Coro merupakan bahasa jawa dari kecoak, omong coro bermakna omongan ngelantur tapi dapat dinyatakan jujur. Maka ketenangan serupa apa lagi yang dicari di dunia yang fana ini selain kejujuran. Tulisan berikut merupakan contoh dari omong coro.

Search This Blog

Translate

About Me

My photo
Hi, saya pungkas nurrohman yang mencoba dewasa dengan jalan-jalan

Thursday, 14 January 2021

Dicovidkan atau Covid Sendirian


 


Banyak tokoh yang sudah terkena covid tapi masih banyak pula yang tidak percaya dengan covid. Masih ada beberapa teman yang termakan kalimat di-covidkan. Hari ini saat saya tulis artikel ini ada ulama bernama Syekh Ali Jaber yang meninggal. Beberapa hari sebelumnya saya diperlihatkan oleh abah share info dari grup bapak-bapak mengenai syekh ali. Video berdurasi beberapa detik tersebut merekam kondisi syekh terkini. Awalnya divonis covid lantas beredar video beliau memakai alat bantu pernafasan di hidung dan mulut. Pada waktu memberitahukan video tersebut abah tanya, “ini siapa?”. Pada saat itu saya menjawab dengan memberitahukan kasus penusukan yang dialami oleh syekh. Barulah beliau paham sembari mengangguk dan berkata “oh yang itu”.

Di dunia keislaman sebetulnya sudah banyak ustad yang terjangkit covid. Ustad Yusuf Mansur yang akhir-akhir ini terkenal dengan paham Mansurmologi dalam investasi saham kemarin baru terkena. Aa’ gym yang getol menyuarakan covid saat awal tahun kemarin juga kena. Serta beberapa ulama’ di daerah saya (Kepanjen) juga tertular covid entah darimana. Memang fakta covid saat ini masih ada yang percaya adapula yang tidak. Hal ini terjadi tidak hanya di Indonesia, beberapa hari kemarin saya melihat ada video lewat di beranda twitter. Di Amerika Serikat ada beberapa orang yang menamakan dirinya anti masker sedang berjalan di mal tanpa masker sambal bernyanyi. Seakan mereka akan popular dengan keyakinannya sehingga mereka layak mempromosikan.

Lain halnya di Kepanjen, saya yang terbiasa disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan di Manokwari, saat pulang ke Kepanjen terkejut melihat situasi dan kondisi sholat jumat di sebuah masjid besar yang ada di sana. Saya melihat tidak lebih dari separuh jamaan menggunakan masker saat sholat jumat. Jaga jarak merupakan kemustahilan di masjid itu, tanpa ada rambu yang jelas untuk menjaga jarak. Sehingga sekeras apapun kita berusaha untuk menjaga jarak, orang pasti akan tiba-tiba masuk di sela-sela yang kita harapkan untuk menjadi jarak. Sekacau itu memang keengganan kita untuk menerapkan protokol kesehatan dalam beribadah.

Maka bisa dikatakan sangat jarang kita mempercayai sesuatu yang masih baru dengan cepat dan tepat. Kita dalam kalimat tersebut tidak berhenti pada negara Indonesia tercinta saja, bahkan di negara maju seperti amerika serikat masih ada yang gagal paham mengenai virus satu ini. Muncul berbagai teori konspirasi seperti yang ditulis pak dahlan dalam harian disway-nya. Akhir saya ingin mengatakan memang tidak ada yang benar-benar benar dalam kasus ini. Antara tenaga medis dan pencetus teori konspirasi yang ada microcipnya sama-sama bisa saja diragukan kebenarannya. Tapi jika sudah banyak yang meninggal lantas kita mau mengakui kebenaran yang mana?

Jika saya boleh mengusulkan sebaiknya kita mengakui kebenaran yang tidak merugikan orang lain. Sudah banyak yang meninggal, memang tuhan akan sangat adil dalam memberi jatah umur. Tapi jika ada seseorang yang meninggal dari kesalahan keputusan kita dalam meyakini sesuatu, bukankah kita akan dihantui kesalahan selama kita masih mengingat hal itu. Dalam masa pandemi ini pasti pembaca tidak menginginkan menabung memori buruk kan, pandemi sudah sangat berat maka marilah kita serdas dalam menyikapi sebuah tragedi. Agar pasca pandemi kita tidak menanggung kesedihan ataupun kesalahan.

Thursday, 7 January 2021

Saham 2021


 


Akhir pandemi ini ditandai dengan naiknya pasar saham yang kian menggila, dapat dikatakan begitu karena akhir-akhir ini saya mendengar ajakan saham yang bertubi-tubi. Tidak hanya dari orang yang terkenal, dari teman-teman yang selama ini belum membeli saham pun saya juga mendengar banyak rekomendasi. Menjadi sangat mustahil rasanya jika saya tidak menangkap fenomena booming ini. Karena sudah menjadi bahan pembicaraan yang lumrah di khalayak umum.

Sebetulnya saya sudah masuk di pasar modal semenjak saya bekerja di Balikpapan, sekitar tahun 2015 saya mencoba peruntungan dengan masuk di dunia investasi pasar modal. Menjadi hal baru rasanya saat ramai pembicaraan pasar saham menduduki topik yang seru dan menarik. Entah di kalangan pemula atau kawakan menjadikan naik turun pergerakan saham sebagai topik pembahasan menurut saya sangat unik. Semenjak saya masuk ke pasar modal sangat jarang sekali menemukan beberapa orang mencurahkan keriangannya saat pasar modal menanjak naik.

Bahkan beberapa artis pun turut meramaikan pembicaraan terkait saham, entah dari cuitan di twitter, postingan di Instagram atau saat mereka bikin video di tiktok. Saat tulisan ini dibuat juga ada sebuah cuitan yang menanyakan jika artis mengajak berinvestasi langsung diminati keterangan, tapi bagaimana dengan beberapa akun tiktok yang beberapa kali memberikan rekomendasi? Mungkin ini adalah beberapa konflik yang muncul karena saking booming-nya perbincangan mengenai saham. Beberapa artis dan orang terkenal yang masuk ke saham akhir-akhir ini memperoleh keuntungan beberapa kali lipat. Mereka membagikan keceriaan tersebut di social media yang mereka miliki, alhasil mempengaruhi orang lain untuk membeli. Pihak OJK menanggapi hal tersebut sebagai rekomendasi.


Karena memang beberapa bulan kemarin ada tren negative disebabkan oleh wabah pandemi. Bagi pendatang baru saat tren turun tersebut dimaknai sebagai keberkahan tersendiri. Hasilnya mereka dengan tidak sengaja masuk di harga murah. Dalam beberapa bulan mereka membeli saham sudah bisa mengantongi keuntungan puluhan persen. Karena harga yang pertengahan tahun 2020 turun perlahan-lahan naik karena ekonomi sudah mulai stabil.

Saya sendiri yang sudah beberapa tahun memasukkan uang di saham, saat ini malah cenderung trading di waktu yang cukup pendek. Hasilnya pun dari kenaikan saham juga lumayan menguntungkan. Hanya memegang selama dua minggu saja, saya sudah untuk 100% dari saham $IRRA. Selain karena kenaikan yang fantastik saya yang memiliki profil tidak suka dengan volatilitas yang tinggi. Makanya kemarin saat pertengahan tahun saya akumulasi saham meskipun harganya turun gak karu-karuan. Selain saya suka market yang bearish saya memiliki pemahaman yang turun pasti akan kembali ke semula. Kecuali jika volatilitasnya naik dan mayoritas harganya naik tinggi, pasti nanti akan turun dan tidak mungkin naik lagi. Ini merupakan risiko yang saat ini masih belum bisa saya tanggung. Jadi saya saat pasar sedang happening ini memilih untuk memasukkan uang jika saya memiliki waktu untuk menganalisa harga.

Strategi untuk tahun kedepannya saya lebih cocok membeli saham di harga yang standar lalu saya simpan sampai beberapa tahun. Tujuannya agar mendapat dividen ditiap tahunnya, dividen tersebut saya masukkan lagi ke emiten lantas menghasilkan dividen yang lebih tinggi lagi hingga minimal lima tahun. Strategi ini lebih cocok untuk saya karena lebih masuk akal, seperti halnya membangun kontrakan rumah. Tiap tahun saya memperoleh hasil dividen seperti halnya memperoleh hasil mengontrakkan rumah. Berapapun nominalnya jika perusahaan yang saya beli adalah perusahaan bagus pasti dividennya perlahan akan merangkak naik.

Sunday, 27 December 2020

Sang Spekulan



 Menjadi biasa adalah kebiasaan yang tidak terlalu biasa, bagi aku yang tidak biasa hidup biasa rasanya kalimat ini sudah menjadi moto hidup di binder berjajar dengan makanan favorit (mafa) dan minuman favorit (mifa). Hidupku sepertinya dipenuhi dengan kejadian tak terduga, ada kejadian yang cukup menyisakan trauma saat peternakan ayam petelur keluargaku bangkrut. Lantas orangtuaku menolak menyerah dengan tetap mememuhi permintaan pasar. Tentunya bukan dengan telur hasil dari kandang sendiri. Beliau memilih untuk menjadi pengepul telur dengan berspekulasi kesana kemari.

Mungkin hal ini juga yang menjadikanku lengkap dengan hidupku terbiasa dengan spekulasi. Bahkan di usia yang tergolong muda ini aku berani untuk berspekulasi dengan membuka usaha jual beli laptop bekas. Jelas mengambilnya dari luar pulau yang sangat terkenal dengan barang BM nya. Ya batam. Pagi ini aku mendatangkan beberapa laptop dari Batam. Aku sang spekulan ini memutar uang dari mamakku. Aku pinjam uang dari beliau dan mulai berjual beli laptop dari orang yang entah sampai sekarang tak kunjung aku temui. Bukan karena aku enggan, tapi harga tiket makassar-batam terlampau mahal untuk sekedar menemui sesosok supplier. Jika diingat-ingat dulu itu memang aku spekulan mati. Bagaimana tidak? Usaha ini aku mulai dari aku membeli laptop dari temanku Andi yang hanya bermodal kalimat "ini aku ada teman di Batam, dia bisa ambilkan laptop bagus. Kalau kau mau beli". Sebatas kalimat itu saja lantas aku merogoh kocek empat juta dan membayarnya. Entah ada angin apa waktu itu, aku seringan tangan itu membayar laptop yang belum tahu bentuk serta wujudnya.

Tapi untungnya teman Andi yang aku belum tahu namanya ini masih amanah, sehingga barang yang saya order sampai di makassar dengan aman dan selamat. Spesifikasi memang agak tidak sesuai dengan yang dipresentasikan sampai berbusa. Andi bilang kondisi barang mulus tapi yang datang agak lecet, mungkin ini memang barang bekas pakai namun yang dikata Andi barang yang didatangkan dari Batam ini barang baru namun tidak ada kardusnya saja. Entah bualan apalagi yang aku percaya dari teman sekelasku yang sampai semester lima ini rumus kimia pun tak ada yang ia hapal. Tapi untuk kualitas laptop yang datang memang sudah sangat sesuai dan harganya pun masih bisa dimainkan.

Dari sini aku menerawang jauh kedepan dan meletup ide liar seperti biasanya. Ini laptop murah bisa diperjualbelikan di sini. Tanpa pikir panjang aku pinjam uang dari mamakku dan mulailah aku berbisnis laptop murah tapi tak murahan. Namanya juga bisnis pastilah ada naik turun, tak mungkin bisnis akan berjalan mulus seperti ban mobil yang lama tidak ganti. Naik turun bisnis mulai aku rasakan, kebanyakan naik turun bukan karena pangsa pasar tapi ada pesaing bisnis yang berbuat nakal. Aku menjualnya full melalui online jadi tak butuh tempat berupa toko untuk menjual barang BM itu.

Namun lambat laun seiring berjalannya bisnis aku menemui hambatan yang tak dapat dilewati. Malam itu tiba-tiba ada penggrebekan polisi. Seorang pegawai yang bertugas untuk standby di basecamp ikut dibawa beserta belasan laptop. Saat itu aku sedang pulang ke Sidrap. Tengah malam ditelpon oleh pegawaiku yang ikut digelandang ke kantor polisi. Keesokan paginya aku menuju ke kantor polisi untuk menanyakan duduk permasalahannya. Ternyata usahaku ini dicurigai sebagai penadah barang curian. Tak dapat terelakkan memang ujian ini biasa menghadang siapapun yang menjajakan barang bekas. Entah oknum polisi waktu itu salah tangkap atau memang memiliki niat tidak baik.

Pelaporpun coba aku tanya barang yang hilang laptop jenis apa, tipe berapa, dulu belinya harga berapa. Anehnya sang pelapor tak dapat menjawab pertanyaan yang harusnya jika memang pemilik laptop yang kehilangan akan sangat mudah menjawabnya. Dari sini aku mulai curiga menjadi tumbal atas kebengisan oknum polisi. Alhasil kecurigaanku terungkap, aku ditawari "jalan belakang" dengan membayar sepuluh juta semua akan beres. Otak matematisku mulai bekerja dengan cekatan, dan aku menyetujui dengan pertimbangan ada belasan dagangan yang dijadikan barang bukti. Jika tidak dibayar urusan akan semakin panjang, bisa-bisa barang yang diklaim secara sepihak sebagai bukti malah enyah tak kembali.

Singkat cerita uang aku bayar dan semua kembali. Tapi aku masih terhitung rugi. Karena ada empat barang dagangan yang ditukar. Menjadi sangat rumit, pelik, dan rasanya tak ingin mengulangi lagi. Kebingungan di tengah gagap memaknai hukum serta barang dagangan yang menjadi jaminan, menjadikanku enggan bertindak tegas kepada oknum yang dibilang pengayom masyarakat. Kerugian didepan mata, tak dapat terelakan rasa trauma juga masih mengganjal di kepala. Alhasil aku tutup usaha ini dan menjadikan kengerian ini sebagai pelajaran. Kalau penegak hukum tak selamanya tegak terkadang juga tegang dan mendongak.

Wednesday, 23 December 2020

Akar Ketidakpastian


Sumber: qerja.com

2020 akan berakhir, di tahun ini kerap diwarnai dengan ketidakpastian. Mungkin jika dapat mencari kambing hitam, sah-sah saja untuk menjadikan covid-19 sebagai penyebab ketidakpastian. Karena gara-gara virus yang dicurigai berasal dari Wuhan Cina ini titik awal ketidakpastian dimulai. Tapi jika dilihat ulang secara teliti saya malah menyatakan ketidakpastian ini karena setiap individu dari kita tidak tegas. Kalem dulu, ini saya tidak sedang menuduh anda yang membaca artikel ini sedang tidak tegas. Tapi saya sedang menggiring opini bahwa ketidakpastian ini karena ketidak tegasan kita dalam menyikapi sebuah pandangan.

Awalnya seperti yang kita tahu, covid-19 masuk indonesia pemerintah enggan mengantisipasinya. Sebelum semua tertular pemerintah masih terkesan acuh tak acuh. Bukan hanya pemerintahnya saja, warganya juga terkesan acuh. Malah ingin mempertahankan ekonomi. Mungkin masyarakat awam akan berbicara "lebih baik takut tidak makan daripada takut covid". Ungkapan ini tidak sepenuhnya salah, karena memang jika takut covid besar kemungkinan tidak ada beras yang ditanak hingga beberapa hari kedepan. Tapi hingga bulan maret, seakan pemerintah menekan rem darurat. Semua perjalanan dihentikan bahkan terkesan dilarang. Saya di Manokwari hampir beberapa bulan berdiam diri di rumah. Tidak ke masjid, tidak bepergian, jam sembilan malam toko sudah tutup. Mungkin hal ini yang dikhawatirkan masyarakat umum. Semua takut meninggal karena covid hingga pemerintah lupa jika tidak makan masyarakat juga akan meninggal. Efek berantai hingga kasus kriminal meningkat pun terjadi. Hingga akhirnya beberapa bulan berlalu muncul untuk melakukan aktifitas secara new normal. Nah ini yang saya bilang plin-plan. Ujung-ujungnya masyarakat dihadapkan dengan ketidakpastian. Bagaimana bisa pasti jika lockdown dinormalkan kembali bukan karena virusnya hilang, tapi karena desakan ekonomi. Dari penyebab diberlakukan dan dicabutnya saja sudah sangat berbeda. Pembatasan sosial diberlakukan karena virus, namun dicabut karena ekonomi. Ketidaktegasan ini yang menggiring kita perlahan menuju ketidakpastian. Virusnya masih sama, tapi waktu maret ada yang menikah pemilik acara dimarahi polisi. Lain halnya dengan akhir-akhir ini jika memiliki acara, yang penting membubuhkan kalimat protokol kesehatan.

Jika agak mundur ke belakang, kita sebetulnya sudah berdamai dengan ketidakpastian. Dari dahulu kita ingin memiliki pegawai di semua sektor yang tidak membolos. Tapi kita dipaksa membolos untuk mengurus dokumen kependudukan. Tak cukup KTP dan KK saja yang harus diurus dengan membolos kerja. SIM juga harus diurus dengan membolos. Ketidaktegasan atas tujuan agar tidak membolos sangat bisa dipertanyakan di sini. Tidak ada sistem yang saling mendukung untuk tujuan tidak membolos.

Inti dari semuanya ini adalah bukan pemerintah atau masyarakat yang hari ini saja yang salah. Tapi kultur kita selama ini yang tidak enakan saat adanya sebuah pelanggaran, hingga lantas mentolelir sebuah pelanggaran tersebut yang dapat merusak jalannya logika berpikir. Hingga kita dapat memberikan toleransi terhadap terlaksananya pemilu tapi mengutuk habis-habisan acara pernikahan. Virusnya sama, penyebabnya sama, tapi malah antisipasinya sama sekali berbeda.

Thursday, 26 November 2020

Impianku: Mimpi Menjadi Pemimpin


pertumbuhan vs pemerataan
Sumber gambar: mnews.co.id (atas) dan javafx.news (bawah)


Menjelang musim pemilihan kepala daerah ini, saya jadi ingin berkhayal jika saya menjadi pemimpin. Karena lama-lama capek juga jika terus menerus mengkritik pemimpin. Yang pastinya masih ada kekurangan dan ketidak cocokan di sana-sini, namanya juga pemimpinnya masih manusia. Kekurangan adalah keniscayaan bagi setiap manusia.

Kembali lagi ke khayalan saya, jika saya menjadi pemimpin indonesia pasti akan saya lakukan sebaik dan sebisa mungkin. Mulai dari tahap kampanye pasti sudah saya pikirkan baik-baik. Setiap hal yang saya janjikan pasti akan saya lakukan dengan jangka waktu yang sudah terencana dengan matang. Tentunya organisasi pemerintahan yang saya bawahi tidak akan mampu melaksanakan sekaligus, maka dari itu saya buat timeline pertahun. Dengan masterplan merubah kehidupan masyarakat dengan merubah pola pandang terhadap kemakmuran.

Seperti yang sudah kita ketahui, saat ini kita fokus kepada pembangunan ekonomi. Setiap tahun hasil survei yang dipublikasikan di televisi, sosial media, maupun di baliho pemerintah adalah pertumbuhan ekonomi. Sedangkan metode penghitungan pertumbuhan tersebut hanya menghitung jumlah akumulasi pertambahan kekayaan warga negara. Jika diteruskan hal ini akan menjadikan yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Karena tujuan pembangunan negara hanya kepada pertumbuhannya saja. Sedangkan pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan menjadi cita-cita bangsa yang gagal menjadi fokus pembangunan.

Solusi yang saya usung adalah merubah mindset tersebut menjadi keadilan ekonomi. Membuat inovasi program yang dapat memangkas gap antara si kaya dan si miskin. Tentu warga negara yang miskin akan diuntungkan sedangkan yang kaya akan dirugikan. Tapi prinsip ini dapat memberikan dampak kesetaraan ekonomi. Secara elektabilitas tentu akan turun juga, apalagi pemilik modal juga akan lari. Tapi secara ikatan antar warga negara pasti akan lebih erat. Unsur gotong royong akan lebih mantap sehingga pemikiran ekonomi yang awalnya ingin meraup keuntungan sebanyaknya akan bergeser menjadi meratakan ekonomi selayaknya.

Dari perubahan mindset tersebut akan ada orang kaya yang tidak semena-mena karena memang saling memikirkan warga negara lainnya. Keberagaman pun tetap terjaga, tanpa menggeneralisir pekerjaan ataupun cara mencari penghidupan tiap-tiap orang. Sehingga masyarakat dengan cara menyikapi hidup yang sama sekali berbeda seperti masyarakat adat contohnya tidak akan terganggu haknya.

Seperti yang sudah saya paparkan di atas, sebetulnya akar masalah carut marutnya hanya tentang mindset arah pembangunan. Sehingga menjadi efek beruntun bagi berbagai sektor. Mulai dari penghidupan masyarakat hingga perubahan iklim yang terdampak dari menominalkan tiap batang pohon. Semua dinilai dengan uang karena memang tujuan akhirnya bukan memangkas gap, tapi menaikkan pertumbuhan ekonomi. Kembali lagi kepada cita-cita saya yang menumbuhkan kembali sifat gotong royong tadi, si kaya tentunya akan dengan senang hati mengalah jika sifat gotong royong tadi sudah terjalin erat. Saling tolong menolong antar warga negara sudah menjadi hal lumrah.

Untuk mengubah ini semua tentu butuh peran generasi muda yang cekatan sekaligus visioner dalam mengubah mindset. Ibarat kata dalam sebuah otak, pola pikir menumbuhkan ekonomi ini baru saja bersemayam di dalam generasi muda. Sehingga sangat mudah untuk "mencuci otak" mereka dengan pola pikir baru. Sehingga saat kepemimpinan saya pola pikir tersebut sudah tertanam di dalam calon pemimpin yang tak dapat dipungkiri 20 tahun yang akan datang sudah menjadi rezim baru.

Selanjutnya tinggal menyirami saja dan menumpas gulma yang mengganggu pertumbuhan pola pikir tersebut. Jika sudah begini memang hambatan terbesar adalah pertumbuhan ekonomi yang melambat dan negara lain akan prihatin. Tapi dalam jangka panjang akan ada hutan yang lestari karena diambil secukupnya, masyarakat adat yang saling subsidi pengetahuan dengan masyarakat perkotaan, dan tidak adanya saling koreksi mengenai cara mencari penghidupan yang di masa kini lumrah terlihat dengan mata kepala kita.

Sekian impian yang akan saya wujudkan jika saya menjadi pemimpin. Mungkin ide hanya menjadi gagasan. Tapi semoga semangat ini dapat tersalurkan. Siapa tau para pembaca merupakan calon pemimpin negeri ini di masa depan.

Monday, 19 October 2020

Diklat Prajab Saat Pandemi


Ilustrasi Diklat Prajabaran CPNS


16 hari kerja saya melalui asam pahit diklat daring dengan laptop yang menyala hampir sekitar 8 jam sehari. Lumayan capek mata untuk yang tidak biasa melihat tayangan layar selama hampir 8 jam berturut-turut. Untungnya saya ada di papua sedangkan peserta dan Widyaiswara berada di jawa dan sumatera. Jadi saya memulai diklat pukul 10.00 WIT, Namun mulai lebih awal tidak serta merta akan mengakhiri dengan jam normal kerja. Karena patokan waktunya mengikuti WIB sehingga kita selesai juga mengikuti WIB bahkan bisa lebih. Biasanya saya selesai melakukan diklat pukul 19.00 WIT.

Selain perbedaan jam yang cukup membuat tulang saya ngilu karena sering mandi malam hari, diklat daring ini juga dapat dikatakan tidak lebih mudah dari diklat luring. Sama sekali tidak sama dengan mahasiswa yang bisa hadir kuliah dengan mematikan kamera lalu ditinggal begitu saja. Aturan diklat daring harus menyalakan kamera dan berpakaian hitam putih selama terlaksananya diklat. Terbayang bagaimana gerahnya memakai pakaian hitam putih berdasi hingga 8 jam lamanya. Memang tidak setegang diklat luring, tapi tetap saja feel baju yang sudah dipakai selama 8 jam lebih ini akan terasa saat sore menjelang. Didukung dengan lesu lunglai dan muka yang mulai mengkilap biasa menghiasi laman platform Zoom saat sore hari. Kondisi baju? Jelas sudah tidak lagi rapi, menandai pelajaran hari itu sudah akan usai.

Diklat daring biasanya akan diawali dengan pembentukan grup WhatsApp. Grup ini berisi seluruh peserta satu angkatan dan juga panitia. Fungsi grup ini tentu saja menjadi oase informasi yang senantiasa membanjiri peserta diklat saat kebingungan. Semua informasi bersumber dari grup ini. Mulai dari link Zoom, mekanisme diklat, hingga paket yang dikirimkan untuk menjadi seragam peserta. Semua interaksi bersumber dari grup sakti ini. Terasa sakti karena memang grup ini yang memberikan segala informasi tentang perdiklatan dan tentunya komunikasi grup ini dua arah. Tidak hanya panitia yang memberikan informasi lantas selesai, namun juga peserta yang terbiasa kebingungan dan merasa takut tersesat dapat menanyakan kerisauan hatinya di grup tersebut.

Selain memberikan informasi, grup ini juga bisa menjadi wadah silaturahmi sembari konsultasi tentang tugas. Berbicara tentang tugas, kita saat diklat daring setiap hari pasti ada tugas. Entah tugas kelompok atau tugas individu, yang jelas tiada hari tanpa adanya tugas jurnal pembelajaran. Jurnal pembelajaran ini dimaksudkan untuk melakukan penelaahan kembali pelajaran yang sudah diperoleh peserta. Sekaligus menilai pandangan peserta terkait cara mengimplementasikan materi yang sudah pernah diperoleh. Jika di ppsdm kementerian esdm tugas ini diberikan dan dikumpulkan melalui Smile. Smile ini merupakan platform pembelajaran online bak website Ruang Guru. Jadi semua materi dan modul sudah ada dikanal tersebut, peserta tinggal membuka dan mempelajari bahan materi yang disediakan. Dan sesekali mengumpulkan tugas, jika memang ada tugas di slot target harian peserta.

Uniknya Smile ini baru terbuka tugas hari berikutnya ketika peserta mengisi evaluasi terhadap WidyaIswara. Jadi tidak bisa langsung dikerjakan selama sehari untuk satu tugas yang diberikan. Karena biasanya evaluasi baru bisa dikerjakan saat kelas Zoom sudah terlaksana. Selain itu beberapa tugas di Smile diberikan tenggat waktu pengerjaan. Tenggat ini diberikan sekitar 3-5 hari. Untuk menyelesaikan tugas yang diminta. Saya biasa mengerjakan hari itu juga, karena saya merasa ini seperti permainan GTA yang setiap harinya kita dibebankan misi untuk menambah level pencapaian. Dan juga karena adanya misi mengerjakan jurnal pembelajaran tersebut, saya yang sudah lama tidak menulis dipaksa kembali untuk menulis dan ber-omong coro di setiap tugas.

Yang paling menegangkan adalah presentasi rancangan aktualisasi, jadi konsepnya diklat prajab ini adalah penanaman nilai-nilai tertentu dan peserta dapat mengaplikasikannya di instansi tempat bekerja. Peserta akan mendapat materi daring selama 16 hari kerja dan selanjutnya mengaplikasikannya selama 30 hari kerja. Nah sebelum 30 hari kerja di instansi tempat peserta bekerja, peserta diklat disuruh membuat rancangan aktualisasi. Jangka waktu pembuatannya cukup ekstrim, yaitu 3-5 hari. Selama beberapa hari tersebut, peserta dipaksa menemukan masalah yang ada di tempat bekerja dan membuat kegiatan guna menyelesaikan masalah yang ada. Selain memikirkan, peserta diklat juga dipaksa untuk mencurahkannya dalam kata-kata. Curahan rancangan pemecahan masalah tersebut yang dikatakan rancangan aktualisasi. Kemudian rancangan ini pada hari terakhir dipresentasikan kepada coach, mentor, serta penguji.

Sangat mirip dengan diklat luring, hanya ini sedikit menyedot kuota internet dan lebih mengandalkan sinyal internet pula. Untuk momen baris dan bela negaranya? SAMA. Hanya kita tidak dipaksa baris di bawah sengatan terik mentari. Karena kita harus menatap layar laptop dan sangat tidak memungkinkan jika berbaris dibawah terik mentari. Karena monitor komputer akan kalah terik dengan mentari. Hanya perbedaannya jika saat momen bela negara kita akan dipandu oleh tentara dan diawali dengan senam. Seperti yang saya bilang di awal, saat saya di papua mereka memulai dengan jam jawa. Sehingga saya harus bersenam saat jam 10, lebih mirip pelajaran olahraga SMA saat jam siang. Namun untungnya selama tiga hari mendapat pelajaran belanegara, kami diwajibkan pakai kaos putih dan celana training hitam. Jadi tidak perlu memakai baju hitam putih dan berdasi. Jadi badan lebih enak dan tidak kaku.

Mungkin segini aja dulu ya, saya harap ini bisa menjadi sedikit gambaran diklat daring di masa pandemi ini. Stay save, stay health, tetap terapkan protokol kesehatan agar segera pulih.

Wednesday, 26 August 2020

Kyai Kanjeng- Ngopi




C                                                     G
Isuk-isuk tangi turu pingin ngopi
F                            G             C
Ora lali mangan keju karo roti
            F                  C
Enak tenan, seger tenan
            Dm                      G
Wes biasa, karo rokokan

C                                                    G
luweh apik Omong-omong jagongan
                                            C
Lungguhe jigang karo guyonan
              F                        C
Wanci kerjo, budhal makaryo
                   F       G            C
Oleh hasil kanggo keluargo

C                                                G
Pi kopi kopi pancen seger tenan
                    F             G                C
Wayah isuk ngopi sinambi rokokan
C                                               G
Pi kopi kopi pancen seger tenan
                    F        G                    C
Nanging ojo nganti ninggal gawean

                 F                       C    
Ngono ora becik, ngono tidak baik
                        F         G                C
Nyambut gawe mbok yo seng apik