Coro merupakan bahasa jawa dari kecoak, omong coro bermakna omongan ngelantur tapi dapat dinyatakan jujur. Maka ketenangan serupa apa lagi yang dicari di dunia yang fana ini selain kejujuran. Tulisan berikut merupakan contoh dari omong coro.

Search This Blog

Translate

About Me

My photo
Hi, saya pungkas nurrohman yang mencoba dewasa dengan jalan-jalan

Tuesday, 20 April 2021

Dua Ganjalan Saat Naik Batik




Beberapa hari lalu saya melakukan perjalanan naik pesawat Batik Air, dalam perjalanan tersebut setidaknya ada dua hal yang mengganjal di benak saya. Sebetulnya ganjalan ini sudah menjadi ganjalan semenjak beberapa waktu yang lalu. Dua ganjalan tersebut adalah

Turun Diatur per Lima Baris

Saat menjelang turun sudah nyaring berbagai himbauan dari pramugari. Salah satu himbauan tersebut adalah nanti jika turun akan digilir perlima baris. Yang menggilir jelas flight attendant yang bertugas di ruang kabin tersebut. Bisa pramugari, bisa pula pramugara.

Himbauan tersebut jika didengar betul-betul pasti semua penumpang tidak ada yang berdiri untuk turun. Karena tidak ada instruksi apapun dari awak kabin. Bukannya kesal saya malah menganggap ini hal lucu.

Dari penumpangnya juga tidak nurut sama aturan, pun juga dari pemilik aturan juga enggan menjalankan aturan. Alhasil tetap terjadi desak-desakan saat turun dari pesawat.

Lah terus aturan yang dibilang harus turun per lima baris sesuai yang diinstruksikan pramugara tadi untuk apa?

Ya jelas untuk melakukan polesan agar seakan-akan maskapai tetap melaksanakan protokol kesehatan. Jika terkesan melanggar protokol kesehatan pasti akan berdampak pada bisnis mereka.

Saya kurang tahu juga apakah ini hanya dilakukan oleh maskapai bergambar canting saja. Sependek pengetahuan saya saat ke Bali kemarin menggunakan Citilink awak kabinnya tetap menginstruksikan kursi berapa yang boleh mengambil barang lalu berjalan turun.


Fasilitas Batik Entertainment

Batik entertainment adalah fasilitas hiburan yang disediakan untuk mereka yang ingin menonton film melalui ponsel. Dengan cara menyambungkan wifi ke batik entertainment penumpang sudah dapat mengakses fitur yang disediakan batik.

Tentunya hal ini tidak hanya disediakan oleh batik saja, bahkan saat ramai-ramainya kasus sepeda Brompton dibawa naik garuda, Dahlan Iskan sempat menuliskan fasilitas itu ada di maskapai Citilink. Bahkan dalam tulisan Neo Baru tersebut, abah menuliskan fasilitas wifi tersebut sudah lebih sempurna. "Hingga bisa kirim WA" katanya.

Namun yang menjadi ganjalan sekarang saat kita duduk di kursi pesawat, pasti melihat pesan seperti gambar yang saya tempelkan di awal. Mengenai pelanggaran yang tidak boleh dilakukan di pesawat lengkap dengan dasar hukum serta ancaman hukumannya.


Sumber: edorusyanto.wordpress.com

Saat terbang dari Bali ke Makassar memang saya sempat mendapat teguran dari penumpang sebelah. Karena terlalu asyik bermain hp saat lepas landas. Karena memang di tulisan pas depan mata saat duduk di kursi pesawat, ada larangan tersebut.

Tapi jika memang dilarang, kenapa harus disediakan wifi?

Lagi-lagi ada kerancuan peraturan di sini. Seperti aturan sebelumnya yang dipublikasikan tanpa harus ditegakkan. Tentu akan menjadi ambigu bagi penumpang yang akan mengikuti aturan. Apalagi seperti saya yang jelas-jelas menjadi insan madani yang senantiasa menegakkan aturan, selama ada ketentuan perundang-undangannya.

Friday, 9 April 2021

Mal pertama di manokwari




Masih ingat dalam ingatan saya, saat kami yang di manokwari ini ikut diklat online ditanya "apa di Manokwari ada mall pelayanan publik?" Oleh widyaiswara saat mata pelatihan Whole of Government. Dengan lantang dan sedikit bercanda saya jawab, "jangankan mal pelayanan publik pak, mal buat belanja saja masih belum ada". Lantas seluruh siswa diklat yang mengikuti zoom pada waktu itu tertawa. Sedikit lucu memang tapi banyak mirisnya. Di saat semua daerah bertransformasi membuat mal pelayanan publik, di Manokwari sendiri mal biasa pun tak ada.

Tapi kemirisan tersebut pertanggal 3 April 2021 kemarin sudah putus. Manokwari city mal hadir di Manokwari. Seakan menjadi sebuah telaga di tengah keringnya padang pasir. Mal yang digagas oleh Hadi dan bertempat di belakang Swissbell hotel ini menjadi barang baru yang wajib disaksikan semua orang. Husen dan Mas Mallangi hari itu juga turut meramaikan pembukaan mal dengan sekedar jalan-jalan ke sana. Pun juga firman yang dosen FKIP itu juga sudah memajang status berfoto di lantai atas dengan background langit biru disertai awan putih.

Perlahan saya mengingat ciri khas swissbel yang biasanya pasti di samping mal. Awalnya Manokwari menjadi pengecualian ciri khas hotel itu. Namun kini lagi-lagi pengecualian tersebut tercerabut. Ternyata ada rekor yang terukir pun juga ada rekor yang terhapus dalam waktu bersamaan.

Sebetulnya banyak juga yang didobrak dari pembangunan mal yang sebetulnya sudah mau grand opening pada tahun lalu. Selain menjadi mal pertama di Manokwari, juga menjadi gedung bioskop pertama di Manokwari. Namun gedung bioskop itu masih belum dioperasikan. Entah memang masih belum siap atau menunggu tuan covid parlente dari negeri cina itu lenyap. Yang penting ini menjadi angin segar bagi saya yang memiliki circle pecandu film terbaru. Biar tidak ada drama menunggu film tersebut tayang di layar batik air lagi saat ada film baru.

Semoga saja mal ini dapat awet, tidak seperti fasilitas pemerintah lainnya. Meskipun mal ini bukan fasilitas pemerintah. Dan juga semoga mal ini dapat menjadi saingan yang seimbang untuk toko nurati dalam hal "The Real Toserba On Manokwari"

Friday, 2 April 2021

Beragama yang Berbahaya


Surat wasiat teroris
Surat wasiat dari teroris untuk keluarga


Minggu kemarin ada peledakan bom bunuh diri di depan gereja katedral. Hari minggu merupakan hari untuk beribadah bagi umat kristiani. Mungkin sang teroris memang menyasar momen tersebut. Untuk memberikan teror pada umat kristiani. Di dalam cctv juga tergambar jelas sang peneror memakai busana muslim dalam melakukan terornya.

Selang Tiga hari tepatnya hari rabu terjadi pula penembakan. Sebetulnya bukan penembakan sih, tapi lebih tepatnya aksi bunuh diri dari seorang yang ingin dianggap teroris. Karena penyerangnya juga hanya memakai pistol dan yang diserang markas besar polisi. Mendatangi markas besar polisi dengan pistol hanyalah aksi bunuh diri. Namun hal ini menurut berita berhasil disebut sebuah aksi teror karena berhasil menghadirkan ketakutan. Wanita muda belia ini dilumpuhkan hingga tewas hanya sampai di depan pos penjagaan. Tak heran memang, karena hanya bersenjata pistol gagal merangsek masuk markas berisi ribuan polisi dengan senjata lengkap merupakan kelumrahan.

Yang menarik bukan aksi terornya yang terjadi dua kali dalam seminggu. Tapi yang melatarbelakangi mereka melakukan aksi teror. Karena selang beberapa hari mulai beredar surat wasiat dari peneror yang melepaskan 6 tembakan di markas besar polri. Surat wasiat tersebut berisi permohonan maaf dari mbak-mbak berkerudung biru ini.

Tak hanya berisi permohonan maaf, tapi juga ada kesan bahwa sang peneror sudah kalah dengan kerasnya kehidupan. Surat tersebut diawali dengan permohonan maaf karena tidak dapat membalas kebaikan orang tuanya. Berlanjut dengan memberikan jastifikasi terkait tata kenegaraan yang terkesan digagas oleh pemerintahan yang sesat dan tidak sesuai dengan agama islam. Dalam secarik surat yang berisi dua halaman itu juga ada pesan untuk para keluarga agar beribadah dan meninggalkan hal yang sekiranya mendatangkan dosa.

Dari sini saya bisa belajar, betapa berbahayanya jika separuh-separuh dalam beragama. Ingin fokus beragama dengan mempermasalahkan agama lain akan menjadi beban tersendiri. Kira-kira dalam surat tersebut sang peneror seakan mempermasalahkan kekayaan orang lain yang tidak teguh dalam beragama. Yang lain beragama dengan sekenanya tapi kok malah kaya? Sedangkan dia sendiri beragama dengan teguh tapi kok malah gagal membahagiakan orang tua. Seakan sang penulis merasa bersalah atas keteguhan beragamanya sendiri.

Alhasil ada pemikiran lain yang masuk dan ada kemungkinan menjadikan sang peneror menjadi eksklusif jadilah penyerangan yang terkesan bunuh diri tersebut dilakukan. Korbannya tidak seberapa malah sang penerornya yang terbunuh. Yang untung ya yang menanamkan ideologi. Sang penanam ideologi sudah untung besar, karena berhasil meracuni orang hingga melancarkan aksi teror.

Maka dari itu marilah kita beragama dengan lurus, hingga kita takut menyakiti umat beragama lain. Tanpa pemikiran seperti ini bisa-bisa malah kita terjebak dalam tingkat eksklusifitas beragama. Sehingga kita menjadikan kematian adalah hal biasa, apalagi saat kita menjadi kaum yang kalah dalam mengarungi kerasnya kehidupan. Sang peneror ini dapat kita jadikan contoh betapa berbahayanya keinginan untuk menjadi pemenang.

Alih-alih agama menjadikan sebagai penenang, malah kita jadikan ajang untuk berkompetisi menjadi pemenang. Rasa untuk menggenggam kejayaan menjadi hal yang nyata. Tidak memiliki harta malah merendahkan mereka yang berkelindan harta. Sehingga keikhlasan dalam menjalani perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya menjadi kegamangan tersendiri.

Friday, 26 March 2021

Kehilangan Karena Covid


Swab antigen
Langsung Tes Swab Antigen

Semua sudah ditakdirkan namun dalam islam masih mengenal qadha (qadla') dan kadar (qadar). Mungkin ini yang menimpa keluarga Mas Tomo. Seperti yang sempat saya ceritakan dahulu dalam catatan harian selama kerusuhan di manokwari. Mas Tomo merupakan sosok yang sangat berjasa dalam kehidupan saya selama di papua. Beliau yang memberikan tempat saat saya masih belum memiliki tempat tinggal di Manokwari, selama kerusuhan mungkin tanpa peran Mas Tomo saya akan menemukan kesulitan yang cukup berat.

Kemarin hari selasa beliau mendapat cobaan yang cukup berat, yaitu kehilangan istrinya yang sangat dicintai. Awal mula istrinya mengidap malaria, penyakit endemik papua yang cukup berbahasa ini sudah melanda tubuh mbak Mufidah selama seminggu. Namun tidak dibawa ke dokter. Hingga hari senin, kondisinya terus menurun tanpa menemukan obat yang manjur. Alhasil mbak dibawa ke rumah sakit, seperti yang sudah kita ketahui saat musim covid ini mencari rumah sakit sesulit mencari jodoh. Karena sudah tidak ada tempat lagi. Di Manokwari pun juga begitu.

Pak Heru tetangga Mas Tomo yang mengantarkan ke rumah sakit bercerita, bahwa susah mencari rumah sakit untuk menangani sakit malaria mbak Mufidah. Alhasil memakai cara "orang dalam" dan menemukan tempat untuk dirawat di RS Angkatan Laut. Sebelum dirawat tentunya di SWAB dahulu untuk menentukan calon pasien ini mengidap Corona atau tidak. Hasil SWAB ternyata reaktif. Dan ada yang bilang, Belakangan sebelum mengidap malaria beliau bersama ibu-ibu pengajian berlatih sholawat di rumah ini. Sudah Malaria terkena covid pula lengkap sudah penderitaan Mbak Mufidah.

Hari selasa, kira-kira jam setengah 5 saya mendapat telepon dari Mas Tomo sembari menangis beliau hanya berucap, "innalilahi wainnailaihi rajiun". Kalimat pendek itu pun berhasil membuat saya mengetahui bahwa mbak sudah tiada. Tanpa ada kalimat lanjutan lagi telepon pun dimatikan seketika oleh Mas Tomo. Saat itu pikiran saya mulai berkelana, apa yang harus dilakukan di situasi mencekam sepagi itu. Mau ke Rumkital (rumah sakit angkatan laut) pun juga terlalu pagi.

Selang 30 menit setelah sholat subuh saya memilih untuk menelpon kembali dan menanyakan apa yang harus dilakukan. Seperti halnya suami lain yang baru kehilangan istrinya, Mas Tomo sepertinya masih dalam kondisi terpukul. Dan menyuruh saya ke rumah sakit untuk mengambil kunci rumah dan membuka rumah duka. Tanpa berpikir panjang saya langsung menuju rumah sakit untuk mengambil kunci dan membuka rumah.

Sesampainya di rumah saya mendapati tetangga kiri-kanan sudah mulai memasang terpal dan menata kursi. Saya pun langsung membuka gerbang serta pintu rumah dan menata meja kursi persiapan untuk kedatangan jenazah. Saat itu saya masih belum mengetahui bahwa mbak ternyata dikuburkan dengan cara covid. Setelah beres semua barulah pukul 9 saya menelpon kembali untuk menanyakan jenazah ditangani di rumah atau di rumah sakit dan dijawab dengan singkat bahwa "jenazah langsung dibawa ke pemakaman, tidak mampir ke rumah." Dari sini barulah saya mengetahui bahwa jenazah memang meninggal karena corona.

Singkat cerita setelah selesai pemakaman Mas Tomo pulang ke rumah, raut sedih kecewa dan terpukul terpampang jelas di mukanya. Dengan memakai masker air mata terus menetes di wajahnya. Tak ada lagi orang yang menemani di perantauan. Anaknya pun masih di Malang, kondisi terpukul masih menyelimuti pria yang berjasa dalam hidup saya ini. Saya memilih untuk membiarkan dia meluapkan kesedihannya hingga kesedihannya pudar dengan sendirinya. Saya temani hingga semuanya pulih dan normal kembali. Sembari saya memulihkan mentalnya, saya juga bantu untuk kegiatan tahlil di masjid.

Di hari ketiga hasil tes SWAB PCR beliau keluar dan dinyatakan positif. Saat hari kedua sudah menunjukkan gejala positif memang, kondisi batuk kering yang terjadi seperti yang diceritakan imam darto saat di channel youtubenya gofar hilman. Hari ketiga sudah sangat parah batuknya, saya semakin hari semakin rajin untuk mencuci tangan. Saat hari ketiga ini Mas Tomo dijemput tim covid untuk kemudian tinggal di rumah susun PU yang difungsikan untuk mengisolasi pasien covid yang tidak terlalu parah.

Setelah beliau dibawa oleh petugas penanganan pandemi dengan mobil terios hitam, saya menyemprot kembali seluruh ruangan yang ada di rumah ini. Setelahnya saya memilih untuk SWAB antigen sebelum pulang ke kontrakan. Dan hasilnya negatif.

Tiga hari ini saya menjadi merenung kembali atas risiko terbesar saat di perantauan. Tanpa sanak famili, tanpa ada saudara yang memiliki hubungan darah. Kondisi psikis yang tidak stabil terpampang jelas di tubuh Mas Tomo. Pemulihan psikis pasca kehilangan juga tidak dilakukan oleh siapapun. Teman dekat dan tetangga dekat hanya dapat menemani saat acara pemakaman, selebihnya dia sendirian di rumah memulihkan kondisi psikis sembari telpon ke saudara yang ada di jawa. Dari sini saya menyadari bahwa sadisnya covid tidak hanya memenuhi paru-paru dengan cairan, tapi juga ada luapan kesedihan dan kehilangan pada mereka yang ditinggal pergi untuk selamanya.

Friday, 19 March 2021

TeguKopi Kafe Atau Resto


TeguKopi
Pemandangan dari TeguKopi


Bali memang masih belum kembali namun Bali tetaplah Bali, yang menonjolkan eksotisme dan cita rasa khas tersendiri, seperti halnya sebuah kopi. Kali ini saya mencicipi kedinginan Kintamani. Saya yang biasa kepanasan di Papua ini memasuki pegunungan langsung terasa bergidik bulu kuduk. Hal ini yang menyebabkan saya mengurungkan diri untuk mendaki Gunung Abang. Tapi untungnya saya diajak meminum kopi di kafe dengan pemandangan gunung, jadi tanpa mendaki gunung saya tetap dapat melihat gunung dari ketinggian yang sama.

Awalnya saya diajak berkeliling danau Kintamani, lantas lama-lama saya diajak singgah untuk meminum kopi di TeguKopi. Sebetulnya secara sepihak saya mengatakan kafe yang rumah makan ini menjual panorama, bukan menjual masakan atau minuman. Karena saat berkunjung saya berstatus wisatawan lokal, maka saya memilih untuk memesan kopi pahit saja. Untuk menghangatkan kerongkongan serta lambung di tengah dinginnya Kintamani ini. Memilih kopi biasa karena lagi-lagi saya mencurigai nama kopi yang ditulis di buku menu ini adalah kopi ala-ala. Sehingga untuk merasakan getirnya kopi Kintamani akan kalah dengan rasa green tea serta susu yang notabene menjadi campuran kopi ala-ala di era kiwari.

Tak menunggu beberapa lama, kopi pun tersaji di atas meja makan. Lengkap dengan uap air yang menandakan kopi ini memang diseduh dengan air panas, serta pandangan gunung berapi yang menjadi latar belakang menjadikan sepahit apapun kopi ini tetap layak untuk dinikmati. Mungkin ini opini yang berusaha dibangun oleh sang pemilik TeguKopi. Dengan mengajak pengunjung melihat pemandangan gunung berapi, diharapkan pemandangan yang dilihat dengan mata dapat mempengaruhi lidah. Absurd tapi jenius.

Lain halnya dengan teman saya, yang berusaha mencekoki mulutnya dengan es TeguKopi. Entah ini yang aneh daftar menunya atau sang pemesannya. Di Tengah dinginnya Kintamani ada yang memesan es kopi menurut saya sudah sangat aneh. Sehaus apapun mulut ditengah suhu dingin, pasti tidak menginginkan air es. Kecuali jika kondisi tubuh tak menghendaki berada di kondisi dingin hingga mimisan, ini yang memang harus meminum es. Terlepas dari keanehan itu rupanya teman saya menikmati es kopi yang diklaim sebagai menu andalan kafe ini.

Untuk anda para pembaca yang kebetulan berada di Kintamani saat membaca artikel ini, saya menyarankan untuk mengunjungi kafe sekaligus rumah makan yang bergaya mewah ini. Harga menunya tidak semahal penampilannya, untuk makan dan minum per orang anda hanya merogoh kocek minimal 100 ribu. Makanannya juga beragam, meskipun bergaya eropa saya dapat pastikan tak ada makanan haram di daftar menu. Bagi anda yang enggan mengunjungi restoran dengan menu haram rasanya tempat ini layak untuk dikunjungi.

Pun juga jika anda pengabdi hasil fotografi yang sempurna, juga sangat saya sarankan untuk mengunjungi resto ini. Hanya dengan merogoh kocek di bawah 50 ribu untuk memesan kopi. Anda sudah dapat leluasa untuk mengambil gambar ke arah Gunung Abang. Ternyata Kintamani tidak melulu tentang danau dan desa Trunyan yang tidak mengubur jenazah. Tapi Kintamani juga ada TeguKopi yang siap memanjakan mata anda. Seperti yang saya sitir dalam kalimat pembuka, kafe ini memiliki ketinggian yang pas. Sehingga sudut pengambilan fotonya juga pas. Tempatnya juga cukup luas, sehingga saya dapat menyimpulkan anda akan tetap mendapat tempat duduk dalam kondisi seramai apapun tempat ini. Selamat meminum kopi.


Friday, 12 March 2021

Bali yang Sepi


Kondisi Legian yang Sepi


Libur telah tiba, libur telah tiba, hore… hore… horee….. mulai dari hari sabtu kemarin saya mulai jalan ke Bali. Ditengarai otak yang mulai panas dan mental yang sudah mulai ndak sehat, saya memaksakan diri jalan ke Bali. Selama satu minggu agenda di Bali saya habiskan untuk merilis stres yang mulai memuncak. Seperti biasanya saya menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan random dengan motor.

Alasan mendasarnya lebih ke arah saya di Papua tidak bisa jalan-jalan. Selain kontur aspal yang memiliki kemungkinan besar untuk menyebabkan mabuk darat, aspal Papua juga sangat tidak ramah untuk dilalui dengan motor. Bisa dibilang begini karena jalanan Papua banyak polisi tidurnya. Tak terbayang memang membawa motor sejauh 100 km dan di beberapa bagian masih ada polisi tidur. Bisa-bisa malah kecelakaan dikarenakan konsentrasi sudah hilang dan di depan ada polisi tidur.

Maka dalam rangka merilis stres saya melakukan perjalanan ini, mulai dari ke gunung dan pantai sudah saya lalui. Pun juga dengan gaya liburan saya memilih untuk backpackeran alias liburan hemat. Destinasi yang saya tuju adalah rumah-rumah teman sebagai tempat persinggahan. Mengenal orang-orang baru lebih dekat dan menemui teman-teman baru yang selama ini hanya ditemui secara daring. Seperti biasanya ada keseruan tersendiri untuk berinteraksi sembari merilis emosi yang selama ini ada di lingkungan kantor.

Hal baru yang saya temukan selama perjalanan ini adalah bali terlalu sepi. Biasa jika ke Bali melihat banyak bule berjalan-jalan, namun tidak hari ini. Saat liburan ini terlihat jelas pelaku sektor pariwisata sangat terpukul di masa pandemi ini. Bagaimana tidak miris? Melihat parkiran Tanah Lot yang begitu lengang dengan satu atau dua bus. Pasti penghasilan toko-toko yang berjualan pakaian atau oleh-oleh juga mendapat pukulan telak atas kesepian ini.

Tak hanya di Tanah Lot, parkiran Krisna Blangsinga lengkap dengan air terjunnya juga terlihat lengang. Mungkin masih banyak yang takut dan enggan untuk bepergian. Saat ke Legian pun saya terperanjat ketika melihat banyak toko dan warung yang biasa memutar musik jedag jedug tutup. Spa yang biasa dihiasi dengan ibu-ibu yang menawarkan paket pijatnya pun kini juga terlihat sepi. Pantai kuta yang biasa berhias bule yang sedang berjemur dengan setengah bugil pun juga terlihat lengang.

Seakan diketuk oleh yang maha pencipta untuk merasakan tidak adanya kerjaan. Saya spontan merasa miris dan sedih saat melihat mereka tidak ada kerjaan. Mereka yang biasa kerja kini tidak memiliki pekerjaan, sedangkan saya yang sudah memiliki pekerjaan malah kepikiran untuk mundur dan merasa tidak cocok dengan pekerjaan yang saat ini sudah ada. Tuhan saat ini memang benar-benar menampar saya dengan kenyataan.

Mungkin ini dapat dikatakan kunjungan religi yang berbuah singkapan faedah dari sang maha pencipta. Untuk merubah pola pikir saya, agar senantiasa bersyukur karena ada pekerjaan. Saat ini memang tidak dapat dipungkiri setiap ada pekerjaan alih-alih saya bersyukur, malah saya mengerjakan dengan berbalut keluhan di sana sini. Sembari menikmati sunset di pantai uluwatu yang sedang sepi pengunjung ini, saya berdoa agar segera pulih dunia usaha. Pun juga segera pulih nalar dan mental saya yang senantiasa menuntut hak hingga lupa ada tanggung jawab.

Friday, 5 March 2021

Resensi kami (bukan) jongos berdasi


Kami (bukan) jongos berdasi


Novel buatan JS. Khairen ini saya dapat saat berbelanja di gramedia. Tak dapat dipungkiri saya tertarik buku ini karena akun twitter penulisnya, yang kerap memadu padankan kata demi kata menjadi frasa yang unik dan juga judul novelnya yang cenderung ideologis. Saya sangat jarang tertarik dengan karya fiksi, mayoritas buku yang saya beli adalah non fiksi. Judul yang fantastik ini berhasil membujuk saya untuk membaca lebih dalam, apa yang terkandung dalam judul "Kami (bukan) Jongos Berdasi".

Dalam sampul belakang seorang J.S.Khairen meringkas novel dengan kalimat yang cukup menarik. Seakan isinya sangat penting, ia menulis semua profesi wajib untuk membaca buku ini. Hingga presiden korea ia wajibkan untuk membaca novel berbahasa indonesia ini. Di akhir kalimat promosinya ia menyebutkan bahwa ini adalah buku kedua dari serial novel "Kami (bukan) Sarjana Kertas". Masih dalam sampul belakang pula ia menyitir sedikit rangkuman tentang buku ini, yaitu alumni kampus UDEL yang sudah lulus, masuk ke dunia nyata yang penuh tikus, ada yang bertahan, ada yang sebentar lagi mampus.

Bagi saya yang belum membaca buku sebelumnya, tentu uraian di sampul belakang buku berwarna merah ini cukup membuat saya garuk-garuk kepala. Tapi semua kalimat yang mirip puisi dengan akhiran rima yang sama ini cukup menjawab.

Jadi dalam buku ini menceritakan sekelompok alumnus kampus UDEL yang sedang berjuang menentukan jalan hidup. Mungkin anak sekarang lebih familiar dengan kalimat quarter life. Sebetulnya tidak semuanya alumnus, ada seorang mantan dosen mereka juga yang kerap terungkap pelan-pelan kehidupannya di tiap bab yang tersaji dalam novel ini.

Sekelompok fresh graduate dan satu mantan dosen tersebut berasal dari berbagai latar belakang yang pasti kita temui di dalam kehidupan nyata. Ada Sania seorang pegawai sok kekinian yang kerap terjerembab dengan ingar bingar dunia kerja. Ada Juwisa yang tipikal akademisi dan pengejar beasiswa S2. Ada Gala seorang putra pengusaha kaya raya yang ingin berkontribusi untuk bangsa dan negara. Ada Randi yang menjadi wartawan dan menggantung cita-citanya untuk menjadi news anchor. Arko seorang pecinta fotografi yang menjalankan mimpi bertualang keluar negeri, meskipun kuliahnya juga belum rampung. Sogi yang kuliahnya tidak rampung, tapi kini berjuang di perusahaan teknologi luar negeri. Dan Lira seorang ibu dosen yang kerap membuat saya tertegun dengan kesimpulan yang ia buat.

Novel ini perlahan-lahan dapat membuat saya dipaksa melihat sebuah peristiwa dari sudut pandang ketujuh karakter yang diusung. Seperti halnya sebuah kehidupan, sangat kurang bijak rasanya jika melihat peristiwa dalam kehidupan ini hanya dari satu sudut pandang. Mungkin trilogi novel JS. Khairen ini memang dia bikin begitu. Namun skup pesan moralnya saja yang berbeda. Sama sekali tidak ada peristiwa yang tidak familiar dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin banyak kejadian kebetulan saja yang membuat karya ini disebut fiksi. Kalau tidak ada kebetulan mungkin plotnya tidak akan berjalan dan tersambung.

Baru kali ini saya dapat menyelesaikan membaca buku dalam dua minggu. Biasanya saya menyelesaikan membaca buku lebih dari satu bulan. Yang saya suka dari novel ini selain tidak hanya berfokus pada satu tokoh adalah chapter per chapter-nya berhasil membuat penasaran. Jadi keterusan membaca dengan balutan frasa yang berima tiba-tiba selesai saja. Jika boleh memadankan, membaca buku ini rasanya sama persis dengan membaca line akun sajak. Pemilihan kalimatnya tepat mulai halaman satu hingga empat ratus.

Kesalahan ketik memang ada beberapa, tapi ini tidak merusak cita rasa novel ini yang relate dengan kehidupan nyata dan enak dibaca. Jika ditanya apakah saya ketagihan membaca trilogi ini? saya dapat katakan tidak. Karena saya kurang penasaran dengan buku sebelumnya, pun juga dengan buku selanjutnya yang berjudul "Kami (bukan) Generasi Bacot". Tapi saya tetap penasaran dengan jawaban dari pertanyaan "J.S.Khairen mau bikin novel apalagi?".