Coro merupakan bahasa jawa dari kecoak, omong coro bermakna omongan ngelantur tapi dapat dinyatakan jujur. Maka ketenangan serupa apa lagi yang dicari di dunia yang fana ini selain kejujuran. Tulisan berikut merupakan contoh dari omong coro.

Search This Blog

Translate

About Me

My photo
Hi, saya pungkas nurrohman yang mencoba dewasa dengan jalan-jalan

Sunday, 13 June 2021

Simalakama BTS meal


Simalakama BTS meal (sumber: CNBC Indonesia) 

Kemarin hari rabu rame beredar foto produk mcD yang berkolaborasi dengan BTS. Mulai dari foto selfie dengan produk burger sampai video review dadakan oleh mereka yang membeli karena takut ketinggalan. Istilah inggrisnya fear of missing out. Karena takut ketinggalan terjadi ledakan pembeli yang luar biasa. Beredar banyak foto dan video para driver ojek online yang antri di gerai badut tersebut. Bahkan ada video yang mendokumentasikan bentrok sesama driver. Ada keringat ojek jaket hijau di setiap bungkus ungu yang dimakan para ARMY sebutan untuk fans BTS.

Lucunya teman saya yang gak begitu tahu BTS juga membelinya. Lagi-lagi karena FOMO. Takut ketinggalan trend makan McD x BTS. Tradisi FOMO nan kapitalis ini sudah membabi buta rupanya. Padahal juga dalam iklan promosinya McD tidak menyebutkan tenggat penjualan. Saya kira -setelah melihat berbagai tayangan ramainya McD- produk ini sengaja dijual sehari saja, sehingga lumrah untuk fansnya berjuang mati-matian untuk membelinya. Tapi ternyata memang murni takut ketinggalan tren saja. Dari pihak McD juga tidak ada niat untuk membuatnya limited dengan membatasi hari penjualan misalnya.

Di balik huru-hara ini tentunya ada sisi positifnya, yaitu adanya pergerakan roda perekonomian. Fans BTS membeli lewat ojek online. Sudah ada dua organisasi di sini yang mendapat bayaran, ojek online dan McD. Jika di-breakdown lagi ojek online berisi mitra GO-JEK dan McD berisi pegawai resto. Alhasil banyak keluarga yang bisa makan dari adanya inisiatif makanan yang di-branding. Sangat menarik memang inisiatif ini dan sambutan dari para ARMY yang kita ketahui sangat militan dalam mendukung movement dari grup penyanyi itu. 

Namun sehari setelah event ngantri berjamaah itu, muncul berbagai berita tak mengenakkan. Di tengah musim pandemi ini memang menggerakkan roda ekonomi bagai buah simalakama. Pilih ekonomi akan berdampak pada penyebaran virus. Apalagi jika antusiasme warga seperti kemarin. Antrian panjang dan kumpulan masa di setiap outlet McD terlihat jelas mengular dan berdesak-desakan. Pemkot setempat mengambil inisiatif menyegel gerai McD yang terpantau melakukan pengumpulan masa.

Mungkin hal ini dilakukan untuk mengantisipasi penularan yang tak berkesudahan. Sebetulnya repot juga posisi pengusaha. Saya yakin mereka berinisiatif gila begini hanya untuk bertahan ditengah badai pandemi. Tidak ada keinginan untuk melawan negara ataupun membunuh sebagian populasi manusia untuk kemudian menguasai dunia dengan kejahatan. Namun jika diterus-teruskan bisa jadi kita akan seperti india, yang kemarin pemulihan ekonominya langsung tinggi dan angka kasus covid aktifnya juga tinggi.

Sebaiknya setiap pihak yang terlibat lebih bijak dalam melakukan sesuatu, mulai dari sesuatu yang besar -sebesar yang dikerjakan McD yang berani mengeluarkan BTS meal- hingga sesuatu yang kecil -sekecil memesan BTS meal dari aplikasi gojek-. Toh McD masih menjualnya sampai sebulan kedepan. Masih banyak waktu untuk menunggu. Tak ada ruginya menunggu situasi terkendali.

Saturday, 5 June 2021

BUMN Kok Minta Bailout?


Betapa luwesnya bisnis AirAsia


Beberapa hari yang lalu beredar isu bahwa garuda Indonesia akan diberikan suntikan dana melalui mekanisme bailout oleh negara. Jika dirunut maskpai berplat merah ini memiliki rekam jejak yang tak begitu baik di berita, mulai dari adanya titipan sepeda pancal yang harganya setara gaji saya selama dua tahun hingga laporan keuangan yang tiap tahun merugi melulu. Inilah alasan saya enggan untuk membei saham yang berkode GIAA. Setiap tahun merugi apa yang dapat dierjuangkan? Sebelum adanya covid mereka beralasan karena harga bahan bakar terlampau mahal, pun saat covid mereka beralasan bahwa penumpang menurun semenjak adanya virus yang dari Wuhan itu.

Saya menilai garuda ini kalah luwes dengan pesaing bisnis lainnya. Kita ambil contoh Lion grup, meskipun maskapai Lion Airnya terkenal dengan delay yang acap kali tak masuk akal, perusahaan yang menaungi maskapai tersebut tetap berkibar. Salah satu alasannya ya keluwesan dalam menjalankan bisnis, tak hanya berfokus pada penerbangan. Kembangan sayap Lion grup dapat menanungi perusahaan ekspedisi seperti Lion Parsel. Jika fokus kepenerbangan saya kira perusahaan yang menaungi Lion Air, Wings Air, dan Batik Air ini juga akan tumbang. Tapi ada peluang bisnis kargo yang juga diambil oleh grup ini. Usahanya beda tapi dapat dilakukan dengan alat yang sama, yaitu pesawat. Mungkin garuda juga sudah melakukan ini tapi bisnis to bisnis, bukan bisnis to customer.

Contoh kedua berasal dari maskapai murah juga yaitu Airasia. Saingan yang berasal dari Malaysia ini lebih mengesampingkan gengsi. Berfokus pada kaum menengah kebawah, tapi juga tetap berkibar. Beberapa tahun yang lalu memang sempat terseok dengan dicabutnya nama maskapai berlatar warna merah tersebut dari travel online Indonesia (seperti traveloka dan tiket.com). tapi inovasi yang dilakukan Airasia cukup mencengangkan, yaitu dengan membuat jasa travel sendiri. Alih-alih sakit hati karena dimusuhi maskapai Indonesia, perusahaan yang berinduk di Malaysia ini malah mewadahi maskapai Indonesia untuk menjualkan tiket di travel online miliknya. Mengingat trayek AirAsia sendiri masih belum banyak, sehingga jika ada pembeli melintasi trayek yang tidak ia miliki, maka dialihkan dengan menaiki maskapai merk lain.

Tak cukup sampai di sini, hari ini saya juga melihat twit AirAsia Indonesia menjual kosmetik. Tentunya sah-sah saja jika maskapai menjual kosmetik, toh biasanya juga Sriwijaya menjual pernak Pernik hingga parfum di dalam pesawat. Tak ada yang salah dalam mempertahankan sebuah bisnis, hanya gengsi sebuah maskapai saja yang harus direm. Sepertinya Garuda masih mempertahankan gengsi itu hingga saat ini, dan berdampak pada ketidak luwesan dalam menjalankan usaha. Ujung-ujungnya merengek kepada pemerintah untuk diberikan dana talangan. Fungsi BUMN yang digadang-gadang akan memberikan pendapatan negara bukan pajak seakan musnah jika ini diteruskan.

Sedikit opini dari saya sebaiknya Garuda mengurangi gengsinya, sehingga banyak lini bisnis yang sekiranya seksi untuk dikerjakan dapat dikerjakan dengan baik. Selain mengurangi gengsi sebaiknya Garuda melakukan jemput bola, seperti memberikan penawaran ke pihak pemerintah untuk menggunakan maskapainya saat perjalanan dinas atau memberikan promo khusus untuk penerbangan yang menggunakan APBN. Ini menurut saya adalah bantuan yang paling pas untuk diberikan kepada Garuda. Toh negara tidak terlalu rugi jika menggunakan jasa BUMN. Pun juga bagi pemerintah, sebaiknya membantunya dengan cara seperti itu saja. Saat ini bantuan seperti itu yang saya rasa masih belum dilakukan pemerintah. Seperti contohnya kami di Manokwari untuk terbang ke Jakarta menggunakan Garuda saja sudah menyalahi aturan, karena harganya lebih mahal dari standar biaya yang sudah di tentukan oleh kementerian keuangan. Maka dari itu harus ada sinergi dan pemerintah lebih baik memberikan pertolongan sejaug menjadi penglaris saja untuk garuda.

Friday, 28 May 2021

Ogah Beli Crypto


(Sumber: commons.wikimedia.org by: Steve Jurvetson)

Sebelumnya kita sudah merasa terkesan dengan serangan coronial kepada pasar saham, memang ujung-ujungnya banyak dari mereka yang malah menjadi trader, yang hanya fokus pada grafik teknikal harga saham, tapi tak mengapa adanya minat kepada saham sudahlah cukup untuk mengangkat harga setinggi-tinggi (meskipun berujung dibanting sedalam-dalamnya). Tren millenial pada pasar saham sempat menuai problematika, karena BEI dianggap abai dalam mengarahkan mindset para investor pemula dalam berinvestasi. Ibarat kata para investor pemula ini terlalu percaya pada iklan binomo, yang hanya lihat grafik tiap hari lalu kaya. 

Setelah adanya serangan investor baru pada saham, kini muncul lagi serangan investor baru pada crypto currency. Yang saya maksut serangan dari awal ini adalah serangan modal yang masuk ya, terpantau dari status mereka yang suka bergelut dengan investasi (walaupun sebetulnya mereka trading) sudah mempublikasikan pergerakan grafik harga cryptocurrency. Sebetulnya tidak ada masalah, toh itu duit mereka dari hasil keringat mereka juga. Tapi saya kok khawatir mereka rugi ya, seperti halnya dahulu pas ramai-ramainya saham. Mereka yang saat ini membikin status terkait crypto dulu waktu saham mereka juga turut andil. Kalau pasar lagi bergairah dengan warna hijau, mereka posting dan membubuhkan quote ucapan rasa syukur. Kalau pasar lagi lesu dengan warna merahnya, mereka bubuhkan qoute penyemangat agar membeli lebih banyak karena murah. Gitu terus ujung-ujungnya rugi karena salah strategi. 

Saya melihat mereka ini masih gamang dalam menentukan apakah mereka investor atau trader. Jadi dari sisi manajemen uang mereka juga kacau. Hanya mengikuti kata orang saja tanpa mengetahui ilmunya, ini mungkin sudah rahasia umum dalam setiap risalah kegagalan para investor. Sebetulnya jika dilihat mereka hanya ketakutan ketinggalan jaman, alias bahasa gaulnya fear of missing out (FOMO). Jadi apa yang dibilang oleh trend, mereka pasti hajar dengan segenap hati, jiwa, dan raga.

Kembali lagi ke sekarang crypto, saya melihat ada gelagat seperti itu juga di pasar crypto.  Ada para spekulan yang siap dengan judinya, jika menang mereka akan mengupdate status dengan bangganya, jika kalah mereka akan melakukan instruksi untuk melakukan pembelian karena murah. Selain sangat merugikan perilaku seperti ini akan membuat ketagihan, karena cara membuat ketagihannya mirip judi. Masih ada keyakinan untuk menang meskipun sudah kalah telah dan tak memiliki ilmu.

Menurut saya juga memasukkan uang ke crypto adalah judi. Karena saya sendiri tidak tahu secara langsung apa yang menyebabkan harga uang ini naik atau turun. Jika adanya hukum permintaan dan persediaan (seperti halnya saham), lantas muncul juga pertanyaan permintaan atas apa? Lha wong saya sendiri tidak mengetahui uang itu bisa dipakai untuk apa. Logika pendek saya biasanya mempertanyakan "apa bisa uang bitcoin atau crypto lainnya digunakan untuk beli beras sekilo?". Jika tidak bisa berarti mata uang ini tidak masuk akal, naik turunnya hanya digerakkan oleh mereka yang hanya ingin jual beli tanpa tahu mata uang tersebut digunakan untuk apa. Jika ada perusahaan yang mempergunakan untuk instrumen pembayaran pun itu juga tidak banyak, dan harga yang merek patok justru mengikuti harga crypto itu tadi. Contohnya tesla yang menggembar-gemborkan dogecoinnya. Merek tidak mematok harga mobil berdasarkan dogecoin, tapi berdasarkan harga dogecoin terhadap dollar. Jika harga dogecoin terhadap dollar murah maka harga mobilnya akan mahal jika dibeli dengan dogecoin, begitu pula sebaliknya.

Cara jual beli seperti ini adalah cara jual beli yang mustahil, harga barang akan cenderung fluktuatif. Pun juga yang tidak masuk akal adalah harganya mengikuti harga uangnya. Seumpama sebuah mobil tesla dengan harga 1 dogecoin, lantas bagaimana harga suku cadang nya? Kembali lagi dengan analogi beras tadi, jika 1 dogecoin cukup untuk membeli 1 ton beras, lantas bagaimana jika membeli 1 kilo beras. Jelas tidak dapat terpenuhi transaksi seperti ini. Secara fiqih crypto tak ubahnya hanya seperti layaknya kambing yang masih dalam kandungan. Kita tidak tahu isinya berapa dan tak dapat ditransaksikan. Maka dari itu saya sendiri enggan untuk memasukkan uang saya ke crypto. Lebih baik memasukkan uang ke saham dengan akad mudhorobah saja, lebih aman dan tidak panik dengan naik turunnya harga. 

Friday, 21 May 2021

Terperosok Terlalu dalam di Wikimedia


rentetan souvenir yang didapat dari wikimedia

 Akhir-akhir ini sepertinya saya jatuh terlalu dalam kepada Wikipedia Indonesia, Wikipedia adalah organisasi nirlaba yang menaungi beberapa proyek-proyek wiki lainnya yang paling terkenal adalah Wikipedia. Setahun yang lalu saya pernah ikut berpartisipasi untuk menjadi kontributor wikisource, proyeknya lumayan seru, tidak perlu mikir seperti proyek Wikipedia. Namun hanya memerlukan ketelitian yang lebih, karena melakukan uji baca terhadap buku dan dokumen yang sudah di-scan. Hanya mencocokkan huruf perhuruf antara tulisan dan hasil pemindaian dokumen. Itulah pertama kali saya berinteraksi dengan orang dan proyek wiki. 

Setelah itu saya dimasukkan ke grup telegram Wikipedia. Isinya semua kontributor, aktifis, hingga pengurus Wikipedia secara keseluruhan. Barulah saya mendapat berbagai ajakan untuk berkontribusi lebih lanjut di proyek-proyek wiki. Berlanjut pada proyek wikidata untuk memasukkan berbagai data makanan nusantara ke wikidata. Nama proyeknya datathon. Lagi-lagi saya perlu menekankan bahwa proyek ini tidak memerlukan pemikiran yang dalam. Wikidata hanya mewajibkan kita untuk memasukkan data dan nilai yang sesuai terhadap objek yang dimaksudkan. Agak susah menjelaskannya, jika pembaca sekalian kepo, bisa langsung meluncur ke websitenya saja.

Selain tidak perlu mikir yang susah seperti Wikipedia, di kompetisi datathon yang saya ikuti ini juga tidak banyak saingan untuk memenangkan giftcard senilai 200.000. Lumayan seru untuk sekedar niat-niatan dalam melakukan suntingan di wikidata. Toh jika tidak menang juga ada berbagai kuliner Indonesia yang sudah dilakukan pendataan, siapa tau data tersebut dapat dimanfaatkan dalam penelitian lebih lanjut. Tapi yang mencengangkan lha kok ndilalah saya menang. Jadi semakin niat lagi saya untuk berkecimpung di proyek-proyek wiki lainnya. 

Alhasil saya mengikuti datathon lagi, kali ini tidak berkompetisi untuk memasukkan data sebanyak mungkin, melainkan kita mendapat pagu hadiah. Jika mengedit berapa bita (karakter dan yang tau mekanisme penghitungannya hanya mesin di Wikipedia) kita akan mendapat apa. Semakin banyak kita menyunting semakin banyak pula hadiah yang diberikan. Disini sepertinya saya all out sekali. Sampai saya mendapat peringkat tertinggi kedua dalam ranking peserta. Setiap hari saya melakukan pendataan berbekal google dan sekaligus memasukkan berbagai rujukan untuk tambahan. 

Setelah tiga kali mengikuti berbagai proyek wiki dan hadiah hiburan seperti yang saya foto di awal artikel ini dikirimkan ke Manokwari. Saya malah merasa harus menjadi bagian dari Wikipedia, jadilah saya mendaftar dan ikut menjadi anggota wikimedia. Entah mengapa untuk organisasi yang rela mengirimkan hadiah ke papua saya merasa harus memberikan respek yang luar biasa. Seperti yang kita ketahui, ongkos kirim ke Manokwari dari Jakarta tidaklah murah. Bisa saja wikimedia mengenakan tarif kirim, seperti halnya promo gratis ongkos kirimnya Shopee yang hanya ditanggung se-jawa bali. Tapi herannya wikimedia tetap mengirimkan berbagai hadiah hiburan. Selain itu biaya pendaftarannya juga cukup murah hanya 200 ribu rupiah. Pasti bisa balik modal jika rajin ikut kompetisi. Bahkan yang membuat saya kaget ternyata keanggotaan Wikipedia ini dibuatkan grup, dan ada ivan lain di grup whatsapp. Ternyata beliau sesuai dengan bio di twitternya yang menyatakan bahwa ia adalah wikipediawan. Selain segrup dengan ivan lain, ternyata ada souvenir yang diberikan. Berupa tas belacu dan termos yang berwarna hijaunya aplikasi whatsapp.

Setelah meraih pengalaman yang tak terbayangkan, semakin meningkatlah tekat untuk mengikuti proyek wiki lainnya selagi bisa. Dan proyek selanjutnya yang saya ikuti adalah melakukan uji baca lagi di wikisource. Seperti kemarin, saya hanya mengincar hadiah hiburan saja. Dan ternyata dapat hadiah hiburan yang sama persis dengan proyek uji baca setahun yang lalu yang pernah saya ikuti ditambah satu tumbler.

Lantas kini tak tanggung-tanggung saya mengikuti kegiatan hibah paket data. Alhamdulilah tembus dan saya diwajibkan mengedit belasan ribu bita perbulan. Semoga saja dapat terpenuhi dengan memasukkan berbagai hal tentang papua yang selama ini tertutup dari media. Selain mendapat pengalaman baru, saya rasa ini sebuah nubuat yang memang harus saya lakukan untuk papua. Meskipun hanya sebatas wikidata, semoga kedepannya dapat dikembangkan menjadi artikel di wikipedia.

Friday, 14 May 2021

Lagi-lagi Tak Mudik Lagi


Gema takbir kini berkumandang di segala penjuru bumi, seakan mereka menyindir kami kaum rantauer non mudiker. Ini sudah tahun ketiga saya lebaran di luar rumah, sekali tak mudik karena ekonomi dan dua kali tak mudik karena covid. Entah mengapa meskipun sudah berjalan dua tahun, saya masih takut tertular covid di transportasi umum seperti pesawat. Perjalanan selama 5 jam di pesawat membuat saya pikir ulang untuk pulang.

Namun ada sedikit rasa syukur pada lebaran kali ini, karena di belahan bumi lain ada sekumpulan orang yang berlebaran sekaligus baku hantam dengan tentara israel. Memang saya akui, rasa syukur di tengah kesusahan orang lain merupakan kesalahan pemikiran. Tapi biarlah kelas saya memang masih serendah itu, kesusahan orang lain masih dapat menjadi setitik kebahagiaan di tengah lautan kesedihan karena tidak mudik. Mungkin kelas yang paling atas adalah kelas legowo atas tidak mudik dan tetap berempati kepada mereka yang ditakdirkan berjuang mempertahankan masjidil aqsa. 

Karena rasa syukur seperti itulah saya dapat menikmati perayaan hari kemenangan setelah bulan Ramadhan yang penuh perjuangan. Hari pertama puasa harus ke Jakarta, sepulang dari Jakarta harus menghadapi pegawai yang emosi karena gaji tertunda turun karena antrian panjang SPM di KPPN. Ditambah ketidak pulangan saya karena prediksi pak bos yang ternyata melenceng dan saya juga sama sekali tidak melihat kalender. Sangat mustahil sekali tidak menyesal bertubi-tubi saat hari kemenangan ini. Harusnya pulang menjadi opsi refreshing yang paling ampuh, malah gagal melakukan refreshing.

Mungkin ada benarnya juga, jika kesusahan orang atau bangsa lain dapat menjadikan kita bersyukur. Bisa jadi ada kesalahan dengan pola pemikiran kita, tapi apa boleh buat? Di kondisi sulit daripada kita depresi mau tidak mau harus mengambil kesusahan orang lain untuk pengobat rasa sesal sekaligus kesal. Toh ujung-ujungnya kita juga saling menghormati atas respon seseorang terhadap kejadian. Tidak saling menyalahkan namun tetap memakai keyakinan yang kita tetapkan, dengan alasan yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan. 

Thursday, 6 May 2021

Musikalisasi Kritik


 

DPR-Musikal
Sumber: Akun Instagram (skinnyindonesian24id)

Lama sudah kita tidak mendengar nama konten kreator skinnyindonesia, setelah beberapa bulan yang lalu membuat gimmick audisi di youtube dan beberapa kali ikut mengerjakan dalam hajatan tahunan youtube yang bernama Youtube Rewind. Setelah itu tak ada konten heboh lagi dari kedua youtuber kakak-beradik tersebut.

Kemarin kanal youtube milik mereka berdua merilis hal baru, bukan vlog berbasis anak muda perkotaan seperti biasanya yang sarat dengan kalimat “asyiap”. Tapi koten kali ini yang diluncurkan adalah drama musikal. Jujur saja saya sudah lama tidak menonton drama musikal. Jika diingat-ingat lagi ini adalah drama musikal pertama kali yang saya tonton di platform youtube. Karena drama musikal terakhir yang saya tonton adalah “petualangan sherina” dan beberapa film-film kartun seperti “frozen”.

Sebetulnya saat pertama kali saya melihat judul drama ini di berita online, saya merasa antipasti. Kesan “halah pasti juga gitu-gitu aja” muncul teramat kental pada momen itu. Selain karena saya mengklasifikasikan kanal ini menjadi satu level dengan candra liaw dan atta halilintar yang kental dengan pameran harta orangtua dan minim rasa, saya juga mengangap karya fantastis yang mereka lahirkan tidak cukup fantastik bagi saya yang awam ini. Meskipun mayoritas teman-teman yang cukup kawakan dalam menilai gambar menyebutkan bahwa karya candra liaw cukup megah.

Kembali ke drama musikal yang dilahirkan skinnyindonesia. Saya melihat dalam video youtube 36 menit saya dibuat terpana. Seakan asumsi-asumsi yang saya sebutkan di paragraf 3 tersebut sama sekali tidak terbukti dalam video yang diunggah tanggal 2 mei 2021 ini. Bungkusan karya yang sarat akan kritik menjadikan saya enggan menyebut ini drama musikal, dan menggantikannya menjadi musikalisasi kritik. Gumpalan kritik terhadap dewan perwakilan rakyat sangat kental terlihat di video ini. Alih-alih menampilkan kemewahan seperti halnya youtube rewind, kedua creator yang berdarah amerika latin ini menampilkan kondisi yang sangat nyambung bagi saya sendiri.

Bagaimana tidak? Awal video dibuka dengan panggung bertingkat ala teater dengan sorot lampu bergantian. Sangat terasa aura teater panggung sederhananya. Selain itu alur ceritanya juga terkesan mewakila kegemasan pada anggota dewan. Dengan mengangkat sosok mawar yang baru terpilih menjadi dewan perwakilan rakyat dan mencoba menggedor patron ortodok yang sarat akan kemunafikan dan penyengsaraan rakyat. Mawar dipaksa untuk melawan beberapa anggota dewan yang sudah kawakan untuk sekedar memperjuangkan ideologinya, yaitu membahas rancangan undang-undang flora, agrikultur dan kehutanan (RUU F.A.K).

Seperti dalam kenyataan, dalam film yang bertajuk DPR-Musikal tersebut mawar berinovasi dalam melahirkan undang-undang hanya untuk memikirkan jangka jauh, untuk urusan-urusan yang sangat jarang dipikirkan anggota dewan karena tidak memiliki nilai ekonomi. Dalam film ini juga disebutkan bahwa bencana hilangnya hutan Papua, kebakaran hutan di Kalimantan, serta Riau menjadi latar belakang lahirnya keinginan untuk membuat peraturan mengenai RUU F.A.K. perjalananya tentu tidak mudah, ada kuota suara yang harus dirangkul di dalam anggota dewan, agar menjadikan konsep tersebut menjadi prioritas.

Dalam perjalanannya ajakan untuk merangkul kawan sebanyak-banyaknya tersebut jelas ditentang anggota yang sudah memiliki kesepakatan dengan pengusaha saat mengikuti pemilu. Anggota-anggota tersebut merupakan anggota partai besar yang bisa menjadi penentu konsep tersebut dapat dibuatkan undang-undangnya atau tidak.

Dari sini terlihat kritik yang sangat apik terangkai begitu nyata oleh skinnyindonesia. Banyak diksi-diksi yang secara tegas menyatakan kritik terselip dalam setiap bait lagu yang dinyanyikan tiap aktor dalam film tersebut. Tapi dari berbagai kritik yang mencoba untuk menggedor patron curang yang sudah mengakar di negeri ini, ada gedoran yang sangat bagus untuk mengkritiki hati nuarni saya. Yaitu pesan penutup heroik berupa tulisan putih yang tayang diatas warna hitam. Seperti peralihan drama musikal menjadi motivasi perjuangan menuju bangsa yang lebih baik. 



Thursday, 29 April 2021

Betapa Repotnya Menatausahakan Aset Militer


KRI Nanggala

Beberapa hari yang lalu, indonesia berduka atas hilangnya KRI Nanggala. Awalnya putus hubungan tapi setelah 3 hari tidak ditemukan, kapal selam tersebut dinyatakan berpatroli untuk selamanya. Ada 52 awak kapal yang ikut tenggelam di kedalam 800 meter. Isak tangis duka haru menyelimuti negeri atas menghilangnya kapal selam yang direncanakan untuk latihan menembak rudal di selat bali tersebut.

Otak liar saya lantas menerawang jauh atas bencana ini. Perlahan-lahan terawangan tersebut merapat ke aktifitas sehari-hari saya. Yaitu pelaporan keuangan instansi. Menjadi sangat menarik jika melakukan eksplorasi, "bagaimana jika saya yang menangani penatausahaan kapal selam yang hilang tersebut?". Alhasil saya iseng mencari regulasi yang pas dan memang harus dilakukan jika kapal tersebut harus dihapuskan dalam daftar aset.

Ternyata penghapusan aset kapal selam seharga 7 trilyun itu mekanismenya sama dengan penghapusan aset biasa. Kapal selam yang termasuk dalam peralatan dan mesin sama dengan kendaraan lain, juga ada klasifikasinya dalam pencatatan BMN. Sub kelasnya menjadi kendaraan bergerak dengan klasifikasi khusus. Kelas peralatan dan mesin dengan klasifikasi tersebut menurut PMK no. 296 tahun 2019 memiliki nilai manfaat 10 tahun. Jadi jika kapal selam tersebut buatan tahun 1981 dapat dikatakan aset tersebut sudah disusutkan habis. Lantas apa masih perlu dihapuskan jika aset sudah tidak memiliki nilai?

Jawabannya adalah wajib, karena pencatatan aset negara tidak hanya terkait dengan nilai aset saja, tapi juga ada pencatatan jumlah aset secara fisik. Dalam laporan BMN juga diungkapkan secara kelayakan barang tersebut dalam kondisi baik atau rusak. Jadi dapat disimpulkan meskipun kapal selam bernomor 421 ini buatan tahun 1981 tetap harus ada penghapusan jika memang sudah hilang atau rusak seperti yang sudah kita ketahui di berita. Jika tidak dihapuskan nantinya pasti ada revaluasi dan satuan kerja pemilik aset tersebut akan kesulitan jika pihak KPKNL hendak melakukan revaluasi aset.

Penghapusan aset BMN secara normal sependek sepengetahuan saya jika kendaraan umum, memang harus ada surat keterangan dari samsat terkait pajak dan kesesuaian dokumen lain antara satuan kerja pemilik aset dan samsat. Tapi untuk kapal selam yang kecelakaan seperti KRI nanggala sepertinya cukup dengan surat keterangan dari kepolisian disertai dengan dokumentasi dari basarnas sudah bisa diurus dokumen penghapusannya di KPKNL dimana satuan kerja tersebut terdaftar.

Selain penghapusan saya juga tergelitik untuk berandai-andai jika ada sumbangan kapal selam dari masyarakat. Karena akhir-akhir ini saya lihat twitternya ustad salim a fillah, ustad abdul somad, beserta akun masjid jogokaryan menginisiasi untuk patungan kapal selam untuk indonesia. Lantas saya membayangkan jika patungannya tersebut sudah dapat membeli kapal bagaimana cara pencatatannya? Kemudian perlahan-lahan saya membagi menjadi dua skenario. Skenario pertama adalah masyarakat menyumbang dalam bentuk uang. Jika masyarakat menyumbang dalam bentuk uang maka dalam risalah sumbangan tidak dapat dicatatkan langsung menjadi aset. Saat serah terima sumbangan wajib adanya bukti acara serah terima, ringkasan hibah, dan juga perjanjian hibah. Masyarakat yang menyumbang juga dapat memberikan batas waktu dan dicantumkan dalam perjanjian hibah. Setelah satuan kerja penerima sumbangan sudah mendapat uang serta ketiga dokumen, maka wajib dilakukan pengesahan hibah ke Kantor wilayah DJPb. Setelah pengesahan selesai maka dilakukan mekanisme pengadaan barang. Tentunya dengan nilai sebesar itu akan dilakukan lelang dan kemudian dilakukan pemilihan dan kemudian pembangunan unit kapal selam. Di sini pasti akan memakan waktu yang lama, maka dari itu sebaiknya dicantumkan waktu pengadaan dalam naskah perjanjian hibah.

Lain halnya jika masyarakat langsung memberikan kapal selam kepada pihak TNI AL. Mekanisme serah terima hibahnya masih sama, yaitu mensyaratkan bukti serah terima barang, perjanjian hibah dan ringkasan hibah. Setelah itu tetap dilakukan pengesahan hibah ke kanwil DJPb, setelah dilakukan pengesahan lantas dilakukan pengadministrasian aset. Pencatatan aset hibah ini dilakukan di KPKNL. Setelah mendapat persetujuan dari KPKNL baru dilakukan pencatatan aset di tingkat satuan kerja penerima hibah.

Dari serangkaian panjang ini saya lambat laun bersyukur tidak menjadi orang pelaporannya militer. Mengingat rumitnya penghapusan aset dan pengesahan hibah itu sendiri. Belajar dari kerumitan penghapusan aset di satker saya sekarang, yang mensyaratkan berbagai persyaratan yang rasanya mustahil dapat dilakukan jika sebelumnya tidak melakukan pencatatan secara tertib. Selain itu juga pengesahan hibah secara kenyataan tidak semudah apa yang saya jelaskan. Saat pengesahan dari pihak kantor wilayah DJPb biasanya meminta hal yang tidak kita sadari. Lagi-lagi saya mengambil contoh dimana tempat saya bekerja. Awalnya saat penyerahan hibah kami tidak meminta nomor pengesahan hibah daerah, eh waktu pengesahan diminta nomor pengesahan hibah dari pemerintah daerah. Semoga saja dari mekanisme pengadministrasian tersebut dilancarkan semuanya. Agar pihak administrator BMN tidak pusing dan kemudian stres seperti operator BMN ditempat saya bekerja.