Coro merupakan bahasa jawa dari kecoak, omong coro bermakna omongan ngelantur tapi dapat dinyatakan jujur. Maka ketenangan serupa apa lagi yang dicari di dunia yang fana ini selain kejujuran. Tulisan berikut merupakan contoh dari omong coro.

Search This Blog

Translate

About Me

My photo
Hi, saya pungkas nurrohman yang mencoba dewasa dengan jalan-jalan

Monday, 5 January 2026

Pengalaman Tahun Baru 2026 di Malang: Kuliner, Mall, dan Resort Asri


Pagi hari pertama di tahun 2026

Tahun baru bagi sebagian orang merupakan hari yang istimewa, bagaimana tidak? setiap setahun sekali semua orang berbondong-bondong untuk menikmati liburannya. Hal ini dicerminkan dengan harga akomodasi yang naik, tiket transum yang susah didapat, dan wana wisata yang ramai dengan pengunjung yang ingin merasakan sensasi liburan. Begitu pula dengan saya dan keluarga kecil ini, saya begitu ingin merasakan liburan ditengah keramaian seperti kebanyakan orang-orang. Biasanya kami suku jawa akan merayakannya dengan acara keluarga dan membakar makanan seperti halnya berbeque party. Hal ini lumrah ditemui meskipun di luar jawa yang saya temui seperti dalam cerita tersebut. Namun tahun baru kali ini saya ingin mendapatkan nuansa yang berbeda, tidak pula berlibur jauh seperti yang saya lakukan pada tahun 2024 saat ke Jogja. Saya kapok untuk bermacet-macetan dengan wisatawan lain yang naik bus sedangkan saya naik motor.

Saya di tahun baru 2026 kali ini memilih untuk menghabiskan waktu di dalam kota dan staycation. Namun sebelum menuju hotel, saya ingin berwisata keliling kota Malang seperti kebanyakan wisatawan. Saya mulai perjalanan jam 8 pagi dari rumah, dengan jarak tempuh 20 Km saya ingin menikmati kuliner kota. Maklum saya sangat jarang jalan-jalan ke kota, karena takut hujan mengingat kami hanya menaiki roda dua. Sehingga di malam tahun baru ini saya ingin menikmati bagaimana sarapan nasi lemak di warung Jasa Ayah, dapat memenuhi rasa penasaran kami sekeluarga. Setelah beres sarapan, kami bergeser ke pusat perbelanjaan Mall Olympic Garden. Mungkin akan sangat aneh untuk memasukkan mall ke intinerary, tapi seumur hidup istri saya belum pernah berkunjung ke mall ini, di sisi lain saya memiliki keyakinan bahwa pengelola mall akan memberikan kejutan saat tahun baru dengan memberikan atraksi atau dekorasi tertentu. Tak disangka, anak dan istri ternyata suka sekali berkunjung ke mall ini, pun juga tak disangka pula minat saya untuk mengeluarkan uang untuk jajan di mall ini juga besar. Sehingga kunjungan ke mall ini praktis membuat dompet saya lebih tipis, mirip dengan perjalanan ke luar kota. Namun tak mengapa, namanya juga liburan.

Rampung berjalan-jalan di mall, kami langsung bergeser ke resort yang sudah kami pesan. Pas saat pukul 2 siang kami melakukan check-in. Kami menginap di Padi Heritage yang lebih asri namun tidak terlalu jauh dari pusat kota, letaknya pas di belakang Unisma. Saya memilih kamar yang ada bathtubnya, agar anak kami dapat merasakan kemewahan yang jarang didapatkan di rumah. Rencana awal, setibanya di hotel kami langsung berenang dan jalan-jalan malam menikmati keramaian kota. Namun saat check-in kami diberikan voucher makan malam, sehingga kami membatalkan rencana untuk menikmati keramaian kota di malam hari dan memilih untuk menikmati santapan malam di hotel. Rencana untuk berenang juga musnah, karena ada bak kamar mandi yang membuat anak kami mengalihkan fokus dari kolam renang kepada berenang di bak kamar mandi. Ditambah juga cuaca saat sore hari hujan deras, sehingga sangat tidak memungkinkan untuk mengajak berenang. Padahal kolam renangnya sangat estetik, di lingkungan hotel ada dua kolam renang. Pertama kolam renang seperti layaknya kebanyakan hotel, dengan keramik berwarna biru. Dan kolam renang kedua adalah kolam renang outdoor dengan aksen batu yang lebih natural dan estetik.

Selain memilih kamar yang memiliki bak mandi, saya juga memilih kamar yang memiliki balkon untuk melihat kembang api. Seperti foto dalam tulisan ini, posisi balkon menghadap ke sungai dan sedikit tertutup dengan bangunan. Meskipun begitu saat menjelang perayaan tahun baru telihat letusan-letusan kembang api di balkon kamar. Sayangnya setelah saya memakan pizza untuk kudapan pendamping kopi dalam menikmati tahun baru, sakit gigi saya mulai kambuh. Jadinya saya memilih untuk tidur bersama anak saya yang sudah capek seharian jalan keliling mall, yang menikmati tahun baru di balkon hotel hanya istri saya sendiri.

Dari perjalanan liburan kami yang seharian menghabiskan waktu berjalan bersama keluarga ini, saya mendapatkan pelajaran berharga bahwa yang sudah kita rencanakan tidak akan berjalan dengan mulus. Minimal kita harus menyisakan keikhlasan dari perjalanan yang tidak akan seindah bayangan kita di awal. Atau kalau memungkinkan sebaiknya menyediakan waktu lebih dari satu hari untuk melakukan perjalanan sesuai itinerary. Semoga dengan adanya perjalanan di awal tahun ini dapat menjadi pengingat, bahwa tidak semua yang kita bayangkan akan terjadi persis dengan bayangan kita. Ada faktor lain yang mempengaruhi perjalanan hidup ini.

Saturday, 27 December 2025

Sebulan Domain Ini Seharga 17 Ribu


Geometric Question Mark

Mungkin hal ini sudah lumrah saat kemarin, saat saya masih bekerja seperti layaknya orang biasa, saat semua penghasilan masih bisa sisa sejuta ditiap bulannya. Namun saat ini, saat saya sudah tidak menerima penghasilan secukup dahulu, saat saya tidak bekerja seperti kebanyakan orang, saat meminggirkan uang seratus ribu perbulan saja susah, saya baru menyadari kalau ternyata domain ini mahal juga.

Setahunnya biaya perpanjangan domain ternyata Rp. 209.000, jadi bila dibagi 12 maka perbulannya 17 ribu. Bagi saya yang saat ini berpenghasilan kurang mencukupi, harga tersebut dapat dikatakan mahal. Ditambah lagi dengan saya kurang rutin merawat website ini, sehingga saya melewatkan uang sebanyak itu tiap tahunnya hanya untuk memperpanjang umur website yang tidak saya rawat. Memang cukup membingungkan.

Kini saya berada dalam tahap, memikirkan lanjut atau tidak. Bagi saya yang postingan blognya hanya 7 artikel dalam setahun, rasanya untuk meneruskan juga hanya membuang-buang uang saja. Meskipun dalam statistik dalam bulan ini dilihat oleh 4 ribu orang (entah ini statistik blogger valid atau tidak), tapi angka seperti itu rasanya lebih buruk dari yang melihat postingan sosial media saya. Jika dalam setiap postingan saya pasti dilihat 40 orang, maka jika dalam sebulan saya melakukan postingan 8 saja di FB, X, IG dan LinkedIn maka bisa meraup 1.280 tayangan.

Seperti halnya postingan sosial media, saya tidak perlu menulis panjang lebar, tak perlu memikirkan terlalu dalam dan tak perlu butuh waktu banyak untuk membuat satu postingan. Sudah meraup seperempat dari tayangan blog ini. Tapi disisi lain saya membutuhkan platform untuk sedikit senyap dan tidak terlalu mencolok, untuk menuangkan ide dan melatih cara menulis. Mungkin jika saya membutuhkan tempat seperti itu omongcoro memang tempatnya. Tanpa menyita banyak perhatian, saya dapat menuangkan apapun dan tayang di google.

Memang berat untuk memikirkan keberlangsungan hidup alamat domain yang mulai saya beli pada tahun 2018 ini. Kalaupun layak untuk dipertahankan, saya wajib untuk menulis minimal 2 kali dalam sebulan, agar tidak terlalu rugi. Sehingga jika saya menulis perbulan 2 kali, maka sekali artikel saya tayang saya membebankan biaya 9 ribuan, bukan untuk dibayarkan kepada saya, namun untuk biaya publikasi di website saya sendiri.

Mungkin hal ini terlihat membingungkan, namun layak untuk diperjuangkan. Untuk mempertahankan blog yang awalnya bernama pungkasnurrohman.blogspot.com kini menjadi omongcoro.com ini ternyata butuh usaha lebih. Sembari memikirkan hal ini di akhir tahun dengan penuh bencana banjir di Sumatera ini, sebaiknya saya mulai menimbang apakah ini layak diambil atau tidak. Jika layak diambil sebaiknya saya mulai membenahi tampilan website melalui AI. 

Sunday, 23 November 2025

Presentasi di Hadapan Para Ahli


sesi presentasi Wikidata di Unair
Sesi Presentasi Wikidata di Univ. Airlangga

Beberapa hari lalu saya mendapatkan undangan untuk menjelaskan proyek-proyek wiki di dua kampus yang berbeda. Sebuah kebanggaan memang melakukan presentasi di kampus menurut saya. Menjadi salah satu ekosistem dalam kampus dengan kemewahan pengetahuannya merupakan sebuah momen istimewa yang tidak dapat diduga.

Pertama saya mendapat kesempatan untuk menjelaskan cara berkontribusi di wikikamus (wiktionary) di hadapan mahasiswa bahasa beserta dosennya pada awal november lalua. Acara ini hasil kerja sama antara tim kerja Wikitutur dengan Klub Wiki UB. Istimewanya saya mempresentasikan cara membuat kamus di hadapan mahasiswa linguistik, FIB, Univ. Brawijaya. Dengan tujuan mereka dapat ikut berkontribusi, khususnya pada bahasa-bahasa yang sedang mereka teliti.

Sebelumnya memang Wikitutur telah bekerja sama dalam pengarsipan bahasa tengger dengan prodi bahasa yang mewakili pakar dalam melakukan pengarsipan bahasa. Namun kali ini saya memberikan materi terkait cara dalam memasukkan lema dalam bahasa tengger tersebut ke wikikamus. Saya harus mengakui bahwa ini privilage saja, karena saya juga sukarelawan baru dalam wikikamus dan jarang menyunting di wikikamus. Saat program Wikituturawal, saya mecoba mengikuti materi yang disampaikan dalam wikitutur, harapannya dapat berkontribusi dengan mengarsipkan bahasa-bahasa papua.

Setelah Wikitutur tersebut berjalan, saya tidak mengupdate pengetahuan apapun mengenai wikitutur. Hingga wikikamus menjadi komunitas berbasis proyek dan mengajak seluruh kontributor untuk bergabung. Setelah saya bergabung dan kebetulan saat ini sedang di Malang, maka diajak untuk membantu menjadi pemateri dalam Wikitutur 3.0. Karena merupakan kehormatan maka saya tidak dapat menolaknya. Alhasil terselenggaralah acara Wikitutur 3.0 dengan Universitas Brawijaya yang juga mengajak narasumber dari tengger langsung. Meskipun cukup melelahkan, karena mengajak kontributor baru yang berasal dari ilmu sosial untuk melakukan input berupa bahasa pemrograman khas wiki, namun acara tersebut cukup mengesankan.

Acara kedua saya diajak tim teknologi Wikimedia Indonesia untuk melakukan presentasi di Universitas Airlangga pada 20 november kemarin. Seperti biasanya saya selalu mau jika diajak acara wiki-wikian. Namun karena acara satu ini saya harus ke Surabaya, saya memikirkan ulang untuk pergi. Ditambah musim hujan, pasti akan sangat tidak memungkinkan untuk perjalanan pulang pergi langsung setelah acara. Namun tim teknologi menjanjikan penginapan untuk saya agar tidak langsung pulang pergi, maka setelah kabar tersebut diberikan segera saya menyanggupi untuk melakukan presentasi di Universitas Airlangga.

Meskipun saya sudah fasih dalam wikidata karena mengikuti perkembangan pengetahuan dan masih menyunting aktif di wikidata, namun ngerinya masih sama seperti acara sebelumnya, yaitu audiensnya mahasiswa dijurusan yang seharusnya mumpuni dalam bidang ini. Yaitu jurusan yang bersinggungan dengan komputer. Saya yang lulusan pajak dan bekerja tidak pada hal-hal yang bersinggungan dengan komputer jelas akan merasa minder. Namun hal ini tidak dapat saya tolak, mengingat saya baru mengetahui audiensnya satu minggu sebelum acara terlaksana.

Alhamdulilahnya saat acara terlaksana tidak ada yang terkendala, semua berjalan lancar dengan slide presentasi yang saya buat tepat pada sasaran. Pesertanya juga tidak ada yang tanya terkait teknologi dan sesuatu yang tidak saya kuasai. Karena saya di awal presentasi sudah memberikan penafian (disclaimer) bahwa saya bukan orang komputer sehingga kalau ada yang salah saya terbuka untuk diinterupsi saat menjelaskan. Alhasil mereka memahami keterbatasan yang saya miliki dan mereka melakukan kontribusi dengan baik, saya pun dalam slide juga menjelaskan sesuai target yang diberikan tim teknologi. Sehingga semuanya dapat dikatakan lancar.

Dari kedua acara ini, saya mengambil pelajaran bahwa untuk berbagi tidak harus menjadi ahli. Hanya cukup dengan kesediaan untuk berbagi dan bukan menggurui. Karena dalam berbagi pengetahuan harus ada yang kita ambil, yaitu pengetahuan baru dari mereka yang kita ajak berbagi. Sama halnya dengan berkontribusi di berbagai proyek wiki-wikian, tidak perlu ahli dalam berkontribusi, namun perlu keterbukaan diri dalam koreksi.

Friday, 24 October 2025

Pengalaman Pertama Rawat Inap, Langsung di Dua RS


memakai selang oksigen meskipun tidak sesak


Saat awal bulan September ini merupakan pengalaman pertama saya di rawat di rumah sakit. Jadi ceritanya sesaat setelah gerak jalan perayaan hari kemerdekaan yang diadakan pemuda karang taruna di kampung, saya terserah penyakit demam berdarah. Sesaat setelah pengundian hadiah selesai, badan saya meriang dan menggigil. Awalnya saya kira karena kecapekan karena durasi menunggu hadiah yang terlampau lama, mulai pukul 8 pagi hingga pukul 2 siang. Ditambah saya mendapat titipan untuk “menjaga” nomor kakak saya, sehingga kupon undian yang harus saya pegang cukup banyak. Sehingga konsentrasi saya cukup terperas untuk mengecek setiap nomor yang dipanggil, akan tetapi yang muncul banyak malah kupon-kupon titipan. Milik saya sendiri malah Cuma mendapat 3 hadiah hiburan.

Karena hal tersebutlah saya menyimpulkan, mungkin saya hanya stres karena sudah mencurahkan semua konsentrasi namun hanya mendapat sedikit hadiah. Namun setelah tiga hari menggil, kondisi tubuh saya tidak segera pulih. Badan masih lemas, kepala masih pusing, setiap malam juga masih menggigil kedinginan dan suhu badan juga panas. Maka saya periksa ke klinik Nusantara yang merupakan faskes 1 dalam kartu BPJS. Dokter memberikan obat saja, tidak dilakukan cek lab. Saat itu dikarenakan alat labnya rusak, sehingga diberikana parasetamol dan anti biotik saja. Saat kunjungan pertama ini sempat ditawarkan rawat inap, namun entah mengapa saya menolak tawaran yang kemudian saya ambil tersebut.

Setelah tiga hari semenjak kunjungan ke klinik tersebut, penyakit saya tidak kunjung sembuh. Parasetamol sudah habis, pun juga antibiotik. Sehingga saya diajak untuk memeriksakan kondisi ke dokter. Saat itu istri sudah bilang, “kalau disuruh rawat inap, bilang mau saja” tanda bahwa orang rumah sudah siap jika saya opname di klinik tersebut. Singkat cerita, saat diperiksa dokter (yang berbeda dengan dokter saat kunjungan pertama) saya ditawarkan untuk ngamar di klinik ini. Tanpa berpikir panjang saya menganggukkan kepala tanda saya menyanggupinya.

Maka dari itu diuruslah administrasi oleh bapak saya yang saat itu mengantar saya. Saat pengurusan administrasi ada hal aneh yang ditanyakan oleh bagian administrasi. Yaitu “apakah bersedia dirawat minimal tiga hari?”, jika kurang dari tiga hari pulang dengan kemauan sendiri maka tidak ditanggung BPJS. Saya iyakan saja agar cepat tidur kasur, namun bapak saya yang merasa itu ganjil menanyakan kepada temannya yang bekerja di BPJS Kesehatan. Dan sialnya teman bapak saya langsung menanyakan hal yang menurut saya kurang penting tersebut ke pimpinan klinik. Alhasil keesokan harinya bagian public relation klinik ini mengunjungi saya dan menyatakan permohonan maaf atas ketidakjelasan informasi tersebut.

Terlepas dari ketidakjelasan informasi yang merupakan kelemahan klinik ini, saya merasa nyaman dengan perawatan saya di klinik Nusantara ini. Selain karena bentuk ruang rawat inapnya yang seperti losmen, pelayanan dan makanannya tidak seperti di rumah sakit. Sehingga saya serasa berlibur dan tiduran di penginapan. Ditambah lagi saat saya masuk ruangan, keesokan harinya pasien selain saya sudah pulang. Sehingga satu klinik hanya saya yang melakukan rawat inap, selebihnya rawat jalan mulai pukul 8 pagi hingga 8 malam.

Saya mendapatkan perawatan di klinik ini selama dua malam saja, pada waktu di rawat saya divonis mengidap sakit demam berdarah. Setelah menginap dua malam saya dikunjungi dokter dan dibilang terlihat kuning. Dokter tersebut mencurigai saya mengalami kelainan fungsi hati (hepatitis), sehingga saya dirujuk pindah ke rumah sakit. Rumah sakit tempat rujukan tersebut juga terbilang kurang familiar bagi saya yang terbiasa mengunjungi rumah sakit besar seperti RS Wava Husada atau RSUD Kanjuruhan.

Awalnya dokter tersebut merujuk saya ke RS Hasta Husada, yang terletak kurang dari satu kilometer dari klinik dan rumah. Namun karena di sana setelah dihubungi ternyata penuh, maka rujukannya pun diubah ke RS Ben Mari. Jaraknya pun cukup jauh, lebih dari 10 kilometer dari rumah. Seumur hidup saya tidak pernah berkunjung untuk rawat jalan ataupun membesuk teman di rumah sakit ini.

Tapi karena saya tidak memikirkan jarak maupun jenis rumah sakitnya, sayapun mengiyakan rumah sakit tersebut sebagai tempat ngamar saya berikutnya. Singkat cerita saya dibawa ambulan dan masuk ke UGD rumah sakit tersebut. Dari observasi dokter UGD saya dinyatakan sakit paru-paru. Hal ini dikarekanakan hasil foto rontgent saya terlihat beberapa flek di paru-paru. Entah ini flek asap rokok atau memang penyakit, tapi dari hasil foto tersebut yang menghasilkan saya dicurigai TBC.

Padahal saya sudah lama tidak merokok, namun masih sering berinteraksi dengan perokok maupun asap knalpot. Selain hasil foto rontgent, saat dibawa ke rumah sakit tersebut saya juga batuk-batuk cukup parah. Padahal sebelum saya opname di klinik nusantara, saya tidak batuk sama sekali. Mungkin saya tertular batuk di klinik nusantara, pikir saya. Namun setelah diobservasi lebih lanjut melihat nafas saya, ternyata saya cukup ngos-ngosan. Menurut mbak-mbak perawat yang menghitung nafas saya, manusia pada umumnya mengambil nafas 20 kali dalam semenit, tapi saya bernafas 30 kali dalam semenit. Sehingga disimpulkan saya mengalami gangguan pernafasan di paru-paru.

Setelah mendapatkan hasil observasi maka saya diantar ke ruang isolasi. Awalnya saya pikir akan disini sementara saja, mungkin semalam saja sudah pindah ke ruangan pada umumnya yang dalam satu kamar ada beberapa pasien. Ternyata setelah saya tanyakan ke perawat, saya akan disini hingga sembuh, karena saya dicurigai TBC sehingga tidak sebebas pasien lain. Setidaknya itu yang saya rasakan saat mendapat perawatan di ruangan tersebut.

Namun kenyataanya beda, saya bebas dikunjungi siapapun, bebas menikmati sinar matahari pagi sembari melakukan peregangan, bebas berjalan sambil membawa cairan infus keliling rumah sakit. Seperti di klinik nusantara, saya sangat happy mendapatkan perawatan di rumah sakit ini. Desain bangunannya yang tidak terlalu sumpek seperti rumah sakit besar yang saya ketahui, membuat saya enjoy menjalani masa penyembuhan di sini.

Selain itu sepertinya saya juga merasa sangat bersyukur mendapat kamar isolasi, karena sekamar hanya saya sendiri. Sehingga saya merasa di kamar lebih privat, meskipun sekali-dua kali ada perawat yang mengunjungi untuk memberikan suntikan atau infus. Tapi saya tetap bebas melihat youtube dan video lain tanpa merasa mengganggu pengunjung lain.

Lantas setelah beberapa hari menginap di RS saya mendapati hasil bahwa sample ludah yang saya ludahkan hingga tenggorokan saya kering -karena ukuran ludah yang harus dikumpulkan 40 ml- ini negatif TBC. Saya divonis pneumonia, setelah saya cari arti istilah tersebut maka saya mengetahui bahwa paru-paru saya terjangkit sesuatu yang asing (jamur/bakteri/virus). Sehingga saya batuk kering dan susah sembuh.

Namun saya masih mencurigai bahwa ini hanya akal-akalan saja. Karena rumah sakit dan tenaga kesehatan seluruh indonesia saat ini berfokus pada TBC. Mulai dari program antisipasi TBC yang dilakukan oleh puskesmas, hingga rumah sakit kini mencurigai jika ada yang batuk harus dicurigai sebagai TBC.

Kecurigaan ini berawal dari asumsi saya bahwa beberapa bulan yang lalu investasi Bill Gates untuk ujicoba vaksin TBC ditolak oleh masyarakat, maka pemerintah seakan-akan mencari-cari orang yang terjangkit TBC dan memaparkan data bahwa TBC di Indonesia tinggi. Sehingga propaganda tersebut berhasil dan masyarakat beranggapan memang diperlukan investasi tersebut.

Pada rawat inap saya kali ini, yang aneh adalah saat dirujuk dari klinik Nusantara saya divonis kelainan fungsi hati, namun yang dilakukan foto rontgent malah paru-paru. Harusnya yang difoto adalah hati, karena observasi dari klinik adanya masalah di hati. Semenjak saya dicurigai ada masalah di paru-paru, perawatan yang saya dapatkan menjadi seakan-akan saya sesak nafas dan perlu penanganan ekstra. Semenjak di UGD saya diberikan selang oksigen untuk bernafas, dilakukan pengasapan setiap hari 3 kali.

Karena hal tersebut saya tidak merasa dirugikan sama sekali, toh juga karena adanya vonis TBC saya mendapatkan ruangan yang lebih privat. Baru kali ini juga saya menjajal dinginnya selang oksigen namun tidak ada keluhan terkait nafas. Mungkin ini cara semesta memberikan pengalaman tentang rumah sakit, selang oksigen, nebul dan betapa tersiksanya meludah saat batuk untuk diuji ludahnya.

Monday, 18 August 2025

Demokrasi Para Perampok (Resensi Buku)




Negeri ini merupakan negeri demokrasi katanya, namun makna demokrasi hanya dinikmati oleh segelintir elit saja yang berada di atas. Sedangkan kaum akar rumput masih belum menikmati makna dari negeri demokrasi. Mbah Toto Rahardjo dan Oka Karyanto dengan culas memaknai demokrasi ini sebagai mana tajuk dalam tulisan ini. Kalau dipikir-pikir ada benarnya juga, dengan adanya segelintir orang yang ingin menang sendiri, sepertinya mereka berdua tidak salah. Terlebih yang dipecundangi adalah para pembayar pajak.

Menjadi relevan ketika dalam setiap bab buku ini menjelaskan satu persatu masalah negeri ini. Agar mendapat konteks penting saya ingin menjelaskan karakter para penulisnya terlebih dahulu. Pak Toto Rahardjo adalah aktivis tua yang saat ini masih berkecimpung dalam pendidikan berbasis karakter bernama Sanggar Anak Alam (SALAM) di Yogyakarta. Selain bergelut dalam pembentukan karakter sebagai penanaman nilai, jamaah Maiyah juga mengenal beliau sebagai pentolan. Namun Namanya diganti menjadi “Kyai Tohar”. Sedangkan Pak Oka Karyanto merupakan aktivis lingkungan hidup yang kerap bergelut dengan hutan, latar belakang beliau adalah sebagai akademisi di fakultas kehutanan UGM.

Dari kolaborasi mereka berdua jelas melahirkan kritik singkat namun berdasar mengenai karakter bangsa dan lingkungan hidup. Beberapa kondisi terkait jeleknya negeri ini dimulai dengan cerita baik dari desa dengan kepala desa yang menolak politik uang. Yaitu Wahyudi Anggoro Hadi yang memimpin desa menggunakan hati tanpa memperdulikan gaji. Di buku ini ia diceritakan sebagai contoh sukses pemimpin. Meskipun pada pemilu kemarin ia mencalonkan diri menjadi wakil bupati Bantul, namun sepertinya buku ini tidak melakukan endorse terhadapa karir politik Wahyudi.

Alih-alih menjadi ajang kampanye, buku ini memberikan pentingnya peran desa jika dikelola dengan baik. Sumber daya desa yang kerap dilupakan dibahas habis-habisan dalam buku ini, hingga swasembada desa terhadap negara digambarkan begitu nyata dan terasa bagi saya sebagai pembaca yang saat ini tinggal jauh dari Jakarta. Kebijakan-kebijakan pusat yang keliru terhadap desa menjadikan desa tidak berdikari, sehingga terus menerus ingin mendapatkan suapan anggaran dari pusat maupun provinsi.

Selain peran desa yang ditonjolkan berlanjut pada karakter bangsa saat ini yang menjadi bulan-bulanan globalisasi. Terus menerus dikondisikan sebagai penerima hutang tanpa tahu meminjam uang untuk apa. Kerja sama ekonomi pun tak luput dari kritikan buku ini, dengan adanya lembaga-lembaga ekonomi seakan menjadikan negeri ini kacung elit global yang siap mengorbankan negeri beserta rakyatnya.

Peran pemerintah pula seakan enggan untuk menghembuskan angin politik untuk membela warga negaranya. Dengan memainkan peran yang seakan-akan membela rakyat namun melakukan pembungkaman melalu sosial media, dengan ekstrim buku ini menyarankan negara ini untuk menghapus demokrasi dan mengakui sebagai kerajaan. Toh dalam pemilihan yang lalu kita mendapat pemimpin anaknya pemimpin sebelumnya dengan kualitas buruk.

Ditambah lagi berbagai gerakan untuk memberikan kuasa pada militer kini sudah terlihat. Gelagat untuk membungkam rakyat dengan alasan kestabilan negara mulai dihembuskan. Buku ini membahas pula plus minusnya jika kritik dibungkam. Memang ekonomi akan berjalan lebih stabil dan lebih bagus, namun kualitas demokrasi lebih menurun. Dengan kesimpulan demokrasi memang tidak menjamin ekonomi akan membaik, namun dengan demokrasi setiap kepala warga negara akan merasa diperlakukan secara adil.

Sayangnya kedua penulis ini tidak memberikan perspektif pada sisi pemerintah. Hanya mencerca bertubi-tubi tanpa mempertimbangkan prinsip tata negara. Bagi saya hal ini menjadi titik kelemahan buku ini, karena memberikan kritikan yang kurang berimbang, meskipun sebagian besar terbilang obyektif.

Thursday, 24 July 2025

Mendaki Budug Asu Bersama Anak dan Istri


 

Track Menuju Pos Pendakian

Awal bulan Juli 2025 saya mendaki gunung bersama keluarga, terlihat menyenangkan namun tidak dengan kenyataannya. Saya sekeluarga (anak dan istri) bersama kakak dan istrinya memilih untuk mendaki Budug Asu, terlihat sederhana namun tidak dengan kenyataannya.

Budug Asu merupakan bukit yang ada di Kecamatan Lawang, sedikit di atas kebun teh dengan ketinggian 1.422 MdPL. Biasanya untuk naik ke Budug Asu ditempuh melalui Balai Besar InseminasiBuatan (BBIB) Singosari. Warga sekitar biasa menyebut daerah ini Songsong, karena melewati desa yang bersana Songsong. Namun kemarin kami melewati jalur kebun teh (ketinggian 950 MdPL), karena kami menginap di rumah kakak yang berada di Lawang. Agar tidak harus berangkat pagi dari Kepanjen, maka kami memutuskan untuk bermalam di rumah kakak dan keesokan harinya mulai perjalanan menuju Budug Asu.

Selain karena ada keluarga yang siap menampung, kami memutuskan untuk mendaki Budug Asu karena ini pertama kalinya kegiatan di alam bebas bersama keluarga. Kami tidak ingin mencari gunung yang harus menginap semalam untuk mendakinya, karena masih pengalaman awal. Sehingga pilihan kami jatuh di Budug Asu agar dapat didaki selama seharian.

Perjalanan kami mulai jam 9 siang, dengan perkiraan sampai di atas jam 12 siang dan turun kembali jam 2 siang. Kami memulai perjalanan menuju kebun teh wonosari, dalam perjalanan yang mulai menanjak itu kami dikejutkan dengan membayar saat di gerbang masuk kebun teh. Tarif yang harus dibayar sebesar 20.000/orang, 5.000/motor, 10.000/mobil. Ini adalah konsekuensi jika mendaki Budug Asu melalui kebun teh, meskipun begitu apa boleh buat kami akhirnya membayar tarif tersebut. Selain itu konsekuensi lain adalah parkiran kebun teh hanya buka hingga pukul 16.00, sehingga jika memarkir kendaraan di sini usahakan sebelum jam 16.00 sudah sampai dan sudah diambil. Untungnya karena saya pakai baju casual dan celana pendek sehingga yang harusnya membayar 4 orang 2 motor, kami hanya disuruh membayar 3 orang 2 motor. Mungkin karena saya dikira warga lokal dengan pakaian alakadarnya dan bersandal japit swallow biru.

Setelah membayar dan memarkir motor, tanpa tertarik untuk menikmati kebun teh kami langsung menuju pos pendakian Budug Asu. Jarak dari kebun teh Wonosari menuju pos pendakian Budug Asu kira-kira 4 KM, namun karena kami melewatinya dengan santai dan versi pemula jarak ini kami tempuh dalam 3 jam. Karena jalan yang menanjak dan model track yang berbatu (makadam) sehingga dirasa melelahkan karena harus mengatur pijakan kaki yang pas agar tidak kesleo. Kondisi ini ditambah dengan saya membawa anak yang berumur 3 tahun, sehingga beberapa kali istirahat santai dibutuhkan untuk mengatur nafas penggendongnya.

Setelah dari pos pendakian kami membayar biaya masuk pendakian sebesar 10.000/orang. Dari sini kami pecah menjadi dua, saya beserta anak istri memilih jalur yang landai dan tidak dibutuhkan tali, sedangkan kakak dan istrinya memilih jalur yang menanjak tapi cepat. Maka dari itu saya memutuskan untuk beristirahat sejenak saja di pos pendakian, karena jalur kami terbilang sangat jauh memutar dibanding jalur yang menanjak.

Setelah kami berjalan sekitar setengah jam, kami menemukan jalur yang cukup menanjak namun tidak curam. Pengelola rupanya sudah menyiapkan bedengan sebagai tangga agar dapat dilalui. Saat di tangga ini anak saya jatuh dan menangis, sebagai orang tua sepertinya saya harus berhenti sejenak untuk melihat kondisi anak saya. Ternyata alasan menangisnya bukanlah karena sakit, tapi karena tangan dan bajunya kotor. Alhasil ia saya gendong terus sampai atas sembari bernyanyi playlistnya yang biasa disetel di Youtube kids.

Syukurnya setelah sekitar 15 menit berjalan, kami bertemu dengan kamar mandi umum yang bisa digunakan untuk membasuh kaki dan tangan anak saya yang kotor. Setelah itu kesedihannya sudah berangsur menghilang dan ia mulai berjalan sendiri hingga titik teratas. Sampai di titik teratas kami bersyukur sudah dapat melalui semua namun logistik masih ada di tas kakak saya, alhasil kami menikmati segarnya air minum sembari menunggu giliran foto di papan nama “puncak budug asu”. Logistik memang sengaja kami taruh di kakak karena saat saya naik di Budug Asu dulu ada warung di atas yang menyediakan mie dan minuman. Namun sepertinya warung ini hanya buka saat weekend saja, karena kami mendakinya weekday jadi warung tersebut tutup. Mungkin ini dapat menjadi pelajaran berharga dalam pendakian selanjutnya.

Hampir setengah jam kami menunggu di depan jalur yang menanjak terjal dengan tali, namun kakak saya dan istrinya tidak kunjung terlihat. Lama-lama ternyata kakak saya muncul dari jalur datar yang sudah kami lalui. Kemudian ia menjelaskan bahwa jalur menanjak itu tidak mungkin dilaluinya bersama istri, sehingga kembali dan mengikuti jalur kami yang lebih datar. Setelah pertemuan tersebut kami melakukan makan snack dan roti seadanya, namun masih terasa kurang, syukurnya ada makanan yang entah milik siapa dan berada di atas karpet. Saya berinisiatif untuk menanyakan kepada pendaki lain, dan mereka bilang tidak ada yang punya makanan tersebut namun karpet tersebut merupakan inventaris budug asu.

Tanpa menunggu lama kami pun mengangkut kripik usus, roti goreng bersama cakwe yang ditinggal begitu saja oleh pemiliknya. Karena kami tidak memiliki cukup logistik yang dapat dikonsumsi. Hal ini lumrah terjadi, biasanya mereka yang membawa logistik begitu banyak akan meninggalkan begitu saja di atas untuk mengurangi beban yang dibawa turun. Sembari menikmati makanan kami bergantian melakukan sholat di mushola (depan kamar mandi). Musholanya cukup bersih dan terawat, namun mukenanya hanya ada satu dan talinya putus. Jika saya berkesempatan ke Budug Asu Insyaallah akan saya bawakan satu mukena.

Selesai melakukan sholat dan memakan kripik usus beserta roti goreng, kami memulai berjalanan turun dengan rasa syukur dan bergembira. Selain perut sudah kenyang, di perjalanan kali ini kami tidak mengalami kecelakaan apapun. Pengalaman baik ini sepertinya sepadan dengan tiket masuk Budug Asu senilai 10.000. Selain pengelolaan tempat wisata yang cukup bersih, adanya kamar mandi umum dengan air berlimpah juga cukup diapresiasi.


Tuesday, 8 July 2025

Kelimpungan Kuliah Online




Beberapa hari ini saya cukup kelimpungan mengikuti metode belajar online-nya Universitas Terbuka. Selain karena harus mengurusi Umar yang semakin besar semakin kreatif, saya juga memiliki target untuk belajar online meskipun dapat dibuat mainan namun saya menolak untuk main-main. Setiap matakulian harus saya pelajari sebagaimana halnya orang berkuliah offline.

Mungkin memang terlalu berlebihan, namun saya berpikir jika saya bermain-main dalam kuliah maka sama saja dengan melakukan korupsi. Meskipun Mamat teman saat kuliah D3 Perpajakan yang dulu terbilang idealis dalam belajar, akhir-akhir ini mengoreksi idealismenya dengan mengatakan “Jika umur 20-an tidak idealis maka ia rugi, namun jika usia 30-an masih idealis maka ia bodoh”. Namun sepertinya kurang relevan dengan saya.

Karena saya saat ini belajar dengan surat ijin tugas belajar, dengan masih dibayar gaji dan tunjangan, alhasil saya saat ini diberikan hak oleh negara namun diberikan kewajiban untuk belajar. Maka dari itu saya belajar dengan bersungguh-sungguh. Meskipun saya akui tidaklah mudah untuk belajar tanpa guru namun hanya bermodal buku. Dalam setiap diskusi sepertinya kosong, tak ada materi apapun yang dapat saya sesap di setiap diskusi.

Diskusi ini seperti hanya bersifat komunikasi satu arah, sama seperti buku. Namun bedanya buku memberikan materi, namun dalam diskusi saya mengeluarkan materi yang saya pahami. Tidak ada bedanya dengan tugas menulis artikel. Jadi dalam kuliah online UT ada dua hal yang harus dilakukan, pertama adalah diskusi yang setiap minggunya tidak wajib dilakukan, namun jika dilakukan kita akan mendapat nilai tambahan. Diskusi ini berlangsung 8 kali dalam satu semester, sehingga setiap minggunya kita akan diminta untuk menjawab pertanyaan dalam diskusi yang diminta oleh tutor. Kedua yaitu tugas yang diberikan 3 kali dalam satu semester. Durasinya saya lupa setiap berapa minggu sekali, namun durasi pengerjaan tugas biasanya 2 minggu, berbeda dengan diskusi yang setiap minggunya akan ditutup di LMS.

Namun jika saya mengikuti diskusi ini, saya lebih dapat belajar mengenai materi yang harus dikuasai saat diskusi tersebut. Meskipun ada yang kurang pas dengan istilah diskusi, saya tetap mengikuti diskusi ini dengan tuntas dengan kondisi yang saya sebutkan sebelumnya yaitu kelimpungan. Mungkin asyik jika memiliki teman diskusi dalam sebuah mata kuliah, tapi sepertinya mustahil bagi saya yang melakukan rekognisi pembelajaran lampau. Karena saya dapat memilih matakuliah semester berapapun tanpa ada paket semester yang dijatah. Hal ini yang menyulitkan, karena saya pasti harus berpindah-pindah tingkat kelas.

Hingga saat ini saya masih belum menemukan solusi jangka pendek untuk hal ini, untuk solusi jangka panjang mungkin terbilang sedikit gila. Yaitu membuat himpunan mahasiswa jurusan administrasi publik. Selain karena mahasiswa jurusan administrasi publik ini merupakan para pekerja, sebagian besar PNS. Pun juga karena mahasiswanya tersebar dari sabang sampai Merauke, meskipun memungkinkan untuk membuat grup diskusi matakuliah, tapi dengan populasi yang sebesar itu tentu butuh sumberdaya yang besar untuk mengaturnya.

Di sisi lain saya tidak mengenal siapapun mahasiswa jurusan administrasi publik. Menjadikan ini ide gila namun patut untuk dicoba. Mungkin melempar opini ini di grup twitter/X “UT Fess” agar bisa dilakukan cek ombak. Mungkin cek ombak saja tidak cukup, dengan melakukan cek ombak saya harus melakukan tindakan-tindakan lain untuk mewujudkan teman diskusi lintas mata kuliah. Tapi apa bisa? Dan apakah mungkin dengan kondisi saat ini terseok lalu mau membuat organisasi baru? Lihat nanti saja, setidaknya saya sudah menuangkan di blog ini dan harus bertanggung jawab dalam menceritakan hasilnya nanti.

Tuesday, 8 April 2025

Koperasi dalam Konferensi


Andy Stauder dalam presentasi mengenai Transkribus di Konferensi Wikisource


Sudah lama saya mendengar bahwa koperasi di Eropa tumbuh subur. Fokus koperasi di sana juga cukup general, tidak melulu tentang koperasi sebagai dukungan finansial, namun juga meluas hingga menjadi organisasi setara perusahaan namun dijalankan dengan prinsip demokrasi.

Awal saya bersinggungan dengan koperasi dan mengenal kedalaman koperasi adalah melalui Gapatma, dengan mengusung demokrasi ekonomi (demeko), 334455 menyebarkan pemahaman koperasi tidak hanya tentang dukungan finansial sebagai koperasi simpan pinjam, namun juga melalui prinsip sebuah usaha ekonomi juga dapat dibuat demokrasi melalui koperasi. Karena prinsip koperasi yang diusung oleh bung Hatta adalah sama rasa sama rata. Sehingga tidak ada pemilik modal dan pekerja, semuanya menanggung konsekuensi dari sebuah bisnis yang diusahakan bersama. Seperti yang sudah saya ulas dalam tulisan beberapa tahun lalu.

Saat itu saya hanya mengetahui kabar melalui lisan dan sosial media saja, bahwa konsep koperasi sudah timbuh subur di tanah Eropa, hingga klub bola Barcelona juga katanya dikelola oleh koperasi. Karena memang hanya melihat dan mendengar melalui tulisan, saya masih belum 100 persen percaya. Bisa saja konsep koperasi tersebut hanya dibingkai dari luar, mirip seperti koperasi simpan pinjam di sekitaran rumah saya, yang dari penampilan koperasi namun dalamannya lintah darat. Yang tidak pernah mengajak anggotanya rapat dalam hal pengelolaan bisnis.

Hal tersebut, ternyata terbantahkan saat saya mengikuti konferensi di Bali kemarin. Salah satu presenternya adalah Andy Stauder. Seorang direktur dari Read co-op yang merupakan developer dari transkribus. Saat itu Andy mempresentasikan transkribus sebagai produk OCR tulisan tangan. Gampangannya jika kita memiliki tulisan tangan berupa PDF, transribus ini dapat membantu menjadikan tulisan ketikan. Transkribus kini bisa digunakan di wikisource bahasa indonesia hingga jawa. Untuk presentasi Andy mengenai hal ini jika pembaca tertarik dapat melihat di sini.

Terlepas dari presentasinya, saya terperangah dengan model bisnis dari Read Co-op ini. Dengan model manajemen koperasi berhasil membuat suatu usaha teknologi dengan anggota lintas negara dan juga berhasil bekerjasama dengan ratusan perusahaan. Hal ini dilandasi dengan motto "tujuan sebelum keuntungan". Agak gila juga rasanya motto tersebut, dengan mengesampingkan keuntungan namun fokus kepada tujuan, dan masih bisa jalan sejak 2019. Hal ini mematahkan asumsi bahwa yang terlalu idealis akan mati terinjak oleh mereka yang realistis.

Mungkin hal ini juga dapat ditirukan oleh usaha-usaha yang idealis di Indonesia. Dengan tetap mempertahankan idealismenya, berusaha membantu sesama dengan tetap mengusahakan bisnis tersebut tetap berjalan sebagaimana mestinya. Koperasi menjadi jalan tengah, bagaimana aksi sosial tetap berjalan beriringan dengan realitas bisnis. Bukan semata-mata hanya untuk meraih profit, namun juga untuk keberlanjutan bisnis agar tidak punah.

Memang hal ini sudah dilaksanakan di koperasi-koperasi non finansial, seperti koperasi sekolah atau koperasi pegawai. Namun gaya manajemennya masih berfokus pada bisnis, bukan pada tujuan awal koperasi terbentuk. Bahwa urusan keuangan, perhitungan profit, dan manajemen bisnis seperti biasanya harus terlaksana, memang sah-sah saja. Tapi hal tersebut hanya sebuah usaha agar tujuan tercapai dengan mempertahankan keberlanjutan koperasi.

Wednesday, 26 March 2025

Ini yang Saya Dapatkan Setelah Ikut Konferensi Wikisource 2025


Sesi Foto setelah Meetup LGBT+ saat Konferensi Wikisource (Noé, CC0, via Wikimedia Commons)

Beberapa hari kemarin saya mendapat kesempatan mengikuti konferensi wiki-wikian lagi, tapi konferensi ini berbeda dengan konferensi wiki yang sebelumnya. Bedanya adalah para pesertanya dan topik pembahasannya. Pada konferensi wikinusantara yang terlaksana di Bogor, pesertanya hanya kontributor Indonesia saja, namun konferensi yang satu ini pesertanya tidak hanya dari Indonesia. Topik pembahasannya juga saat dalam konferensi wikinusantara semua proyek yang dimiliki Wikimedia, namun saat konferensi yang akan saya ceritakan ini, topik pembahasannya hanya berkutat dengan wikisource saja.

Untuk memberikan konteks, wikisource adalah proyek wikimedia yang berfokus pada literasi. Proyek wikisource seakan ingin menciptakan perpustakaan bebas yang dapat diakses oleh siapapun. Kerja kontributor dalam proyek ini juga beragam, ada yang menyumbangkan kemampuan untuk melakukan uji-baca seperti menyematkan kode-kode yang sempat saya buat catatan, atau melakukan penambahan koleksi dengan mengakumulasi kerja-kerja kontributor tadi menjadi satu halaman utuh.

Nah dalam konferensi kemarin berbagai peserta melakukan presentasi terkait usaha-usahanya dalam berkontribusi di wikisource. Kontribusi atau usaha-usaha yang dilakukan tidak terbatas pada yang saya sebutkan di atas, namun selama bersinggungan dengan wikisource diperbolehkan untuk berbagi kisah, cerita dan kendala. Apa saja yang dilakukan dalam komunitas atau negara mereka presentasikan dengan harapan hal ini dapat diketahui orang lain dan dapat menjadi pelajaran.

Konferensi yang berawal dari rapat bulanan grup pengguna wikisource seluruh dunia ini sebetulnya dilaksanakan untuk memfasilitasi para kontributor yang telah lama tidak berbagi pengetahuan. Terakhir muncul ide untuk mengadakan wikisource di Warsawa, Polandia pada 2020. Namun ide tersebut gagal, dikarenakan pada saat akan dilaksanakan ada pandemi Covid-19 dan semua negara melarang untuk bepergian. Sebelumnya konferensi pertama terlaksana di Wina, Austria pada 2015. Jadi terhitung sudah 10 tahun para kontributor tidak berbagi pengalaman secara tatap muka.

Pada tahun ini konferensi yang diadakan di Bali pada 14-16 Februari 2025, cukup seru memang meskipun saya tidak dapat menangkap materi yang dipresentasikan secara keseluruhan. Karena kemampuan berbahasa inggris saya yang kurang fasih. Tapi kurang lebih saya dapat memetik beberapa pelajaran yang dipresentasikan di tiga hari tersebut. Seperti proses pengarsipan manuskrip nepal yang dilakukan oleh archivenepal salah satunya. Monish Singh menunjukkan perjuangan mereka dalam mendokumentasikan arsip-arsip kuno. Topografi nepal yang dilalui pegunungan tinggi ini menjadi tantangan tersendiri, dimana arsip-arsipnya membeku dan wajib untuk dijemur dahulu agar dapat dibuka dan didokumentasikan.

Kisah-kisah unik terkait pengalaman kontributor lain yang rasanya dapat menjadi bahan bakar dalam berkontribusi lebih mendalam di wikisource. Ada banyak pekerjaan yang bisa dilakukan dalam proyek satu ini. Meskipun tidak mendapat upah apapun dalam berkontribusi, tapi bahan bakar ini dapat memberi pemahaman baru bagi saya yang masih belum mengetahui guna wikisource dalam keseharian. Apalagi saat konferensi ini juga saya bertemu secara langsung dengan Om Ben, seorang sesepuh yang malang melintang dalam hal perwikian. Sesi diskusi unconference pun menjadi sangat menarik saat saya bertemu kontributor lain semumpuni Om Ben.

Hal menarik lagi adalah saat saya mengikuti sesi Meetup LGBT+. Saya menangkap ada sudut pandang ketidak adilan dari para hadirin yang turut berbicara dalam kopdar tersebut. Ada Eduardo yang mengeluhkan pembatasan-pembatasan yang dilakukan pemerintahnya dalam mengekspresikan LGBT+ di Republik Dominika, selain itu ada mbak-mbak feminis yang mengamini pernyataan Eduardo dan berbagi hal tersebut juga terjadi di Perancis.

Setidaknya meskipun banyak hal yang saya bingungkan saat konferensi, tapi saya dapat mengambil kesimpulan bahwa wikisource merupakan platform yang cukup berguna bagi pelestarian arsip dan alat untuk berbagi literasi yang cukup berguna. Namun sejauh ini saya masih belum siap berdiskusi mengenai masalah teknis wikisource yang dihadapi di negara lain. Untungnya ada teman-teman Indonesia yang siap menjadi interpreter saat saya ingin menggali lebih dalam mengenai presentasi-presentasi para presenter di konferensi ini.

Saturday, 4 January 2025

Ijin Belajar Namun Belajar Online


Logo Universitas Terbuka.MP4


Sejak Oktober kemarin saya sudah mengajukan tugas belajar dan tidak bekerja seperti biasanya. Tugas belajar adalah mekanisme studi pegawai negeri yang diijinkan meninggalkan tempat kerja, alias tidak bekerja. Hal ini saya ambil karena tidak ada opsi lain untuk mendapatkan pengakuan kemampuan otak saya saat ini. Sebetulnya ada mekanisme lain, dengan belajar sembari bekerja yang biasa disebut ijin belajar. Namun kementerian tempat saya bekerja saat ini sudah menerapkan aturan baru, yang intinya selamat belajar tunjangan yang diterima terpotong 40%. Meskipun saya studi sambal bekerja, tetap terpotong 40%. Sehingga rasanya lebih baik tidak bekerja dan pulang ke Malang, itung-itung dapat memotong ongkos kontrakan.

Karena sebelumnya juga sudah sempat mengajukan ijin belajar, namun regulasi di tempat kerja terasa memberatkan. Selain cara kuliahnya yang juga disamakan dengan mahasiswa biasa. Mengurus administrasi ijin belajar juga tidak semudah perkiraan saya, sehingga lebih baik saya studi di Universitas Terbuka, sembari menikmati hidup dan belajar sebisanya. Pengalaman baru bagi saya untuk dapat belajar di Universitas Terbuka. Akademiknya terbilang dibuat sesederhana mungkin, agar yang niat belajar tetap dapat mengikuti modul yang diberikan.
Pertengahan tahun 2024 sepertinya saya mulai mencari cara bagaimana untuk dapat kuliah di Universitas Terbuka. Ternyata cukup mudah, hanya mendaftar secara daring dan melampirkan ijazah dan daftar nilai saat berkuliah D3. Karena saya alih jenjang, jadi persyaratan ini dibutuhkan. Setelah melampirkan ijazah dan daftar nilai, ada beberapa mata kuliah yang diakui. Meskipun tidak banyak, namun saya tidak mempermasalahkannya.
Setelah itu saya diarahkan untuk memilih mata kuliah yang akan diambil dalam semester tersebut. Di sinilah tagihan SPP akan keluar. Dengan menghitung jumlah SKS dan ongkos kirim modul fisik yang dikirimkan, maka muncullah jumlah tagihan yang harus dibayar. Meskipun buku tersebut dikirim ke Manokwari, angka yang dibayar cukup murah. Sekitar dua juta rupiah. Namun jika dikirim ke pulau jawa, bisa mendapat harga lebih murah lagi sampai satu jutaan. Maka dari itu mungkin bisa menggunakan trik dikirim ke jawa saja dulu bukunya, nanti dikirim dengan jastip ke luar pulau jawa. Agar mendapat diskon ongkos kirim yang lumayan.
Setelah menunggu beberapa bulan, maka mulailah masa kuliah. Kemarin masa kuliah dimulai bulan Oktober hingga Desember. Saya memilih kuliah dengan jenis tutorial online, dalam tiga bulan ada 8 pertemuan seminggu sekali. Jadi seperti modul belajar online yang diberikan waktu dalam menyelesaikan modul beserta tugasnya. Dalam sekali pertemuan kita diberikan materi diskusi dan sesekali diberikan tugas. Selain itu juga kita diberikan semacam kuis dengan 5-10 pertanyaan.
Belakangan saya mengetahui bahwa selain tutorial online juga ada cara belajar lain, tidak diwajibkan membuka materi secara online namun diberikan tugas dan wajib mengumpulkan dalam waktu yang sudah ditentukan. Bedanya hanya tidak ada materi pengantar dan tidak ada diskusi yang dapat kita baca. Hanya mendapat pertanyaan untuk tugas dan mahasiswa dapat mencari jawabannya di buku modul yang sudah dikirim sebelumnya.
Yang paling berkesan adalah cara ujiannya. Ujian dibagi menjadi 3 cara, pertama ujian tatap muka dengan mengisi pilihan ganda di lembar jawaban dengan pensil 2B, kedua ujian online dengan mengisi pilihan ganda di computer, ketiga dengan mengunduh tugas dan wajib dikumpulkan 6 jam setelah jam mengunduh tugas tersebut. Ini yang membuat saya terkesan dengan manajemen Universitas Terbuka. Seakan memberikan kebebasan untuk belajar, namun tetap dengan tahap pengujian. Dan Ujian ini dilakukan di seluruh Indonesia. Keteraturan ini yang membuat saya takjub, apalagi dengan adanya mekanisme pindah tempat ujian yang seakan memberikan keleluasaan.
Mungkin Universitas Terbuka ini memang mendesain kurikulum yang sangat fleksibel, dengan ujian yang tertata sedemikian rupa. Namun meski fleksibel saya juga cukup kalang kabut dalam mengikuti tutorial online. Ada buku tebal yang harus rampung saya sesap, dan ada tumpukan tugas yang harus selesai tepat waktu.

Tuesday, 18 June 2024

Wikinusantara: Ajang Kumpul Kontributor Wikimedia Se-Indonesia


Foto Anggota Komunitas Wikimanokwari


Kemarin saya berkesempatan menghadiri konferensi Wikimedia Indonesia, bertajuk wikinusantara. Karena ini kali pertama saya menghadiri konferensi, mungkin ini pengalaman baru bagi saya. Bertemu orang-orang ikhlas yang mengabdikan dirinya untuk Wikimedia. Kebanyakan yang datang kontributor-kontributor muda. Anak kuliahan, tapi tak jarang pula ada ibu-ibu dan bapak-bapak yang usianya lebih tua dari saya. Kurang lebih yang mendatangi konferensi ini ada 50 orang, termasuk panitia yang merangkap menjadi peserta.

Katanya wikinusantara kali ini beda dengan wikinusantara sebelumnya. Karena wikinusantara kali ini durasi harinya lebih Panjang, di hari pertama dan kedua ada photowalk. Sejenis jalan-jalan ke sekitar bogor dan dipandu dengan guide lokal. Saya membayangkan betapa suntuknya jika kita diundang ke sebuah acara, hanya acara di dalam ruangan selama beberapa hari. Mungkin jika seperti saya, yang menjadi pengalaman pertama, tidak terlalu suntuk. Karena masih excited dengan pengalaman pertama. Namun jika sudah mengahadiri acara ini beberapa kali, mungkin akan berbeda lagi ceritanya.

Kami menghadiri konferensi ini dari Manokwari ada empat orang, termasuk saya dan istri. Ringkasan acara dari konferensi ini adalah pertemuan untuk mendengarkan pengalaman-pengalaman dari kontributor lain dalam berkontribusi. Banyak hal yang kami bicarakan di sana, kebanyakan karena kita biasa bertemu secara daring, jadi kami berbagi berbagai cerita dalam berbagai proyek yang kami jalan kan.

Mulai dari bagaimana kami menjalankan komunitas, bagaimana membangun komunitas di kampus, bagaimana mendapat pendanaan dalam menjalankan program, bagaimana sudut pandang masing-masing kontributor terhadap Wikimedia Indonesia (sebagai Yayasan yang menaungi proyek-proyek yang ada di Indonesia), hingga kami berbagi tentang proyek-proyek yang sedang dan sudah kami lakukan.

Dari sekian materi presentasi, saya sendiri sangat tertarik mengenai presentasi-presentasi yang bermuara pada sumber dana. Selama ini yang kami ketahui hanya ada satu sumber pendanaan untuk berbagai proyek Wikimedia. Namun kemarin Faishal dari Banjarmasin menjelaskan ada sumber pendanaan yang fokus pada proyek-proyek berbasis bahasa. Entah itu pada pelestarian bahasa atau menjadikan proyek Wikimedia sebagai alat untuk melestarikan bahasa. Nama sumber pendanaan itu adalah WikiTongues, ada banyak kontributor Indonesia yang mendapat pendanaan dari sini. Mungkin hal ini dapat menjadi bekal untuk komunitas saya di Manokwari yang merencanakan memiliki kamus bahasa Biak.

Namun dari kehadiran saya kemarin menemui hal yang sangat mengenaskan, tidak semua kontributor hanya ingin bermanfaat untuk sesame, tapi juga memiliki misi-misi ekonomi (memperkaya diri sendiri). Mungkin untuk saya yang sama sekali tidak memikirkan bahkan tidak memiliki niat untuk kaya dari Wikimedia, sangat mengenaskan menemui fakta ini. Karena jika mereka hanya memikirkan uang, maka potensi-potensi kerjasama yang tidak seksi secara ekonomi akan tertutup.

Hal ini tentu lumrah dan manusiawi, tidak ada manusia yang tidak melihat segala hal dari materi. Karena memang uang yang mengucur dari Wikimedia foundation terlihat banyak dan sangat mudah untuk mengeluarkannya. Namun apakah pantas untuk diperlakukan seperti itu? Tentu jawabannya dikembalikaan ke masing-masing pelaku. Dan saya sebagai salah satu pelaku yang mewakili sudut pandang saya sendiri tidak dapat memaksakan pemahaman ini kepada siapapun.

Semoga saja para pelaku akan selalu ikhlas dan tidak mengincar apapun dalam sebuah keikhlasan tersebut.

Wednesday, 7 February 2024

Kumpulan Episode "Gampil", Cara Baru Kolaborasi Musisi di Youtube


 Baru malam ini saya mengetahui adanya episode Gampil di Youtube. Cara kolaborasinya terbilang unik dan baru, beberapa musisi membawakan satu lagu dengan gaya masing-masing. Namun dengan video musik yang beruntun. Jadi kita yang terbiasa mendengar istilah musik latar atau soundtrack, kali ini harus mengubah dengan istilah videotrack. Yang biasanya musik hanya sebagai latar video, namun dalam episode video musik ini kita dikenalkan video menjadi latar musik. DIBALIK!

Seperti lagu dangdut kekinian lainnya, sebenarnya Gampil ini membawa kisah sedih. Barisan patah hati terwakili dalam lagu ini. Kisah pemeran utama yang mendampingi saat masa sedih namun disia-siakan begitu saja dengan kekasih hatinya. Videonya dapat membantu kita mengimajinasikan siapakah pemeran utamanya.dari episode 1-6 pemeran utamanya gonta-ganti. Untuk memudahkan kamu melihat, saya sematkan episode 1-6 di bawah ini. SELAMAT MENIKMATI!


Episode 1



Episode 2


Episode 3


Episode 4


Episode 5


Episode 6



Sunday, 29 October 2023

Ekonominya Lesu, Tapi Surveinya Bagus


Pada bulan-bulan ini di tahun 2023, banyak keluh kesah yang muncul terkait sepinya usaha-usaha UMKM yang berada di seluruh penjuru Indonesia. Khususnya di Pulau jawa, per 30 Oktober 2023 ini banyak keluhan terkait sepinya pembeli barang dagangan yang mereka jual. Berbagai keluhan dari penjual maupun pengamat dagangan (bukan penjual tapi sering jalan-jalan ke pasar) mulai dicuitkan dengan indah di platform X.


Karena adanya fakta tersebut, saya tergelitik untuk mengamati lebih jauh, laporan-laporan yang dikeluarkan oleh lembaga pemerintah pembuat kebijakan. Apakah sepinya konsumen ini merupakan hal yang sudah terlacak oleh pemerintah atau malah belum terlacak sama sekali? Hingga tulisan ini dibuat, saya mencoba untuk melihat diagram-diagram yang mencerminkan minat konsumen. Seperti Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) dan Purchasing Manufacture Index (PMI).

Dari pelacakan secara cepat, saya mengambil data dari BI, BPS dan Data Indonesia. Dari ketiga Lembaga tersebut, saya mendapati konsumsi Indonesia dalam keadaan baik-baik saja. Bahkan lebih jauh, banyak media yang menyikapi dari hasil IKK, Pertumbuhan ekonomi dan PMI dari konsumen Indonesia ini teramat baik, Hingga memberikan kesimpulan bahwa saat ini para pengusaha dalam kondisi ekspansi besar-besaran.

Hal ini berkebalikan dengan banyak cuitan pedagang, bahkan keluarga istri saya sendiri juga merasakan, betapa sepinya usaha bakso yang digeluti. Hingga tiga hari belakangan saya dengar usahanya tidak ada yang mampir seorang pun. Dalam berbagai diskusi saur manuk di platform X mengatakan bahwa sepinya penjualan merupakan efek dari ditutupnya fitur penjualan dari sosial media Tiktok. Sehingga para penjualan yang sudah laku keras dengan menggunakan strategi marketing tertentu, harus beradaptasi lagi dengan strategi lainnya.

Selain ditutupnya fitur jualan di Tiktok, juga saya dengar dari youtube bahwa ini adalah dampak dari maraknya judi online. Ferry Irwandi memiliki asumsi bahwa judi online yang saat ini marak dimainkan semua orang, merupakan penyebab lesunya ekonomi. Karena uangnya diambil begitu saja ke luar negeri, hingga uang tersebut tidak berputar lagi di dalam negeri.

Secara asumsi dan logika kedua hal ini masuk akal dan sangat mungkin terjadi. Namun kenapa lesunya pasar tidak terekam oleh data survei ekonomi dari Lembaga pemerintah maupun non Lembaga pemerintah? Pak Pura mengatakan ini hanya cara pemerintah menutupi resesi ekonomi agar masyarakat tidak panik. Asumsi seperti ini ada benarnya juga, namun masih belum terbukti.

Akan tetapi secara konspirasi ucapan pak Pura juga tidak sepenuhnya salah. Dalam bulan oktober ini ada beberapa hal yang menggambarkan ekonomi lesu, bukan dari data, tapi dari cara beberapa Lembaga mengeluarkan kebijakan. SepertiBank Indonesia yang menaikkan BI Repo menjadi 6%, Menko perekonomian juga mengumumkan akan menanggung PPN 100% atas pembelian properti dibawah 2 Miliar, dan Kemensos menggelontorkan BLT untuk dampak El nino.

Berbagai Tindakan yang diambil pemerintah ini merupakan Langkah yang diambil karena adanya kelesuan ekonomi. Meskipun secara data tidak tercermin adanya pelemahan ekonomi, tapi secara nyata sudah terlihat didepan mata dan pemerintah juga melakukan Langkah penyelamatan. Ini hanya opini saya saja, karena memang hal ini terjadi di depan mata namun tidak terbukti secara survei yang berlandaskan metode ilmiah.

Tapi bisa jadi beberapa hal yang diobrolkan di X adalah anomali dari beberapa survei. Karena survei/sampling hanya mengambil satu sendok kuah soto untuk merasakan satu kuali soto ini sudah pas atau belum. Bisa jadi yang disurvei ini dapat mewakili rasa satu kuali soto, atau bisa jadi satu sendok ini tidak mewakili rasa satu kuali soto karena diaduknya kurang merata.

Monday, 11 September 2023

Aktivisme yang Saya Perjuangkan Akhir-Akhir Ini


Illustrated by Jasmina El Bouamraoui and Karabo Poppy Moletsane, CC0, via Wikimedia Commons


Sudah beberapa bulan saya tidak rutin menulis di blog ini lagi, rasanya ingin mencurahkan apa yang sudah saya lewati selama beberapa hari tidak berinteraksi dengan blog ini. Namun apa daya jika harus merangkumnya secara serampangan akan tidak enak dibaca, jadi saya kali ini ingin menceritakan kiblat aktivisme saya yang perlahan berubah.

Semenjak mahasiswa dahulu saya menyukai kegiatan dibidang alam, untuk menjawab isu tentang rusaknya alam disertai dampaknya. Beberapa tahun setelah menjadi mahasiswa juga masih berkutat dengan isu tersebut hingga perlahan bergeser, kepedulian saya menjadi ke isu pemerataan ekonomi. Entah apa yang mempengaruhi perubahan “aktivisme” tersebut, perlahan saja saya menjadi concern ke bidang pemerataan ekonomi.

Mungkin setelah saya lulus kuliah, saya melihat ketimpangan ekonomi yang mengganggu. Ditambah masa itu saya juga cenderung suram, dengan pekerjaan yang tak menentu dan melihat beberapa teman menikah dengan megahnya. Ketimpangan ekonomi seakan menjadi bahan bakar untuk direnungkan tiap harinya. Tanpa adanya ketimpangan ekonomi, saat itu saya membayangkan kehidupan yang madani.

Semakin kesini, semakin mapan saya perlahan berhenti memperjuangkan isu ketimpangan ekonomi. Mungkin karena kehidupan saya mulai mapan, sehingga saya tidak terlalu terganggu dengan isu ketimpangan ekonomi. Sehingga isu yang saya perjuangkan tiba-tiba bergeser menjadi isu Pendidikan. Mungkin karena beberapa tahun terakhir saya berinteraksi dengan dunia Pendidikan yaitu universitas. Sehingga saya melihat betapa buruknya institusi Pendidikan.

Lagi-lagi saya menganggap ini sebagai bahan bakar, namun kali ini makna bahan bakar tersebut menjadi berbeda. Mengingat kali ini saya sudah menjadi kepala rumah tangga, sehingga bahan bakar tersebut menjadi bahan untuk membakar keberlangsungan rumah tangga. Bahan bakar tersebut dapat dipergunakan untuk menyalakan semangat untuk melangsungkan rumah tangga. Entah dengan berdiskusi dengan istri atau menjadi warna tersendiri dalam metodologi parenting dalam mendidik anak saya.

Selama ini saya merasakan karena isu Pendidikan menjadi prioritas yang saya perjuangkan, tidak heran saya seakan dibawa mengarungi gelombang metode Pendidikan yang terasa membagongkan. Seperti adanya mahasiswa yang tidak dapat membaca di dalam komunitas Wikimedia Manokwari, selain itu untuk mempertahankan komunitas Wikimedia Manokwari ini juga tanpa adanya isu yang saya perjuangkan tadi menjadi sangat berat. Namun karena adanya semangat memperjuangkan isu tersebut, ditambah Wikimedia juga memiliki semangat membebaskan pengetahuan, seakan gayung bersambut dalam perjuangan saya ini.

Kemarin saya sempat ingin mengikuti kegiatan WCD dan menjadi pengurus provinsi, namun seakan takdir memutar kembali ke perjuangan tentang Pendidikan. World Clean Up day tersebut urung saya urusi, karena satu dan lain hal. Ditambah juga ada beberapa kelompok yang coba saya ikuti terkait penghijauan, tapi malah berujung saya tidak cocok dengan sudut pandang Jakarta Centris yang kerap dimunculkan di dalam grup. Ujung-ujungnya tidak memiliki kecocokan dan saya mengabaikannya.

Meskipun tidak dalam posisi memperjuangkan isu alam, saat ini saya masih menghemat plastik dan baru beberapa hari terakhir saya mencoba membuat ekoenzim yang katanya dapat menyelamatkan alam. Mungkin di artikel berikutnya saya akan ceritakan tentang bagaimana eko enzim dapat menyelamatkan alam.

Selain beberapa hal di atas, karena sepertinya takdir saya membawa ke perjuangan tentang Pendidikan. Kemarin istri saya mulai mengajar di SD Inpres sebagai guru agama. Tanpa mengklaim hal tersebut sebagai pekerjaan, tapi saya mengklaim hal tersebut sebagai arah perjuangan. Karena mendapat kabar bahwa di SD tersebut tidak ada guru agama islam, dan pelajaran agama islam malah diampu oleh guru beragama Kristin. Sehingga saya menawarkan istri saya ikut dalam perjuangan tanpa melihat dibayar berapa.

Ternyata pergulatan dengan isu yang diperjuangkan ini menjadi warna tersendiri dalam semangat saya menjalankan perputaran roda rumah tangga. Menjadi tambahan pikiran namun tetap asyik dilakukan. Sekian kisah saya dengan pergulatan isu yang saya perjuangkan.

Saturday, 17 June 2023

Panen Raya: Keroncong Mengkritik Isu Agraria


Ade javanese, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons


Kritik melalui karya merupakan hal kuno yang sudah kita kenal dari para seniman terdahulu. Entah itu seni musik, peran, tari ataupun lawakan. Sepertinya hal ini yang ingin dilakukan Paksi Band sebagai band keroncong. Mereka mengeluarkan album berbumbu kritik konflik agraria dari kacamata petani. 

Album ini diberi judul Panen Raya. Kritik diluncurkan dengan begitu lamis menggunakan bahasa jawa. Sepertinya band ini sedang tampil beda, hari ini setiap musik berbahasa jawa mayoritas menceritakan tentang hati. Semenjak booming kembali nama artis kawakan Didi Kempot. Tapi band keroncong ini hampir se album menceritakan tentang konflik yang dihadapi para petani. 

Seperti pada lirik Panen Raya, ada sentilan kecil namun menohok. Sawahnya luas, padinya gemuk, petaninya tua-tua. Realita tak cukup berhenti disana, diiringi dengan cak dan cuk lagu diteruskan dengan realita setiap panen ditipu tengkulak. Dan berujung dengan konflik besar yang disponsori pemangku kebijakan yaitu datangnya beras dari mancanegara. Tiga konflik tersebut rasanya masih belum rampung digarap menteri pertanian.

Lantas ada pula lagu yang mellow berjudul Mulih yang berarti pulang. Lain halnya dengan lagu gacoan (Panen Raya) yang dibawakan dengan suka cita, lagu ini digarap dengan sedih. Liriknya pun tak kalah sedih, seorang anak yang pulang dan mendapati ayahnya menahan tangis. Alasan kesedihan sang bapak pun tak jauh dari realita agraria, yaitu sawahnya dijual untuk membayar sekolah sang anak. Kesedihan sang bapak dijelaskan dengan kalimat tidak ada yang diwariskan. Ini terkesan membelok dari prediksi saya pribadi. Karena saya kira sang bapak sedih karena mata pencahariannya musnah ketika tanahnya dijual.

Rupanya musik keroncong perlawanan seperti ini masih layak dan enak untuk diperdengarkan ke khalayak umum. Mungkin Paksi Band hanya mengembalikan khittah perjuangan musik keroncong pada tahun silam. Memusuhi kolonial dengan bermusik yang bernada semangat untuk pejuang, namun kali ini musik tersebut diperuntukkan kepada kaum tani yang tertindas namun berasnya masih kita nikmati.

Kembali ke deret musik dalam album Panen Raya yang semalam saya dengarkan. Yaitu Nurhayati. Sekelumit cerita orang yang pergi malam dan pulang saat subuh, dalam lirik lagu tersebut tidak diceritakan perempuan tersebut berlaku apa. Hanya diceritakan betapa dramatisnya saat pergi dan pulangnya wanita tersebut. Tapi saya berprasangka bahwa Nurhayati ini adalah seorang kupu-kupu malam. Karena dalam sebuah lirik dia berdoa kepada sang maha kuasa agar bisa berhenti dari yang ia kerjakan semalam suntuk. Ya selain kupu-kupu malam memang ada pekerjaan menjaga lilin babi ngepet sih untuk doa tersebut. Tapi saya berkeyakinan teguh dalam hal ini. 

Dengan berkeyakinan teguh dalam prasangka tersebut, saya disediakan lagu bertajuk Lagune Wong Meri (atau lagunya orang iri). Berisi bahan olokan untuk kita yang iri dengki terhadap kesuksesan orang lain. Saat saya mendengar lagu ini terbayang jelas rupa Bu Tejo dalam film tilik yang asyik membicarakan kesuksesan tetangganya. Dalam bayangan saya tetangganya itu adalah Marwoto dengan baju necis dan kacamata hitam. Ya memang rupa seperti Marwoto tidak pantas menjadi orang kaya, tapi dalam bayangan saya ada dua orang itu. Masak saya harus merevisinya.

Selain empat lagu tersebut juga ada lagi lain yang sepertinya akan terlampau panjang jika saya ceritakan di artikel ini. Setidaknya saya menunggu rilisan fisik album ini dijual secara umum dan saya sudah siap untuk membelinya. Sembari menunggu saya dapat menjadikan lagu-lagu ini sebagai backsound kebijakan pemerintah yang mengimpor beras dari Vietnam. 


Monday, 17 April 2023

Mengurai Sastrajendra: Ilmu Kesempurnaan Jiwa [Resensi Buku]


Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi (sumber: Twitter @realsobokartti)



Sastrajendra adalah sebuah ilmu dalam pewayangan ramayana, alkisah dewi sukesi anak dari Sumali membuat sayembara. Barang siapa yang ingin menikahi dirinya, wajib menguasai Ilmu Sastrajendra dan menerangkan kepadanya. Di dunia ini hanya ada satu orang yang menguasai ilmu kehidupan tersebut, bernama resi Wisrawa.

Awalnya sang resi hanya berniat untuk mewedarkan ilmu tersebut ke Dewi Sukesi, karena sang anak yang bernama Danapati ingin meminangnya. Tetapi anaknya tidak menguasai ilmu sastrajendra, sehingga sang anak meminta Resi Wisrawa untuk menunaikan kewajibannya yaitu menjelaskan tentang sastrajendra hayuning pangruwating diyu. Singkat cerita, Dewi Sukesi dan Sang Resi terpaut cinta sehingga memutuskan untuk menikah.
Saya mengira awalnya buku ini menerangkan berbagai kritik dan versi pewayangan, setelah saya baca lebih mendalam ternyata buku terbitan Javanica ini menceritakan apa yang dimaksud sastrajendra hayuningrat pangruwating diyu. Secara makna perkata sendiri sastra adalah ajaran, jendra adalah raja keindahan, hayuning adalah keindahan semesta, pangruwating diyu adalah peluruh watak angkara murka.
Sastrajendra sendiri dalam buku ini diceritakan bagaimana kita sebagai makhluk, memberikan keseimbangan antara makrokosmos dan mikrokosmos. Agar keindahan semesta tetap terpancar dan watak angkara murka dapat luruh dengan sendirinya. Sang penulis melakukan berbagai lelaku untuk mencapai ilmu ini. Berbagai meditasi di berbagai titik dilakukan untuk mencari tahu ilmu yang kerap disebut sebagai ilmu yang dirahasiakan.
Meskipun tidak sesuai ekspektasi saya, buku ini terbilang asyik untuk dibaca di awal. Bagaimana pak Setyo Hajar Dewantoro menceritakan lelaku Dewi Sukesi saat diwedarkan Sastrajendra, membuat seakan ajaran yang saat ini hanya dimaknai fiksi, dihadirkan secara nyata dengan berbagai lelaku yang dapat dicontoh. Step by step meditasi dijelaskan betul dalam tiap lembar buku ini. Tak jarang saya selesai membaca buku juga menirukan apa yang dilakukan Dewi Sukesi dan Resi Wisrawa.
Dipertengahan buku setelah cerita Dewi Sukesi dan Resi Wisrawa, sang penulis cenderung menitik beratkan pengaksesan Sastrajendra sebagai ilmu kehidupan. Melalui cerita berbagai proses mengambil ilmu tersebut, seakan kita para pembaca yang awam tentang ilmu kejawen diajak masuk sedikit lebih dalam. Tidak terlalu dalam juga, karena berbagai akses ritual yang diajarkan dalam buku ini hanya berkutat pada meditasi dan akses untuk mencapai titik terdalam tubuh yaitu dewa ruci.
Di akhir buku, menurut saya sudah diluar nalar. Berbagai hal yang menurut saya tidak masuk akal seakan dijejalkan begitu saja ke otak. Berbagai fakta non ilmiah dan juga referensi yang menurut saya kurang kompatibel (blogspot,wikipedia, dan referensi lainnya) dituangkan begitu saja di tiap halamannya. Membuat saya sebagai pembaca sulit untuk memahami apa yang disampaikan oleh penulis.
Terlepas dari keambiguan dan segala penjelasan yang tidak masuk akal tersebut, buku ini dapat digunakan untuk penenang jiwa. Bagi para pejuang kebenaran yang linglung harus menuruti perintah siapa, buku ini dapat dijadikan referensi untuk mengakses keyakinan yang tertuang dalam jiwa. Dapat digunakan untuk mengakses kebenaran sejati yang tidak dapat tergoyahkan, karena memang mempertimbangkan keseimbangan makrokosmos dan mikrokosmos. Ada kalimat menarik untuk menyokong keseimbangan dua hal tersebut yaitu, kita adalah bagian yang tak terpisahkan dari semesta.

Tuesday, 4 April 2023

Cara Tukar Uang di Bank Indonesia


Musim lebaran begini biasanya banyak warga yang menukarkan uang baru di Bank Indonesia. Dikarenakan alasan tersebut juga, saya sebagai bagian dari warga juga melakukan hal yang sama. Yaitu menukar uang baru untuk keperluan galak gampil sanak famili. Dalam tulisan kali ini saya akan memberikan penaduan bagaimana cara menukar uang di Bank Indonesia, khususnya pada kantor perwakilan Papua Barat (Manokwari).

Daftar Melalui BI Pintar

BI Pintar merupakan aplikasi milik Bank Indonesia yang dikhususkan untuk menukar uang, entah itu uang baru, uang rusak, atau uang yang dapat dikoleksi. Caranya buka web bi.pintar.go.id lalu pilih menu penukaran uang rupiah melalui kas keliling seperti pada gambar.

Halaman BI Pintar

Di Manokwari hanya bisa menukar uang di terminal wosi dan hanya bisa dilakukan hari rabu. Setelah memilih penukaran uang rupiah melalui kas keliling lalu pilih provinsi, lalu klik lihat lokasi seperti pada gambar.


Lalu akan muncul daftar tempat penukaran yang ada di provinsi anda. Pilih (yang warna hijau) salah satu, jangan lupa tentukan jamnya juga.


Setelah itu akan muncul menu seperti pada gambar di bawah, isi dengan NIK anda. Untuk “konfirmasi KTP” isikan NIK anda lagi. Setelah data terisi, klik lanjutkan yang warna biru.

Lantas akan muncul data uang pecahan yang akan di tukar, jadi anda tidak dapat menambah atau mengurangi jumlah uang yang akan anda tukar. Lantas klik kotak “Saya Bukan Robot” dan klik pilih.

 Setelah itu unduh bukti pemesanan.

2. Tukar di Lokasi Kas Keliling

Seperti yang saya bilang sebelumnya, lokasi kas keliling sudah tertera di saat kita membuat transaksi di BI Pintar. Pengalaman saya kemarin saat menukar di Terminal Wosi, ada keterlambatan kedatangan mobil kas keliling. Jadi saya sarankan untuk datang lebih lambat saja.

Untuk syarat yang harus dibawa yaitu bukti pemesanan saja sudah cukup dan tentunya membawa uang yang akan di tukar.

sekian panduan singkat untuk menukar uang di Bank Indonesia, hal ini bisa digunakan untuk penukaran ke Bank Indonesia di tempat lain juga. Semoga membantu.

Thursday, 23 March 2023

Rentetan Mall di Manokwari


 (sumber: https://www.flickr.com/photos/axelrd/16044488001/in/photostream/)

Dua tahun terakhir ini banyak bermunculan pusat perbelanjaan baru di Manokwari, hal ini sepertinya berlawanan dengan kondisi Indonesia yang ekonominya sedang hancur karena covid. Manokwari sedang gencar-gencarnya melakukan pembangunan di tengah pemulihan ekonomi Indonesia. Berikut Tiga mall yang saat ini terlihat besar dan kondang di kota Manokwari.

Manokwari City Mall

Dulu nama mall ini adalah Hadi, karna di dalamnya hanya ada supermarket Hadi saja. Selain supermarket tersebut mungkin hanya KFC saja yang ada di mall tersebut. Nama mall Hadi ini semakin gempar saat mereka melakukan ekspansi dengan membangun besar-besaran gedungnya menjadi pusat perbelanjaan yang memiliki bioskop. Dalam tulisan sebelumnya saya menyebut ini adalah mall pertama di Manokwari. Karena memang pusat perbelanjaan dengan beberapa lantai yang penuh dengan berbagai toko.

Selain itu, sudah saya singgung di awal bahwa ini adalah mall pertama yang memiliki bioskop. Di lantai paling atas bioskop XXI bertempat lengkap dengan penjual popcornnya. Hal ini yang menjadikan mall ini adalah nilai lebih dibanding kedua mall saingannya yang ada I kota kecil seperti Manokwari.

Selain bioskop ada beberapa merk warung nasional yang menyewa tempat di pusat perbelanjaan ini, terhitung saat tulisan ini di buat sudah ada Bakso Lapangan Tembak dan Solaria yang sudah bertempat di pusat perbelanjaan satu ini. Dan juga jangan melupakan KFC yang sudah beberapa tahun berdiri di gedung ini. Di mall ini juga sepertinya merupakan salah satu mall Manokwari yang menjual baju, sejenis Matahari tapi namanya Borobudur. Harganya mirip dengan Matahari, Ramayana dan pusat penjualan baju lainnya.

Fasilitas lainnya juga terbilang cukup lengkap, seperti mushola, foodcourt, ATM center, dan Toilet. Sepertinya pusat perbelanjaan yang paling proper memang hanya di sini, maka dari itu sering diadakan kegiatan pameran dan kegiatan perlombaan lain di hall tengah Manokwari City Mall ini.

Orchid (Haji Bauw)

Jika berbicara Orchid, warga manokwari pasti sudah familiar dengan supermarket serba lengkap di jalan merdeka. Namun yang saya maksut dalam tulisan ini adalah Orchid baru yang berada di samping perempatan haji Bauw wosi. Di sini saya sebut sebagai mall berbeda dengan Orchid jalan merdeka karena di sini lebih lengkap. Selain pilihan produknya, di Orchid ini juga lengkap dengan kafe dan tempat makannya. Foodcourtnya  juga ada di lantai atas.

Memang di Orchid ini tidak ada gerai baju seperti di Orchid jalan merdeka. Mungkin agar bagi-bagi fokus. Di Orchid ini lengkap dengan perabot rumah tangga, barang pecah belah dan produk-produk kemasan lain seperti hanya di supermarket lainnya. Kelebihan di Orchid ini dibanding kedua pusat perbelanjaan lainnya adalah jalan kakinya tidak terlalu jauh. Jika kita cari produk tapi malas untuk berjalan jauh, sepertinya Orchid ini adalah pilihan utama. Setelah parkiran, kita naik sedikit sudah di supermarket.

 

Kalawai Mart

Konsep Kalawai Mart ini seperti supermarket besar dan ada foodcourtnya. Sejenis Carefour yang menyediakan berbagai kebutuhan namun dengan konsep dalam satu gedung besar. Pusat perbelanjaan yang berada di Jl. Esau sesa (atau sering disebut jalan baru) tepatnya di samping pom bensin jalan baru ini menurut saya cocok untuk belanja bulanan.

Yang perlu menjadi sorotan adalah jika para pembaca memiliki bayi. Di mall ini kebutuhan bayi cukup lengkap dibanding kedua saingannya. Berbagai merk diapers ada di supermarket ini, bahkan merk Pampers juga ada di sini. Mulai dari yang eksklusif hingga yang murah tersedia dengan ukuran dan merk beragam. Maka dari itu saya merekomendasikan mall ini khusus untuk mereka yang memiliki bayi. Agar lebih nyaman dan murah dalam berbelanja kebutuhan anak.

Meskipun mall ini satu perusahaan dengan Umega (yang di depan Manokwari City Mall), tapi tidak serta merta apa yang ada di Umega ada di Kalawai. Mungkin sekali lagi untuk diversifikasi pasar saja. Sehingga pembeli tidak hanya terfokus di Mall besar. Tapi cukup worthed jika dijadikan wisata belanja bagi warga Manokwari yang berdomisili di sekitaran Sowi, Arfai sampai Maruni.

 

Sekian review saya untuk ketiga pusat perbelanjaan yang ada di Manokwari. Harapannya dengan adanya pusat perbelanjaan ini tetap memiliki variasi dalam wisata belanja dan tidak sampai mematikan toko kecil. Untuk kota sekecil ini sepertinya sudah cukup tiga pusat pebelanjaan ini saja. Toh pusat perbelanjaan hanya untuk sekedar wisata belanja, tanpa meminggirkan penjual-penjual kecil yang saat ini dapat mewakili Indomaret dan Alfamart.