Coro merupakan bahasa jawa dari kecoak, omong coro bermakna omongan ngelantur tapi dapat dinyatakan jujur. Maka ketenangan serupa apa lagi yang dicari di dunia yang fana ini selain kejujuran. Tulisan berikut merupakan contoh dari omong coro.

Search This Blog

Translate

About Me

My photo
Hi, saya pungkas nurrohman yang mencoba dewasa dengan jalan-jalan

Friday, 5 March 2021

Resensi kami (bukan) jongos berdasi


Kami (bukan) jongos berdasi


Novel buatan JS. Khairen ini saya dapat saat berbelanja di gramedia. Tak dapat dipungkiri saya tertarik buku ini karena akun twitter penulisnya, yang kerap memadu padankan kata demi kata menjadi frasa yang unik dan juga judul novelnya yang cenderung ideologis. Saya sangat jarang tertarik dengan karya fiksi, mayoritas buku yang saya beli adalah non fiksi. Judul yang fantastik ini berhasil membujuk saya untuk membaca lebih dalam, apa yang terkandung dalam judul "Kami (bukan) Jongos Berdasi".

Dalam sampul belakang seorang J.S.Khairen meringkas novel dengan kalimat yang cukup menarik. Seakan isinya sangat penting, ia menulis semua profesi wajib untuk membaca buku ini. Hingga presiden korea ia wajibkan untuk membaca novel berbahasa indonesia ini. Di akhir kalimat promosinya ia menyebutkan bahwa ini adalah buku kedua dari serial novel "Kami (bukan) Sarjana Kertas". Masih dalam sampul belakang pula ia menyitir sedikit rangkuman tentang buku ini, yaitu alumni kampus UDEL yang sudah lulus, masuk ke dunia nyata yang penuh tikus, ada yang bertahan, ada yang sebentar lagi mampus.

Bagi saya yang belum membaca buku sebelumnya, tentu uraian di sampul belakang buku berwarna merah ini cukup membuat saya garuk-garuk kepala. Tapi semua kalimat yang mirip puisi dengan akhiran rima yang sama ini cukup menjawab.

Jadi dalam buku ini menceritakan sekelompok alumnus kampus UDEL yang sedang berjuang menentukan jalan hidup. Mungkin anak sekarang lebih familiar dengan kalimat quarter life. Sebetulnya tidak semuanya alumnus, ada seorang mantan dosen mereka juga yang kerap terungkap pelan-pelan kehidupannya di tiap bab yang tersaji dalam novel ini.

Sekelompok fresh graduate dan satu mantan dosen tersebut berasal dari berbagai latar belakang yang pasti kita temui di dalam kehidupan nyata. Ada Sania seorang pegawai sok kekinian yang kerap terjerembab dengan ingar bingar dunia kerja. Ada Juwisa yang tipikal akademisi dan pengejar beasiswa S2. Ada Gala seorang putra pengusaha kaya raya yang ingin berkontribusi untuk bangsa dan negara. Ada Randi yang menjadi wartawan dan menggantung cita-citanya untuk menjadi news anchor. Arko seorang pecinta fotografi yang menjalankan mimpi bertualang keluar negeri, meskipun kuliahnya juga belum rampung. Sogi yang kuliahnya tidak rampung, tapi kini berjuang di perusahaan teknologi luar negeri. Dan Lira seorang ibu dosen yang kerap membuat saya tertegun dengan kesimpulan yang ia buat.

Novel ini perlahan-lahan dapat membuat saya dipaksa melihat sebuah peristiwa dari sudut pandang ketujuh karakter yang diusung. Seperti halnya sebuah kehidupan, sangat kurang bijak rasanya jika melihat peristiwa dalam kehidupan ini hanya dari satu sudut pandang. Mungkin trilogi novel JS. Khairen ini memang dia bikin begitu. Namun skup pesan moralnya saja yang berbeda. Sama sekali tidak ada peristiwa yang tidak familiar dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin banyak kejadian kebetulan saja yang membuat karya ini disebut fiksi. Kalau tidak ada kebetulan mungkin plotnya tidak akan berjalan dan tersambung.

Baru kali ini saya dapat menyelesaikan membaca buku dalam dua minggu. Biasanya saya menyelesaikan membaca buku lebih dari satu bulan. Yang saya suka dari novel ini selain tidak hanya berfokus pada satu tokoh adalah chapter per chapter-nya berhasil membuat penasaran. Jadi keterusan membaca dengan balutan frasa yang berima tiba-tiba selesai saja. Jika boleh memadankan, membaca buku ini rasanya sama persis dengan membaca line akun sajak. Pemilihan kalimatnya tepat mulai halaman satu hingga empat ratus.

Kesalahan ketik memang ada beberapa, tapi ini tidak merusak cita rasa novel ini yang relate dengan kehidupan nyata dan enak dibaca. Jika ditanya apakah saya ketagihan membaca trilogi ini? saya dapat katakan tidak. Karena saya kurang penasaran dengan buku sebelumnya, pun juga dengan buku selanjutnya yang berjudul "Kami (bukan) Generasi Bacot". Tapi saya tetap penasaran dengan jawaban dari pertanyaan "J.S.Khairen mau bikin novel apalagi?".

Thursday, 25 February 2021

Mengomentari Berita


 

hari libur

Kemarin saya barusan mendengar berita bahwa ada sebuah desa yang memborong mobil, muncul pula berita lagi-lagi sebuah desa warganya memborong motor. Fenomena aneh ini sempat menyeruak di sosial media, pun juga dengan berita online yang judulnya pasti bombastis dan sepanjang judul tugas akhir anak kuliah. Unik nan menarik tentunya, di masa serba susah ini mereka bisa membeli kendaraan roda dua maupun roda empat. Tentunya jika kementerian keuangan mau meng-klaim secara sepihak, bahwa ini cerminan keberhasilan penurunan pajak pertambahan nilai barang mewah sangat sah. Tapi ini tidak dilakukan instansi tersebut.

Alasannya memang bukan karena hal itu, tapi karena adanya pembelian lahan sebuah desa oleh BUMN, mungkin untuk tujuan ekspansi usaha. Tapi uniknya uang hasil pembelian tersebut tidak dibelikan rumah lagi, tapi digunakan untuk alasan hedon. Sangat mengagumkan memang tradisi kebudayaan kita. Ditengah masa yang sulit ini, mereka sengaja membelanjakan kendaraan untuk alasan pemulihan ekonomi nasional yang selama ini digadang-gadang oleh pemerintah. Tanpa diminta pun mereka bergotong royong mewujudkannya.

Selain berita konvoi mobil dan motor baru tersebut, seminggu ini juga beredar liburan kita dipotong lagi. Cuti bersama yang semula ada beberapa hari kini dipotong menjadi hanya dua hari. Mungkin ini untuk mengurangi arus pergerakan liburan yang biasa dilakukan oleh pegawai negeri ataupun swasta. Jika liburannya dipotong maka tentu saja pergerakan untuk berlibur ataupun bersantai akan berkurang. Menjadikan para pegawai lebih produktif dalam menjalankan hidup. Adapun jika pembaca iri dengan kehidupan selebriti ataupun para bos besar yang bisa jalan-jalan kesana kemari, masih ada opsi untuk membolos kerja. Toh pemerintah juga memang menghendaki hal itu, asal patuh dengan protokol kesehatan.

Berbicara tentang protokol kesehatan juga baru-baru ini presiden berkunjung ke NTT dan berkumpul dengan warganya. Seakan warga NTT berkerumun hanya untuk melihat raja yang sedang melakukan inspeksi mendadak ke daerah. Tentunya para warga antusias dalam menyambut RI 1 tersebut. Para warganet yang melihat hal itu pun secara serampangan membandingkan dengan imam besar FPI Habib Riziek Syihab. Tentu sangatlah berbeda, karena saat itu imam besar FPI dari luar negeri sedangkan Jokowi dari dalam negeri. Kemungkinan menularkan penyakitnya jelas beda, meskipun sama-sama sudah di tes untuk dapat melakukan penerbangan. Tapi yang penting presiden itu beda.

Beda Joko Widodo beda pula Joko Chandra. Sama-sama jokonya kini nasibnya beda. Joko Widodo sudah duduk di istana, lalu Joko Chandra kini duduk sebagai pesakitan karena korupsi. Berbicara tentang korupsi memang menjadi pelik ketika KPK juga bertindak lucu. Seakan ingin meladeni asas keadilan KPK memberikan vaksin covid-19 kepada para tahanan korupsi. Saya rasa ini memang trik paling jitu dalam menjalankan hukuman korupsi. Mungkin para warganet tidak menyadari hal ini.

Ada sebuah pendapat yang menyatakan hukuman mati lebih ringan daripada hukuman seumur hidup. Karena durasi hukuman mati dirasa lebih singkat. Sehingga sakitnya dirasa lebih singkat dari pada hukuman seumur hidup. Mungkin ini yang menjadikan KPK memilih untuk memfasilitasi para nara pidana korupsi. Agar mereka lebih awet hidup dan menjalani hukuman. Bagi kita yang dirugikan oleh koruptor sama sekali tidak wajib menjalani hukuman, dan lebih baik memang tidak mendapat prioritas dalam vaksinasi. Kan kita tidak sedang dihukum. Akhir kata memang sakit lebih lama itu hukuman yang paling setimpal, dari pada mati lebih cepat. Maka dari itu bersyukurlah bagi yang sampai membaca artikel ini belum mendapat jatah vaksin.

Friday, 19 February 2021

Sampai Lupa Jumat


 Seminggu ini tak hanya penghematan yang saya lakukan, tapi juga kesibukan yang tidak henti-hentinya. Genap satu minggu ini emosi diajak naik turun memacu adrenalin. Sampai pada ujungnya saya lupa setor tulisan di sini, alasannya memang terkesan mengada-ada tapi ini nyata, saya lupa kalau hari ini hari jumat. Baru tersadar kalau ini hari jumat tepat setengah jam sebelum sholat jumat dimulai. Memang sedikit ugal-ugalan.

Seminggu ini kesibukan saya sebetulnya karena awalnya nganggur saja, lantas nekat ikut kompetisi di wikidata, untuk mencatat data demi data terkait kuliner khas indonesia. Kompetisi ini berlangsung mulai hari minggu kemarin hingga hari rabu. Pas hari rabu admin wikimedia mengumumkan di telegram, bahwa diperpanjang hingga minggu besok. Kompetisi pun semakin panjang dan saya yang tidak terbiasa mengerjakan banyak pekerjaan sekaligus otomatis bingung. Berujung ambyar sekaligus buyar. Tapi untuk kesibukan wikidata ini alhamdulilahnya masih rutin melakukan kontribusi setiap hari.

Kesibukan kedua, jelas nyusun laporan keuangan tahunan belum diaudit. Kerjaan yang hanya pengulangan tahun ke tahun ini sebetulnya mudah, jika yang diulang adalah hal yang sama. Nah masalahnya ini saya mencoba aplikasi penyusun laporan keuangan yang baru. Aplikasinya dari excel yang dibuat kementerian keuangan, memang tidak ada kewajiban untuk menyusun dengan aplikasi itu. Tapi jika tidak belajar sejak dini, nanti tiba-tiba kalau ada kewajiban untuk menyusun takutnya kaget dan gak siap. Maka dari itu saya memilih perlahan learning by doing. Tapi tenggat waktu tentunya tidak akan mau memahami.

Apalagi Jakarta, tetap ada sedikit kekesalan dengan orang ibukota. Terhitung per tulisan ini saya buat, pukul 23.00, sudah ada puluhan telepon masuk dan chat berisi tagihan pekerjaan yang dibungkus dengan kalimat sopan tapi menekan. Padahal pekerjaan ini juga bukan tanggung jawab saya, masih ada sub koordinator yang jarang masuk kantor dan pegawai yang siang tadi saya lihat juga sudah mulai mengerjakan lampiran yang diminta. Selalu ada kekesalan tertumpuk memang saat menyusun laporan akhir tahun, mungkin kekesalan ini seperti tahun lalu, yang akan selesai saat audit BPK terlaksana.

Kesibukan ketiga ini bersifat insidentil, tiba-tiba kemarin ditelepon oleh mas Angling seorang dosen teknik dan kebetulan rumahnya juga satu komplek dengan saya. Beliau meminta tolong untuk menyusun sebuah rincian kerja khas pemerintah daerah. Hari rabu saya ditelepon disuruh menemuinya di fakultas. Saya kira hanya seperti sebelumnya, yang diminta untuk memberikan paparan terkait pajak. Ternyata perkiraan saya meleset jauh. Beliau meminta tolong untuk memasukkan anggaran ke format rencana kerja anggaran pemerintah daerah. Karena ada sedikit kecurigaan (yang terlalu vulgar untuk dijelaskan) saya hanya mengerjakan untuk satu proyek saja. Selanjutnya hari kamis kemarin saya menolak untuk mengerjakan pekerjaan selanjutnya.

Jika dipikir-pikir ternyata pekerjaan pns ini lebih kearah menguras emosi daripada menguras tenaga. Dan juga saya bersyukur menolak pekerjaan yang ketiga. Jika pekerjaan ketiga saya ambil juga kira-kira malah lebih semrawut lagi. Kadar stres semakin naik seperti elektabilitas partai.

Ternyata tidak mudah untuk menulis secara rutin, meskipun seminggu sekali. Baru saya mulai awal 2021 sebagai bagian dari perubahan hidup. Eh malah hampir tidak setor untuk minggu ini. Ya semoga tetap bisa setor seminggu sekali lah, itung-itung sebagai diary saya setelah kesibukan seminggu. Akhir kata saya salut sama pak dahlan iskan yang sukses menulis setiap hari satu artikel di disway. Mengabarkan apa yang terjadi di dunia dengan sudut pandang beliau, tapi juga sesekali menceritakan diary beliau saat tulisan tersebut dibuat.

Friday, 12 February 2021

Sekali-kali Miskin


Satu minggu belakangan merupakan hari yang penuh penghematan bagi saya, ketika menyadari amunisi uang sudah mulai habis karena perencanaan yang meleset lumayan jauh. Jadi ceritanya saya sedang bangun rumah, taksiran biaya yang dikeluarkan adalah 25 juta. Memang itu adalah taksiran kasar, dalam benak saya terpikirkan teori pemulihan ekonomi nasional.



Jadi saya memiliki pemahaman di masa pandemi ini sebaiknya malah lebih konsumtif. Karena jika kita tetap menumpuk uang, ada orang disekitar kita yang memiliki kemampuan ekonomi yang bisa dikatakan di bawah kita, pasti akan terpukul mati-matian. Dampaknya tentu beruntun. Seperti yang saya sebutkan dalam tulisan kemarin, dampaknya bisa saja merugikan kita. Orang lapar pasti nekat dengan segala usahanya.

Nah berangkat dari pemahaman pendek inilah yang membuat saya tidak siap untuk melanjutkan hidup dengan lumrah, ditambah lagi dengan tidak adanya cadangan amunisi. Dalam ilmu perencanaan keuangan, kita mengenal dana darurat. Dana darurat ini semacam survival saving, idealnya harus disiapkan sebesar biaya hidup 3 bulan kedepan. Nah cadangan amunisi keuangan inilah yang harusnya ada, sehingga tidak sampai memakan mie instan setiap hari.

Mungkin terdengar berlebihan, tapi saya memang melakukan hal itu untuk seminggu kemarin hingga bulan depan. Karena ada penghasilan yang pencairannya tertunda, dan saya luput dalam menyiapkan kemungkinan terburuk ini. Cadangan uang saya hanya 1,5 juta untuk hidup selama satu bulan. Apa boleh buat, saya tidak mau mengulur waktu dalam berhemat, hingga uang yang saya miliki ludes. Saya harus sedikit menyegerakan hidup hemat. Mulai dengan mengkonsumsi mie instan, mengurangi penggunaan paket data, hingga memberhentikan sementara rutinitas berenang.

Hal ini karena saya salah fokus dalam mengimplementasikan ide (atau mungkin ideologi) pemulihan ekonomi nasional. Saya terlalu fokus untuk membangun rumah kontrakan hanya agar tukangnya ada kerjaan. Tanpa memikirkan efek terburuk bahkan untuk saya sendiri. Mungkin ini dapat mengganggu keberlanjutan implementasi ide, terlebih jika saya gagal dalam menjaga kewarasan.

Ternyata CPNS seperti saya tetap harus menjaga siklus kesehatan finansial. Karena memang secara keseluruhan penghasilan satu tahun bisa dibilang pasti. Tapi untuk penghasilan perbulan -seperti kasusnya bulan ini- tidak pasti. Banyak faktor yang mempengaruhi tertundanya penghasilan bulanan seorang abdi negara. Karena banyak pula yang berperan dalam berlangsungnya penghasilan tersebut.

Contoh pada kasus saya bulan ini tunjangan kinerja. Tunjangan kinerja bulan ini tertunda nggak karuan karena peralihan sistem. Yang awalnya sasaran kinerja pegawai diisi secara manual, kini diisi dengan cara online. Sasaran kinerja pegawai ini sebagai dasar penghitungan tunjangan. Jadi kalau dasar penghitungannya masih dalam tahap peralihan, otomatis tunjangannya akan tertunda. Apalagi ada kabar beredar kalau baru diproses jika seluruh pegawai sudah mengerjakan. Tahu kan mental pegawai negeri yang ngeri itu. Apalagi generasi tua, pegawai yang tidak tahu menahu cara penggunaan gawai.

Jadi dari sini dapat disimpulkan bahwa tidak selama ASN itu penghasilannya pasti. Seorang aparatur sipil negara memang dari segi pembayar sudah bisa dikatakan pasti, tapi dari sisi ketepatan waktu dapat dikatakan masih jauh dari kata pasti. Sangat berbeda dengan pihak swasta. Maka dari itu meskipun sudah menjadi abdi negara saya rasa wajib untuk memiliki dana darurat dan menerapkan perencanaan keuangan. Kecuali jika sanggup menanggung resiko untuk berhemat secara ekstrim seperti saya.

Thursday, 4 February 2021

Terulang Lagi: Tidak Sadis Tapi Miris


 

palang pasca demo unipa
Palang Setelah Demo adalah Kebiasaan Mahasiswa Unipa


Hari itu tepat setelah transferan gaji bulan februari 2021 masuk rekening, saya mulai aktifitas hari senin seperti biasa. Cuaca lumayan cerah beban kerja laporan akhir tahun pun terpampang jelas di mata. Bagaimana tidak terpampang jelas? Setiap hari diingatkan oleh orang pusat untuk segera melakukan rutinitas tahunan yaitu mengunggah data ke sistem. Dampak rentetan dari hasil koordinasi melalui aplikasi rapat daring dengan pihak Jakarta. Setelah dikoreksi sana-sini biasa kita diharapkan segera melakukan koreksi data. Tiga hari yang lalu kita memang melakukan rapat dengan pusat, koreksinya tidak terlalu banyak memang. Dikerjakan selama satu jam juga rasanya bisa selesai, tapi menunggu stock opname dahulu.

Selain tumpukan pekerjaan rutin di akhir tahun, pagi itu juga terpampang jelas luapan amarah yang akan meletup di dalam forum sosialisasi E-SKP. Agenda awal tidak berkantor seperti biasa memang, melainkan ikut menghadiri forum sosialisasi di auditorium. Hari sabtu saya merasakan keanehan, karena di dalam grup WhatsApp saya mendengar kalau pengisian E-SKP terakhir hari minggu pukul 23.59. Entah saat itu siapa informan yang menyebarkan informasi getir tersebut. Bagi saya yang temperamental, mendapat informasi deadline pengumpulan hari minggu tapi baru mendapat sosialisasi di hari senin rasanya ingin memuntahkan sumpah serapah kepada pihak yang bertanggung jawab.

Pagi itu memang suasana cerah tetapi diselimuti kekalutan emosi yang dapat dikatakan berlebihan. Ditambah lagi panitia baru datang setengah Sembilan untuk sebuah acara yang diagendakan pukul delapan. Dramatisir pagi itu tak cukup sampai disana, ruang auditorium yang tidak pernah saya hadiri itu terkesan kotor dan tidak terawat. Sehingga kotoran burung dikursi auditorium dan kardus makanan dari acara kemarin masih mengonggok seperti halnya pemeran antagonis yang ikut menyumbang luapan emosi.

Sebelum sampai auditorium yang menyedihkan itu saya melewati sekelompok mahasiswa yang sedang menyampaikan aspirasi. Hanya beberapa orang mahasiswa saja yang berdiri dan menyampaikan aspirasi di depan gerbang kampus sebagai tempat favorit mereka berteriak atas nama demokrasi. Mahasiswa ini menjadi obrolan menarik saat menunggu kehadiran panitia yang tak tahu diri itu.

Sekitar setengah sepuluh panitia datang dengan mengusung peralatan mic, sound, serta layar infocus. Alhasil acara dibuka juga, dengan terlambat dan bau tai burung yang beredar ke seisi ruangan. Mulailah dijelaskan pembuatan E-SKP yang diisukan terlambat dan sudah ditutup oleh pusat. Ditengah penjelasan ada seorang dari UPT Keamanan masuk Gedung menemui pak Kashudi selaku kepala biro. Setelah mengobrol singkat, kepala biro pun langsung naik panggung dan mempersilahkan anggota satpam tersebut berbicara di depan microfon.

Ini yang menjadi akhir dari kekalutan saat saya memanasi motor pagi tadi. Anggota satpam tersebut menghimbau untuk para hadirin keluar dari auditorium, karena keadaan sedang tidak baik-baik saja di dalam kampus. Mahasiswa yang demo tadi sudah merangsek masuk kampus dengan garang. Demi keamanan kami semua diminta untuk membubarkan diri dan pulang. Alhasil semua peserta bubar tanpa tau penjelasan apa yang akan disampaikan panitia. Pun juga dengan saya tidak dapat menyampaikan sumpah serapah saya yang sudah dipendam sejak pagi.

Saat perjalanan pulang pun, penagih pekerjaan dari Jakarta itu juga masih menanyakan bagaimana progress pekerjaan kami. Dengan alasan capaian kinerja dan lain-lain seakan kinerja kami diragukan oleh mereka. Mungkin kalimat story WhatsApp saya dapat mewakili kekalutan atas orang Jakarta. Dari dua kasus, penutupan E-SKP dan prosesi rutin tahunan yang kerap ditagih .

 

Selama Jakarta Tidak Memahami Papua

Selama Itu Juga Papua Berkinerja Jelek di Mata Mereka

 

Demo ini terulang lagi, memang tidak sesadis kemarin tapi lebih miris kali ini daripada kemarin. Target sana sini sudah siap menerkam, manajemen kampus yang plin-plan, ditambah adanya aksi pemalangan yang berarti harus ada berhari-hari lagi yang terbuang. Sekali lagi mungkin ini tidak terlalu tragis daripada demonstrasi kemarin. Tapi ini kentara sekali rasa yang miris. Ada log harian E-SKP yang harus dikarang dan lagi-lagi tagiahan rutin Jakarta yang tidak dapat terbendung lagi.


Friday, 29 January 2021

Jangan-Jangan Kita yang Salah


 Akhir-akhir ini hampir setiap bulan ada berita bencana dari seluruh penjuru negeri. Terlihat sangat ngeri, seakan-akan hari akhir sudah mendekat dengan cepat. Mulai dari pandemi corona yang belum juga usai, gempa di Mamuju, longsor di Sumedang, banjir di Banjarmasin hingga Paniai. Seperti biasanya, saat bencana sudah melanda kita saling menyalahkan. Mulai pemerintah hingga orang yang enggan beribadah turut kita salahkan.

Alasan tuduhan kesalahannya variatif sekali, mulai dari karena pemerintah yang memberikan banyak izin perusakan lingkungan hingga azab tuhan atas kita yang lalai. Hingga berduyun-duyun kita saling tunjuk menunjuk tanpa ada solusi. Jika kita berfikir dan merenung sejenak, apa hal ini benar? Saling menyalahkan dengan dalih mengantisipasi saat bencana sudah melanda merupakan kesalahan yang tidak berujung pada penyelesaian.

Saya malah ingin mengajak para pembaca mengevaluasi tanpa menyalahkan. Evaluasi diri sendiri merupakan opsi yang dirasa cukup cocok untuk menghindari menyalahkan pihak lain. Karena saling menyalahkan tidak akan mendapati solusi, malah akan memperkeruh suasana dengan mencari pembenaran atas pihak yang pernah disalahkan. Evaluasi dapat dilakukan dengan bertanya pada diri sendiri, "apa kita sudah mengantisipasi hal ini?". Mengantisipasi merupakan hal yang mudah tapi sulit dilakukan. Contohnya berdonasi pada proyek penghijauan. Ini adalah antisipasi paling mudah. Kita hanya menyisihkan sedikit uang untuk berdonasi. Tanpa perlu melakukan apapun juga. Terlihat mudah memang, tapi sangat sulit. Karena kita masih belum paham betul risikonya apa. Jadi untuk mengantisipasi sangat lah sulit. Pasti kita berpikiran daripada berdonasi untuk proyek hijau, lebih baik untuk berdonasi kepada kaum papa atau tempat ibadah. Saya tidak sepenuhnya menyalahkan para pembaca yang suka berdonasi seperti itu. Tapi jika kita tarik pada risikonya, apa kita siap jika tidak ada yang melihat proyek hijau sebagai sesuatu yang seksi? Sehingga sedikit sekali organisasi yang bergerak disana hanya karena faktor kekurangan dana.

Kalau saya sendiri tidak siap dengan hal ini. Karena jika tidak ada seorangpun yang tergerak ke arah sana, pasti bernafas pun akan susah. Karena hutan-hutan sudah dibabat habis. Tidak ada yang melakukan advokasi lingkungan. Pemerintah yang biasa kita jadikan kambing hitam pasti akan semakin sewenang-wenang. Lah kan tidak ada yang melakukan advokasi. Maka hal itu terasa lumrah. Jangka panjangnya kita bisa kehabisan nafas. Bisa sih bernafas, tapi agak tersengal-sengal karena kualitas udaranya yang buruk. Ini masih dalam hal mutualisme antara kita dan pohon. Belum lagi adanya efek cuaca yang sangat anomali. Waktunya hujan bisa terus-terusan lantas banjir.

Kita sudah sangat salah di depan filosofi tabur-tuai "siapa yang menabur, maka dia yang akan menuai". Kita tidak pernah menanam pohon sekalipun, tapi tetap bernafas. Kan itu berarti curang. Kita sudah mencurangi alam semesta. Seperti halnya kita punya sumur tapi hanya bisa menyedot saja, tanpa mau menyiram tanah/tanaman di sekitar sumur tersebut. Otomatis tiba-tiba sumur akan mengering tanah akan tandus di musim panas. Maka dari itu, kita jangan curang. Bisa-bisa di musim bencana ini merupakan hasil dari kecurangan kita. Sejenis kecurangan penambang batu bara yang taunya hanya mengeruk tanpa menutup timbunannya.

Thursday, 21 January 2021

Membangun Kedaulatan Ekonomi


Sumber: Sindonews.com


Kurang lebih sudah terhitung dua tahun saya tinggal di manokwari. Semakin hari saya semakin ragu dengan ketahanan ekonomi Papua. Keraguan tersebut tidak hanya omong kosong, saat pandemi ini terbukti. Semua hal yang digunakan di papua berasal dari pulau jawa. Musim pandemi membuat supply terganggu alhasil barang-barang naik harga. Seperti contoh misalnya beras, papua seluas ini hanya beberapa daerah saja yang memiliki sawah. Sisanya tidak memiliki sawah tapi terlanjur terbiasa makan beras. Jadi harus mengambil beras dari makassar atau jawa. Hal ini yang membuat papua semakin miskin, karena uangnya tetap berputar ke luar lagi. Industri di papua juga sangat jarang, khususnya di manokwari hanya ada pabrik semen.

Jika dirunut ini bisa jadi merupakan kesalah perilaku belanja. Tak dipungkiri memang harga barang di papua lebih mahal daripada jawa. Dan pendatang juga mayoritas membelanjakan uangnya langsung dari jawa. Hal ini yang menyebabkan pemerataan uang kurang merata. Memang harga barang dari luar papua lebih murah, tapi jika langsung membelanjakan uang di luar papua sedangkan kita mendapatkan uang dari papua pasti akan terjadi kekurang merataan keuangan. Alhasil adanya ketimpangan dalam sebuah wilayah.

Apalagi jika mendapat uang dari negara, seperti halnya saya yang pegawai negeri ini. Mendapat uang dari jawa, lantas dibelanjakan di jawa dan menjadi kaya. Pasti tetangga kanan kiri tidak merasakan aliran uangnya. Alhasil ada ketimpangan antara kita dan tetangga. Jika hal ini meruncing pasti akan ada banyak yang dikorbankan. Mulai dari silaturahmi hingga harta benda karena mereka pasti melihat kita sebagai tetangga yang pelit. Kemiskinan menjadi-jadi dan alhasil kriminalitas meningkat.

Namun lain halnya jika kita mau membelanjakan di tempat kita tinggal. Tanpa melihat gap harga yang memang dapat diirit. Demi menjaga kemakmuran dan juga mengantisipasi ketimpangan seperti yang sudah saya jelaskan di atas. Karena jika dilihat dampaknya pasti akan kemana-mana. Biaya yang ditimbulkan dari dampak tersebut bisa dikatakan lebih besar dari yang kita hemat jika membeli di daerah lain. Maka dari itu saya memilih untuk membeli barang di daerah dimana tempat saya tinggal saja. Meskipun ada selisih harga setidaknya saya sudah menghidupi ekosistem bisnis sekeliling saya.

Hal ini mirip dengan konsep belanja ke tetangga, bukan ke supermarket atau minimarket tapi ke tetangga. Karena dengan begitu kita sudah menolong bisnis sekitar rumah kita. Meskipun harganya sedikit mahal, tapi jika diniatkan untuk menolong pasti ada nilai lebih. Karena percaya atau tidak bahwa kita akan lebih dekat dengan tetangga yang menjual barang hanya dengan membeli kebutuhan rutin. Jangan ragu untuk menanyakan keperluan harian anda. Jika di tetangga dekat tidak ada barulah kita ke minimarket atau toserba yang lumayan jauh dari rumah. Selain mengeratkan silaturahim, hal ini bisa membuat kedaulatan kebutuhan di sekitar kita terpenuhi. Dan jika sewaktu-waktu terjadi lockdown dan supply chain terganggu, lingkungan kita masih bisa bertahan karena ada kebiasaan memenuhi stok secara profesional di segi penjual. Dan juga ada kebiasaan membeli di tetangga dalam hal pembeli. Alhasil terciptalah ekosistem ekonomi di sekitar kita