Coro merupakan bahasa jawa dari kecoak, omong coro bermakna omongan ngelantur tapi dapat dinyatakan jujur. Maka ketenangan serupa apa lagi yang dicari di dunia yang fana ini selain kejujuran. Tulisan berikut merupakan contoh dari omong coro.

Search This Blog

Translate

About Me

My photo
Hi, saya pungkas nurrohman yang mencoba dewasa dengan jalan-jalan

Sunday, 5 December 2021

Semeru Meletus Dan Gladak Peraknya


Kemarin sempat berseliweran kabar berita meletusnya gunung Semeru. Lintas sosial media ramai memberikan kabar bencana yang melanda Kecamatan Pronojiwo Kabupaten Lumajang. Bencana melanda pada sabtu sore hari pukul 16.00 WIB. Pada beberapa video menerangkan bahwa pada saat letusan gunung tertinggi di pulau Jawa itu dibarengi dengan hujan lebat yang membuat kondisi cukup mencekam.

Pada video lanjutannya juga memberikan keterangan jembatan Gladak Perak putus diterjang banjir lahar dingin. Padahal jembatan ini memiliki konstruksi yang terlihat kokoh, dengan beton yang terlihat kuat. Ini adalah kesialan yang bertubi-tubi, karena dengan putusnya jembatan Gladak Perak ini maka akses dari Malang ke Lumajang otomatis terputus. Logistik bantuan dari Malang harus memutar ke Probolinggo, jarak memutar itu sekitar puluhan kilometer.

Tapi rupanya kendala tersebut tidak menyurutkan niat para sukarelawan yang didominasi oleh pelajar. Malang dengan banyak universitas ini membuat iklim sukarelawan mengalir deras di Malang. Stok sukarelawan Malang lebih banyak daripada kota lain. Alih-alih patah arang dengan putusnya Gladak Perak, mereka malah lebih bersemangat. Akhir minggu kemarin saja sudah ada serombongan relawan Malang yang meluncur ke sana.

Bagi saya Gladak Perak ini merupakan jembatan fenomenal di selatan Lumajang, dulu saat ke arah Lumajang bapak selalu menyempatkan diri untuk berhenti di jembatan fenomenal ini. Banyak orang yang menyempatkan untuk berhenti di jembatan ini. Tahun 2013 saya melewati jembatan ini pun juga masih banyak yang menyempatkan diri menikmati jembatan ini. Malah saat itu sudah ada warung kopi yang berdiri disana.

Secara pemandangan Gladak Perak ini terlihat asri dengan hutan di kiri dan kanannya, udaranya pun juga sejuk. Area ini disebutnya oleh warga sekitar adalah area piket nol. Memang perjalanan jauh dari arah Malang ataupun arah Lumajang juga terkesan harus berhenti di sini. Seakan rest area bayangan. Dengan udaranya yang sejuk seakan memaksa para pengendara untuk meminggirkan kendaraan sejenak.

Semoga lekas pulih, karena jika tidak lekas pulih dan dipulihkan oleh dinas atau kementerian pekerjaan umum. Pengendara yang menuju Lumajang dari Malang atau arah sebaliknya, wajib untuk berputar dahulu ke Probolinggo.

Friday, 26 November 2021

Resensi Buku Dari Wina Ke Yogyakarta: Kisah Hidup Herb Feith




Masih teringat awal mula saya berjodoh dengan buku ini, saat mudik dan mengunjungi Gramedia Malang mendapati diskonan buku besar-besaran di tempat parkir. Tepat setelah membeli novel Ubur-Ubur Lembur-nya Raditya Dika. Saya membeli buku biografi ini dengan harga yang cukup murah, seratus ribu rupiah untuk empat buku alias 25 ribu-an. Untuk buku dengan tebal 597 halaman harga yang saya dapat terkesan murah, tapi dari buku setebal ini saat itu saya meyakini tidak seremeh harganya.

Saat membeli buku ini saya sama sekali tidak mengenal, siapakah seorang Herbert Feith yang biasa disingkat dengan Herb Feith. Di BAB satu saya masih belum mengenal kehebatan yang dilakukan Herb, BAB pertama ini hanya mengungkap asal usul Feith. Awalnya saya mengira dia ini adalah traveler. Karena dari desain sampul saja sudah sangat traveler sekali, bagaimana tidak, gambar seorang bule dengan sepeda ditambah dengan nama buku dari Wina ke Yogyakarta. Dalam BAB pertama kesan traveler-nya juga sangat kuat, bermula dari kelahiran hingga kisah pengungsian ke Australia karena serangan NAZI kepada kaum yahudi.

Berlanjut ke BAB berikutnya yang tertata berdasarkan kronologi tahun kejadian, membuat buku ini merekam secara runut tiap kejadian yang dialami Herb. Semangat aktivisme semenjak muda yang dapat dikatakan mencuat saat BAB kedua dimulai. Berbagai hal yang diperjuangkan Herb tergambar jelas di bagian ini, apa yang diperjuangkan dan alasan dari perjuangan tersebut dijelaskan dengan gamblang di bagian ini. Sehingga orang yang sama sekali tidak mengenal karya Herb pun juga dapat menangkap arah perjuangan dan penyebab dari sebuah perjuangan yang dibuat olehnya.

Buku terjemahan dari “From Vienna To Yogyakarta” ini sepertinya menyadur banyak karya Herb, sepertinya Jemma Purdey tidak sedang bermain-main dengan biografi yang sebagian besar malah mirip buku sejarah politik Indonesia. Hal yang mencengangkan adalah beberapa fakta politik yang tertulis di buku ini, seperti sebuah teori konspirasi namun memang terjadi dan terasa di Indonesia. Seperti fakta terkait kekuasaan Soeharto misalnya, kekalutan politik dan berbagai macam kritik ilmuwan Australia dapat terbaca dengan runut di buku ini. Pun juga perlakuan pemerintah terhadap orang Australia saat itu juga dapat terlihat jelas di setiap BAB.

Decakan takjub saya tidak berhenti disana, berbagai kronologi lain mulai dari pergolakan kekuasaan orde bar uke orde lama, hingga perkembangan arah demokrasi Indonesia juga menjadi kebanggaan tersendiri saat saya membaca buku ini. Dengan membaca buku ini saya tidak hanya mengenal Herb Feith, tapi juga mengenal pemerintahan Indonesia beserta hal-hal disekitar Herb Feith. Seperti masa lahirnya jurusan politik Universitas Monash.

Berbagai peristiwa yang dihadiri Herb juga tergambar jelas di buku ini, seperti asal-usul keluarnya Timor Timur dari Indonesia. Secara historiografi buku ini sudah dapat memberikan gambaran bagaimana orang Australia yang biasa kita hakimi sebagai pencaplok kekuasaan Indonesia, memberikan pandangan mereka terkait kekuasaan pemerintah di Timor Timur. Buku ini memberikan gambaran pula bahwa di dalam internal negara kanguru tersebut juga sempat ada perdebatan mengenai dukungan atau kutukan yang akan dilontarkan kepada pemerintahan Indonesia.

Bagi anda yang belum membacanya, saya sangat menyarankan anda untuk membaca buku terbitan KPG ini. Tak hanya belajar tentang bagaimana berjuang untuk orang lain, tapi juga dapat belajar bagaimana menyikapi sebuah isu tentang kemanusiaan meskipun isu tersebut berada di negara lain.

Monday, 22 November 2021

Merauke=Sawah Jawa+Sungai Bintuni


 

Libra merauke
Tulisan Merauke di Depan Lingkaran Brawijaya (Libra

Beberapa hari kemarin saya berkesempatan perjalanan dinas ke Merauke, ke kabupaten tertimur Indonesia. Sebetulnya agenda perjalanan tersebut hanya satu hari saja, untuk berkoordinasi langsung ke Universitas Musamus mengenai pelaporan keuangan. Tapi seperti yang sudah diketahui umum untuk menuju dari dan ke kota kecil seperti Manokwari dan Merauke ini butuh beberapa kali transit. Seperti yang kemarin saya jalani, harus transit semalam di Jayapura.

Ada hal unik yang saya temui selama perjalanan, saat di bandara Sentani misalnya. Saat landing saya sempat ketar-ketir, karena bandaranya yang terletak di tengah-tengah bukit. Mungkin pembaca yang sering ke luar pulau Jawa akan memaklumi hal ini. Biasa danau yang ada di luar pulau Jawa memang begitu. Memiliki ciri khas: terletak di atas ketinggian, danaunya luas, dan disampingnya ada perbukitan yang lumayan tinggi. Selain faktor geografis saya juga sempat kaget dengan harga penginapan di sekitar bandara. Lebih mahal dari Manokwari, padahal secara luas kota lebih besar dari Manokwari, tapi di Jayapura ini lebih mahal.

Setelah terperangah dengan kejutan di Jayapura dan menginap semalam, saya mulai melakukan perjalanan ke Merauke. Dari Jayapura harus menempuh 40 menit menuju selatan. Kedua kota ini tidak terlalu dekat, namun saat ada gelaran olahraga Pekan Olahraga Nasional kemarin kedua kota ini merupakan kota primadona. Karena gelaran PON tersebut ditempatkan di kedua kota tersebut. “Saat PON di Merauke ini menjadi kota besar, tapi setelah PON usai di sini menjadi kota mati,” ungkap salah seorang supir yang saat itu mengantar kami ke Hotel.

Sebelum menuju kesana saya ingin mempresentasikan bagaimana Merauke dari udara. Hamparan sawah terlihat jelas dari udara, beberapa sungai juga terlihat jelas yang membuat saya menyimpulkan Merauke ini kombinasi desa Jawa dan Bintuni. Mirip sekali hamparan sawahnya dengan pedesaan di Jawa dan sungainya yang besar nan luas mirip seperti Bintuni. Kata atasan yang menjadi teman seperjalanan saya juga di Merauke ini datar dan luas, jadi banyak sawah. Sungai yang luas itu bernama Kali Maro, karena besarnya sungai tersebut maka dibangunlah pelabuhan di sungai tersebut.

Berkah yang berkelindan dari sungai dan sawah yang luas adalah melimpahnya kepiting, udang dan beras. Bahkan kata orang Merauke beras Merauke ini bisa mencukupi kebutuhan beras sebagian besar masyarakat provinsi Papua. Mungkin fakta ini yang saat ini masih belum ter-publish. Dan juga ada fakta yang membuat saya terpukau dan menginginkan bersepeda di Merauke, karena di Merauke ini tanahnya datar dan tidak ada track naik maupun turun. Hingga daerah perbatasan di distrik Sota masih datar, menurut pejabat Universitas Musamus saat kami berbincang, tanjakan mulai ada di distrik Boven Digul. Ke distrik yang terkenal sebagai tempat pengasingan para pejuang tersebut kurang lebih 350 km dari kota Merauke.

Dugaan saya tersebut terjawab, saat saya menginap di Hotel Halogen. Sewaktu jam sarapan saya baru keluar kamar jam delapan pagi setelah sebelumnya saya memilih untuk berjalan-jalan dan memfoto tulisan Merauke di Lingkaran Brawijaya. Di saat pukul delapan tersebut saya baru sarapan dan berbarengan degngan para tamu hotel yang masih memakai Jersey sepeda. Sepertinya seru jika ada persewaan sepeda yang dapat memfasilitasi tour dengan memakai sepeda di Merauke. Jadi wisata ke Merauke tidak melulu ke perbatasan Sota, tapi juga ada wisata ekonomis yang bisa dilakukan selama sehari.

Saya menjadi sangat bersyukur berdinas di Papua, bisa menuju pucuk timur Indonesia ini membikin rasa bersyukur saya membuncah di dalam hati. Tidak semua orang bisa mengunjungi kabupaten ini. Semoga cerita perjalanan ini dapat membantu pembaca untuk menambah refensi tentang Merauke.

Friday, 12 November 2021

Permendikbudristek Zina


Manuel Tovar Siles, Public domain, via Wikimedia Commons

Menteri pendidikan, kebudayaan, riset dan teknologi akhir-akhir ini mencuat ke permukaan. Seperti berhadapan face to face dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Hal ini ditengarai permendikbudristek nomor 30 tahun 2021 tentang pencegahan dan penanganan kekerasan seksual menuai perdebatan panjang. Menteri Nadiem Makarim dua hari yang lalu menanggapi maraknya kekerasan seksual di lingkungan kampus dengan mengeluarkan peraturan menteri. Isi dari peraturan menteri ini yang menuai kekhawatiran pihak PKS dan kroninya, karena bertentangan dengan ideologi yang mereka terapkan. 

Isi dari permendikbud ini dari substansi memang sudah jelas untuk mencegah kekerasan seksual di lingkungan sekolah dan kampus, tapi pihak PKS menganggap ini sebagai perlindungan terhadap perzinahan. Karena dalam peraturan menteri tersebut mengatur kekerasan seksual dapat ditindak sepanjang tidak berdasarkan persetujuan, alias jika ada persetujuan makan boleh-boleh saja untuk melakukan perzinahan. Lantas melipir juga ke penolakan mereka atas RUU Pencegahan Kekerasan Seksual yang dulu sempat menuai pro dan kontra.

Tentu hal ini akan menjadi sangat pelik dan rumit jika kedua pihak yang pro dan kontra ini tidak duduk bersama. Setidaknya kedua belah pihak yang pro dan kontra ini sudah memiliki kekhawatiran yang sama-sama baik. Mendikbudristek khawatir akan berlarut-larutnya kekerasan seksual di lingkungan pendidikan yang mana merupakan salah satu dari tiga dosa besar yang mencoreng dunia pendidikan. Sedangkan PKS mengkhawatirkan perzinahan yang merajalela di lingkungan pendidikan. 

Hanya saja salah satu pihak tidak saling berdiskusi, pendukung kedua kubu juga masih mengolok-olok dengan berbagai kalimat yang tidak sopan. Saling serang kedua kubu ini yang menjadikan noda pada niat baik dari kedua belah pihak.

Mungkin pihak kemendikbudristek dapat menjelaskan bahwa pelarangan perzinahan ini sebetulnya sudah dimaktubkan dalam kitab Undang-Undang hukum pidana (KUHP) yang kemarin baru diresmikan. Sodorkan fakta ini saja sudah bisa menepis kekhawatiran yang ajukan oleh kubu PKS. Sebagai pihak yang beriman rasanya wajar saja dengan kekhawatiran seperti itu. Bukan saatnya berdebat untuk dua niat yang baik.

Yang paling dikhawatirkan adalah debat kusir yang berujung pada penyebaran hoax, seperti saat adanya perdebatan RUU PKS yang diklaim salah satu pihak sebagai rancangan peraturan yang melegalkan perbuatan zina. Padahal dalam rancangan undang-undang tersebut sama sekali tidak ada pelegalan perzina.  Tapi ada beberapa pihak yang tidak bertanggungjawab menyebarkan bahwa adanya klausul membebaskan masyarakat untuk berzina, padahal kenyataannya klausul tersebut tidak ada. Ada juga yang menyebarkan fakta hukum yang sama sekali salah. Seperti "jika RUU ini berlaku, maka banyak suami yang akan ditahan". Alasannya karena tidak adanya persetujuan dari istri saat berhubungan badan. Ini adalah hal yang sangat mustahil. Suami istri berhubungan badan tanpa ada ijin dari istri adalah kemustahilan.

Semoga sepanas apapun perdebatan terkait peraturan menteri pendidikan kebudayaan riset dan teknologi ini nanti tidak bermuara pada kesimpulan blunder seperti ini. Adanya niat baik jika dieksekusi dengan hal yang kurang baik, maka tidak akan membawa kebaikan. Hanya ada kepentingan baik dan memahami dengan baik saja tidak cukup. Karena eksekusi peraturan ini akan dilaksanakan banyak pihak. Jika peraturan ini dicoret begitu saja pasti akan berlarut-larutnya kekerasan seksual di dunia pendidikan. Pun juga jika diresmikan begitu saja pasti ada kerisauan dari pihak lain. 

Monday, 8 November 2021

Uang Terimakasih


Infrogmation of New Orleans, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons

Kemarin saya melakukan penerbangan dari Manokwari ke Jayapura, tujuan penerbangan ini ke Merauke namun harus menginap semalam di Jayapura. Ini adalah perjalanan menggunakan pesawat kedua kali, setelah perjalanan saya bersama istri ke Manokwari setelah menikah kemarin. Berbagai regulasi silih berganti pada kedua penerbangan tersebut, yang awalnya wajib PCR kini cukup antigen. Karena di Manokwari sini tidak ada PCR. Selain itu ada juga regulasi EHAC yang awalnya menggunakan EHAC kini cukup menggunakan Peduli Lindungi yang katanya aplikasi wajib masuk mall di kota besar.

Ada hal menarik saat tes antigen kemarin di lab yang kebetulan dekat dengan rumah. Karena sudah beberapa bulan tidak melakukan update informasi persyaratan penerbangan, saya tidak mengetahui bahwa tes antigen yang semula 250 ribu turun menjadi 109 ribu. Merasa aneh dengan harga yang ganjil tapi perasaan itu saya tepis jauh-jauh dan memulai tes antigen untuk syarat penerbangan.

Setelah tes tersebut saya menanyakan harga tes dan membayarnya, ada yang lucu disaat membayar. Harga tes yang 109 ribu itu saya bayar 110 ribu, mbak laborannya bilang, “saya tra ada kembalian seribu”. Karena saya ada uang seribu maka saya menanyakan “apa ada dua ribu?”, mbak laborannya bilang lagi “tra ada kaka, seribu, dua ribu pun tra ada”. Saya jawab dengan “yo sudah kasi biar saja”, yang berarti saya mengikhlaskan uang kembalian.

Saya tidak ambil pusing dengan uang kembalian tersebut, dan keesokan harinya saya melanjutkan penerbangan. Setelah sampai hotel, mas resepsionis bilang kalau ada fasilitas transportasi ke bandara hanya membayar enam ribu saja. Lagi-lagi angka ganjil, angka-angka ini asing di telinga saya yang sudah dua tahun di Papua. Karena biasa orang Papua memberi harga pasti kelipatan lima ribu. Untuk hal apapuan kecuali uang parkir. Ojek, penjual buah, penjual makanan, sayuran dan semua hal. Tapi lagi-lagi saya menganggukkan kepala dan tidak menganggap ini hal serius.

Setelah sampai hotel saya pun makan dan berbincang dengan atasan yang sekaligus menjadi satu-satunya teman perjalanan saya untuk empat hari kedepan. Saya menceritakan hal tersebut sekaligus memberikan informasi untuk transportasi keesokan hari ke bandara. Beliau hanya tertawa dan bilang, “itu namanya uang terimakasih mas”. Jadi kita bayar 110 ribu kembaliannya hanya ucapan terimakasih saja. Pun juga sama dengan uang angkutan dari hotel ke bandara.

Resepsionis sengaja memberikan tarif yang ganjil dan terkesan murah dengan isyarat bahwa nanti akan dikenakan uang terimakasih saja. Jika bahasa kita di Jawa biasa menyebut bayar seikhlasnya saja. Namun dipatok minimal enam ribu rupiah. Ternyata ad acara lain untuk negosiasi agar kedua belah pihak bisa sama-sama enak. Ada uang rokok bagi yang mendapat pertolongan, pun juga yang memberikan pertolongan tidak terlalu berkeberatana. Tradisi ketimuran memang terkesan kurang tegas namun memberikan win-win solution bagi kedua pihak yang berkepentingan.

Mungkin bagi kita sang pembayar yang fokus ke angka nominal akan berkeberatan. Saya biasanya meminta kembalian dengan tidak memiliki rasa sungkan. Tapi di sisi lain ini adalah kebiasaan bergotong-royong. Kita mendapatkan fasilitas tapi membayar dengan nominal yang tidak terlalu mahal. Dan ada terselip kalimat terimakasih di sana. Sebagai kesopanan yang penuh makna atas fasilitas yang kita terima, meskipun fasilitasnya memang seharusnya kita terima.

Sunday, 31 October 2021

Metaverse Menipiskan Sekat Teknologi


Metaverse Mod Squad Logo
MetaverseTeam, CC BY 3.0, via Wikimedia Commons


Akhir-akhir ini Facebook digemparkan dengan surat pendiri Mark Zuckerberg, dalam status itu Mark sang pemilik Facebook mengenalkan nama baru aplikasi sosial media tersebut menjadi Meta. Kurang lebih dua hari yang lalu sayamelihat statusnya yang hanya menjelaskan perubahan nama, untuk misi yang akan dikerjakan tetap sama. Yaitu untuk menghubungkan pengguna satu sama lain. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa perubahan nama ini dianggap hal penting untuk melanjutkan transmigrasi komunikasi masa depan.

Nama Meta ini diusung untuk menegaskan bahwa metaverse sudah di depan mata, cara terhubung satu sama lain kini sudah ditransformasikan menjadi lebih maju. Tidak melulu dengan tulisan tapi juga bisa dengan menghadirkan secara fisik berupa avatar tubuh secara nyata. Kebetulan sebelum melihat surat pemilik Facebook itu saya mengikuti Livegram-nya Pak Win (HahKokGituSih) dengan salah satu developer dunia metaverse.

Dalam livegram tersebut dijelaskan bahwa metaverse ini adalah cara baru untuk berinteraksi. Pemakai metaverse bisa saja berupa sebuah komunitas yang eksistensinya diakui oleh developer game. Pengambilan keputusan dalam sebuah metaverse dapat dilakukan secara demokrasi. Bahkan suara pemakai pun juga bisa diakui sebagai penentu kebijakan metaverse. Meskipun sang presentator yang sedang menjalankan develop metaverse ini menekankan belum ada standard yang diterbitkan komunitas, tapi selama ini interaksi antar komunitas metaverse ini berjalan dengan mekanisme try and error.

Paling menariknya dalam sesi ini mereka membahas terkait ekonomi yang akan dihasilkan jika seluruh orang sudah menggunakan metaverse seperti halnya sosial media. Pembahasan ini diawali dengan adanya beberapa perusahaan teknologi besar seperti Tesla, Google, Facebook, Tencent yang sudah melakukan investasi tanah dalam metaverse. Sayangnya tidak ada penjelasan lebih lanjut metaverse apa yang sudah mereka suntik investasi dengan cara menjual tanah. Selain investasi tanah, dalam diskusi Instagram ini juga membahas adanya masa depan cerah dalam crypto. Pasalnya para masyarakat yang menggunakan metaverse ini pasti akan bertransaksi, dan dapat dikatakan transaksinya akan menggunakan mata uang crypto.

Dari penjelasan ini saya semakin yakin metaverse bukan hanya baru dimulai oleh Facebook, tapi baru saja dipublikasikan oleh Facebook. Dalam hal pembangunan sistematikanya, sudah banyak berbagai pihak yang urun daya dalam pembangunannya. Tidak cukup satu perusahaan besar saja yang bekerja, perlu banyak pihak untuk membangun terjadinya teleportasi secara digital ini. bayangkan saja, kata Mark Zuckerberg ada banyak avatar yang disiapkan untuk memfasilitasi berbagai rupa pengguna. Ada banyak animasi yang perlu dipersiapkan agar gambar avatar tersebut lebih luwes dan dapat mengembalikan feel bertatap muka secara langsung.

Kelebihan dari berkembangnya cara berkomunikasi ini adalah pergerakan manusia akan lebih sedikit, dalam video Mark yang dirilis oleh channel Youtube CNET, ia menjelaskan satu bangunan dapat dijadikan berbagai bangunan secara imajiner. Seperti contohnya rumah, jika kita ingin kerja di kantor cukup memakai kacamata setebal 5 milimeter untuk menghadirkan imajinasi kantor dan avatar kita juga dapat masuk di kantor sekaligus. Ini dapat mengurangi gerak kita, tidak perlu jalan ke kantor dan terjebak macet. Tidak perlu menghabiskan energi fosil yang dapat merusak bumi, dan berbagai kelebihan lain yang ditimbulkan dari tidak adanya perjalanan.

Namun tidak dapat dipungkiri teknologi semacam ini akan mengubah pola hidup masyarakat. Semua dikerjakan secara virtual hingga lupa rasanya berinteraksi secara manual. Otot kita tak lagi terpakai untuk menginjak pedal gas dan rem saat berangkat kantor. Jemari kita tak lagi tersentuh oleh orang saat bertemu langsung. Dampak terburuknya, pasti kita akan kangen dimana tidak adanya teknologi yang bisa memaksa kita berinteraksi secara langsung. Kenikmatan bertemu langsung tanpa adanya sekat teknologi rasanya masih belum tergantikan dengan interaksi yang difasilitasi teknologi.

Thursday, 28 October 2021

Kumpulan Tamplate Wikisource (catatan)


{{nop}}: untuk tamplate di halaman terakhir jika tulisan tersebut belum selesai

{{rh||19|}}: halaman, untuk ditaruh di kop (atas) atau di kaki (bawah)

<ins> diakhiri dengan </ins>: Garis bawah

atau <u> diakhiri dengan </u>: untuk memberi garis bawah


‘’’cetak tebal’’’: jadinya cetak tebal

‘’cetak miring’’: jadinya cetak miring


{{center|kalimat yang mau diketik}}: jadinya tulisannya di tengah

{{sic|aak|agak}}: untuk typo aak dan harusnya agak
{{hwe|aak|agak}}: untuk typo aak dan harusnya agak
{{hwd|aak|agak}}: untuk typo aak dan harusnya agak

format gambar jika upload melalui commons: nama gambar, judul buku, p(halaman buku)
jika gambar milik kementerian pakai lisensi {{PD-IDGov}}
<!-- pesan -->: untuk menyematkan pesan namun hanya terbaca di mode sunting (HTML)

<poem> jhkjhkjhj </poem> : untuk membuat larik seperti puisi