Beberapa hari ini saya tidak mengikuti pengajian yang diselenggarakan di
masjid dekat rumah, dikarenakan masjid ini lebih lambat saat adzannya dari pada
masjid lainnya. Jadi seperti yang saya ceritakan dalam blog sebelumnya, masjid
di dekat rumah ini setiap hari akan menyediakan makanan untuk berbuka puasa,
sehingga setiap harinya pasti ada pengajian, disambung dengan ta'jil, sholat
maghrib berjamaah lalu berbuka puasa bersama.
Karena saya termasuk yang meyakini
bahwa ada kesunahan untuk menyegerakan berbuka saat berpuasa, maka meskipun
masjid belum adzan dan belum ada yang menyantap kurma sebagai ta'jil, saya
memberanikan diri untuk meminum air dan menyantap kurma. Hasilnya, menuai
banyak komentar dari orang tua di kanan dan kiri saya. Seharusnya menunggu waktu
adzan di masjid, atau menunggu tanda-tanda maghrib yang ada di masjid tersebut,
seperti tabuhan bedug atau kentongan.
Padahal saat saya menyantap ta'jil
tersebut sudah banyak masjid yang mengumandangkan adzan, saya pikir hanya
kesalahan jam masjid saja yang menyebabkan keterlambatan beberapa menit dari
masjid lainnya. Padahal seperti yang saya bilang sebelumnya, ada kesunahan
untuk menyegerakan berbuka. Saya juga mendeskripsikan puasa adalah tidak makan
dan minum dari waktu subuh hingga waktu maghrib. Sedangkan adzan adalah salah
penanda masuknya waktu shubuh dan maghrib, selain adzan kita dapat melihat
matahari langsung (jika mampu dan mempunyai ilmu) atau melihat jam yang sudah
dipublikasikan oleh pihak berwenang.
Nah, masalahnya adalah jam di masjid ternyata
belum mengikuti jam yang sewajarnya. Hal ini coba saya buktikan saat sholat
berjamaah saya mencocokkan jam di ponsel saya dengan jam di masjid. Hasilnya jam di
masjid lebih lambat 3 menit daripada jam di hp saya. Saya meyakini jam di hp
saya juga online, sehingga dapat disamakan dengan jam di semua hp di indonesia
bagian barat.
Karena hal ini juga saya serba salah,
jika saya mengkritik takmir masjid akan berisiko sebagai pendatang yang julid,
namun jika saya tidak melakukan kritik maka saya harus mengikuti mereka yang
berbuka lebih lambat 3 menit. Alhasil saya tidak mengikuti kegiatan buka
bersama di masjid dan memilih untuk berjamaah saat isya' sekaligus sholat
terawih.
Mungkin bagi pembaca yang kebetulan ta'mir masjid dapat melakukan kalibrasi waktu yang ada di masjid, yang dikalibrasi bukan hanya waktu adzan saja tapi juga jam yang berjalan di masjid. Karena memang biasanya jam digital yang biasa kita lihat di masjid waktu adzannya akan menyesuaikan dengan jadwal yang kerap maju dan mundur seperti di bagian bawah kalender. Namun yang tidak kita sadari adalah jam yang berjalan juga perlu dilakukan kalibrasi.
Hal termudah dalam mencocokkan waktu adalah berpatokan dengan jam di ponsel/jam smartwatch yang online. Atau kalau ingin lebih akurat lagi dapat menggunakan website jam bmkg. Dari kalibrasi tersebut dapat dilakukan koreksi yang sekiranya perlu untuk dikoreksi, karena memang dalam islam kedisiplinan waktu dalam memang penting. Belum lagi jika waktu shubuh Muhammadiyah lebih lambat 8 menit daripada NU, sehingga jika jam digitalnya yang membuat orang Muhammadiyah harus dilakukan penyesuaian.
Namun apakah melakukan penyesuaian jam juga termasuk perbedaan pendapat seperti halnya penentuan jam Muhammadiyah dan NU? tentu saja tidak, karena Lembaga Falakiyah NU juga menggunakan penyesuaian jam pada postingan Instagramnya berikut ini.

Komentar
Posting Komentar