan persyaratan tambahan khusus untuk pemilik NIK luar Papua Barat.

Nah ini yang terasa sulit mengurusnya, saya mengurus surat ini kurang lebih setengah tahun. Karena memang sangat jarang orang yang mengurus surat pengantar ini, jadi mekanisme pengurusannya masih belum ada. Meskipun saya memiliki uang untuk mendaftar, pun tetap mencari jalur pengurusan. Jika kita tidak memiliki niat beribadah yang kuat pasti akan putus ditengah jalan. Karena memang di Papua Barat memiliki waktu antri sedikit namun dengan syarat yang berat.

Mengurus surat rekomendasi Wakil Bupati

Setelah menunggu beberapa bulan, akhirnya saya menemukan titik terang. Ada saudara yang akan mengurus surat sejenis dan memiliki banyak kenalan orang dalam. Entah ini tindakan curang atau tidak, yang jelas saya sudah mencoba jalur biasa namun tak kunjung menuai hasil. Dengan mengikuti “jalur khusus” kurang lebih seminggu semua pengurusan sudah berhasil. Surat rekomendasi dari wakil bupati sudah keluar.

Maka dengan kelengkapan seperti itu saya ke Kantor Wilayah Kementerian Agama yang biasa disebut depag jl. Percetakan sama orang Manokwari. Beberapa berkas saya berikan ke petugas dan dicek, ada beberapa kesalahan. Pertama foto harus 80% wajah dan berlatarbelakang putih. Kedua surat rekomendasi belum distempel. Ketiga kartu golongan darah saya tidak ada. Maka saya beriniastif untuk mengurus kartu golongan darah dan foto hari itu juga. Untuk permintaan stempel saya diberikan nomor staf wakil bupati, kami mengatur jadwal besok agar bisa ketemu untuk memintakan stampel.

Setelah semua berkas selesai saya kembali ke kantor Depag. Semua pun dicek dan hasilnya lengkap, kini saya direkomendasikan untuk ke bank lagi untuk meminta bukti validasi atas pembukaan rekening pendaftaran haji. Dari sini saya tahu, bahwa rekening yang awal saya buka itu bukan rekening pendaftaran haji. Rekening yang awal saya buka itu adalah rekening untuk mengumpulkan uang sedikit demi sedikit, hingga memenuhi 25 juta dan bisa digunakan untuk mendaftar haji.

Membuat validasi rekening bank

Di saat pendaftaran itu ada momen yang patut saya syukuri, saya berbarengan dengan orang yang akan melakukan revisi rekening. Karena beliau mendaftar dengan rekening BRI Syariah, Mandiri Syariah, dan BNI Syariah. Semua yang mendaftar di ketiga bank tersebut disarankan untuk mengurus pergantian rekening, karena ketiga bank tersebut kini sudah menjadi Bank Syariah Indonesia. Dalam hati saya bersyukur tidak mendaftar melalui rekening tersebut dan berdoa semoga nanti Bank Muamalat tempat saya mendaftar ini tidak berubah-ubah lagi.

Kembali ke petualangan pendaftaran haji saya. Setelah diberikan buku baru dan validasi oleh pihak bank, keesokan harinya baru saya ke Depag untuk memberikan semua persyaratan ini. Di Depag tinggal mengambil foto dan sidik jari, mungkin akan dilakukan pemetaan sidik mata. Di titik puncak ini saya harus menumpuk rasa sabar lagi. Karena pendaftaran saya harus ditunda, karena pendaftaran harus secara online dan rupanya ada masalah di server kementerian agama. Saat harus mencetak booking porsi pendaftaran (tinggal cetak saja) malah muncul notifikasi 410. Entah kode apa itu dan saya menunda pendaftaran hingga senin depan. Semoga saja senin depan memiliki sedikit titik cerah. Setidaknya saya sudah mendaftar dan mendapat nomor porsi pendaftaran.

Sekian keribetan ibadah yang bertabur kalimat bijak. Karena kuasa kita hanya mendaftar saja. Selebihnya biarkan sistem ilahiyah yang bekerja. Mungkin cerita saya mendaftar haji di manokwari untuk KTP non Papua Barat (dengan awalan 920) ini dapat menjadi pelajaran orang yang memang bersungguh-sungguh ingin beribadah.

Friday, 10 September 2021

Berpelesiran 275 Kilometer di Papua


 

Gunung Botak yang menyatukan gunung dan laut

Hari kamis kemarin saya mengunjungi teluk bintuni untuk pertama kalinya bersama istri. Sebelumnya saya tidak pernah berjalan sejauh ini selama dua tahun di Papua. Perjalanan jauh biasanya ke Sorong hanya perjalanan dinas saja, itupun via udara. Baru kali ini menempuh ratusan kilometer dengan menggunakan jalur darat.

Mengingat saya yang mabuk darat ini, menjadi tantangan tersendiri untuk melakukan perjalanan darat. Naik mobil jauh sedikit pasti langsung kepala pusing, perut mual dan badan lemas. Saat ini perjalanan darat saya tempuh untuk melihat betapa luasnya Papua, betapa indahnya Gunung Botak yang ternyata pantai itu. Pun juga disertai niat untuk menghadiri pesta pernikahan kawan saya di Teluk Bintuni.

Perjalanan kami mulai dengan menaiki mobil Toyota Hilux Double Cabin yang dimiliki oleh teman saya. Perkiraan perjalanan akan ditempuh dalam 7 jam. Perkiraan tersebut tidak akan meleset, karena suami dari teman saya ini adalah supir Hilux Bintuni-Manokwari. Biasanya orang Bintuni jika ke Manokwari menggunakan jalur darat, alias dengan menaiki kendaraan Hilux Double Cabin ini. Mereka biasa carter satu kendaraan, atau bisa hitungan per penumpang dengan tarif lebih murah tapi jam keberangkatan dari Manokwarinya tak menentu.

Kami berangkat dari manokwari sekitar pukul 8 siang, di belakang ada tiga orang laki-laki dan di dalam ada 4 orang laki-laki dan perempuan (termasuk istri saya). Terik mentari pun saya nikmati dengan berbaring sembari merasakan pusing, meskipun kedua teman yang duduk dibelakang mulai gusar, saya memilih untuk menikmati sinar mentari siang bolong ini. Tak lupa saya memakai helm untuk melindungi kepala dari benturan bak double cabin yang agak basah karena terpal yang menjadi alas.

Hingga tibalah kami di Ransiki, ibukota Kabupaten Manokwari Selatan. Dari sini kurang lebih sudah 100 Km ditempuh. Menurut Google Map jarak Manokwari ke Teluk Bintuni sekitar 275 Km. Jadi saat kami tiba di Ransiki masih ada 175 Km lagi. Kami berhenti sejenak untuk sarapan sekaligus makan siang, karena jam sudah menunjukkan pukul 11 siang. Ransiki memang sebagai tempat transit sejenak oleh sopir Hilux, karena daerah ini adalah daerah terakhir yang terkesan masih kota, selanjutnya arah Bintuni maupun Wasior hanya hutan dan jalan berkelok saja yang dilewati.

Dari Ransiki kita berjalan sekitar satu jam perjalanan sudah menemukan keindahan Gunung Botak, foto yang saya sematkan di atas ini adalah foto Gunung Botak. Yang berupa pemandangan persatuan gunung dan laut. Setidaknya sudah sekitar 3 tahun belakangan ini Gunung Botak terkenal sebagai wanawisata yang dimiliki Manokwari Selatan. Kabarnya Manokwari Selatan menggadang-gadang Gunung Botak ini sebagai sumber Pendapatan Asli Daerahnya, sehingga berani mendirikan kabupaten sendiri pecah dari Manokwari. Lambat laun juga di sebelahnya ada Pintu Angin yang juga wanawisata berbasis fotografi.

Setelah berkelak kelok dan naik turun dengan curam di Gunung Botak mobil berhenti sejenak, karena salah satu penumpangnya hendak mengeluarkan isi perut. Dan setelah berhenti itulah petualangan dilanjutkan. Sepanjang jalan setelah persimpangan ke arah Wasior kami diguncang dengan jalanan yang tak beraspal. Kata sang sopir disinilah yang biasanya saat hujan berlumpur, sehingga perjalanan ke arah BIntuni yang dapat ditempuh 7 jam saat kemarau, saat hujan bisa sampai 3 hari terjebak di kubangan lumpur. Namun untungnya di sana saat kami melintas ada pengerjaan proyek jalan, jadi dapat disimpulkan kedepannya tidak ada lagi mobil double cabin yang terjebak lumpur.

Setelah melintasi jalan proyek tersebut kami tibalah di Teluk Bintuni, kota mini penghasil minyak yang kini dikuras LNG. Bagi saya yang dulu pernah tinggal di Balikpapan, Teluk Bintuni terlampau kecil untuk kota penghasil minyak. Memang tak dipungkiri ada banyak penginapan yang dijadikan tempat singgah untuk mereka yang bekerja dilepas pantai. Namun ibarat sapi yang diperah susunya tapi tak diberikan makanan, sehingga Bintuni menjadi kota yang kurus tak memiliki gisi sama sekali.

Sunday, 5 September 2021

Radio Kini dan Nanti


sumber: commons.wikipedia.org

Hari ini saya membuat artikel ini sembari mendengarkan prambors radio, dari Manokwari. Lain dahulu lain sekarang memang. Dulu jangkauan radio hanya di beberapa kota saja, karena memang murni menggunakan frekuensi radio. Tertutup bukit tinggi saja sudah tidak dapat menembus. Kini tertutup gunung tinggi pun dapat ditembus, asal ada sinyal internet.

Dulu keseharian saya diisi dengan radio, entah radio lokal seperti SMEAMU FM atau radio kota seperti Trisakti FM. Radio jaman itu menjadi topik pembicaraan, bahkan saat ke sekolah mesti terselip obrolan tentang radio. Entah itu tentang kirim-kiriman salam, playlist yang diputar di radio tertentu, dan juga topik pembahasan yang diulas di radio tertentu, seperti Keramat yang dibawakan Mas Anton di Andalus FM. Masih terkenang memang asyiknya membahas radio di kala itu.

Kini gaungnya radio rupanya sudah tak sebesar dahulu, selain adanya media pesaing seperti tv, kini juga ada pesaing besar seperti youtube dan social media yang siap menyajikan hiburan dan topik sesuai kemauan penonton. Pun juga pendengar, kini sudah ada spotify, soundcloud, joox yang siap menyajikan lagu dan konten apapun yang bisa dikatakan pesaing besarnya radio. Tapi menurut Gofar Hilman ekosistem radio ini tidak tergantikan, “karena radio menyajikan kejutan-kejutan kecil bagi pendengarnya. Tak dapat digantikan dengan podcast”. Kalau dipikir-pikir ada benarnya juga, radio lebih memberikan kejutan karena kita tidak tahu apa yang akan diperdengarkan oleh penyiarnya.

Radio lebih cocok didengarkan saat bekerja, jadi kita tidak hanya fokus kepada radionya saja, tapi radio hanya selingan saat kita mengerjakan sesuatu, seperti membuat artikel ini. Lain halnya dengan mendengarkan music atau podcast melalui aplkasi. Mau tidak mau kita harus memfokuskan diri ke sana, kalau tidak pasti ada feel yang kurang, entah informasi yang terlewat atau lagunya yang itu-itu saja. Saya pernah mencoba mendengarkan apa saja yang popular di aplikasi Joox, tapi tetap saja feel-nya tidak seperti radio. Mungkin karena radio ada yang melakukan kurasi sesuai ciri khas radio tersebut, jadinya ada pilihan lagu yang menemukan satu ke-cirikhasan-nya sendiri.

Meskipun perlahan meredup sepertinya radio tidak menyerah, masih ada radio yang berdiri di kaki sendiri. Tentunya dengan berbagai inovasinya, salah satu bukti radio masih bisa berdiri adalah adanya beberapa artis yang hingga sekarang masih menjadi penyiar. Artis yang pernah muncul di televisi tanpa adanya honor yang menjanjikan pasti akan hengkang dari radio. Tapi buktinya Desta, Ronald extravaganza, Rico ceper, dan banyak artis televisi lain yang masih menetap menjadi penyiar.

Kejayaan radio memang belum berakhir, meskipun tak seberjaya zaman Komeng masih mengisi drama radio. Tak dapat dipungkiri banyak orang terkenal yang dilahirkan dari radio, seperti Abdel, Temon, Danang, Darto, Surya, Adit. Perlahan mereka yang pernah dibesarkan namanya oleh radio akan menceritakan perjuangan mereka menjadi penyiar dahulu. Dan sepertinya yang mereka ceritakan tak dapat diulang, tapi menjadikan radio ini menjadi hal vintage. Sejenis cagar budaya yang pernah membesarkan banyak orang, menyimpan banyak cerita dan kesan.

Rasanya pergerakan disrupsi akan menghapus banyak teknologi yang sudah dirasa tidak canggih. Tapi banyak yang juga kesan yang tertinggal dengan segala kenangannya. Rupanya banyak hal yang akan ditinggalkan dan juga akan menjadi kenangan. Ada kenangan yang tertinggal dengan sekala konflik dan dilemanya.

Sunday, 29 August 2021

Kumpulan Tamplate Wikisource (catatan)


{{nop}}: untuk tamplate di halaman terakhir jika tulisan tersebut belum selesai

{{rh||19|}}: halaman, untuk ditaruh di kop (atas) atau di kaki (bawah)

<ins> diakhiri dengan </ins>: Garis bawah

atau <u> diakhiri dengan </u>: untuk memberi garis bawah


‘’’cetak tebal’’’: jadinya cetak tebal

‘’cetak miring’’: jadinya cetak miring


{{center|kalimat yang mau diketik}}: jadinya tulisannya di tengah

{{sic|aak|agak}}: untuk typo aak dan harusnya agak
{{hwe|aak|agak}}: untuk typo aak dan harusnya agak
{{hwd|aak|agak}}: untuk typo aak dan harusnya agak

format gambar jika upload melalui commons: nama gambar, judul buku, p(halaman buku)
jika gambar milik kementerian pakai lisensi {{PD-IDGov}}
<!-- pesan -->: untuk menyematkan pesan namun hanya terbaca di mode sunting (HTML)

Saturday, 28 August 2021

Resensi Film Sabaya


 

Sabaya (2021)
Ilustrasi Sabaya (Courtesy of Sundance Institute)


Semalam saya dan istri menghabiskan malam minggu dengan menonton film dokumenter setelah sebelumnya merampungkan film Cokroaminoto. Karena sebelumnya saya meminjam akun mola tv teman untuk menonton De Oost, tapi malah keterusan menonton Cokroaminoto. Tapi dasarnya memang kita berdua bukan penonton yang baik, jadi mudah bosen setelah satu jam film berputar. Jadinya kami berdua menghabiskan film dalam dua ronde.

Namun kali ini saya ingin mengulas film dokumenter yang berjudul Sabaya. Masih ada kaitannya dengan opini saya sebelumnya, yang mengkritisi aksi Taliban. Sabaya adalah korban kejahatan dari ISIS, dalam film dokumen yang memenangkan berbagai festival film dokumenter tersebut diangkat seorang tokoh bernama Mahmud. Dengan modal telpon genggam dan pistol saja Mahmud bersama teman-teman organisasi Rumah Yazidi tersebut mencoba menyelamatkan wanita Yazidi dari ISIS.

Yazidi adalah sebuah etnis yang ada di Irak yang beragama Yazidi. Nah agama non muslim ini yang kemudian dijadikan sasaran kejahatan ISIS. Dengan dalih mereka non muslim, maka etnis satu ini berhak menjadi budak ISIS. Perempuan-perempuan Yazidi dijadikan budak nafsu yang disebut Sabaya. Sabaya tersebut biasa diselundupkan oleh perempuan ISIS yang berstatus sebagai Germo. Setiap serangan kepada Yazidi mereka pasti menyisakan perempuan-perempuan itu untuk dibagikan sebagai harta rampasan, dan setelah dinikmati tubuhnya kemudian dijual kepada germo yang dalam film tersebut membaur di kamp Al-Hol.

Film dokumenter ini lebih ke arah membuka fakta bahwa ternyata negara islam tidak terlalu islam juga, sekat antara perzinahan dan jihad terlampau tipis. Sehingga para Yazidi yang diberikan label kafir tersebut dapat diperlakukan semena-mena. Ada pula sesama perempuan yang sampai hati menjual mereka, karena memang sudah dilakukan cuci otak agar memperlakukan kaum kafir dengan tidak manusiawi.

Ada fakta baru yang saya lihat dalam film dokumenter ini, yaitu masih adanya polisi yang menjadi musuh dari ISIS. Polisi ini menjadi pelindung dengan asas demokratik, sehingga seperti ada di daerah konflik antara polisi demokrat dan ISIS. Sedangkan Mahmud tadi berangkat dari jalur independent, yang non profit.  Organisasi ini mempunyai orang dalam yang diselundupkan ke kamp Al-hol. Mereka berkomunikasi dengan Mahmud untuk mencari beberapa wanita Yazidi yang dijadikan Sabaya.

Yang sampai film rampung itu belum jelas adalah peran kamp Al-hol. Jika kamp tersebut didirikan oleh ISIS mengapa Mahmud dengan mudahnya keluar-masuk kamp untuk mencari perempuan Yazidi. Pun juga jika kamp tersebut didirikan oleh pihak demokratis, mengapa ada perempuan-perempuan ISIS bebas memperjual belikan Sabaya. Kamp tersebut tidak mirip dengan rumah, buktinya saat penjemputan wanita Yazidi ada beberapa tenda yang kosong karena pemiliknya sudah kabur. Seperti tidak ada pakaian yang dibawa leh pemilik Kamp. Sejauh pengamatan saya, mungkin ini adalah kamp pengungsian saja yang didirikan oleh PBB, karena ada tenda yang berlabel UNHCR.

Dimasa yang mulai menghangat ini sepertinya wajib untuk menonton sekaligus mempelajari bagaimana timur tengah berjibaku dengan idealisme agamanya. Agar dapat mempelajari bagaimana pencapaian negara yang mengedepankan agama dengan permusuhan. Dari Sabaya kita dapat melihat korban keganasan dari orang beragama. Ada remaja puluhan tahun yang dipaksa untuk melayani puluhan lelaki, ada keluarga yang kehilangan saudaranya, serta ada kewarasan yang dilanggar tidak karuan. Tak tahu ujung dari pergerakan tersebut apa. Agar kita tetap berpikir lagi risiko terberat jika ingin berkonflik dan memecah belah bangsa.


Sunday, 22 August 2021

Afganistan dan Talibannya


 

taliban dan militer afganistan
Taliban dan militernya (sumber: wikicommons)

Kemarin ramai beredar video orang berlarian di bandara Kabul tepat disamping pesawat yang akan lepas landas, saat itu saya berdecak kagum “betapa beraninya mereka”. Tapi saat melihat beberapa berita miris terkait kondisi Afganistan yang menjadi kalimat pengantar dalam video tersebut, saya langsung mencabut decak kagum yang sempat saya lontarkan tadi.

Bagi saya yang memiliki cita-cita untuk menjadi pegawai KBRI Afganistan, ini adalah kabar buruk. Saya harus mengkubur dalam-dalam cita-cita saya itu. Kini kondisi kestabilan keamanan afganistan mulai memburuk. Sempat saat sholat Idul Adha kemarin beredar kabar bahwa ada roket meluncur di sekitar presiden yang sedang beribadah. Ternyata setelah saya cari kabar peristiwa tersebut, menemukan kabar bahwa yang bertanggung jawab atas peluncuran roket tersebut bukanlah Taliban melainkan ISIS.

Fakta ini sedikit membuka mata saya lebih lebar, bahwa para kelompok jihad sama sekali berbeda. Tidak bisa dengan motif sama-sama islam lantas saling membantu. Buktinya pada sholat idul adha kemarin Taliban enggan untuk mengakui itu adalah invasi dari mereka. Alhasil ada kesan tidak kompak antar keduanya.

Mari kita singkirkan sejenak ketidak kompakan antar jihadis itu, dan beralih pada topik bahwa para jihadis mulai bermunculan karena militer amerika sudah mulai meninggalkan Afganistan. Semenjak presiden Amerika Joe Biden mengungkapkan bahwa militer amerika akan ditarik dari sana, maka mulailah bermunculan pergerakan dari para jihadis tersebut. Awalnya militer Amerika berada disana untuk membantu Afganistan menjadi negara yang berdaulat, sejak adanya serangan di Menara WTC oleh Al-Qaeda.

Tapi ternyata proyek training yang diadakan oleh Amerika tidak merubah apapun, ujung-ujungnya juga tidak menjadi negara demokrasi liberal. Dari kejadian ini mungkin ada pelajaran yang dapat diambil, yaitu mau tidak mau sebuah negara harus berada di kakinya sendiri. Tidak ada bantuan dari negara manapun seharusnya bukanlah masalah. Karena jika terlena dengan bantuan, ujung-ujungnya tidak akan memiliki kedaulatan sendiri. Seperti halnya Afganistan. Bantuan militer diambil, malah saudara terdekat yang mengatasnamakan Taliban menjadi lebih ganas memperebutkan kekuasaan.

Alhasil dari perebutan tersebut menghasilkan korban yang lebih banyak. Stabilitas politik menjadi kacau balau. Negara lain bukannya bersimpati malah mengincar kekayaan negeri. Semoga saja peristiwa ini tidak menimpa Indonesia, antisipasinya mungkin dapat memupuk rasa persatuan dan kesatuan dari sekarang. Terlampau banyak ideologi yang bertebaran di social media, mulai dari ideologi terlampau kiri dan terlampau kanan. Mayoritas mereka mengesampingkan korban dari ketidak stabilan atas perpecahan. Asal terobos kanan-kiri, asalkan ideologinya tersampaikan.

Saturday, 14 August 2021

Ketimpangan Vaksin


Infanrix hexa vaccine
ilustrasi vaksin (sumber: commons.wikimedia.org)


Kemarin saya sempat terkejut saat melihat story facebook seorang laboran yang memamerkan kartu vaksin ketiga. Sembari geleng-geleng kepala saya menelusuri vaksin apa yang diinjeksikan hingga tiga kali, dalam kartu vaksin tersebut tertulis Coronavac untuk vaksin dosis pertama dan kedua lantas di dosis ketiga tertulis nama Moderna.

Lantas saya membuka twitter lha kok ada cuitan seorang dokter gigi yang intinya marah-marah dengan memnyematkan berita bahwa anggota DPR disuntik vaksin dosis tiga. Maklum saja dia marah, saya yang melihat seorang laboran yang mana adalah seorang tenaga medis disuntik vaksin dosis tiga saja sudah emosi, apalagi seorang tenaga medis yang melihat berita bahwa anggota DPR disuntik dan tidak memiliki kepentingan apapun dalam penanganan pandemi.

Ternyata setelah saya mencoba menulusuri lebih dalam (di beritaonline), vaksin dosis tiga ini digunakan untuk mereka tenaga medis yang didapuk menempati posisi penting dalam penanganan pandemi ini. Tapi akal saya terus memberontak terkait ketimpangan vaksin ini. Pasalnya dari target 208 juta masyarakat yang mendapat vaksin, hingga tulisan ini saya bikin hanya 53 juta orang yang mendapat vaksin dosis pertama (data diambil dari kawal covid). Jika diasumsikan ada 73% orang yang mau divaksin, berarti sekitar 100 juta orang masih kelimpungan mencari vaksin dosis pertama.

Seperti yang sering kita temui di dunia nyata maupun dunia maya, masih ada saja orang yang bertanya “lokasi vaksin saat ini dimana ya?”. Hal ini dapat membuktikan bahwa masih ada orang yang belum vaksin pertama dan berminat untuk divaksin. Kenapa vaksin Moderna itu tidak difungsikan menjadi vaksin untuk mereka yang jelas-jelas mencari vaksin? Mungkin jika beralasan bahwa kita masih butuh tenaga medis agar penanganan pandemi ini tidak memakan korban tenaga medis, saya masih sepakat. Tapi buktinya masih ada saja orang yang tidak memiliki peran apapun dalam penanganan pandemi namun mendapat vaksin dosis ketiga. Terlihat sangat timpang sekali bukan?

Saya hanya khawatir mereka yang 100 juta tersebut susah payah mencari vaksin namun tidak mendapat vaksin dan menjadi malas untuk divaksin. Alhasil 100 juta orang ini menjadi barisan patah hati yang siap untuk menggagalkan upaya imunisasi nasional terhadap pandemi. Tentu pemerintah akan gagal mewujudkan kekebalan kelompok. Lagi-lagi karena salah prioritas.

Karena seperti yang kita ketahui vaksin ini meskipun sudah menjadi rekomendasi WHO dan para dokter, di depan mata kepala kita masih ada yang menyangsikan efektivitas vaksin. Bahkan di titik terekstrimnya ada warga manokwari yang memblokade jalan karena dipaksa vaksin. Kepercayaan terhadap manjurnya vaksin sangat bisa untuk diperdebatkan, karena relevansinya terhadap masyarakat di akar rumput juga bisa dikatakan masih belum ada.

Ada yang sudah divaksin tapi masih terkena covid, ada yang belum vaksin tapi tidak terkena covid, dan berbagai pendapat lain yang siap untuk menggempur keinginan vaksin 100 juta orang yang saya sebu barisan patah hati tadi. Sebaiknya para pengambil kebijakan lebih berhati-hati dalam meluncurkan vaksin dosis ketiga ini. Dampak yang ditimbulkan akan lebih parah dari resesi ekonomi yang sudah dilewati kemarin. Bisa-bisa jika salah dalam membuat skala prioritas, pandemi akan bercokol kuat di negeri ini dan merenggut anak bangsa lebih banyak lagi dan menyisakan luka lebih dalam lagi.