Di saat Saham turun terus menerus, konsistensi untuk tetap membeli saham mulai banyak diragukan banyak orang. Selain imbal hasil yang kurang menggiurkan dalam masa mendatang, harga saat ini juga semakin hari semakin menurun. Bagi mereka yang mengikuti saran para mentor seperti Ellen May, Gema (dengan Astronaccinya), dan para expert lain yang rajin melakukan prediksi saham, akan mulai kebingungan dengan kondisi saat ini. Semakin lama dipegang, semakin rugi juga. Jangankan untuk membeli, untuk tetap memegang saham yang telah dimiliki saja sudah terasa berat.
Turunnya instrumen investasi akhir-akhir ini memang terbilang cukup mengerikan, mirip dengan masa pandemi, namun kita memiliki kambing hitam saat ini. Yaitu peran pemerintah yang mulai tidak dipercaya oleh investor asing, sehingga investasi yang ada di Indonesia mulai keluar dengan hasil kondisi ekonomi Indonesia mulai menurun.
Bagi saya hal ini cukup berdampak, khususnya pada beberapa instrumen investasi yang saya gadang-gadang dapat digunakan di masa mendatang. Karena ada dua tabungan perencanaan yang saya tempatkan di reksadana saham, jangka waktu penempatannya minimal tiga tahun dengan cara pembelian bertahap (dollar cost average). Meskipun dalam artikel sebelumnya, saya memaparkan mempersempit jangka waktu pembelian, namun pada kenyataannya cara membeli bertahap dengan jangka waktu sempit memiliki banyak kekurangan.
Salah satu kekurangannya adalah soal konsistensi. Sebelumnya saya membeli reksadana sebulan sekali, namun saat terjadi penurunan dan saya menderita kerugian yang cukup besar, sehingga saya mempersempit jangka waktu pembelian menjadi seminggu sekali. Ini merupakan pekerjaan tambahan bagi saya yang susah mengatur waktu pembelian. Sehingga alih-alih mendapat harga yang tepat, saya malah melewatkan waktu pembelian dan uangnya terpakai untuk kebutuhan.
Masalah kedisiplinan ini menjadi tidak mudah, saat uang yang harusnya terkumpul malah tidak terkumpul sama sekali. Sehingga kebutuhan saya di masa mendatang bisa terancam gagal karena kekhawatiran saya akan kerugian. Padahal teorinya jelas, jika harga murah dalam jangka panjang akan kembali ke harga wajar. Namun ada faktor kekhawatiran dan saat membuka bibit terpampang kerugian yang saya derita, sehingga kekhawatiran tersebut semakin menumpuk.
Mungkin saya bisa saja salah dalam menganalisa kondisi saat ini, dengan data reksadana saham yang mayoritas berkinerja buruk dalam setahun terakhir. Dari 31 reksadana yang dimiliki makmur.id hanya ada 5 yang berkinerja positif saat tulisan ini saya buat. bahkan lebih buruk lagi jika kita lihat kinerja dalam tiga tahun terakhir, karena hanya ada 3 reksadana saham yang berkinerja positif.
Bagi saya yang menaruh uangnya di reksadana saham (dan saham), akan cukup khawatir dengan hal ini. Bisa-bisa tabungan perencanaan saya akan tergerus dan gagal mengumpulkan uang saat hari yang telah ditentukan. Selain harganya yang menurun, kelemahan reksadana saham kebanyakan tidak memberikan dividen. Sehingga jika masa bearish seperti saat ini, akan lebih terasa ruginya.
Namun dari beberapa pengalaman saya bersentuhan dengan saham sejak membaca bukunya Ellen May di tahun 2017, kerugian ini tidak akan bertahan lama. Kerugian ini akan dimenangkan oleh mereka yang tetap konsisten dengan strateginya. Kalau seorang trader jelas harus cutloss seketika saat aset turun. Namun bila sedari awal memilih menjadi investor, sebaiknya tetap berinvestasi dengan strategi yang diyakini kebenarannya tanpa harus menoleh kanan ataupun kiri.
Karena menurut teori yang dibuat Nick Maggiulli tentang kerugian untuk memprediksi pasar saham, kita akan tetap akan merugi bila kita memilih-milih waktu yang tepat untuk membeli saham. Karena banyak hal akan berubah seiring pergerakan pasar saham. Yang awalnya bearish akan berubah menjadi bulish, yang dapat kita lakukan hanyalah konsisten dengan apa yang kita yakini dalam jangka panjang. Dalam artikel tersebut sudah dipaparkan bagaimana pasar saham melaluinya.
Terimakasih telah membaca tulisan ini. Saya senang dapat berbagi tentang investasi saya kepada anda, tulisan ini hanya untuk berbagi pengalaman. Tanpa menyindir pihak manapun dan mengajak untuk mengikuti apa yang saya lakukan.

Komentar
Posting Komentar