Coro merupakan bahasa jawa dari kecoak, omong coro bermakna omongan ngelantur tapi dapat dinyatakan jujur. Maka ketenangan serupa apa lagi yang dicari di dunia yang fana ini selain kejujuran. Tulisan berikut merupakan contoh dari omong coro.

Search This Blog

Translate

About Me

My photo
Hi, saya pungkas nurrohman yang mencoba dewasa dengan jalan-jalan

Tuesday, 18 February 2020

Respatinya Wikipedia


Hasil gambar untuk respati wikipedia
Proyek Respati (Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Proyek_Respati)



Udah mulai jarang nge-blog karena ada lomba yang lumayan estafet dan menguras tenaga. Sebetulnya bukan lomba juga sih, tapi menjadi kontributor Wikipedia. Bukan kontributor juga sih, tapi ikut urun rembug dalam pembuatan ensiklopedi dalam Wikipedia. Nama proyeknya cukup mengindonesia, yaitu Respati. Saya kali ini ingin menunjukkan betapa terlihat mudahnya proyek yang berhadiah tas bertulis Respati dan juga sertifikat dari Wikilatih.
Dalam sebuah proyek respatih ini kita di wajibkan untuk menyelesaikan target menulis 20 tulisan baru, 1 tulisan ulasan atau komen tulisan ungulan, 3 foto yang diunggah ke Wikicommons, dan satu tulisan untuk menambahkan konten yang rumpang di artikel kelas C. berhubung saya orang baru maka saya kurang mengetahui istilah asing seperti “artikel kelas C” ataupun “tulisan unggulan”. Mungkin para pembaca bisa googling saja ya.
Jika para peserta yang sebelumnya mendaftarkan diri ini sukses menyelesaikan proyek, akan mendapat tas dan sertifikat. Khusus untuk 6 orang yang dapat menyelesaikan secara cepat berhak mendapatkan tumblr bertuliskan Wikipedia. Awalnya saya piker hal ini lumayan mudah, karena hanya menulis 20 tulisan berisi 1500 karakter (kurang lebihh 300 kata). Akan menjadi sangat keren ketika saya berangkat pergi ke kantor dengan tas ransel hitam bertulisakan Wikipedia.
Setelah mempertimbangkan hal itu saya tanpa pikir panjang mendaftar. Yang saya lupakan adalah konten dari 20 tulisan tersebut, untuk ensiklopedia selengkap Wikipedia, memikirkan 20 tulisan yang pantas untuk ditulis adalah hal yang tidak mudah. Bukan terlalu mudah, pun juga tidak begitu susah. Alhasil saya mencari semua yang ada di sekeliling saya untuk ditulis. Mungkin banyak hal tentang manokwari yang patut dan layak untuk ditulis.
Maka saya berinisiatif untuk menulis kalimat Manokwari di kolom pencarian di layar Wikipedia Sempat menemui beberapa hal yang bisa ditulis. Kurang lebih 6 hal dapat diulas tentang Manokwari. Mulai pasar, hingga pelabuhannya sukses saya ulas. Perlahan asal konsisten. Tapi lama kelamaan satu persatu judul sudah terbuat dan menjadi ulasan, dari sana saya baru sadar bahwa menulis di Wikipedia tidak semudah menulis di blog yang berskenario naratif. Bagi saya yang terbiasa menuangkan opini tentang sebuah tempat, sangat susah merangkai kata untuk menjadi sebuah tulisan deskriptif ala Wikipedia.
Ditengah gemelut tersebut saya menemukan tanggal yang tiba-tiba sudah mendekati tanggal 20. Semakin down lah mental yang saya temui, karena deadline proyek ini adalah akhir bulan desember. Berarti hanya kurang dari 15 hari saja saya harus menyelesaikan proyek Respati ini. Sehari harus gas dua artikel dengan karakter berjumlah 1500 tanpa basa-basi. Kebanyakan artikel saya untuk memenuhi target minimal adalah basa-basa memutar cerita kesana kemari. Namun tidak dengan Wikipedia, ya semoga saja tembus target.
Berproses memang tidak mudah, harus ada yang dikorbankan baik waktu dan konten blog. Tapi semoga saja prosesnya membuahkan hasil yang maksimal. Karena memang ada target sehari menulis sekali. Dengan konten yang ada di proyek Respati mungkin bisa sehari bergelut dengan dua konten sekaligus. Tapi memang butuh referensi yang tidak main-main. Sekali lagi karena Wikipedia merupakan referensi sejuta umat. Tidak hanya kaum terdidik tapi juga ada berbagai umat yang berusaha mencari pengetahuan di sana.

Sunday, 2 February 2020

Selain aku


Malam itu terasa sangat panas, tidak seperti biasa Luna malam ini berusaha menyalakan kipas angin dan kembali menonton televisi. "Terpaan suhu panas pada akhir-akhir ini, disebabkan karena pemanasan global". Papar seorang pakar ilmu lingkungan di dalam televisi tersebut. "Pantesan bulan januari yang harus hujan sehari-hari malah jadi kering seperti ini", celetuk luna sembari memencet remote kipas angin untuk mengubahnya menjadi kecepatan penuh.
Tiba-tiba terlintas di otaknya untuk membuat gerakan yang dapat menimbulkan efek gebrakan. Gerakan untuk mengantisipasi bumi yang semakin panas meradang. Di televisi yang masih tetap di hadapannya pakar tersebut berkata bahwa kekeringan tersebut merupakan efek dari banyaknya lahan yang gundul. Banyak tanaman yang mulai ditebang. Sederhanya manusia bernafas dengan oksigen tapi penghasil oksigennya kian hari kian sedikit. Pantas saja bumi semakin panas.
Sembari makan snack kemasan Luna menyimak penjelasan tersebut. Guna memikirkan gebrakan apa yang dapat ia lakukan untuk menghalau bumi yang semakin panas. Diraihlah telepon pintar yang berada di sampingnya. Dengan iseng ia mengetikkan ide untuk menanam pohon bersama lalu ajakan pendek tersebut dikirim ke Twitter dan Facebook miliknya. Setelah itu ia kembali mengalihkan perhatiannya ke acara televisi.
Diskusi tersebut semakin seru untuk diikuti karena menghadirkan kelompok yang kontra dengan gagasan menanam pohon. "Kok sangat pintar sekali orang ini ya? Bumi sudah panas kok ada gagasan bagus seperti ini malah kontra, rumahnya sudah ada AC-nya kali nih orang", geram Luna saat kelompok yang menentang gagasan tersebut mulai angkat bicara.
Namun rasa geram tersebut tidak berlangsung lama, ketika kelompok yang berasal dari luar jawa tersebut mulai menyampaikan pendapatnya. Ternyata kelompok tersebut adalah kelompok yang ingin memperjuangkan desanya untuk maju seperti di kota. Pak Ubaldus yang mewakili kelompok tersebut memang sangat memahami suhu perkotaan yang makin panas. Tapi di kota sudah ada listrik, mati sedikit sudah mendapat ganti rugi.
Sangat kontras dengan desanya, meskipun sehari sekali mati tetap tidak ada ganti rugi. Alhasil kelompoknya mengusulkan untuk perusahaan listrik mendirikan pembangkit baru. Tapi gagal. Karena kelompok peduli lingkungan yang dipimpin pakar yang dari tadi disimak oleh Luna. Pakar tersebut mengatakan bahwa jika mendirikan pembangkit listrik baru akan menebang banyak pohon. Perlahan Luna juga memahami kegelisahan yang mendera kelompok kontra.
Lantas ingatan Luna mundur saat beberapa bulan yang lalu mati lampu. Bukan hanya panas saja yang ia rasakan, tapi mati gaya juga kian melanda. Bagaimana tidak? Semua listrik yang sudah menjadi kebutuhannya mati. Kipas angin, televisi, hingga gawai juga menjadi dampak kematian listrik. Luna seperti kaum menengah perkotaan lainnya sangat bergantung dari listrik.
Seakan jengah dengan kegalauannya, Luna kembali mengalihkan fokus ke sosial media tempat ia memposting ajakan tadi.
Seakan sejalan dengan program televisi yang sedang ia lihat. Pro-kontra mewarnai kolom komen di Facebook maupun mention di Twitter. Ada satu komentar di facebook yang berhasil mencuri perhatiannya, "ajakan untuk go green adalah ajakan konyol yang disponsori oleh negara maju. Lihat saja negara maju yang mengajak untuk menghijaukan bumi adalah mayoritas memiliki hutan yang sangat sedikit. Sebaliknya negara yang memiliki hutan adalah negara berkembang. Itupun yang memiliki hutan luas hanya daerah-daerah yang kurang maju. Karena memang populasi manusia semakin sedikit maka semakin susah untuk maju daerah tersebut".
Hmmm bener juga ya, mungkin teori konspirasi seperti ini bisa saja salah tapi juga ada kemungkinan untuk benar. Sambil meracau sendiri tak terasa kedua jempol Luna mengetik, "memang tidak ada yang benar-benar benar, ada manusia yang mati-matian teriak penghijauan di tengah hutan beton, pun juga ada manusia yang hidup di hutan hijau tapi terdampak teriakan mereka yang ada di hutan beton. Yah salain aja aku."

Sunday, 26 January 2020

[Resensi Buku] Ubur-Ubur Lembur


Buku raditya dika
Buku Ubur-ubur Lembur
Ditengarai penasaran dengan gaya kepenulisan Raditya Dika, saya memutuskan untuk titip buku kepada salah satu teman yang sedang di jakarta dan akan kembali ke Manokwari dalam waktu dekat. Maklum karena di Manokwari saat ini masih belum ada toko buku dan juga seperti yang saya sebutkan di artikel sebelumnya jika beli online harga ongkir perkilo setara dengan harga satu buku. Jadilah saya menitip buku Radit yang berjudul Ubur-Ubur Lembur.
Ubur-ubur lembur ini adalah buku terbarunya. Mungkin saya termasuk orang yang terlambat untuk membaca tulisan Radit, setelah bukunya mewarna etalase toko dimanapun. Saya baru membelinya sekarang. Tapi tidak masalah, toh untuk melihat tulisan saat ini bisa dikatakan lebih mutakhir dari pada membaca bukunya yang saat ini sudah menjadi film.
Seperti dugaan saya, ternyata gaya menulisnya sangat nyaman untuk dibaca. Di dalam buku yang ditulis Radit saat sudah bisa makan dari uang adsense ini menceritakan lika-liku kehidupannya. Tidak jauh dengan para blogger, yang menceritakan kehidupannya sendiri dengan gaya tulisan yang tidak berat. Namun bukan buku harian, tapi beberapa scene kehidupannya yang dapat dikatakan lucu dan patut ditertawakan.
Saat membaca buku ini, seakan menyaksikan karya-karya Radit lainnya. Seperti Film, Stand Up Comedy, dan video di kanal youtube-nya. Mayoritas karyanya mesti terselip, "dulu gue pernah" dan dilanjutkan dengan pengalaman dia yang saya yakin pasti ditambahi. Karena memang hasilnya lucu. Dan anda akan mendapatkan cerita lucu 14 Bab darinya. Semuanya berasal dari kehidupannya atau melakukan wawancara dengan orang lain dan membandingkan dengan kehidupannya.
Jaminan tertawa terbahak-bahak jika membaca buku ini. Lumayan untuk merefresh otak. Khususnya bagi anda yang berdomisili di Jakarta akan sedikit nyambung dengan materi yang ada di buku ini. Terlebih yang seumuran dengan Radit. Karena yang diceritakan bukan hanya kisah saat Radit sudah menikah dan mempunyai anak, tapi juga saat ia masih sekolah.
Selain itu ada banyak hal yang menurut saya -yang beberapa kali menonton video di Youtube-nya ini- dapat menjawab teka-teki siap tokoh yang sempat namanya keluar dari mulut Radit. Seperti Kathu. Nama yang jelas India ini beberapa kali disebut Radit di Video Youtube. Seperti pada saat cerita horor di rumahnya, nama yang mirip dengan nama daun pelancar asi tersebut disebut juga. Karena saat itu ada kuntilanak teriak gak jelas dan si Kathu mendengarnya. Semoga saya dugaan saya kedua nama Kathu tersebut adalah Kathu yang sama.
Awalnya saya kira Kathu ini adalah teman Radit saat kuliah di luar negeri. Ternyata eh ternyata, ia adalah kawannya saat di Indonesia. Fakta-fakta menarik nan mengejutkan inilah yang akan perlahan terungkap bagi anda yang membaca buku ini. Mungkin lebih tepatnya buku ini adalah bagian dari autobiografinya Radit namun dikemas secara lucu. Sehingga selain bisa tertawa lepas membacanya kita juga dapat mempelajari jejak hidup seorang Raditya Dika.
Selain cerita lucu ada sebuah bab juga yang agak horor. Mungkin lebih tepatnya ini adalah tulisan behind the scene-nya salah satu filmnya. Ada beberapa hal yang terdengar sangat tidak mungkin menurutnya. Namun karena kejadian yang dialami oleh crew dan juga pemain filmnya, perlahan-lahan ia percaya hantu itu ada. Jadi saya dapat berkata buku ini sangat dianjurkan untuk anda yang penasaran dengan kehidupannya Radit. Tapi saya yakin mak Lambe Turah sama sekali tidak akan mendapatkan konten apapun jika hanya bermodalkan buku ini. Karena ini buku isinya tulisan, sedangkan konten Lambe Turah adalah Video.

Saturday, 25 January 2020

Penipuan Modus Baru


Kemarin pada hari jumat malam, ada seorang yang mengaku menjadi teman saya tiba-tiba telepon dan menanyakan saya di rumah atau tidak? Alhasil saya menjawab sedang di rumah, karena memang telponnya saat pukul 9 malam. Saya tidak biasa keluar rumah di atas pukul 9 malam. Namun kejanggalan terjadi, saat dia menanyakan nama beliau.
Mayoritas orang yang telpon lalu bertanya "saya siapa sih?" Sembari sok akrab adalah penipu. Karena pada waktu itu saya memang tidak ada pekerjaan dan penasaran modus apa yang ia pakai, jadilah saya ikuti saja permintaan dia. Di 5 menit pertama saya baru sadar, kenapa tidak direkam dan diunggah ke soundcloud? Alhasil saya merekamnya.
Mungkin takdir saat ini berpihak kepada saya. Karena ini merupakan modus baru, bukan modus menemukan dompet di pom bensin yang jamak kita ketahui akhir-akhir ini. Penasaran modus barunya seperti apa? Bisa langsung mendengarkan rekaman satu ini. Karena durasinya panjang, saya sarankan mendengarkannya saat malam hari saja. Menjelang istirahat.

 

Thursday, 23 January 2020

Aplikasi Perpustakaan Digital


Perpustakaan Elektronik
Aplikasi IPusnas (Sumber: Ivoox.id)

Perkembangan teknologi masa kini telah diimbangi dengan minat membaca secara elektronik yang mulai bergejolak. Alhasil ada sebuah inovasi teknologi yang memadu-padankan antara teknologi berbasis aplikasi dan buku elektronik, yang saat ini memang dikelola oleh perpusnas. Ah kok jadi tulisan formal ya, ngomongin buku kan seharusnya tidak terlalu formal. Lha wong akhir-akhir ini ada buku kumpulan quote yang hanya selembar berisi beberapa kata.
Intinya di tulisan kali ini saya mau sharing aplikasi buku elektronik bernama IPusnas. Seakan menjadi perpustakaan elektronik, di aplikasi yang dibuat oleh Perpustakaan Nasional ini pengunjung perpustakaan dapat meminjam beberapa buku yang sudah didigitalisasi. Ragamnya pun lumayan banyak, seperti perpustakaan kebanyakan. Mulai dari buku agama, buku bisnis, novel, hingga buku pengetahuan umum tersedia di sini untuk di pinjam.
Mekanisme peminjaman pun tergolong mudah, hanya melihat ketersediaan buku untuk di pinjam di kolom buku saja. Jika memmang buku yang anda inginkan tersedia, bisa melanjutkan proses peminjaman dan buku digital yang anda inginkan langsung bisa masuk di rak buku. Jadi buku yang anda pinjam memiliki jangka waktu pengembalian, nah misterinya ada di sini. Hingga saat ini saya mencari jangka waktu pengembalian buku sebelum dipinjam masih belum ketemu. Mungkin buat pembaca yang sudah meminjam lalu menemukan jangka waktu peminjamannya bisa ditulis caranyadi kolom komen.
Selain anda bisa meminjam dan membaca buku secara otomatis, di aplikasi ini juga anda bisa melakukan interaksi dengan peminjam lain. Setiap ada pengunjung yang meminjam pasti akan muncul di kolom yang berlambang perpusnas (yang saya sebut timeline). Nantinya update-an itu dapat kita like dan komen seperti layaknya di dalam social media. Selain itu juga kita bisa saling follow kepada peminjam lainnya.
Untuk memberikan kesempatan berinteraksi, aplikasi ini juga menawarkan untuk saling follow dengan epustaka. Epustaka ini adalah semacam akun yang mengeluarkan buku elektronik juga. Setiap anda bergabung dengan epustaka pasti akan menemukan komunitas baru. Selain itu anda akan mendapat informasi-informasi seperti buku yang baru diluncurkan oleh epustaka.
Namun sayangnya bagi saya sendiri kurang pas untuk membaca buku melalui online. Bukan karena masalah rasa yang masih belum terpuaskan, tapi karena saya masih belum nyaman membaca dengan cara online. Mata pasti terasa panas saat membaca dengan cara online, apalagi jangka waktunya pasti ditentukan oleh aplikasi. Metode membaca saya yang “alon-alon waton kelakon” pasti tidak dapat menyusul jangka waktu peminjaman.
Mungkin kedepannya bisa dibuatkan opsi untuk memperpanjang pinjaman buku, sehingga dapat diperpanjang masa peminjaman. Karena jika buku sudah kembali akan susah untuk dipinjam lagi, apalagi buku popular. Untuk meminjamnya saja butuh antrian peminjaman, khusus untuk buku yang popular lho ya. Tapi saya sangat jarang menggunakan antrian, karena selain rasa keinginan membaca saya yang tipis seperti tisu, saya juga malas untuk mengantri dalam membaca. Alhasil saya lebih memilih untuk membaca buku yang kurang popular.
Mayoritas buku yang kurang popular tersebut berasal dari pusat penelitian Tempo. Lumayan menarik dan membuka wawasan. Tapi unsur kenyamanan dalam melihat desainnya masih belum terpenuhi. Dapat dikatakan padat data tapi desainnya kurang menarik.  Tapi ya lumayan untuk saya yang haus literasi, namun di Manokwari jarang toko buku, sekaligus ongkir jika beli buku online bisa setara dengan harga bukunya. Bisa sedikit membantu, terimakasih perpusnas.

Monday, 20 January 2020

Kamar Mewah Serba Sepeda


Salah Satu Ornamen di Kamar

Baru kali ini saya saat traveling menginap di hotel dengan harga yang terbilang tidak murah. Pasalnya di beberapa traveling sebelumnya saya pasti memilih kamar paling murah. Seperti saat ke Malaysia selama 10 hari, saya memilih menginap di hostel yang memiliki kamar dormitory. Semacam kamar asrama yang kita hanya dianggap menyewa kasur saja. Jadi kita berbagi kamar dengan orang lain.
Lain halnya dengan solo traveling kali ini, niat hati memang ke Lombok namun apa daya hari sudah malam dan perencanaan perjalanan saya juga lumayan kacau. Jadi saat masuk Denpasar saya langsung menuju Kuta dan mencari hotel di sana. Ini kali pertama pula saya sampai di sebuah kota tanpa mencari penginapan dahulu secara online. Biasanya saya mencari hotel dahulu sebelum sampai di sebuah kota. Hanya untuk mencari jujukan (tujuan).
Bahkan ini pertama kalinya saya memesan hotel secara offline. Menjadi sensasi tersendiri saat badan lesu, lemas dan pusing karena masuk angin dan menempuh perjalanan yang tidak wajar (sehari 400 km). Mungkin sebagai pengalaman pahit dan tidak akan saya ulang lagi. Apalagi saat itu menemukan hotel yang sudah penuh, di saat tubuh lemas harus melangkahkan kaki untuk mencari tempat singgah sungguh tidaklah mudah.
Singkat kata saya menemukan hotel bernama Rhadana. Bukan hotel megah nan mewah tapi terbilang cukup vintage dengan bangunan kayunya. Saat bertanya kamar yang kosong sang resepsionis menjawab hanya ada kelas mini studio saja yang tersedia. Karena saat itu uang perjalanan saya lumayan banyak, saya tanpa ragu langsung menanyakan berapa harga permalam. Ternyata lumayan fantastis, sembilan ratus ribu.
Bagi saya yang terbiasa traveling dengan paket hemat, harga hampir menyentuh angka satu juta tersebut dapat dikatakan fantastis. Biasanya kamar yang saya sewa harganya tidak sampai di atas lima ratus ribu rupiah. Di dalam atau di luar negeri saya memiliki patokan jika harga di atas pagu tersebut lebih baik mencari yang agak jauh dari destinasi.
Setelah saya membayar secara tunai, memarkir motor, dan mendapat kunci yang berupa kartu saya pun masuk ke kamar yang katanya harganya paling mahal di hotel tersebut. Dan benar saja, di dalam kamar yang bertema sepeda ini seakan dibuat untuk orang-orang kaya. Di dalam kamar tersebut ada sofa berjajar untuk tamu, meja kerja, dan juga ada balkon yang cukup luas. Semua sudut kamar dihiasi oleh pernak-pernik yang tidak jauh dari sepeda. Ada tembok yang dihiasi dengan wallpaper bergambar sepeda, ada sepeda angin juga yang ditempel di tembok, dan ada jersey sepeda juga yang dibingkai, ternyata milik rektor Universitas Indonesia.
Hari pertama yang membuat ilfeel saat pertama masuk kamar adalah kamar mandi yang airnya tidak panas dan adanya ornamen batik Universitas Indonesia yang ada di kasur. Padahal saya mencari hotel (bukan dormitory) hanya karena agar dapat mandi air hangat saat tengah malam. Karena mustahil bisa mandi dan tidur nyenyak jika mandi air dingin. Selain itu motif batik Universitas Indonesia juga cukup mengganggu. Karena saya bukan alumninya dan juga sama sekali tidak bangga dengan tidur di kamar yang ada motif batik almamater tersebut.
Motif Batik UI di Kasur

Hari kedua pagi karena kondisi saya masih belum sehat betul, saya memilih menambah waktu menginap selama semalam lagi. Saat sarapan pun saya memilih mengambil makanan sarapan dan membawanya ke kamar. Saat room service ke kamar saya meminta untuk mengambil motif batik Universitas Indonesia yang ada di kasur. Terkesan kampungan memang tapi saya memang cukup terganggu.
Baru di hari kedua saya mulai melakukan eksplorasi kamar. Hasilnya, ini memang kamar paling mewah yang pernah saya inapi. Sepeda angin yang di awal tulisan ini saya sebut, merupakan sepeda milik direktur utama Waskita. Mungkin sama sekali tidak menambah kenyamanan hotel, tapi cukup untuk menambah kebanggaan. Di depan kamar ini juga ada sofa, mungkin untuk tamu sang penginap kamar hotel, jika yang menginap adalah orang penting.
Mungkin ini adalah hal paling mewah yang pernah saya alami. Memang karena kekeliruan dalam merencanakan suatu perjalanan, sehingga saya harus mengeluarkan uang satu juta delapan ratus untuk menginap dua malam. Itu pun baru check-in tengah malam dan separuh dari waktu menginap hanya saya gunakan untuk tidur karena meriang. Tapi kesalahan ini patut disyukuri. Tanpa kerancuan dalam merencanakan perjalanan, saya tidak mungkin bisa menginap di kamar mewah seperti ini. Terimakasih kesalahan.

Saturday, 18 January 2020

Gandeng Tangan yang Tidak Erat


P2p gandeng tangan
Hati-hati dengan Gandeng tangan
Berkali-kali saya menuliskan salah satu merk P2P yang bernama Gandeng Tangan, untuk merekomendasikan beberapa orang dalam menempatkan dana. Karena kemarin sebelum saya mengalami kendala ini, saya merasa nyaman berinvestasi di Gandeng Tangan. Selain bermisi sosial, di PT. Kreasi Anak Indonesia ini juga menjanjikan timbal balik yang lumayan tinggi.
Namun semua itu seakan musnah dan hancur berantakan ketika negara api menyerang. Tepatnya ketika tanggal 30 November 2019. Saat itu ada cicilan yang harusnya dibayarkan pada 21 oktober 2019 melewati jangka waktu yang dijanjikan. Hampir dua minggu uang tersebut masih belum masuk akun dashboard yang biasa disebut dengan Dompet di Gandeng Tangan. Saat ditagih pun masih mundur-mundur tanpa ada kejelasan waktu.
Padahal pada waktu penempatan dana ada asuransi yang dapat diklaim. Namun tetap saja seakan mengabaikan ketepatan waktu dalam membayar, asuransi itu pun juga musnah tanpa ada manfaat asuransi yang dijanjikan. Memang asuransi tersebut dikatakan gratis oleh mereka. Mungkin sangat menggiurkan bagi saya yang terlanjur percaya dengan Gandeng Tangan.
Akhir cerita, cicilan tersebut kembali juga pada tanggal 2 Desember 2019. Kronologi kejadian belum berakhir di sini. Karena saya masih memiliki beberapa uang di Gandeng Tangan yang jatuh temponya pada 18 Desember 2019. Tapi sudah terasa agak ringan dan tidak was-was. Karena lebih dari separuh uang saya sudah cair di tanggal 2 Desember 2019.
Pada tanggal 3 januari 2020 kemarin saya baru menanyakan kembali uang yang seharusnya cair di tanggal 18 Desember 2019. Karena cuti bersama dan baru masuk tanggal 6 maka saya baru dilayani via chat WhatsApp tanggal 6 Januari 2020. Sesuai prediksi ini pasti molor, lebih mirip seperti memberikan utang ke teman atau kerabat. Janji esok tapi entah sampai kapan akan terbayarkan.
Alhasil sang customer service tanpa casciscus langsung memberikan janji pada tanggal 25 Januari 2020. Entah alasan apa yang mendasarinya, tapi setelah customer service berdiskusi dengan sekelompok orang yang ia sebut tim, tiba-tiba muncul tanggal tersebut. Ketika ditanya alasannya kenapa.
Lantas saya memiliki inisiatif untuk melaporkan hal ini kepada OJK. Karena PT. Kreasi Anak Indonesia merupakan lembaga yang terdaftar dan diawasi OJK. Setelah satu hari berselang saya hanya mendapatkan saran dari OJK untuk menyelesaikan dengan pihak gandeng tangan. Padahal pada waktu itu saya sudah menceritakan kronologi beserta bukti rekam layar percakapan dengan customer service Gandeng Tangan. Alih-alih memberikan solusi, pihak berwenang pun menilai kerugian saya tidak begitu besar sehingga tidak pantas untuk dimediasi.
Dari kejadian ini dapat diambil kesimpulan dan pelajaran bagi pembaca sebagai berikut:
  • Evaluasi kepercayaan anda pada instrumen investasi ataupun pada lembaga investasi, bisa jadi seperti gandeng tangan yang kian menua kian error dalam pelayanan investasi.
  • Diversifikasi investasi adalah hal mutlak yang tidak bisa dinego lagi.
  • Lambang OJK tidak akan membantu apapun jika uang anda tidak kembali atau kembalinya sangat terlambat.
  • Jangan investasi di Gandeng Tangan.
Mungkin hanya 4 poin tersebut yang dapat saya sampaikan. Sebagai investor kecil saya mencukupkan kepercayaan saya pada P2P ini. Bukan karena keterlambatan pembayaran, memang karena misi sosial jadi keterlambatan pembayaran adalah hal lumrah. Tapi yang tidak lumrah adalah kurang profesionalnya dalam mengatur peminjaman dan juga mengembalikan uang. Sekian keluh kesah saya, semoga dapat menjadi disclaimer bagi siapapun yang hendak mempercayai tulisan saya terkait saran untuk investasi.