Coro merupakan bahasa jawa dari kecoak, omong coro bermakna omongan ngelantur tapi dapat dinyatakan jujur. Maka ketenangan serupa apa lagi yang dicari di dunia yang fana ini selain kejujuran. Tulisan berikut merupakan contoh dari omong coro.

Translate

About Me

My photo
Hi, saya pungkas nurrohman yang mencoba dewasa dengan jalan-jalan

Tuesday, 1 August 2017

Pertama Kalinya Ke Bromo


Sengaja Angle Fotonya Geje, tapi percayalah ini sunrise di Bukit Kingkong
Yeay…. Akhirnya pernah ke Bromo juga. Entah saya harus mengungkapkan sumpah serapah atau puji syukur. Kemaren dapat kesempatan guiding ke Gunung Bromo, antara suka dan bingung sih sebetulnya. Saya yang belum pernah ke gunung yang udah lumrah dikunjungin banyak orang, tiba-tiba disuruh jadi guide ke sana. Yah meskipun fungsi guide-nya masih dapat di tandom sama temen yang dapat job guide juga, tapi rasa deg-deg-an nya tetep ada. Disisi lain seneng banget dapat kesempatan jalan-jalan ke gunung yang tiap tahunnya memperingati yadya kasada.
Sebetulnya fungsi saya disana ya cuma nemenin tamu yang notabene open trip. Jadi ceritanya ada 4 tamu yang terbagi menjadi 2 pasang muda-mudi yang satu dari Pasuruan, satunya lagi dari Lampung. Intinya mereka double date tanpa di sadari. Open trip memang seperti itu, tanpa tamu sadari teman seperjalanannya siapa dari mana pastinya mereka pasti jalan di dalam satu jeep. Open trip untuk Bromo memiliki 4 destinasi sih sebetulnya. Destinasi awal melihat sunrise di Pananjakan, tapi anak-anak biasanya ngrekomendasiin ngeliatnya di Bukit Kingkong. Entah apa yang melatarbelakangi penamaan spot sunrise tersebut, yang jelas di bukit ini lebih sepi daripada Pananjakan. Setelah berdingin-dingin ria menunggu sang mentari pagi mencuat kepermukaan akhirnya sunrise muncul.

Skip aja ya soalnya saya cuma jadi tukang foto pas sunrise itu. Selanjutnya melipir tipis di Bukit Widodaren, di bukit yang mencomot kata widodari (bidadari bahasa jawa) ini tamu hanya berselfie berlatar gugusan pegunungan. Setelah berfoto sampek capek di Widodaren langsung ke Kalder Bromo. Di Kaldera Bromo ini saya saking semangatnya sampek nemenin tamu ke atas kawah. Padahal anak-anak lain gak ada yang nemenin sampek segitunya. Mungkin rasa bahagia yang tak berkesudahan ditambah dengan rasa penasaran dengan kondisi kawah yang bergemuruh tersebut menjadi bersemangat untuk menaiki kawah.
Ada sedikit masalah sih sebetulnya di kawah yang lumrah disebut Kaldera Bromo. Tamu saya yang naik kan 3 orang, yang satu nungguin di warung makan bawah. Nah mas-mas yang dari Lampung ini naiknya semangat banget, tapi dari atas ternyata dia gak bisa berdiri. Takut ketinggian yang menjadi latar belakang dia duduk tak bisa berdiri. Ngeliat kearah kawah pun keliatan tinggi dan melihat kebawah apa lagi.
Yah dilema memang akhirnya 2 tamu saya tinggal diatas dan saya memilih untuk turun duluan mendampingi tamu yang dari Lampung. Abis mbak-mbaknya yang tamu Pasuruan seneng banget foto-fotoan, entah foto selfienya diapload semua atau enggak. Sudah turun sampai bawah ada trouble lagi, mbak dan mas yang dari Pasuruan saya tungguin di bawah. eh gak turun-turun, aturan sih saya sebagai guide pamit ke mereka waktu masih diatas atau kalau gak gitu saya yang udah turun dibawah naik tangga lagi buat nyamperin mereka. Tapi rasa lelah emang gak bisa dikalahkan, soalnya udah siang juga. FYI kalau kesiangan biasanya sopir jeepnya grundel gak karu-karuan. Yah harap maklum mereka kalo dari Malang kota sore otomatis jam istirahat merek pasti berkurang. Apalagi kalau malemnya harus naik ke Bromo lagi.
Foto Di Savana

Setelah saya tunggu sampai beberapa jam akhirnya sepasang kekasih tersebut turun juga. Disini saya mulai plong deh, langsung teriak ke Om Belos sang supir untuk menginjak gas bergeser ke Savana. Di Savana kita dapat tempat foto yang unik dan nyentrik. Jadi latar fotonya ibarat ditengah lembah hijau yang gede banget. Setelah sampai sana rombonganpun kembali pulang ke Malang kota.

Cerita selesai dengan happy ending, setidaknya dengan menjadi guide saya bertemu orang-orang baru. Dan juga dapat berbagi cerita dengan para tamu ataupun supir jeep. Tak hanya bertemu dengan orang baru saya juga berkesempatan untuk kehilangan orang baru yang hampir 12 jam diajak ketawa-ketiwi kesana kemari.

0 comments:

Post a Comment