Coro merupakan bahasa jawa dari kecoak, omong coro bermakna omongan ngelantur tapi dapat dinyatakan jujur. Maka ketenangan serupa apa lagi yang dicari di dunia yang fana ini selain kejujuran. Tulisan berikut merupakan contoh dari omong coro.

Pencarian

Translate

About Me

My photo
Hi, saya pungkas nurrohman yang mencoba dewasa dengan jalan-jalan

Thursday, 21 March 2019

Daun Gatal Antara Dijauhi dan Dicari


Lateng
Daun Gatal Kecil

Sebetulnya fenomena daun gatal ini bukan terbilang baru di kehidupan saya. Jauh sebelum masuk Papua saya sempat beberapa kali bersinggungan dengan daun gatal. Terutama saat saya SD, di belakang rumah masih banyak kebun, masih banyak daun lateng sebagai bahasa jawa dari daun gatal.
Di jawa lateng sangat dihindari untuk disentuh, karena memang sangat ampuh dalam mengiritasi kulit. Hingga bentol-bentol seperti terkena alergi. Bila tidak kuat bisa-bisa kulit akan tersayat kukunya sendiri. Sangking gatalnya rasanya mustahil bisa selesai gatalnya tanpa ada guratan lecet setelah digaruk beberapa kali.
Saat hobi masuk hutan, rekan-rekan Ikatan Mahasiswa Pencinta Alam Univ. Brawijaya (IMPALA UB) menyebut daun ini sebagai daun jancukan. Karena daun ini sudah berhasil membuat kalimat jancuk keluar. Makanya lebih akrab dengan daun jancukan. Rasa panas dan gatal tentunya yang berhasil membuat para pecinta alam tersebut misuh-misuh.
Lain halnya dengan Papua, saat saya ke Sorong ada beberapa orang yang menjualnya. Ukurannya pun selebar telapak tangan dengan panjang sekitar 30 Cm. Saya pernah melihat informasi bahwa daun gatal ini untuk mengurangi rasa pegal. Lebih mirip seperti koyo, tapi entah mengapa hal itu bisa terjadi. Mereka bisa sangat nyaman dengan rasa gatal nan panas yang mengganggu itu.
Kemarin saya melihat kawan kos saya bernama Nelson menggosok tubuhnya dengan daun gatal. Mendadak saya ikut merinding. Tak terbayang bagaimana gatalnya di kulit. Nelson menggosok ditangan, punggung, hingga perutnya saja. Karena yang terasa pegal hanya di bagian itu saja.
Masih kata Nelson, daun gatal bisa digosokkan saat sebelum dan sesudah beraktifitas. Seperti saat sepak bola, sebelum sepak bola agar kaki terasa ringan, kaki digosok dengan daun gatal dulu. Setelah terasa gatal baru main sepak bola. Begitu juga saat setelah main bola, bisa digosokkan di kaki, hingga ada reaksi di kulit kaki.
Setelah saya googling ternyata yang dikatakan Nelson benar, daun gatal ini secara medis pun juga diyakini dapat menghilangkan pegal. Karena pegal merupakan darah yang tidak lancar, dan daun gatal ini memiliki kelenjar yang mengeluarkan racun. Racun inilah yang memiliki efek dapat membuka pori-pori kulit dan melancarkan darah.
Memang kearifan lokal meskipun belum diteliti pasti sudah barang tentu memiliki manfaatnya. Di Jawa tumbuhan ini dijauhi, di Papua malah dicari-cari, bahkan memiliki nilai ekonomi tersendiri. Betapa luasnya tradisi negeri ini. Sebaiknya kita juga tak usah kecil hati, di Jawa ditolak bisa ke Papua. Halah modus.

Friday, 8 March 2019

Papua Mulai Membara


Dear diary,
Sudah sebulan di Papua saya menemukan kenyamanan. Meskipun sudah tidak bekerja di tempat AC dan tetap tidak mendapat kepastian kapan SK CPNS akan turun, saya tetap menemukan kenyamanan. Menjadi dilematis sekali saat beberapa hal yang terjadi selama satu minggu ini terkesan seram.
Setelah saya keluar dari Bang Amek yang ada di Arfai, saya kembali ke rumah Mas Tomo. Hari saat saya keluar tepatnya tgl 20 februari. Sengaja tidak meneruskan bekerja karena prediksi songong saya mengatakan 1 Maret saya sudah mulai berdinas. Lumayan ada waktu beberapa hari untuk menjelajahi indahnya Papua, terkhusus Manokwari.
Namun prediksi saya melenceng jauh entah kemana, hingga detik saya mengetik huruf yang terangkai menjadi kata ini masih belum ada kabar kapan saya harus bekerja. Otak saya pasti sudah mengutuk negara, seakan profesionalitas mereka menjadi impian kepala negara saat kampanye.
Otomatis saya menjadi pengangguran yang harus menimpa beban dari lingkungan, beban karena tak berguna bagi lingkungan, beban karena tak berpenghasilan, bahkan beban karena waktu terbuang sia-sia tanpa ada sisa.
Waktu berlalu berbagai kejadian terjadi, bagi seorang pendatang jawa seperti saya kejadian seperti ini cukup membuat syok. Tapi tetap membuat nyaman, karena tak memiliki efek khusus bagi saya. Setidaknya ada tiga kejadian yang melibatkan nyawa dan dendam yang seakan tak berkesudahan.

Pemerkosaan anak SD di daerah sanggeng oleh tukang ojek

Bisa dibilang tukang ojek ini goblok, tak beradab, dan silahkan Lanjutkan sumpah serapah lainnya. Setidaknya ada tiga risiko yang wajib dia tanggung. Pertama karena dia bertindak kriminal, pemerkosaan. Kedua karena korbannya adalah bocah SD. Ketiga karena korban adalah anak Sanggeng.
Perkampungan Sanggeng area pasar merupakan perkampungan Texas yang ada di Manokwari. Bisa dikatakan isinya orang seram semua. Kesan ini semakin kuat saat kejadian pemerkosaan ini terjadi. Sepanjang jalan poros di depan pasar di palang oleh warga. Bahkan pos polisi di depan pasar ikut kena palang. Entah untuk berduka atau sebuah tuntutan agar pihak berwenang mengusut lebih cepat, tentunya sebelum mereka yang bergerak sendiri untuk mencari korban. Terbukti satu hari setelah pemalangan tersebut, pemerkosa langsung dibekuk oleh polisi.

Kecelakaan yang menewaskan balita asli papua

Kejadian kedua, di dekat rumah Mas Tomo. Di Amban Marina. Ada kecelakaan yang membunuh satu balita asli Papua. Memang ini level keseramannya paling rendah. Karena hanya korban tabrak lari saja, tapi seluruh isi perut korban terburai keluar. Dan lagi-lagi harus di palang. Menurut beberapa teman memang tradisi di Manokwari seperti itu. Ketika ada darah yang mengalir pasti ada pemalangan jalan. Dan di sepanjang jalan aspal di berikan lilin, entah untuk apa.

Penembakan orang asli papua

Kejadian kejadian ketiga, ada penembakan orang asli Papua. Sebenarnya masih simpang siur, kenapa orang ini harus ditembak tepat di pelipis kepala. Yang jelas kejadian ini cukup membuat saya shock. Terlebih lagi kejadiannya ada di dekat rumah mas Tomo. Tepatnya di daerah Reremi saat hari minggu. Cukup seram bagi saya yang haus bermalam mingguan meskipun saat ini tak memiliki pasangan.
Dan yang paling mengkhawatirkan adalah sanak keluarga mereka membalas dendam. Bahkan sampai tiga hari ojek yang berasal dari pendatang tidak berani lewat sana. Takut tiba-tiba mereka salah sangka dan membalaskan dendamnya secara brutal.
Namun meskipun ada ketiga kejadian tersebut, saya masih nyaman di Papua. Keseraman tersebut masih bisa digantikan oleh rasa cinta saya pada negeri ini. Bukankah perjuangan butuh sebuah pengorbanan? Iya saya hanya berkorban menunggu SK keluar dan menutup semua keseraman ini. Menunggu adalah sebuah perjuangan, berjuang untuk tetap menghemat semua sumber daya yang ada.

Sunday, 3 March 2019

Syornabo, Pantai Berpasir Tepung


Melihat indahnya dunia tanpa kunjungan ke tempat wisata rasanya hanya dusta. Karena indah tanpa langsung dengan netra sama dengan memandang dari sosial media.

Begitulah mungkin yang saya pikirkan sebelum berwisata. Kenikmatan untuk berwisata hanya ketika panca indra hadir untuk berwisata. Bukan hanya menghasilkan foto yang dapat dipamerkan ke daftar teman di sosial media, lebih jauh lagi bahkan, kita akan melihat betapa indahnya alam yang dimiliki ibu pertiwi.

Papan nama syornabo
Satu-satunya papan nama pantai
Kali ini saya mengulang kembali perjalanan ke pulau Mansinam, tapi ini edisi holiday bukan edisi perayaan seperti yang saya tulis sebelumnya. Bedanya sebetulnya fokus dari wisatanya saja, bila saat perayaan saya pasti ingin merasakan betapa happening nya warga yang merayakan tradisi. Namun lain lagi bila saat liburan, lebih berfokus ke wisata alam yang disajikan pulau kecil di Manokwari ini.
Mansinam sebetulnya banyak menyimpan destinasi yang sangat indah, tentu saja destinasi alamnya ya pantai. Bisa dikatakan pantainya lain daripada yang lain, karena laut sekeliling Mansinam masih cukup terjaga. Meskipun masih banyak sampah yang tak terkelola, masih tidak terlalu buruk, dengan air lautnya yang berwarna hijau toska. Sangat menggoda bukan untuk sekedar mandi air saja.
Saat itu saya hanya mengunjungi satu pantai saja, yaitu Pantai Syornabo. Pantai ini seakan mewajibkan pendatang untuk berjalan kaki sejauh 2 kilometer dari dermaga tempat turun dari perahu bercadik. Mungkin bisa diakali dengan menyewa perahu sampai pantai. Tentunya harus membayar lebih mahal dan juga berkunjung secara ramai-ramai. Mungkin satu perahu dapat diisi 15 orang. Meskipun berjalan kaki sepertinya lebih aman berjalan dengan beberapa orang, karena masuk di hutan yang lumayan sepi.
Spot mangrove mansinam
Salah satu sudut jalan menuju syornabo
Jalurnya termasuk landai, tanpa harus melalui jalan yang becek dan menanjak. Karena akses jalannya sudah dicor. Jadi tak perlu khawatir dengan akses jalan, yang patut dikhawatirkan hanya hewan liar. Patut diketahui pula akses yang dilalui ini adalah hutan mangrove. Yang agak becek bila dilihat ke arah pantai terlihat ekosistem khas gambut dengan pohon berakar gantung.
Sekitar satu jam perjalanan, anda akan melihat hijaunya air laut pantai Syornabo. Mungkin sangat sulit untuk mencari papan namanya. Salah satu cirinya ada tiga gazebo berbentuk persegi dan dua gazebo berbentuk memanjang. Sangat cocok rasanya untuk berpiknik keluarga, hanya menyiapkan bekal untuk berpiknik saja dan sudah ada fasilitas gazebo untuk sekedar berteduh.

Perahu bercadik mansinam
Piknik keluarga

Karakteristik pantainya pun sangat bersahabat, menurut saya sangat bersahabat malah. Pasirnya sangat lembut, seperti tepung. Baru kali ini saya tahu pasir laut selembut ini. Dan warna pasirnya pun putih khas karang laut. Beberapa di area pantai masih ada karang-karang kecil. Namun mayoritas pesisir pantai didominasi dengan pasir pantai yang halus.
Ombak dan pasir syornabo
Karakteristik Pantai Syornabo

Model ombaknya juga tak terlalu besar sangat cocok untuk berenang, namun entah ada apa, saat saya berenang tiba-tiba kulit terasa gatal. Mungkin terkena sengat ubur-ubur atau agas. Buat yang tidak tau agas, adalah hewan kecil yang menyerupai nyamuk. Bila menggigit kulit akan terasa panas. Mungkin hal ini yang harus diantisipasi bagi anda yang berwisata bersama anak-anak. Selebihnya menurut saya lebih aman daripada pantai lain.
Bila berminat siapkan bekal perjalanan anda. Meskipun tak terlalu ekstrim medannya, bagi yang jarang jalan pasti akan merasa terlalu letih untuk menempuh perjalanan dua kilometer. Apalagi bila sudah berenang lalu harus menempuh perjalanan pulang, haduh akan sangat ngantuk dan melelahkan.

Thursday, 21 February 2019

Review Hotel Tempat Menginap di Malaysia




Oke hari ini saya akan melakukan review tentang ke tiga penginapan yang pernah saya buat menginap selama di Malaysia. Jadi selama di Malaysia saya menginap di hostel, hotel dan juga guest house dari keempat penginapan tersebut memiliki keunikan tersendiri berikut adalah review dari beberapa penginapan tersebut:

1.       Royal Palm Lodge Hostel

Royal palm hostel
Royal Palm Lodge hostel adalah hostel pertama yang menjadi tempat saya menginap. Karna ini adalah kali pertama saya tidur di hostel maka sangat excited banget dapat kamar yang berisi 8 orang dan didalamnya bule semua. Di hostel yang terletak di bukit bintang ini sangat murah meriah, permalamnya sang pemilik hostel mematok harga RM 25 dengan uang jaminan RM 25 juga. Entah saya yang katrok atau hostel ini memiliki keunikan tersendiri, hostel ini terletak di belakang toko yang menjual minyak wangi. Jadi hostel ini sama sekali tidak terlihat megah dari luar. Namun fasilitas untuk tidur cukup nyaman bagi saya yang pertama kali tidur hostel. Di tambah lagi sekamar isi 8 orang dan pas saya tidur disana kebetulan sekamar pada cas cis cus inggris semua. Jadi kayak tidur di asramanya kampung inggris. hehehe

2.       Fernloft Melacca The Heritage

Nah ini nih hostel yang menurut saya paling sepi, serem tapi unik. Jadi hostel ini memiliki 3 kamar, yang satu kamar untuk private dengan 2 bed yang ke dua kamar untuk dormitory yang memiliki kapasitas 18 penghuni. Kebetulan karna saya bawa uang pas-pasan saya pun memilih kamar dorm. Harganya sangat murah permalam hanya dipatok tarif RM 18. Keunikan dari Fernloft Melacca ini dia punya motto the heritage, jadi hostel ini mempunyai setting tempat yang kolot banget. Mulai dari bentuk bangunan dari luar sampai lobi hostelnya. Sedikit sharing saya di hostel ini menempati kamar dorm sendirian. Bahkan menurut penjaga, malam itu hanya saya yang menjadi pengunjung hostel. It’s mean saya tidur se hostel sendirian. Hostel yang mirip musium tersebut kalo menurut saya ada kesan angker. Soalnya saya pas malem-malem sempat ngeliat hantu. Tapi syukurlah pas tengah malem saya baru pulang dari nongkrong untuk melupakan hantu tersebut mas-mas penjaga hostel ternyata tidur di kamar tersebut juga. Alasan saya memilih hostel ini adalah karna hostel ini lebih dekat dengan akses wisata. Tepatnya hostel ini terletak di jonker, deketnya tulisan #I@jonkerwalk.

3.       Lepak Guest House

Guest house salak tinggi
Kalo guest house yang satu ini sudah saya pesan jauh-jauh hari sebelum tiket pesawat saya pesan. Karna tujuan awal saya ke malaysia untuk melihat moto gp, maka saya berinisiatif untuk mencari guest house murah yang tak jauh dari sirkuit. Setelah otak atik web booking hotel maka ketemulah ini guest house. Nih guest house unik banget, guest house yang terletak di daerah salak tinggi ini gak di jagain sama yang punya. Jadi pas saya nyampek guest house saya di suruh ngambil kunci kamar di kotak pos yang udah ada nama saya. Setelah saya masuk saya cari dimana kamar saya berada dengan mencocokkan nama jatah kunci dengan nama kamar. Guest house ini cukup lengkap dengan microwave dan pemanas air serta alat makan dan juga gak ketinggalan minuman sachet. Kayaknya gak rugi lah bayar RM45 untuk menginap semalaman di guest house ini.

Tuesday, 19 February 2019

Empat Transportasi Unik di Manokwari


Bagi saya yang terbiasa bahkan mulai kecil di jawa pasti merasa aneh bila ke Manokwari. Di kota kecil ini saya menemukan keanehan di bidang moda transportasi. Sebetulnya bukan hanya kali ini saja saya menemukan keanehan transportasi umum.

Saat di Makassar saya juga terperangah dengan beberapa Honda Jazz yang berplat kuning dan digunakan untuk transportasi umum. Seperti yang saya sebutkan dalam artikel hal unik saat sholat jumat, ada pula sopir Makassar yang berhenti hanya untuk sekedar sholat jumat saja.
Namun di artikel kali ini saya hanya menyebutkan beberapa jenis transportasi umum yang ada di Manokwari dan menurut saya unik.

Ojek

Menurut sebagian orang ojek merupakan hal lumrah, tapi ada perbedaan untuk ojek Manokwari. Ojek Manokwari memakai helm kuning dan belakangnya ada plat nomornya. Sangat berbeda sekali dengan ojek online yang biasanya berhelm hijau.

Mas ojek helm kuning

Di belakangnya ada empat digit nomor, entah ini nomor registrasi atau nomor apa. Yang jelas nomor di tiap helm mas-mas ojek pasti berbeda. Mereka meminta nomor ini dengan mendaftar terlebih dahulu ke dinas perhubungan dan membayar sejumlah uang untuk retribusi.
Biasanya mas ojek menawarkan jasa dengan memainkan klakson dan melihat ke arah calon penumpang. Saya rasa ojek merupakan transportasi paling banyak di Manokwari, jadi pembaca yang kebetulan traveling di Manokwari bisa menawar harga, bila tidak cocok tinggal tunggu ojek yang lewat selanjutnya.

Double Cabin

Mobil doble cabin sekaligus double gardan juga digunakan untuk transportasi umum. Tapi biasanya mobil ini digunakan untuk transportasi ke desa yang aksesnya dapat dikatakan susah. Mungkin sistem charter digunakan dalam menggunakan transportasi ini.

Double cabin plat kuning

Biasanya mobil digunakan untuk satu keluarga yang ingin ke kota, entah untuk menjual hasil kebun atau untuk sekedar berlibur. Biasa saya lihat di bak belakang mobil ini ada beberapa hasil bumi atau kendaraan seperti motor.
Mungkin jarak yang ditempuh mobil ini sangat jauh dan rusak. Terbukti biasanya penampilan mobil dapat dikatakan sangat kacau, dengan lumpur di hampir sekujur body mobil. Mobil-mobil kotor ini biasanya masuk kota saat hari sabtu dan minggu.
Namun tidak semua kendaraan double cabin untuk transportasi umum. Ada beberapa milik pribadi bahkan mobil pemerintah. Cara membedakannya cukup melihat plat mobil saja, bila plat kendaraan berwarna kuning itu merupakan kendaraan charteran.

Angkot

Angkot Kota Manokwari tergolong menjadi dua bentuk. Pertama berbentuk mobil pick up yang dimodifikasi menjadi kendaraan semi tertutup. Angkot model ini biasanya memiliki trayek yang agak ke desa namun tidak sampai dengan akses jalan se-ekstrim double cabin.

Pick up modifikasi manokwari

Di atas kotakan modifikasi biasanya ada bak untuk membawa barang. Fungsi lain bila di dalam kotakan bawah overload, ada beberapa penumpang yang naik ke atas.
Bentuk kedua seperti lumrahnya angkot di Jawa, namun biasanya angkot di Jawa mengalami modifikasi di pintunya, lain halnya dengan angkot Toyota Carry ini. Sekali lagi hanya plat nomor saja yang membedakan kendaraan umum atau milik pribadi.

Taxi Bandara

Sebelum membicarakan taxi bandara saya mau memberi attention bahwa taxi bandara rendani tidak terorganisir. Sangat berbeda dengan taxi bandara lain yang biasanya dimiliki satu perusahaan, dan penumpang cukup menghubungi customer service saja.

Taxi bandara manokwari

Bila di Manokwari, taxi dimiliki oleh per orangan. Sehingga mustahil untuk menelpon satu nomor lalu dipilihkan taxi terdekat layaknya di Jawa. Bentuknya taxi di Manokwari seperti mobil keluarga. Bukan sedan, tapi station wagon. Jadi bisa untuk tujuh orang. Bila membawa koper pun tak perlu khawatir, ada bagasi layaknya mobil Toyota Avanza lainnya.
Wajib untuk nego harga sebelum naik, karena bila tidak nego harga anda akan terkena tarif yang tidak masuk diakal.

Friday, 15 February 2019

Podcast Horor #3 cerita kontrakan tampomas




Lanjut modkes lagi, kali ini saya menceritakan hal horror yang saya alami di kantor web sebelah, yaitu di Jl. Tampomas. Agak kacau editan podcast kali ini. Karena banyak suara yang frekuensinya over, bisa diakali dengan mengecilkan volume. Tapi lumayan puas sih, untuk efek-efek yang ada, seakan keramat yang di-online-kan.

Wednesday, 13 February 2019

Hitam Putih Kehidupan di Papua


“Hidup di Papua itu keras, apalagi kalau sama masyarakat (orang asli papua)”, kalimat ini adalah kalimat wejangan pertama yang saya dapat dari Mas Tomo. Meskipun sebelumnya saya dijemput dan diantar oleh Yames (kawan saya asli Papua), saya tetap memanggutkan kepala saja tanda mengerti.

Papua Tempat Tinggal Baru

Kali ini kedatangan saya ke Manokwari tidak secepat di Sorong yang hanya numpang tidur di pesawat saja. Saya datang ke Manokwari untuk menjadi tempat tinggal baru saya. Setelah beberapa tahun di Jawa, beberapa bulan di Makassar dan hampir 2 tahun di Balikpapan.
Seakan menjadi nomaden traveler saya tetap memiliki niat hanya berjalan-jalan, namun berkonsep nomadic. Seperti pada diary sebelumnya, saya hanya mengikuti kehendak orang tua.
Ya, bila orang normal pasti memaknai ke Manokwari untuk menjadi PNS. Tapi karena saya mungkin kurang normal maka dua alasan tersebut saya kedepankan, bukan hanya di artikel ini namun di dunia nyata pun juga seperti itu.
Awal kedatangan saya memenuhi pemberkasan PNS ke Universitas Papua, kabar burungnya panggilan PNS ini akan saya terima pada bulan maret. Dan untuk menghemat modal saya menginap di rumah tetangga saya yang juga mengadu nasib di sini, namanya mas Tomo yang saya ceritakan di awal.

Bekerja Sembari Menunggu

Hanya seminggu saya tinggal di rumah mas Tomo, lalu saya direkomendasikan untuk ikut rekannya sebagai assisten service AC. Hingga tulisan ini dibuat saya masih ikut kawan mas Tomo bernama bang Amek. Seorang Aceh yang sudah mulai 2005 pindah ke Manokwari.
Banyak hal unik terjadi saat saya bekerja sambil menunggu SK CPNS turun ini. Salah satu hal unik adalah kerasnya kota Manokwari seakan saya rasakan langsung. Jadi saya bekerjanya di jalan, ketika bos ada panggilan kerja saya dan bos berangkat ke rumah pelanggan. Entah itu cuci AC, pindah AC ataupun service AC. Semua tools wajib dibawa, lengkap mulai pompa air untuk cuci AC sampai tangga.
Apalagi jarak rumah bos ke kota sekitar 12 kilometer. Jarak ini ditempuh dua kali pulang-pergi, karena anak bos sekolah di kota dan harus mengantar dan menjemput. Kembali lagi ke kerjaan saya, jadi pekerjaan saya selalu bersinggungan dengan masyarakat atau pun pendatang. Sangat cocok sebenarnya untuk adaptasi sebelum saya bekerja.

Hampir Kecopetan Di Papua

Ada sebuah kasus yang membuat saya shock. Ketika saya hampir saja kehilangan telepon genggam. Ceritanya saya sedang menunggu bos masuk ATM. Sebetulnya sama Mas Tomo sudah mengingatkan untuk tidak bermain HP dipinggir jalan. Saya tetap memainkan HP sembari menunggu di pinggir jalan.
Tiba-tiba dari belakang langsung ada remaja usia belasan yang mencoba mengambil HP yang saya genggam. Namun syukurnya gagal, dan pencopet tersebut tersenyum dengan bibir yang merah tanda telah mengunyah pinang lalu memukul dengan keras bahu saya. Saya pun lari menuju ATM, dan mereka pun kabur.
Mungkin dari hal ini dapat diambil pelajaran, bukan tentang urusan yang harus diperpanjang, namun ada nyawa yang harus diselamatkan. Karena ada dendam dari mereka yang merasa pribumi. Jadi ada cerita bahwa meskipun kita benar dan mereka salah, tetap kita sebagai pendatang akan salah.
Mungkin ungkapan ini harus diuji lebih mendalam lagi, apakah mereka sebagai pribumi merasa seperti masyarakat indonesia saat penjajahan belanda dan menganggap pendatang seperti penjajah. Memang setelah beberapa minggu di sini ada kasta seperti itu, mungkin ini dapat dilihat dan diteliti lebih mendalam saat sudah menatap lebih lama lagi di sini. Semoga saja dapat melihat dalam sudut pandang yang netral.