Coro merupakan bahasa jawa dari kecoak, omong coro bermakna omongan ngelantur tapi dapat dinyatakan jujur. Maka ketenangan serupa apa lagi yang dicari di dunia yang fana ini selain kejujuran. Tulisan berikut merupakan contoh dari omong coro.

Search This Blog

Translate

About Me

My photo
Hi, saya pungkas nurrohman yang mencoba dewasa dengan jalan-jalan

Wednesday, 26 August 2020

Kyai Kanjeng- Ngopi




C                                                     G
Isuk-isuk tangi turu pingin ngopi
F                            G             C
Ora lali mangan keju karo roti
            F                  C
Enak tenan, seger tenan
            Dm                      G
Wes biasa, karo rokokan

C                                                    G
luweh apik Omong-omong jagongan
                                            C
Lungguhe jigang karo guyonan
              F                        C
Wanci kerjo, budhal makaryo
                   F       G            C
Oleh hasil kanggo keluargo

C                                                G
Pi kopi kopi pancen seger tenan
                    F             G                C
Wayah isuk ngopi sinambi rokokan
C                                               G
Pi kopi kopi pancen seger tenan
                    F        G                    C
Nanging ojo nganti ninggal gawean

                 F                       C    
Ngono ora becik, ngono tidak baik
                        F         G                C
Nyambut gawe mbok yo seng apik

Sunday, 23 August 2020

Tiga Ketidak Masuk Akalan Seleksi CPNS Papua


Setelah beberapa hari saya mencerca pendemo dengan mengeluarkan artikel berjudul Demo Untuk Pegawai Negeri, saya menemukan berbagai fakta tidak masuk akal dari keluarnya pengumuman penerimaan pegawai. Beberapa fakta tersebut adalah jumlah pegawai yang diterima ternyata jika di cek secara teliti memang lebih banyak nama pendatangnya daripada nama orang asli papua. Karena memang kapasitas saya sebagai penyimak saja, maka dari itu pelacakan yang mendalam hingga mendatangkan seluruh pencari kerja tidak mungkin saya lakukan. Hanya melacak nama marga di setiap lembar pengumuman saja. Terhitung ada belasan lembar pengumuman untuk kabupaten Manokwari coba saya teliti perlembarnya. Alhasil memang di setiap lembar, nama asli papua menjadi minoritas.

Ketidak Masuk Akalan Pemkab

Jika memang dikerjakan secara tepat aturan hal ini sangat tidak masuk akal. Karena jalur seleksi putra-putri asli papua berbeda dengan jalur umum. Dan saya melihat sendiri lowongan yang diumumkan memang begitu. Jadi jalur putra-putri asli papua memang ada 80% sedangkan jalur pendatang ada 20%. Hal ini menegaskan bahwa jalur putra-putri asli papua tidak bersaing dengan jalur umum. Sepengetahuan saya saat seleksi penerimaan pegawai 2018 jalur putra-putri memiliki syarat administrasi yang berbeda dengan jalur umum. Perlu diketahui untuk jalur penerimaan sendiri saat 2018 kemarin ada empat, yaitu: jalur cumlaude, jalur disabilitas, dan kedua jalur yang menjadi ulasan kita kali ini. Keempat jalur tersebut memiliki syarat yang sama sekali berbeda. Jadi tidak dapat dipertarungkan secara langsung. Bisa juga satu jalur tidak bersaing sama sekali, karena lowongan yang dilamar berbeda.

Namun lucunya di kabupaten Manokwari ini hasil penerimaannya terkesan ngawur. Bagaimana tidak? Dua jalur yang tidak bersinggungan dengan akumulasi lowongan yang memang sesuai peraturan, malah hasilnya terbalik. Padahal jelas-jelas dua jalir tersebut tidak dapat dicampurkan. Kelucuan pun tidak berhenti di sana. Dalam pengumuman yang dirilis setelah terlambat satu tahun ini hanya termuat nama dan nilai mereka yang lolos saja. Jadi jelas ada manipulasi data yang memang tidak dipublikasikan secara jelas dan nyata. Kedua kelucuan ini yang patut dan layak untuk dipertanyakan.


Ketidak Masuk Akalan Pendemo

Jika tadi saya sudah berbicara secara panjang dan lebar terkait keanehan dari pemberi kerja (pemkab Manokwari). Kini giliran para pencari kerja yang protes atas hasil yang tidak fair tersebut. Para pendemo juga sangat tidak masuk akal. Mereka mendemo pihak yang memang tidak ada urusannya dengan penerimaan pegawai. Seperti PDAM, Kantor Distrik, dan berbagai institusi lainnya. Memang demo hanya terjadi dengan pemalangan atau penutupan akses sementara saja. Tapi yang ditutup menurut saya adalah objek yang cukup vital. Seperti sumber air yang dimiliki oleh PDAM ditutup secara paksa. Alasannya karena ketidakadilan penerimaan pegawai. Hal ini berdampak pada pengguna air PDAM yang tercabut haknya. Padahal mereka juga tidak mengetahui perihal penerimaan pegawai yang tidak adil. Dan juga pendemo jelas tidak mendapatkan hasil apa-apa atas pembatasan hak secara sepihak.


Ketidak Masuk Akalan Keputusan

Setelah menuai ketidaksetujuan dari para pencari kerja pihak pemerintah kabupaten juga lagi-lagi memberikan janji yang sangat tidak masuk akal. Ditengah pandemi seperti ini pemerintah pusat sudah menyatakan bahwa penerimaan pegawai ditunda dahulu. Selain untuk menyehatkan kembali APBN penundaan sementara ini untuk mematuhi protokol kesehatan covid. Namun pemerintah kabupaten manokwari lagi-lagi mencetuskan ide yang tidak masuk akal. Yaitu tahun. Ini akan dibuka kembali lowongan pegawai untuk mereka yang gagal saat penerimaan tahun 2018.

Alih-alih mengevaluasi kesalahan fatal mereka malah memberikan janji bahwa masih ada kesempatan esok hari. Mal administrasi juga sangat mungkin jika ini terjadi. Selain melanggar peraturan pemerintah pusat, pemda juga seakan menyingkirkan kegelisahan kesehatan ekonomi di masa pandemi ini. Kesehatan angaran pendapatan dan belanja daerah seakan tidak dihiraukan. Atau memang hal ini dilakukan untuk menutupi pihak-pihak yang harusnya bertanggung jawab.

daftar cpns yang diterima
satu nama diterima di dua formasi (sumber: https://humas.nabirekab.go.id/2020/08/ini-hasil-kelulusan-seleksi-cpns-kab-nabire-formasi-2018-80-oap-lulus/)

Monday, 17 August 2020

Jastip Manokwari Mendisrupsi Jasa Kirim Mahal


jastip manokwari
Pengiriman Kapal Lebih Murah (Sumber Fb akun: ASDP Sowi Manokwari)

Akhir-akhir ini mulai bermunculan inovasi usaha baru di Manokwari. Namanya biasa disebut di facebook sebagai jastip alias jasa titip. Dengan memanfaatkan semangat bersama jastip mulai muncul ke permukaan sebagai sebuah hal yang sama sekali baru dan memberikan keuntungan ke berbagai pihak.

Jastip sendiri bukan hanya jasa titip yang seperti kita kenal di Jawa. Jika di Jawa kita mengenal jastip sebagai jasa titip kepada orang yang sedang melancong. Sekalian jalan-jalan sekalian membelikan titipan pelanggan. Namun di Manokwari jastip sendiri ialah jasa titipan pengiriman untuk memangkas ongkos kirim yang terkenal mahal jika hanya membeli barang dibawah 100 kilogram. Bayangkan saja mengirim barang dengan berat satu kilogram saja ongkos kirimnya bisa sampai 140 ribu dengan menggunakan JNE. Tapi jika menggunakan jasa titip akan terpangkas habis dengan harga 20 ribu perkilo.

Kok bisa?

Jelas bisa, karena pengusaha jastip mengumpulkan kiriman hingga satu minggu dahulu lalu baru mengantar ke jasa pengiriman yang melayani pengiriman dengan bobot lebih dari 100 kilogram. Biasanya mereka menyebutnya dengan cargo. Harganya juga lebih murah dari pengiriman biasanya. Bisa jadi perkilo dapat harga 15 ribu. Tapi hitungan tersebut biasa langsung dikali 100 kilo. Sangat tidak memungkinkan bagi usaha eceran untuk mendatangkan barang langsung 100 kilo. Maka dari itu ada jasa untuk menitipkan pengiriman kepada jastip agar lebih murah.

Tapi kelemahannya mengirim lewat jastip tidak secepat pengiriman melalui jasa pengiriman kiloan seperti JNE. Karena operator jastip akan mengumpulkan barang dahulu di pengepul yang ada di Jawa. Seperti yang sudah saya sebutkan di atas pengumpulan tersebut untuk memenuhi berat minimal yang kemudian dialihkan ke jasa kargo.

Sepertinya kehadiran jastip ini berhasil mendisrupsi kiriman mahal seperti JNE dan merk kiriman lainnya. Karena berhasil memotong harga yang lumayan tinggi dengan prinsip gotong royong. Mahalnya harga toko online karena ongkir, rasanya lambat laun akan menghilang di papua. Tinggal kita simak saja jastip ini akan dapat bertahan atau tidak. Sepengetahuan saya hal yang akan mengancam jastip hanyalah sistem manajemen saja yang terlihat masih sangat tradisional.

Untuk melihat betapa tradisionalnya managemen usaha satu ini, saya akan menjelaskan cara menggunakan jastip. Jika kita ingin menggunakan jasa, wajib memberikan konfirmasi ke jastip dahulu. Nanti jasa tersebut akan memberikan kode dan alamat di Jawa. Nantinya saat kita order ke penjual barang, alamat inilah yang kita bubuhkan sebagai alamat penerimaan. Setelah barang diterima di alamat Jawa operator jastip akan memberikan konfirmasi penerimaan barang. Lalu kita tunggu barang sampai di Manokwari kemudian kita bisa ambil di alamat pengambilan di manokwari.

Dengan menggunakan sistem seperti ini sangat mungkin barang yang diterima di manokwari diambil orang yang salah. Hanya bermodalkan kode saja sudah bisa mengambil barang. Tapi mungkin dapat dimaklumi, karena usaha ini memang masih terbilang baru. Sangat butuh banyak masukan untuk lebih diperbaiki dalam sistem.

Tapi dengan hadirnya usaha satu ini, rasanya cukup menjadi alat bantu untuk memangkas biaya yang terlalu mahal. Sekali lagi dengan semangat bergotong royong akan dapat memberikan subsidi pada ongkos kirim.

Thursday, 6 August 2020

Tentang Konsumsi Pemerintah


Data Pertumbuhan Ekonomi (Sumber:BPS)


Awal agustus ini dikejutkan isu resesi di manapun, mulai orang keminter di twitter hingga emak-emak muda yang biasa posting tiktok pun juga ikut menuliskan status terkait kerisauan terhadap resesi ekonomi. Lambat laun akhirnya tanggal 5 kemarin baru saya sadar, BPS telah merilis laporan ekonomi triwulan kedua (april-juni). Hasilnya anjlok tidak karu-karuan. Hasilnya minus di sana-sini. Terlebih yang menjadi sorotan adalah PDB yang sudah merah dengan angka minus 5,32. Pantas semua orang beramai-ramai khawatir terkait kondisi ekonomi kekinian.

Tapi saya merasa ada yang klop dengan data yang diberikan oleh BPS. Terlebih bagi saya yang beberapa bulan terakhir ini bergelut dengan mekanisme pencairan APBN. Ada banyak hal yang cocok dengan hasil data BPS saat triwulan kedua ini. Terlebih terkait konsumsi pemerintah, yang beberapa hari yang lalu dikoreksi mati-matian oleh presiden. Beliau mengeluhkan realisasi yang masih dibawah 50% padahal kondisi ekonomi semakin turun. Tidak ada yang salah dengan ungkapan presiden, karena negara sebagai lembaga yang paling gendut dalam mengolah keuangan. Jika semua uang masih tertahan di dalam maka sudah dipastikan dapat berdampak ke pihak swasta.

Kemarahan presiden ini jika dicocokan dengan kondisi keuangan masing-masing unit kerja di daerah (sebagai penyalur APBN) sangatlah benar. Terlebih jika ditarik garis lurus ke data yang dihasilkan BPS. Pasalnya saat triwulan kedua itu kita biasa mulai gas realisasi. Karena triwulan pertama biasanya digunakan untuk revisi DIPA dan mencocokkan data dengan usulan DIPA yang dimiliki masing-masing unit. Alih-alih penyaluran ini sudah berjalan, malah muncul regulasi baru sebagai dampak dari wabah COVID. Mulai dari kerja dari rumah, sampai pengadaan barang dan jasa harus ditunda dahulu.

Sepertinya tiap unit masih gagap akan pergeseran regulasi ini. Sehingga ada unit penyerap anggaran yang belum dapat merealisasikan kegiatan yang sudah tertulis di rencana kerja anggaran. Seperti contohnya, saat di triwulan kedua tersebut ada aturan yang menurut saya sangat mustahil untuk dilakukan di Papua Barat. Peraturan yang berasal dari kementerian keuangan tersebut memberikan batasan penanganan pengajuan pembayaran. Satu KPPN (Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara) menaungi 300 unit kerja. Namun satu hari hanya dapat melayani 150 permintaan pembayaran. Aturan ini berlangsung mulai 5 Mei 2020 sampai 15 Juni 2020. Entah apa yang melatarbelakangi lahirnya aturan yang sukses menghambat realisasi anggaran ini. Sebagai perumpamaan untuk unit sekelas Universitas Papua saja, setiap harinya rata-rata mengajukan 7 permintaan pembayaran. Tapi menjadi terhambat karena mendapat kuota pengajuan tersebut.

Untungnya peraturan tersebut tidak berlaku lama, sehingga realisasi anggaran hanya tertahan sekitar 40 hari saja. Bahkan ada sebuah unit yang tidak dapat mengajukan permintaan pembayaran sama sekali, karena lagi-lagi sinyal internet yang akhir-akhir ini menjadi ujung tombak keberhasilan realisasi tidak mereka miliki. Harus turun ke kota dahulu barulah dapat mengajukan pembayaran, tapi saat mengajukan pembayaran secara online kuota penanganan KPPN untuk hari itu sudah terpenuhi.

Memang selain kendala teknis sebagai implementasi kerja dari rumah seperti yang saya sampaikan di atas ada juga kendala anggaran yang tidak mungkin terpakai saat pandemi seperti saat ini. Salah satunya anggaran perjalanan dinas yang memiliki porsi cukup besar. Tapi kembali lagi ke hasil pengolahan data BPS, dari kesulitan yang mendera hampir selama separuh triwulan tersebut berhasil mengguncang konsumsi pemerintah. Dapat kita lihat konsumsi pemerintah turun juga sebesar 6,9 persen.

Seperti yang saya sebutkan di atas, negara sebagai lembaga gendut jika konsumsinya menurun pasti akan berdampak ke sektor swasta. Jika anggaran tersebut menumpuk di Rekening Negara dan tidak lekas turun ke masyarakat pasti ada daya beli yang turun. Apakah lantas ini sebagai faktor terbesar penurunan konsumsi secara keseluruhan? Bisa jadi. Tinggal kita simak saja hasil data BPS untuk triwulan ketiga ini. Jika tetap PDB minus dan konsumsi pemerintah sudah tidak minus, berarti analogi yang saya bangun dalam tulisan ini jelas-jelas salah.


Friday, 31 July 2020

Demo Untuk Pegawai Negeri


Tanggal 30 Juli 2020 adalah hari yang cukup bersejarah bagi pelamar lowongan kerja untuk menjadi pegawai negeri di tanah papua. Alasannya cukup dramatikal meskipun diceritakan dengan cara biasa, karena sudah sekitar dua tahun pengumuman tersebut tertunda. Jadi calon yang mendaftar untuk formasi pegawai negeri tahun 2018 baru mendapat pengumuman penerimaannya kemarin. Mungkin karena tarik ulur kebijakan antara pejabat daerah dan juga pusat. Cukup seru jika diikuti perjalanan panjang pelamar yang sangat mengharapkan menjadi manusia dengan kendaraan plat merah. Karena perjuangannya tidak seperti di jawa yang hanya berjuang di atas kertas lembar jawaban. Perjuangan mereka yang melamar di pemerintah daerah berjuang secara kertas dan juga secara politik.


Kantor BKD pegaf terbakar
Kantor BKD Dibakar


Lagi-lagi ada ketidak tepatan waktu yang menambah pikulan beban yang ditanggung pelamar di pemerintah daerah tanah papua. Saya yang saat itu menunggu pengumuman selama 6 bulan saja sudah terasa berat, apalagi mereka yang saat ini menunggu sampai bertahun-tahun. Ketidak tepatan waktu yang sangat tidak tepat tersebut membuat isu yang meluas di masyarakat berubah-ubah. Pun juga ketidak pastian dalam open recruitment menjadi cukup besar. Bayangkan saja jika kita menjadi pemberi kerja, kecukupan tenaga kerja sudah terhitung dengan matang, eh malah pas harusnya pekerjanya datang malah molor sampai tahunan. Pun juga jika dibalik jika kita berpikir di sisi pencari kerja. Rencana kita sudah matang jika diterima jadi pegawai negeri akan begini, sedangkan jika tidak rencananya akan begitu. Malah keputusan akhirnya nunggunya sampai tahunan.

Selain kemoloran tersebut, semenjak diumumkan kemarin ada pendemo yang merasa dicurangi. Entah penghitungan mereka bagaimana, yang jelas mereka merasa dibalik. Harusnya memang menurut peraturan orang asli papua(OAP) memperoleh porsi 80% sedangkan untuk non OAP 20%. Saat saya tes PNS dulu ada yang namanya formasi khusus putra-putri asli papua. Formasi ini diperuntukkan mereka yang memiliki darah asli papua (bapak atau ibunya orang papua) atau lahir besar di papua yang biasa disebut asli papua kelas tiga. Namun saat pengumuman ada beberapa pihak yang merasa justru yang lolos didominasi oleh orang non papua.


Pemalangan jalan menuju holtekamp
Pemalangan di Jayapura (sumber: @jayapuraupdate)

Karenanya hingga tulisan ini saya buat ada 4 pemerintah daerah yang didemo. Keempat kejadian demo tersebut adalah: pembakaran kantor BKD pemerintah kabupaten pegunungan arfak (foto 1), pemalangan jalan menuju jembatan Holtekamp, Jayapura (gambar 2), demo di pegunungan bintang, dan demo sekaligus pemalangan jalan di perempatan Sanggeng, Manokwari (gambar3). Tuntutan mereka seperti biasa, ingin agar keadilan dapat ditegakkan di tanah Papua. Mungkin karena mereka menganggap sebagai korban kecurangan.

Hal yang sangat unik, karena jelas di Jawa sangat jarang ditemui demo karena hasil tes yang dicurangi. Berbagai kesalahan administratif memang sangat lumrah ditemui di Jawa, namun orang tidak sampai turun ke jalan. Mungkin karena memang peluang bekerja di Jawa sangat besar, dan pamor pegawai negeri cukup merosot dibandingkan dengan Papua. Di Papua pegawai negeri masih cukup memiliki hati di kalangan kaum muda.


Pemalangan cpns sanggeng
Pemalangan Sanggeng, Manokwari (sumber: facebook arman amsa) 

Masih memiliki gengsi. Karena memang kesempatan bekerja juga tidak sebesar di Jawa. Iklim industri di Papua juga cukup sepi. Mungkin karena infrastruktur atau (agar saya tidak dianggap pro pemerintah yang gemar mendewakan infrastruktur) adat yang gemar melakukan pemblokadean aktifitas jika hak mereka tidak terpenuhi. Kedua hal ini membuat investor juga enggan membuat pabrik di tanah papua. Bahkan untuk membuat industri yang paling strategis seperti penyedia air dan listrik pun juga mikir dua kali. Kedua penyebab tersebut cukup sukses untuk membuat biaya melonjak. Alhasil industri akan sepi dan lagi-lagi menjadi pemakan uang pajak dan retribusi menjadi pilihan yang paling logis. Tarik ulur kebijakan dengan cara kecurangan pun menjadi halal saja, selama ada uang yang mengalir di rekening. Apa ini penuntutan hak berbasis kecurangan?

Monday, 22 June 2020

Sedikit Hal Baru Saya Tahu



Syekh Nursamad Kamba (sumber: akun Twitter @maiyahan)



Tahukah anda jika saya mengucap nama Nursamad Kamba? Mungkin sama sekali asing jika anda sangat jarang mengikuti kabar maiyah. Saya pun sesekali mengikuti maiyah dan baru kali ini mendapati fakta yang lumayan mengejutkan dari seorang yang biasa duduk di samping Cak Nun saat Kenduri Cinta. Beberapa hal yang menurut saya mengejutkan adalah sebagai berikut.


Profesor

Ternyata orang yang terlihat awam tersebut juga memiliki karir akademik yang lumayan moncer. Ternyata beliau merupakan profesor di bidang Tasawuf Psikoterapi. Jenjang akademisnya tidak diragukan lagi, mulai dari S1 hingga S3 di kairo mesir selama beberapa tahun di mesir tidak hanya belajar, beliau juga menelurkan berbagai pemikiran untuk kemajuan keilmuan yang beliau geluti. Semenjak mengambil gelar magister beliau sudah rutin menuangkan pemikirannya pada berbagai jurnal. Hingga akhirnya pulang dari kairo mengembangkan pendidikannya di tanah air.


Pencetus Jurusan Psikoterapi Tasawuf

Buya Kamba merupakan salah satu pencetus Tasawuf di Indonesia, beliau tidak hanya berkarir. Tapi lagi-lagi merekonstruksi pemikiran yang awalnya Tasawuf hanya sejalan dengan tirakat keagamaan, diubahnya menjadi sebuah jawaban atas kebutuhan psikologis insan manusia. Alhasil beliau mencoba memberikan pembelajaran yang diberi nama jurusan psikoterapi tasawuf di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Dari sanalah beliau bergelut dengan sesuatu yang semakin hari semakin populer di kalangan universitas islam lainnya. Hal ini ditengarai karena pemahaman beliau terhadap jurusan aqidah filsafat yang dipelajari dari timur tengah.


Ahli Fikir di Dua Pijakan

Saya mendapati istilah ini dari ngaji ihya' di youtube yang dipandu oleh gus ulil (anak mantunya gusmus). Beliau mengapresiasi Al-ghazali sebagai salah satu ilmuwan yang dapat berdiri di dua pijakan, dua pijakan tersebut adalah pijakan keilmuan tertulis (fikih, hadits, bahasa) dan keilmuan tidak tertulis (tasawuf). Dan ini jika ditarik garis secara serampangan saya menemukannya dalam seorang profesor yang kelahiran pinrang satu ini. Beliau di dalam pemikirannya ahli dalam kondisi kebatinan yang disponsori oleh ilmu psikologis, sekaligus dapat menemukan salah satu obat kebatinan dalam hal ini diwakili oleh ilmu tasawuf.


Namun sayangnya saya baru mengetahui berbagai hal tersebut kemarin saat masyarakat beramai-ramai mengucapkan belasungkawa atas kepergiannya. Sangat terlambat sekali sepertinya saya baru mengenalnya saat beliau tiada. Hanya buah pemikiran berupa tulisan saja yang kini dapat saya nikmati. Sembari mengirimkan satu dua untaian doa terhadap beliau yang sudah membuatkan buah karya. Ila ruhi syekh Muhammad Nursamad Kamba, lahumul fatihah


Sunday, 21 June 2020

Malas Nulis dan Serangkaian Evaluasinya


Hadiah event glam
Hadiah wikimedia GLAM


Akhir-akhir ini saya susah untuk menulis, bukan karena sibuk. Tapi gairah untuk menulis sudah hilang. Entah mengapa setiap saya membuka google docs (piranti untuk menulis) pasti ada saja ujian yang menghadang. Entah kerjaan yang tiba-tiba datang dari bos, atau sesuatu yang seakan diciptakan oleh semesta untuk menggagalkan niat menulis saya. Yang jelas seketika itu juga gairah untuk menuangkan isi kepala kedalam tulisan sudah musnah. Mungkin ini sebuah alasan yang melatarbelakangi saya sama sekali tidak merangkai kata untuk sebuah konten di blog yang saya miliki ini.

Awal sebuah kemalasan tersebut bermula dari adanya kompetisi di GLAM (anak cabangnya wikimedia). Bukannya menyalahkan kompetisi tersebut, tapi sekedar memaparkan hasil penelusuran selama ini. Seketika saat itu fokus saya beralih kepada tugas untuk menulis ulang scan dokumen yang diberikan oleh GLAM. Demi sebuah hadiah untuk mengikuti acara yang diperuntukkan para wikipediawan seluruh indonesia. Tapi ya seperti yang kita ketahui, saya yang memiliki karakter sangat susah berkompetisi tidak memenangkan hadiah utamanya. Namun alhamdulilahnya panitia penyelenggara masih berbaik hati mengirimkan hadiah hiburan, yaitu sebuah kaos, totebag, pin dan stiker ala anak wikimedia.

Setelah kompetisi tersebut berakhir. Alih-alih saya memfokuskan diri kembali ke rutinitas nulis, saya malah keasyikan bermain sosial media hingga lupa waktu. Mungkin ini yang harus menjadi evaluasi habis-habisan. Setidaknya harus mendisiplinkan diri untuk terus menulis. Meskipun tidak ada hadiah dari tulisan tersebut, seorang pemilik blog setidaknya harus bertanggungjawab kepada perencanaan blog yang selama ini sudah dipikirkan.

Sampai-sampai saat saya membuka blogger.com saya terperangah dengan tampilan dashboard yang sama sekali berubah. Semenjak saya tidak menulis entah berapa hari yang lalu. Awal saya membuka dashboard blogger saat menulis panduan pendaftaran. Ya itu sebetulnya adalah konten panduan saja, demi mendulang pengunjung yang bertambah. Tapi lumayan juga hasilnya, menghasilkan puluhan ribu pengunjung dalam dua hari. Setelahnya (apalagi saat pendaftaran tutup) pasti akan kembali normal kembali alias tidak ada yang mengunjungi blog saya.

Jujur saat kerja di rumah saya malah banyak membuang waktu untuk hal yang sama sekali tidak berguna, seperti menghubungi lagi mantan saya. Ujungnya hubungan tidak berangsur baik malah pesan saya hanya dibaca begitu saja tanpa tanggapan. Mungkin karena adanya putus cinta itu kali ya? Yang membuat saya enggan untuk memeras otak untuk serangkaian kata yang enak dibaca. Selain karena enggan memberikan kontribusi saya juga akhirnya enggan membaca. Beberapa buku masih belum ada yang saya baca selama kurang lebih 3 bulan ini.

Sangat tidak produktif memang, dan akhirnya saya berinisiatif untuk asal menulis saja. Curhat kesana kemari tanpa memikirkan alur tulisan yang akhirnya jadilah tulisan ini. Kata orang-orang yang sudah rutin menulis sih, cara seperti ini yang akan berhasil untuk membuka blok pikiran. Ya harapan saya semoga setelah ini tetap bisa mencurahkan pikiran dengan untaian kata yang dapat terpintal dari rangkaian huruf. Inisiatif ini apakah efektif?

Sangat relatif sebenarnya.

Tapi ini saya sudah ada berbagai ide untuk membuat sebuah tulisan. Entah nanti dapat dipublikasikan di blog ini atau di kompasiana. Yang penting sekarang ini saya omong coro dulu, setelah ini saya melanjutkan membaca buku dan berakhir dengan produktifitas yang kembali mengalir deras.

Mohon doanya ya.