Coro merupakan bahasa jawa dari kecoak, omong coro bermakna omongan ngelantur tapi dapat dinyatakan jujur. Maka ketenangan serupa apa lagi yang dicari di dunia yang fana ini selain kejujuran. Tulisan berikut merupakan contoh dari omong coro.

Pencarian

Translate

About Me

My photo
Hi, saya pungkas nurrohman yang mencoba dewasa dengan jalan-jalan

Monday, 15 July 2019

Cara Promosi di Facebook


Cara jualan di facebook
Christmas vector created by ibrandify - www.freepik.com

Berpromosi di sosial media tentunya sangat mengasyikkan. Kita hanya mempromosikan dagangan dengan telepon genggam, sudah bisa menarik pembeli yang juga bermain sosial media. Tanpa terkena teriknya matahari dan juga tanpa terkena dinginnya hujan. Kita sudah dapat menginformasikan produk yang kita jual kepada para pemakai sosial media yang kian lama kian berkembang. Saat ini saya sedang melakukan promosi di Facebook. Sudah menjadi rahasia umum rasanya bila Facebook adalah sosial media sejuta umat.
Cara-cara beriklan di Facebook sebetulnya ada yang berbayar pun juga ada yang gratis. Bila anda memilih cara beriklan dengan gratis cukup kumpulkan saja niat anda untuk menyebar informasi tentang barang dagangan anda. Penyebaran informasi ini sebetulnya sama saja, hanya bila anda membayar akan lebih tepat sasaran dan juga terukur. Berikut beberapa cara untuk beriklan di Facebook.

Membuat Status

Jualan di status
Ilustrasi status
Untuk mempromosikan tulisan saya, acap kali saya hanya menyebar status. Tentunya ini cara beriklan yang sangat mudah dan murah. Kita hanya membuka beranda saja lalu menuliskan sesuatu. Sama seperti kita membuat status tentang lika-liku kehidupan kita. Bukannya sudah lumrah jika kita menuliskan segala sesuatu di status Facebook. Hanya status ini yang diganti dengan deskripsi barang yang kita jual. Jangan lupa juga untuk menyertakan foto dalam status anda.

Berbagi di Grup

Berjualan di grup
Ilustrasi berjualan di grup
Sudah tahu bukan ada berbagai grup yang kini bukan hanya membahas sesuatu saja, tapi juga ada grup khusus untuk berjualan. Seperti pasar online. Di dalam grup ini segala macam barang ditawarkan. Tentunya ada aturan tambahan bagi anda yang bergabung menjadi anggota grup. Setiap grup berbeda-beda.

Menjadi etika yang tidak tertulis untuk tidak berjualan di selain grup jual beli. Seperti menawarkan dagangan di dalam grup lowongan kerja. Nah etika ini yang sebaiknya anda jaga, istilah kerennya Out Of Topic (OOT). Anda tidak boleh OOT dan membabi buta untuk beriklan di manapun. Ujungnya dagangan anda tidak laku malah anda terkena pelanggaran komunitas Facebook.

Fanspage (Halaman)

Halaman fanspage
Tampilan Fanspage atau Halaman

Sampai saat ini saya masih belum mengetahui trik berjualan di Fanspage. Karena untuk membuat Fanspage di-like banyak orang itu butuh tenaga ekstra. Kita harus berjuang untuk menaikkan like dahulu sebelum memposting iklan. Karena like ini nantinya akan berbanding lurus dengan pengguna Facebook yang melihat iklan anda.
Namun herannya banyak yang sukses dari bermain fanspage ini. Mulai anda berjualan barang, jasa, hingga menjadi agensi iklan untuk produk lainnya. Hanya dengan memakai Fanspage saja bisa meraup keuntungan yang besar. Asalkan memiliki like yang sudah banyak.

Marketplace

Facebook marketplace
Cara Membuka Marketplace
Ini merupakan instrumen baru untuk para pedagang maupun pembeli. Namanya marketplace. Bagi anda yang belum mengetahuinya bisa melihat di menu (yang saya lingkari merah) lalu klik marketplace (yang saya beri kotak hijau). Di sini anda dapat melihat para penjual yang berada di daerah anda. Karena algoritmanya akan menayangkan penjual dengan lokasi terdekat dan teraktif.
Sepertinya saya cocok untuk berjualan di sini, meskipun saya belum pernah mengenal orang Manokwari saya bisa menjual barang di Manokwari. Selain saya memang mematok harga yang murah, saya juga menggunakan trik tertentu. Dari sekian instrumen gratisan yang disajikan Facebook dagangan saya banyak laku dari sini. Mungkin nanti saya akan buatkan tulisan khusus, cara menjual barang di facebook marketplace.

Facebook Adsense

Facebook adsense
Contoh Tampilan FB ads
Seperti halnya google ads. Anda akan dikenakan bayaran untuk mengiklankan dagangan anda di Facebook adsense. Seperti yang saya sampaikan di atas, kalau untuk beriklan dengan membayar ini anda akan mudah untuk menentukan siapa yang melihat iklan anda. Apalagi jika pesaing anda tidak beriklan melalui facebook ads. Maka sangat mudah sekali untuk mengambil pelanggan dari pesaing anda.
Penargetan yang dapat anda setting yaitu lokasi orang yang melihat iklan anda, umur orang yang melihat iklan anda, hingga jenis kelamin dan minat dari orang yang melihat iklan anda. Sehingga tidak membabi buta untuk menjual produk yang anda tawarkan. Mungkin untuk lebih detailnya saya akan membuat tulisan yang lebih panjang untuk ini.

Sekian kelima cara beriklan di Facebook. Dari kelima cara tersebut anda sudah tidak perlu untuk berkeringat keluar rumah untuk menawarkan barang dagangan anda. Cukup memikirkan konten untuk iklan anda dan kunci yang paling penting adalah jangan mudah menyerah. Bila menawarkan satu atau dua kali sudah patah arang, bagaimana barang anda mau laku.

Sunday, 14 July 2019

Kolam Renang di Manokwari


3 kolam renang untuk umum
Gambar ilustrasi
(Oleh: pixabay - pexels.com)

Berenang merupakan hal yang sangat mengasyikkan. Meskipun Manokwari terletak di dekat pantai, rasanya kurang enjoy bila berenang di laut lepas. Apalagi yang biasa berenang di air tawar, pasti mata akan sangat pedas bila berenang di air laut. Selain itu, warga sekitar Manokwari juga biasa berenang di laut, jadi sangat susah untuk menemukan bila bertanya ke mereka. Maka dari itu saya ingin menunjukkan beberapa tempat kolam renang di Manokwari.

Kolam Renang Hotel Aston

Kolam yang dimiliki hotel ini disewakan untuk umum juga. Beberapa orang lebih suka berenang di sini karena kolamnya lebih bersih dari pada kolam lainnya. Namun jaraknya yang dapat dikatakan jauh dari kota. Sekitar 14 kilometer dari kota, namun bila anda berangkat dari bandara kolam ini dapat dikatakan sangat dekat.
Memang untuk fasilitas kolam, di sini memang hanya berbentuk kolam renang saja. Tanpa perosotan pun juga tanpa fasilitas seperti layaknya di waterpark. Hanya seperti lumrahnya kolam renang hotel yang memiliki kedalaman sama. Jadi bila anda ingin berenang sebagai olah raga, saya menyarankan untuk memilih kolam renang yang memiliki tiket masuk 75.000 ini. Tiket masuk tidak dibayarkan melalui loket, tapi anda bisa membayarnya di resepsionis hotel.
Untuk tiket seharga 75.000 anda tidak berhak mendapat fasilitas lain selain tempat duduk dan kolam untuk berenang. Jadi semua perlengkapan seperti sabun mandi, handuk dan perlengkapan setelah berenang lainnya sebaiknya dibawa dari rumah. Sebaiknya juga membawa bekal untuk makan di pinggir kolam, karena bila membeli di resto hotel harganya sangat mahal.

Kolam Renang Bakaro

Bagi anda yang ingin berenang sekaligus dengan nuansa pantai, rasa-rasanya wajib ke sini. Mungkin dapat dikatakan konsep kolam ini adalah kolam renang keluarga, jadi ada bermacam kolam yang sesuai dengan segala usia. Mulai dari kolam balita, anak, hingga kolam untuk dewasa yang memiliki kedalam beragam.
Selain kedalamannya yang beragam, di kolam yang terletak di pantai Bakaro ini anda seakan mandi di pantai namun berair tawar. Deburan ombak pantai yang menghadap langsung ke samudera pasifik mengantarkan halusinasi anda berenang di pantai. Seperti yang saya tuliskan di artikel sebelumnya, bila anda beruntung dapat melihat ritual memberikan makan ikan di pantai Bakaro. Jadi sekaligus piknik keluarga, anda bisa memberikan pembelajaran kepada putra-putri tentang laut.
Untuk masuk ke kolam ini anda dikenakan tiket masuk seharga 20.000 rupiah. Sangat murah memang untuk kolam renang dengan pemandangan pantai ini. Seakan menyajikan kolam yang instagramable. Namun untuk faktor kebersihan sangatlah kurang, karena kolam ini hanya dibersihkan seminggu sekali pada hari sabtu. Sebelum memasuki peak season di hari minggu.

Citra Waterboom

Bila menginginkan bermain di kolam renang rasanya Citra Waterboom adalah satu-satunya solusi di Manokwari. Terletak sangat jauh, sekitar 18 kilometer dari Manokwari. Hal ini membuat Waterboom ini tidak worthed saat dikunjungi di hari kerja. Selain karena sepi, pengelolanya juga kurang profesional. Bila bukan hari libur, biasanya tutup karena memang sepi pengunjung.
Selain beberapa kekurangan tersebut rasanya di sini lah anda akan menemukan permainan air yang biasa ada di waterpark. Ada beberapa jenis perosotan air, mulai dari yang lurus maupun menikung. Ada juga gayung raksasa yang menjadi air terjun dadakan saat penuh. Rasanya memang sangat menyenangkan, terlebih lagi jika menikmatinya beramai-ramai dengan keluarga.
Namun kualitas air kolamnya dapat dikatakan sangatlah rendah. Dibanding kedua kolam yang sudah saya sebutkan di atas. Namun tetap patut dicoba bila anda mengidamkan taman wisata air.

Dari ketiga kolam renang di Manokwari tersebut, sebenarnya masih ada satu kolam renang yang belum saya ulas. Karena lokasinya yang sangat jauh (45 km dari kota manokwari), pun juga saya sangat minim data. Sehingga saya sengaja tidak ulas kolam renang yang terletak di SP tersebut.
Usai sudah pembahasan saya tentang kolam renang di Manokwari. Semoga bermanfaat bagu anda yang berkunjung ke Manokwari. Bila ada informasi yang masih belum di ulas dapat bertanya di kolom komentar. Saya akan menulisnya untuk anda ataupun pengunjung lainnya. Sampai jumpa di artikel selanjutnya.

Saturday, 13 July 2019

Setitik Nila yang Hampir Rusak (4)


Ini cerita lanjutan dari cerita ini
Nila hampir rusak
Sumber: https://twitter.com/bemb_beng

Seakan ada yang mengganjal pikiran. Seusai tamu pulang, bapak kembali merenung dan menimbang nasib putri sulungnya. Beliau memikir baik buruknya keputusan menyanggupi nikah yang hanya sah menurut hukum agama. Seakan tak sanggup untuk memikirkannya sendiri, bapak memanggil ibu yang saat itu sedang membuat opor untuk menu makan malam.
Tak seperti layaknya seorang ibu kebanyakan, yang memiliki pikiran lembut dan seakan mempersilahkan anaknya memilih jalan hidup. Saat diajak diskusi ibu malah terkesan mengekang Nila. Entah ibu memiliki pola pikir tersebut karena ada perasaan yang tak nyaman seperti bapak atau malah termakan pandangan progresif yang tak jarang beliau terima di grup WhatsApp PKK.
Ibu memiliki pandangan bahwa wanita selayaknya diperlakukan sebagai makhluk yang mulia. Tidak semata di mata agama saja, namun di mata hukum yang sah di negara. Perempuan paruh baya tersebut memang bukan lulusan pondok pesantren atau bergelar sarjana. Hanya ibu rumah tangga lulusan SMP saja. Tapi jika dipikir-pikir memang benar opininya.
Seakan menemukan koalisi dalam memperkuat pendapatnya, bapak kini sudah mantap untuk menolak Nila menikah secara siri. Meskipun dalam hukum agama diperbolehkan, namun seperti yang ibu katakan, nikah tanpa sepengetahuan KUA sangat lemah di mata hukum negara. Tak hanya itu, bila sewaktu-waktu melahirkan, maka anak Nila seakan menjadi anak tanpa ayah.
Saat makan malam pun pendapat itu bapak utarakan kepada Nila. Seakan bermain Uno Stacko, bapak menata tutur katanya agar hati anak sulungnya tidak goyah dan kemudian roboh atau bahkan pecah. Namun apa bisa dikata, sepandai apapun bapak mengucapkannya, keputusan pahit adalah keputusan pahit. Nila seakan dicekoki untuk menelan keputusan itu bulat-bulat tanpa ada tapi.
***
Sudah lebih dari satu minggu semenjak bapak menyatakan tidak boleh kawin siri dengan habib, Nila jarang keluar kamar. Hari-harinya dihabiskan untuk menangis di dalam kamar, sesekali keluar untuk sekedar makan dan minum. Tapi tidak seperti biasanya yang setiap makan pasti bersama bapak, ibu, dan Lina.
Sejurus dengan Nila, Habib Turmudzi pun juga menghilang bak ditelan bumi. Memang saat itu Habib tidak diberikan kabar secara langsung atas ketidaksetujuan bapak, melainkan bapak menyuruh Nila mengabarkan berita tersebut.
Seakan terkurung dengan kemurungan yang tak berkesudahan, Nila berusaha untuk menerima takdir namun tak kuasa ada bulir air mata yang mengalir.
Seakan mengurai air mata yang tidak pernah keluar semenjak bertahun-tahun lalu, saat Hendri memilih untuk meninggalkannya. Namun saat itu dia hanya menangis tiga hari saja. Sangat berbeda dengan uraian bulir bak mutiara yang saat ini. Dulu hanya cinta monyet yang tak dinaungi niat untuk memadu kasih di dalam bahtera rumah tangga. Dulu hanya menangis dan masih berkabar dengan kawan-kawannya, meskipun hanya melalui update status via media sosial.
Kini jangankan membuka media sosial, hp saja terakhir ia pegang saat menelpon habib untuk mengabarkan keputusan Bapak. Mungkin bekas air mata yang menempel di layar 4 inch tersebut masih ada. Barang yang semula menjadi corong dakwah bagi dia, kini hanya seperti barang rongsokan tak terpakai yang tergeletak di sudut kamar.
***
Bapak mulai khawatir akan nasib anak sulungnya yang dari kemarin hanya menangis saja. Meskipun sangat mustahil untuk menyakiti diri sendiri, aksi bungkam Nila perlahan tetap membuat sang ayah khawatir. Gamang bercampur merasa bersalah membuat beliau sangat ingin merevisi keputusan yang sudah beliau keluarkan. Meskipun terkesan menjilat ludah sendiri, tapi apa mau dikata bila itu adalah jalan terbaik.
Sama dengan Bapak, Ibu juga mulai merasa keputusannya yang berlandaskan share info dari grup WhatsApp PKK tersebut adalah salah. Padahal Nila sudah memberikan dasar hukum yang sangat sesuai agama, namun Ibu malah tak menggubrisnya dan berkelok ke pendapat yang tak jelas alur informasinya. Seakan menyalahkan informasi yang datang dari antah berantah, ibu mulai memikirkan untuk merevisi pendapatnya.
Naluri sebagai orang tua rasanya sudah meluluh lantakkan objektivitas dalam menentukan nasib Nila. Kerangka berpikir yang beberapa hari mereka bangun, kini sudah dirobohkan sendiri. Bapak dan Ibu seakan siap untuk menerima pernikahan Nila dengan Habib secara siri. Nila pun dipanggil dari kamarnya. Untuk memberikan berbagai revisi keputusan.
Bak tuntutan demonstan yang dikabulkan, Nila girang tak karuan. Ruang tamu yang sebelumnya diliputi ketegangan kini berganti dengan kebahagiaan. Aliran kebahagiaan itu tak berhenti sampai disana, bergegas Nila menuju kamarnya dan menyalakan telepon genggamnya. Setelah menunggu berbagai aliran informasi yang masuk, karena beberapa hari ia tidak menyalakan hpnya. Setelah 5 menit menunggu, ia tidak menghubungi siapa-siapa melainkan Habib Turmudzi.

Friday, 12 July 2019

Kelakuan Kaum Menengah Perkotaan


Infographic vector created by freepik 
Beberapa hari yang lalu muncul istilah SJW, yang memiliki kepanjangan Social Justice Warrior. Istilah ini disematkan kepada mereka yang selalu menyalahkan hal yang menurut orang kebanyakan tidak terlalu penting. Contohnya meminum air dengan sedotan, mengusir hewan (terlebih kucing dan anjing), dan hal-hal lain.
Kelakuan kaum menengah di perkotaan memang sangatlah aneh menurut saya. Bukan karena keinginannya yang dapat dipastikan sangat baik dan bermanfaat. Tapi caranya yang sok benar itu lho, sangat masa alah. Kemarin sempat ramai di Twitter, seorang kaum menengah perkotaan memberikan rating bintang tiga hanya karena pesan minum tidak dengan sedotan tapi dikirim lengkap dengan sedotan. Sangat rumpi dan rempong tentunya.
Sifat sok care dengan cara menyalahkan yang lain ini lah menurut saya menyebalkan. Lha bagaimana ceritanya care dengan inovasi go green tapi mengesampingkan kepentingan sesama. Kenapa sedotannya itu tidak dikembalikan saja ke pemilik warung dengan membayar lebih sang driver ojek daring. Tujuan tercapai tuntas dan ada sedikit kelebihan harta yang tersalurkan.
Sejalan dengan keanehan kaum menengah perkotaan ini lah yang membuat kita yang terbiasa menganggap enteng hal remeh menjadi menganggap rumit hal remeh. Bila dihitung-hitung lebih go green masyarakat desa yang masih membungkus sayurannya dengan kertas bekas buku. Membungkus gorengan dengan kertas buku pelajaran yang kata kaum menengah perkotaan tintanya dapat menyebabkan kanker. Ini sudah terlaksana sangat lama sampai pada kaum sok benar ini muncul ke permukaan.
Rasa jengkel saya pun tidak hanya sampai di dunia online saja. Saat saya jalan-jalan dengan teman saya dan memakai noken, ada kaum menengah perkotaan yang menyebut saya hanya peduli pada keunikan tradisinya saja. Menurut dia harusnya peduli dengan keseluruhan pembuat produk, mulai dari kesejahteraan sampai kesehatan. Dia memakai istilah bahasa indonesia yang bercampur inggris (keminggris) untuk menyatakannya. Perdebatan pun muncul antar teman saya, ada sanggahan bahwa hal itu hanya berlaku di Amerika.
Tradisi nyinyir orang lain khas ibukota tanpa tahu akar masalahnya ini sekali lagi sangat meresahkan. Bagi mereka yang belum pernah ke papua dan menyalahkan saya yang membeli noken itu sangatlah lucu. Bagaimana tidak? Mereka tidak pernah ke papua kok, ya secara egois dapat dikatakan kontribusi saya ke papua lebih banyak dari pada mereka yang hanya memperdebatkan. Saya sudah membeli noken sebagai kontribusi, sedangkan mereka? Pergi saja belum pernah apa lagi berkontribusi.
Sama halnya dengan nyinyiran tradisi adat yang menurut kaum menengah Jakarta ini merusak hutan. Bayangkan, dengan sok taunya dan bermodal omongan jorok khas perkotaan mereka mengoreksi tradisi yang sudah bertahan berpuluh-puluh tahun lamanya. Tentunya bukan dengan mempelajari akar masalah yang lebih mendalam dan langsung berkunjung. Hanya berbekal berita dari berbagai media mereka seakan menjadi yang maha benar. Padahal tradisi pastinya sudah ada alasannya, bukan semena-mena seperti kaum kapitalis Jakarta yang memeras keringat saat bekerja.
Lantas saya sampai pada kesimpulan, layakkah tradisi kurang piknik khas perkotaan ini diteruskan? Koreksi sana sini hanya untuk membendung opini, lalu pergi setelah tren tersebut menghilang. Bila saya simpulkan sendiri, perilaku seperti ini mirip mahasiswa KKN yang masuk desa dan seakan menjadi bos dalam sebuah proyek. Tanpa guyub rukun mendengarkan warga langsung perintah sana perintah sini seakan tuan muda. Adat ketimuran hilang seketika, tergantikan adat penjajah yang dapat dikatakan keminggris.

Sunday, 7 July 2019

Kopi Untuk Inspirasi atau Gengsi?


Kopi starbuck
Bukan Pungkas Saya
Tiba-tiba dipamerin foto cewek berkerudung megang gelas bertuliskan nama saya. Bukannya takjub, tapi saya pun menjawab dengan judes. "Mungkin itu bukan Pungkas aku kali yang dimaksud". Sang pengirim foto pun bertanya-tanya, mengapa saya dapat menyimpulkan seperti itu. Saya memang berniat bercanda waktu itu. Karena saya tahu ini yang di foto si Dita, seorang kawan di Jakarta yang dulu berkuliah dan memang dia anaknya se-usil itu. Tiba-tiba ngirim foto kayak gitu, pas kuliah tiba-tiba nyepik nggak jelas.
Kembali ke cerita tadi, saat saya balas dengan jawaban seperti itu Mamad kaget. Untuk mengobati rasa penasaran yang membuncah di hati Mamad saya meneruskan dengan perilaku sok go green. "Iya soalnya itu kalo aku gak mungkin pakek sedotan plastik seperti itu". Dan otomatis seisi grup pun berubah yang awalnya grup kawan kuliah, kini berganti grup diskusi terkait keberpihakan lingkungan. Seorang teman lain pun menanyakan, kalau memang go green apa saya bakal membawa tumbler dan meninggalkan gelas plastik?
Dengan singkat saya jawab tidak. Mungkin mereka mendapat celah untuk memperdebatkan kebijakan anti sedotan ini. Tentunya pasti akan aneh sedotan saya tidak memakai tapi malah tetap memakai gelas plastik yang notabene memiliki ukuran lebih besar dari sedotan. Dan saya pun menjawab, bukannya saya tidak akan membawa gelas sendiri ke Starbuck. Tapi saya pasti gak mungkin membungkus kopi dengan harga yang menurut saya mahal. Bayangkan! Satu gelas saya harus membeli dengan harga lima puluh ribu.
Kalau istilah orang di rumah saya, ya kenapa harus dibungkus? Kan harganya mahal. Harga mahal tersebut sudah termasuk jasa bersih-bersih kafe, jasa penyajian di gelas kafe yang tentunya akan dicuci kembali, dan jasa-jasa lain yang bisa diringkas dengan kalimat sewa tempat duduk. Maka dari itu bila hanya segelas harga lima puluh ribu ya mungkin bukan hanya nilai unsur biaya dalam segelas kopi. Tapi juga mempertimbangkan biaya-biaya yang saya sebut di atas. Rasanya sangat tidak adil bila biaya yang sudah diakumulasikan dalam harga yang kita bayar malah tidak kita nikmati.
Mungkin mereka sangat memahami kebiasaan perhitungan rumit tapi pelit ini, jadi jawaban mereka hanya "pungkas come back". Bila bercanda agak serius begini saya jadi ingat saat buka bersama dengan mereka. Saat itu makan di restoran cepat saji, mereka makan satu porsi nasi dengan dua potong ayam. Tapi saya memilih kebalikannya, yaitu dengan satu potong ayam dan dua porsi nasi. Karena memang porsi nasinya sedikit dan harga ayamnya lebih mahal dari nasi. Jadi saya memilih untuk memperbanyak nasi dan menikmati kremes dari tepung krispi ayam yang lebih tebal dari daging ayamnya.
Tapi malah akhir-akhir ini ada sebuah sindiran setiap hari ke Starbuck tapi gaji cuma UMR. Demi gengsi saja mereka melakukan itu. Menurut saya yang minum kopinya sehari dua kali, minum kopi tiap pagi itu bisa membuat lecutan inspirasi. Tapi kalau tiap hari ke Starbuck atau kafe-kafe kekinian, bukannya inspirasi yang keluar melainkan gengsi. Lha bagaimana? Kalian berangkat dari rumah niatnya minum kopi, dari sana beli es kopi yang manisnya udah seperti es kelapa muda. Ditambah lagi pesan snack yang harganya gak karu-karuan mahalnya.
Paitnya kopi tak tergapai malah paitnya merogoh kocek dalam-dalam yang kalian capai. Ujung-ujungnya ya capek, tiap hari begitu terus dengan uang yang tidak sedikit. Hal ini yang bisa membuat merugi dan pastinya akan membuat buntung. Ujung-ujungnya gesek kartu kredit dengan mudah. Untuk sebuah kopi saja harus berhutang, bagaimana akan keluar inspirasi kalau begini. Adanya malah inspirasi akan tertutup pikiran untuk membayar tagihan. Tagihan pasti akan membengkak karena bunga bila salah memperhitungkannya.
Inti dari semua ini hanyalah bagaimana kita menikmati sebuah sajian kopi. Bukan harus ke starbuck atau ke kafe kekinian. Boleh saja sesekali untuk menikmati dan menongkrong di kafe, tapi bukan setiap hari. Atau malah ngopi dengan cara dibungkus, dengan harga semahal itu rasanya kita akan rugi banyak. Saya memang katagihan kopi, tapi saya sangat jarang minum kopi di warung kopi ataupun kafe. Karena racikan setiap orang akan berbeda-beda, lain lagi dengan racikan kopi yang biasa saya minum di pagi dan sore hari.

Saturday, 6 July 2019

Setitik Nila yang Hampir Rusak (3)


Ini cerita lanjutan dari cerita sebelumnya
Nila yang hampir rusak
Sumber: https://twitter.com/bemb_beng

Namanya cinta seakan tak bisa dibendung dengan ucapan orang tua, Nila pun menceritakan hal ini kepada umi Sakdiyah. Seakan geram dengan larangan bapak dan ibu, umi menggerutu sembari berjalan ke dapur menyiapkan masakan untuk Nila. “Kamu sebaiknya tidak usah mengkhawatirkan hal itu nil, mereka hanya orang awam yang memikirkan duniawi saja. Mereka hanya khawatir kehidupan duniamu, tanpa mensyukuri kehidupan ukhrawi”.
Sembari menanak nasi umi melanjutkan pembicaraannya, “sesungguhnya bila kamu nikah dengan habib, kamu sudah naik derajat. Karena kamu sudah menjadi istri kekasih allah”. Nila pun manggut-manggut seakan mengerti makna tersirat dari perkataan umi. Tiba-tiba ada senyum yang menyungging di bibir manis yang tersembunyi di balik cadar. Lantas ia berkata, “iya umi alhamdulillah”.
Tiba-tiba dari arah ruang tengah terdengar suara terompah sang habib. Umi pun dengan cekatan menggenggam tangan Nila sembari berkata, “kamu ikut makan saja dengan kami, nanti kita bicarakan dengan habib. Semoga ada solusi dari larangan orang tuamu”.
Saat keluar dapur menuju ruang makan habib pun terperangah melihat Nila dengan umi. “Nila itu mata kamu kenapa?”. Memang yang terlihat oleh Habib saat itu mata Nila yang sembab karena semalam sudah menangis. Umi pun menjawab dengan cerita yang sama persis seperti cerita Nila. Lantas umi bertanya kepada habib “bagaimana bi? Apa ada solusi untuk Nila?”. Habib pun menyahut, “biar saya ke rumahmu saja, sekalian mengkhitbahmu”.
***
Sore itu Nila senang tak karuan, karena sang Habib akan bertemu bapak dan ibu. Sampai-sampai Nila usai subuh bertilawah hingga matahari terbit sempurna, lalu ia lanjutkan dengan sholat dhuha. Tepat saat bapak selesai mengantarkan Lina adik Nila, ada ketukan pintu di depan rumah. Ibu yang sedianya memasak di dapur keluar untuk membukakan pintu.
Ternyata seorang pria berjubah serba putih dan istrinya dengan gamis merah sudah tepat berada di depan pintu rumah. Selesai menjawab salam, ibu pun langsung menyambut tamu dengan ramah. “Maaf bapak dan ibu mencari Nila ya?”, Tanya ibu sembari mempersilahkan duduk. “Sebelumnya perkenalkan saya Habib Turmudzi dan ini istri saya”, jawab habib dengan gestur tangan memperkenalkan. “Bapak ada?”, sambung habib bertanya kepada ibu. Dengan cepat ibu menyahut, “sebentar, saya panggilkan ke belakang”.
“Pak ada tamu”, kata ibu. Dengan rasa penasaran bapak menganggukkan kepala lalu menuju ruang tamu. Mata bapak pun terbelalak. Ternyata Habib Turmudzi yang dulu pernah kabur saat kejadian travel umroh. Dengan membentak bapak bertanya, “kenapa kamu ke sini? Mau kembalikan uang atau bagaimana? Sudah kaya kamu rupanya ya?”. Habib dengan wajah malu menjawab, “astaghfirullah, pak Budi? Subhanallah kita bisa bertemu di sini”. Habib meneruskan pembicaraan untuk mengkhitbah Nila.
Ibu berusaha untuk menenangkan situasi dengan menyajikan es sirup. “Sebentar dulu pak, kita panggil Nila saja dulu”. Bapak pun menyanggupi dan ibu langsung memanggil remaja belia yang dari kemarin mengurung diri di kamar.
***
“Nak, itu ada habib yang mencari kamu di luar, kamu keluar nak”. Nila langsung loncat kegirangan, “iya bu sebentar saya pakai hijab dulu”. Setelah selesai menutup semua auratnya dia keluar tetap dengan rasa girangnya yang susah pergi. Sesampai di ruang tamu sepertinya situasi berbanding terbalik dengan bayangannya.
Ada bapak yang sepertinya dalam kondisi marah, habib dan umi yang menundukkan muka seolah menjadi korban kemarahan bapak. Rasa penuh tanya tersebut rasanya sukses melunturkan rasa girang yang tak terkira. “Bapak habis marah?”, Tanya Nila. “Kamu duduk dulu”. Bapak menjawab dengan nada bergetar sembari mendamaikan emosi yang masih bergejolak di dada.
Lalu habib mulai membuka percakapan dengan meminta maaf kepada bapak atas kesalahannya dahulu. Pasalnya habib sudah membawa kabur uang umroh bapak, nenek, kakek, dan bibi. Dahulu sebelum kakek dan nenek meninggal ingin melaksanakan umroh satu keluarga. Namun sayangnya rencana untuk beribadah sekeluarga tersebut sirna, saat uangnya dibawa kabur habib.
Habib Turmudzi mengakui kesalahan tersebut, karena dahulu habib masih belum berhijrah. Sehingga nafsu yang ada di dalam dirinya seakan susah untuk dikendalikan. Laksana raksasa besar yang semakin dilawan semakin bertambah besar. Berujung habib membawa kabur uang jamaah umroh dan menghilang begitu saja. Namun saat itu habib mengatakan akan mengembalikan semua uang yang dulu beliau bawa pergi, secara tunai.
Sejalan dengan pernyataan minta maafnya, habib menyatakan ingin mengkhitbah Nila. Lalu Umi menyambung dengan perkataan yang menjurus kepada keridloan beliau sebagai istri pertama Habib.
"Dasar manusia tak tahu tata krama!", Bentak bapak kepada kedua pasangan mulia itu. "Pergi kalian! Tak mungkin aku melepaskan anakku untuk dimadu setan berjubah seperti kalian". Nila pun mulai ikut beradu opini, opini yang ia sampaikan kurang lebih sama dengan petuah yang disampaikan Umi saat pertama kali Nila mendengar bahwa ia akan dikhitbah. Tak jauh dari kemuliaan yang akan ia dapatkan di surga karena bersanding dengan kekasih allah.
Mendengar ucapan Nila perlahan emosi Bapak menurun. Seakan naluri seorang bapak sebagai pengayom anak mulai muncul di raut wajah Bapak. Suara yang semula menggelegar kini mulai melembut, tangan yang semula menggebrak meja seperti preman pasar kini mulai turun dan sesekali memegang cangkir teh.
"Lalu kamu akan menikahi anak saya kapan? Biar saya bisa menyiapkan berkas untuk ke KUA?", Umi menyahut dengan penjelasan yang berujung pada permintaan agar mereka berdua nikah siri dahulu, untuk menghindari fitnah. Nila pun menyambung dengan berbagai ayat al-quran yang menjadi pertimbangan lebih baik nikah siri daripada menimbulkan fitnah.
Seakan memperhitungkan sesuatu, bapak perlahan-lahan mencerna ucapan yang keluar dari kedua mulut wanita itu. Lalu menyuruh kedua tamu yang sudah pucat pasi setelah kena marah tersebut pulang.

*Cerita Selanjutnya klik di sini

Wednesday, 3 July 2019

Info Lomba Blog Deadline 20 September 2019


Lomba Blog Tanggung Kebencanaan
Poster Lomba BNPB
Kegiatan Lomba Kreativitas "Tangguh Awards" tentang penanggulangan bencana sebagai salah satu sarana dan upaya membangun budaya sadar bencana masyarakat Indonesia. Kegiatan tahunan yang telah dimulai sejak tahun 2012 ini, merupakan wadah bagi masyarakat untuk berbagi informasi dan pengetahuan yang disampaikan melalui sebuah karya yang dapat memberikan manfaat bagi orang banyak.
Tangguh Award Tahun 2019 bertemakan “Kita Jaga Alam, Alam Jaga KIta” akan memperlombakan kategori Foto, Video, Poster, Blog dan Podcast berhadiah total puluhan juta rupiah, lomba ini dapat diikuti oleh wartawan, mahasiswa, pelajar dan masyarakat umum.
Partisipasi Anda dalam lomba kreativitas BNPB adalah wujud kepedulian bersama membangun budaya sadar bencana.
SALAM TANGGUH!!!

Ketentuan Umum

  1. Lomba terbuka untuk umum bagi Warga Negara Indonesia dan bebas biaya pendaftaran (tidak berlaku bagi karyawan BNPB);
  2. Tema lomba adalah "Kita Jaga Alam, Alam Jaga Kita", dalam ruang lingkup penanggulangan bencana alam di Indonesia;
  3. Lomba ini menggunakan tiga media daring/sosial yang ada yaitu Facebook, Twitter, dan Instagram. Peserta diperbolehkan mengikuti kelima kompetisi ini dengan tiga media sosial atau memilih salah satunya;
  4. Karya atau link karya foto, video, poster, blog, podcast harus di-upload atau di-posting melaui Facebook, Twitter, dan Instagram. Karya video dan podcast diperbolehkan di upload melalui aplikasi lain (Seperti Youtube, spotify dan Soundcloud). Karya blog dapat menggunakan platform blog apapun (blogdetik, wordpress, blogspot, kompasiana, selfhosting, dll);
  5. Setiap judul karya/postingan wajib di-mention ke salah satu atau ketiga akun BNPB yang sesuai dan mencantumkan tagar/hashtag #TangguhAward2019 #KitaJagaAlam #AlamJagaKita #KenaliBahayanyaKurangiRisikonya #BudayaSadarBencana #SiapUntukSelamat di akun media sosial dan blog post peserta;
  6. Karya yang dikirimkan adalah karya yang belum pernah memenangkan perlombaan sejenisnya. Karya tidak mengandung unsur SARA dan Pornografi;
  7. BNPB dapat menggunakan karya pemenang dan nominasi lomba untuk keperluan edukasi dan publikasi kebencanaan.
  8. Peserta wajib mendaftarkan karyanya dengan mengisi formulir biodata pribadi atau perwakilan, judul karya dan link sosial media sebagai data keikutsertaan lomba ke TangguhAwards2019. Setiap formulir hanya dapat dimasukkan satu judul karya. Tiap peserta dapat mengirimkan beberapa karya dengan mengisi kembali formulir di atas.
  9. Peserta dianggap gugur bila melanggar persyaratan, tidak sesuai dengan kategori dan melakukan kecurangan seperti plagiat atau mencuri hak cipta orang lain dan hal lain yang dianggap merugikan pihak lain.
  10. Batas akhir pengunggahan dan pendaftaran karya tanggal tanggal 20 September 2019.

Persyaratan Lomba Blog

  • Peserta bebas menggunakan platform blog apapun (blogdetik, kompasiana, wordpress, blogspot, selfhosting, dll) dengan minimal tulisan sebanyak 500 kata.
  • Di dalam postingan terdapat kata "Kita Jaga Alam, Alam Jaga Kita", "Kenali Bahayanya Kurangi Risikonya", "Budaya Sadar Bencana", atau "Siap untuk Selamat" dan di-hyperlink ke www.BNPB.go.id
  • Setelah melakukan posting, peserta men-share judul dan link tulisan ke media sosial BNPB dan menyematkan hashtag dan mention media sosial BNPB.
  • Isi formulir pendaftaran ke TangguhAwards2019