Coro merupakan bahasa jawa dari kecoak, omong coro bermakna omongan ngelantur tapi dapat dinyatakan jujur. Maka ketenangan serupa apa lagi yang dicari di dunia yang fana ini selain kejujuran. Tulisan berikut merupakan contoh dari omong coro.

Translate

About Me

My photo
Hi, saya pungkas nurrohman yang mencoba dewasa dengan jalan-jalan

Sunday, 30 June 2019

Setitik Nila yang Hampir Rusak (2)


Ini cerita lanjutan dari cerita sebelumnya
Nila Hampir rusak
Sumber: https://twitter.com/bemb_beng


“Assalamualaikum ukh Nila”. Sore itu ada pesan masuk dari Gendis. Nila pun menjawab pesan dengan cepat karena masih dalam perjalanan pulang dari pesta pernikahan Hendri.
Sesampai di rumah Nila kembali membuka telepon pintarnya dan mencoba melihat pesan Gendis yang sepertinya sangat penting. Dan benar saja, Gendis membawa berita penting setelah salamnya dijawab oleh Nila. Pasalnya setelah puluhan kali bertatap muka dengan Habib Turmudzi rupanya sang habib ingin berta'aruf dengan Nila melalui media Gendis sang keponakan Habib.
Nila mulai didera rasa gamang, karena sang Habib sudah memiliki istri alias jika Nila menyanggupi ta'aruf dengan Habib maka berarti Nila siap dimadu. Memang akan sangat terhormat bila permintaan itu dia kabulkan, dan Gendis dalam pesan tersebut memberikan waktu untuk menjawab hingga tiga hari, tepatnya saat pengajian di masjid Al-ishlah.
Karena memang sangat gamang, setelah sholat isya’ Nila mencoba bertanya kepada kedua orang tuanya. Setelah bercerita dengan kedua orang tuanya perihal lamaran dari habib muda yang akan beristri dua, alhasil bapak dan ibu Nila sempat kaget dan menyarankan untuk menolaknya. “Orang tua mana yang tega untuk merestui anak gadisnya dimadu? Bukannya bapak menolakmu untuk naik derajat bersanding ulama, tapi bapak masih belum tega nak”. Nila pun mempertimbangkan keputusan orang tuanya.
***
Tibalah hari pengajian, seperti biasa Nila duduk di bangku depan. Namun kali ini dipersilahkan duduk disamping istri habib. Topik pengajiannya pun seakan menjadi “kode” untuk Nila, ya topik pengajian saat itu adalah tentang ta'aruf. Saat itu pula Umi -isteri sang habib- tiba-tiba memegang tangan Nila dan berkata, “poligami itu sunah nabi Nila, tiada kemuliaan selain menjalankan sunah nabi.”
Nila detik itu pun juga merasa canggung, mulutnya tercekat tak bisa berkata-kata selain senyum dan berkata “iya” dengan lirih. Seakan Nila bercengkrama dengan keluarga sendiri, meskipun Umi adalah istri sah habib tak terlihat sedikitpun amarah pada Umi Sakdiyah. Semua itu terbungkus rapi dengan akhiran kata dari wanita berdarah arab usia kepala 4 itu, “kalau kamu memang mau ta'aruf dengan Habib, aku merestuinya. Bila kamu merestui juga sebaiknya jangan pulang dahulu setelah ini”.
Seakan Nila juga sudah memantapkan hati untuk hidup di bawah payung hukum syariat. Maka dari itu ia memilih untuk menuruti kata Umi Sakdiyah, ya Nila tetap duduk di samping kanan Umi dengan tetap saling berpegang tangan dengan beliau. Lima menit setelah jamaah pulang Nila diajak ke rumah istri habib. Benar saja, ternyata habib sudah ada di sana menunggu Nila.
***
Seakan mendapat rizki yang melimpah ruah, Nila yang kini sudah memakai cadar tidak sabar untuk menceritakan hal yang terjadi saat dan setelah pengajian tadi kepada orang tuanya. Dengan berapi-api dia menceritakan semuanya, bahwa ia akan mendapat rizki dimadu oleh seorang ulama’ bernama Habib Turmudzi.
Ibu pun mulai bertanya-tanya dan heran, menyahut kalimat itu dengan muka yang kebingungan. Seperti layaknya orang tua lainnya yang tak ingin anaknya menyesal, berita baik itu ia timpal dengan kalimat, “apa sudah dipikirkan?”.
Tanpa menunggu lama ibu mendapatkan jawaban atas pertanyaan itu dari Nila, “sudah bu, Nila sudah menimbang”. Bapak juga ikut urun pertanyaan dengan menanyakan kapan rencananya lamaran ke sini dan kapan kira-kira ke KUA. Sebagai bapak yang baik, beliau ingin menguruskan surat-surat yang biasa diperlukan seorang bila akan menikah.
“Rencana besok habib akan ke sini, kata Umi Sakdiyah aku nikah siri saja tidak usah ke KUA. Toh dalam Al-qur'an dan As-sunah sudah sah tidak perlu ke KUA”. Bapak pun termenung dengan jawaban itu. Ruang keluarga dengan lima kursi dan satu meja tersebut seakan hening sejenak sebelum terdengar suara sruput kopi Bapak dan berkata, “Bapak tidak rela bila kamu di nikah secara siri, nanti anakmu tidak diakui habib itu bagaimana? Atau kamu tiba-tiba dicerainya begitu saja?”. Keheningan tersebut seakan pecah dengan tangisan Nila.

* Cerita selanjutnya bisa klik di sini

0 comments:

Post a Comment