Coro merupakan bahasa jawa dari kecoak, omong coro bermakna omongan ngelantur tapi dapat dinyatakan jujur. Maka ketenangan serupa apa lagi yang dicari di dunia yang fana ini selain kejujuran. Tulisan berikut merupakan contoh dari omong coro.

Translate

About Me

My photo
Hi, saya pungkas nurrohman yang mencoba dewasa dengan jalan-jalan

Sunday, 8 September 2019

Catatan Harian Selama Kerusuhan di Manokwari (4)


Demo 6 september
Situasi Demo 6 September Depan Polsek Amban

Sabtu, 31 Oktober 2019
Tidak seperti hari libur biasanya, karena saya sudah bosan berjalan-jalan, jadi saya memutuskan untuk beristirahat di kosan. Menghabiskan waktu bercengkrama dengan anak kos. Mulai dengan bercerita hal yang paling enteng hingga hal yang paling berat. Mungkin ini cara menghabiskan waktu paling tepat. Hingga siang hari saya mengobrol dan bercengkrama seperti biasa. Rasanya sudah sangat lama saya tidak melakukan hal ini.
Siang harinya saya menumpang nonton tv ke rumah Mas Ade dan Juan. Karena memang malam harinya kita berencana untuk hang out. Maklumlah kami juga butuh nongkrong untuk melepas penat. Setali tiga uang, saat malam minggu pun ada acara pembukaan warung baru Mas Ijul (kawan mas Ade). Bukan milik mas Ijul sih, tapi dia hanya bertanggung jawab saja. Warung tersebut berjualan Tekwan, makanan khas Palembang. Dan malam itu menjadi sejumput hiburan ditengah ketegangan Manokwari.
Selain semangkuk Tekwan juga ada sejumput hiburan lain. Yaitu adanya kabar melegakan mengenai pemalangan kampus. Perhari ini palang di kampus sudah dibuka. Alias terhitung sejak Senin kampus akan beroperasi seperti biasa. Tidak ada demo, tidak ada sweeping, tidak ada saling pukul. Malamnya setelah makan Tekwan saat lewat memang sudah tidak terlihat sama sekali palang di semua gerbang.
Minggu, 1 September 2019
Semalam saya tidur ditempat mas Ade, memang karena nafsu saya yang saat ini lebih ke arah menonton tv. Ditengah internet yang mati tidak ada hal lain yang bisa dilakukan, selain mengobrol dan menonton tv hanya untuk menghabiskan waktu dengan cepat. Tiba-tiba ditengah nyenyaknya tidur saya dibangunkan teman-teman. Bukan karena bencana yang mendadak, tapi ada kenikmatan yang datang tiba-tiba.
Kenikmatan itu berupa wifi yang sudah dapat beroperasi. Sekitar pukul setengah dua. Semua penghuni rumah bangun. Seakan menghormati momen yang sangat kami idam-idamkan. Saya bangun sekitar setengah jam hanya untuk membuka Youtube dan mengunduh beberapa video, lalu tidur lagi. Secara tidak sadar saya sudah mendownload sekitar 50 video. Entah sampai kapan saya akan menontonnya, yang jelas ini hanya untuk berjaga saja. Jika sewaktu-waktu internet wifi padam lagi, saya tidak harus bingung mencari hiburan ke sana kemari.
Ternyata sampai siang internet tidak mati kembali. Rasanya internet ini sudah dan akan stabil terus. Ditengah nikmatnya bermain Facebook, ada dua kabar yang tidak mengenakkan. Kabar pertama ternyata tadi malam adalah malam satu Suro. Saya biasanya di malam satu Suro ikut merayakan. Entah dengan tidak tidur semalam suntuk atau dengan berdoa saat sebelum dan sesudah maghrib. Kabar kedua, di grup Facebook Manokwari sudah menyebar informasi bahwa besok akan ada demo lagi.
Ibarat mendapat kekayaan baru sedikit lalu dirampok lagi. Situasi tegang pun saat malam itu kembali menyelimuti. Saya memilih untuk tidur di tempat mas Ade lagi. Hanya untuk sekedar berjaga-jaga saja. Rencana besok pergi ke kantor pun saya batalkan dengan cepat. Seakan sudah ada rasa takut meskipun hanya ada sekedar info di Facebook.
Senin, 2 September 2019
Ternyata hari ini baik-baik saja. Bangun pagi seperti biasa Kristin langsung berkirim pesan, "berangkat jam berapa?". Karena saya masih dalam keadaan menunggu kepastian demo, saya memilih untuk berangkat siang. Hari itu saya berangkat jam 9 pagi. Ini adalah jam ngantor paling siang selama satu bulan menjadi CPNS.
Sesampai di kantor situasi terasa sangat kondusif. Sudah banyak orang berangkat ke kantor. Selain itu juga ada hal yang sangat mencengangkan. Dekan sastra yang kemarin marah dengan membawa samurai, pagi ini berkunjung ke keuangan. Bukan untuk apa-apa, melainkan hanya untuk bersalaman dengan semua orang yang ada di keuangan. Aura perdamaian sudah semakin menjadi. Entah hasil pertemuan sabtu kemarin apa, yang jelas sudah kondusif.
Ditengah situasi kondusif yang mulai saya nikmati, berhembus lagi kabar burung bahwa besok akan ada demo besar-besaran. Tujuan demo ini untuk mengembalikan bendera merah putih kepada gubernur. Tak pikir panjang, saya pun sudah berencana nanti malam tidur di rumah mas Ade lagi. Entah ini karena wifi sudah menyala atau karena ketakutan saya.
Tapi saat siang saya berjalan-jalan ke kota situasi tidak menegangkan sama sekali. Banyak toko yang buka dan semua berjalan seperti biasanya. Namun saya memilih untuk tidak terkecoh dengan hal ini. Karena di Papua hari esok adalah misteri yang sangat susah diprediksi. Banyak juga yang bilang hoax tapi saya tetap tidak percaya dan tidur di rumah mas Ade.
Selasa, 3 September 2019
Hari ini merupakan hari demonstran mulai bergerak. Jelas memang pagi itu masih ada simpang siur informasi. Ada yang bilang Manokwari aman, adapula yang bilang mobilisasi masa mulai bergerak. Entah yang benar mana, saya berniat untuk berangkat agak siang saja.
Pukul 10 informasi pun masuk, Darius (teman kos) mengatakan bahwa masa sudah mulai berkumpul di depan masjid Amban. Saat ini jalan Gunung Salju sudah sama sekali tidak dapat dilalui. Kabarnya masa akan bergerak ke bawah, namun di rektorat khususnya di keuangan semua orang masuk kantor seperti biasa. Kecuali saya dan Kristin yang memilih untuk tidak masuk, demi keamanan.
Niat hati berangkat pukul 12 (setelah dzuhur). Namun jam 11 berhembus kabar bahwa di depan chaos. Massa yang akan turun ke kota dihadang polisi brimob berseragam lengkap di depan polsek Amban. Beberapa video siang itu pun mulai beredar. Salah satu video yang tersebar adalah saat para pendemo memadati jalan Gunung salju dan mengibarkan bendera bintang kejora.
Bintang kejora merupakan bendera west papua. Jika sewaktu-waktu papua merdeka, bendera inilah nantinya yang dipersiapkan untuk menjadi bendera negara baru. Jelas-jelas bendera itu menunjukkan perlawanan. Namun berkibar bebas saat demonstasi di siang itu.
Otomatis polisi melakukan pengamanan sangat ketat. Sampai-sampai lapis dua. Namun bedanya demo kali ini dengan demo kerusuhan kemarin adalah jumlah perusakan. Meskipun ada beberapa titik demonstrasi, tapi dapat dinyatakan demo kali ini sangat damai. Sama sekali tidak ada perusakan, penjarahan, dan pemalangan.
Demo berlangsung sampai siang tengah hari. Tapi sore harinya jalanan sudah ramai kembali. Seakan tidak ada demo. Hanya yang disesalkan saat malam harinya di sosial media sangat gencar informasi yang menerangkan berbagai penangkapan. Mulai dari pemilik bendera besar yang berkibar hingga pembuat bendera kecil berukuran 15 x 30 sentimeter.
Sepertinya kabar penangkapan ini merupakan metode "asal bapak senang" dari pimpinan polisi. Karena mulai hari ini hingga seminggu kedepan Kapolri dan panglima militer berkantor di Papua. Semoga berbagai penangkapan ini tidak malah menjadi api di dalam sekam. Sehingga membuat panas secara perlahan namun berkepanjangan.
Rabu, 4 September 2019
Pagi ini seperti hari-hari pasca kerusuhan lainnya. Saya memilih untuk melihat kondisi dan berangkat kantor siang. Berangkat sekitar pukul 9 pagi. Namun rektorat sepertinya sangat sepi. Para pegawai hari itu sepertinya juga berangkat siang.
Artinya saya tidak sendirian dalam melihat situasi dan kondisi terkini. Ada beberapa pegawai yang memilih untuk berangkat setelah istirahat siang. Di kantor pun juga tidak ada pekerjaan. Karena memang saya dan Kristin sama sekali tidak di plot tugas apapun.
Sampai pulang kantor pun sepertinya memang sama sekali tidak ada konflik. Hanya situasi terasa mencekam karena ada 3 truk Brimob berjaga di sekitar Polsek. Jadi saya pun merasa tenang dengan keadaan hari ini. Di sisi lain juga saya merasa khawatir akan ke-labil-an situasi Manokwari. Sebentar panas sekejap pula dingin.
Kamis, 5 September 2019
Karena kemarin situasi sudah terlihat aman, saya dan Kristin berangkat pagi. Seperti biasanya pukul setengah delapan saya sudah sampai di kantor. Selain untuk membiasakan disiplin, saya berangkat pagi untuk mencari sinyal wifi. Untuk posting blog dan untuk bermain sosial media. Sampai-sampai saya tidak menyadari kondisi sangat sepi di gedung rektorat.
Tau-tau sudah mulai ramai, memang internet dapat menghipnotis. Seketika saya sadar melihat pegawai lain datang saya mulai mencari pekerjaan. Akhirnya dapat pekerjaan untuk mengarsipkan dokumen yang tercecer. Asyik bekerja tidak terasa sudah waktunya makan siang. Saat turun makan siang ternyata masih banyak Brimob berpakaian lengkap dan berjaga. Mungkin situasi memang masih dalam status waspada. Jadi mereka tetap berjaga dengan pakaian lengkap.
Namun ada yang sangat disayangkan yaitu internet tidak kunjung normal. Mulai tanggal 1 hanya wifi saja yang normal. Internet paket data masih mati. Padahal ada kabar hari ini sudah normal secara bertahap. Sepertinya itu hanya kabar isapan jempol belaka.

Jumat, 6 September 2019
Dua hari aman rasanya tidak menjamin keamanan secara keseluruhan dan berkelanjutan. Hari itu saya datang ke kantor pagi hari. Situasi aman dan tentram masih tercermin pada pagi itu. Namun anehnya pegawai yang biasanya jam 9 sudah masuk kerja, kali ini kantor masih sepi. Padahal sudah menunjukkan pukul 9. Hanya ada Pak Ubas dan Pak Ruben saja. Ibu Biro juga hanya standby di bawah. Tidak biasanya seperti itu.
Saat pukul 10 semua pegawai mulai berdatangan. Mereka bercerita bahwa di bawah sedang ada demo lagi. Pendemo mengenakan almamater Unipa. Ada kabar beredar juga di beberapa titik masuk ke Unipa dipalang oleh pendemo. Sehingga kampus hingga siang hari terasa sepi. Semua pimpinan universitas tidak datang. Padahal ada jadwal pertemuan senat.
Hingga siang hari situasi kian menegangkan. Tiba-tiba ada helikopter berwarna hijau tentara terbang rendah melewati rektorat. Mungkin saat ini dalam situasi waspada, sehingga TNI mengirimkan helikopter untuk pantauan udara.
Oleh sebab itu semua pegawai memilih untuk pulang pada tengah hari. Rencana awalnya saya meminjam motor bu Yuli untuk sholat jumat, tapi gagal. Karena memang disuruh untuk tidak kembali ke kantor setelah sholat jumat. Karena kondisi dirasa cukup menegangkan.
Siang itu saya turun bersama Kristin dan Pak Ruben. Mungkin Pak Ruben khawatir dengan keselamatan saya, beliau memilih untuk menemani saya dan Kristin hingga gereja Petrus. Padahal rumahnya ada di samping TK Yapis. Jadinya beliau jalan memutar ke arah gereja Petrus dulu.
Setelah sholat jumat hingga sore hari saya memilih untuk tidur saja. Bang Najib yang akan berkunjung ke kos saya larang. Karena memang siang itu beredar kabar akan adanya demo susulan. Setelah demo awal dibubarkan, pendemo memilih untuk berdemo lagi dengan masa yang lebih banyak. Meskipun demo awal sudah dibubarkan, mereka masih ingin menyampaikan aspirasi.
Namun sepertinya kabar tersebut hoax. Karena hingga malam hari belum ada pergerakan masa sama sekali. Untung besok libur, jadi saya bisa menenangkan diri sembari melakukan pekerjaan rumah. Tadi juga saya menanyakan Pak Ubas apakah minggu di rumah. Karena saya hari minggu esok ingin berkunjung ke rumahnya.

0 comments:

Post a Comment