Coro merupakan bahasa jawa dari kecoak, omong coro bermakna omongan ngelantur tapi dapat dinyatakan jujur. Maka ketenangan serupa apa lagi yang dicari di dunia yang fana ini selain kejujuran. Tulisan berikut merupakan contoh dari omong coro.

Pencarian

Translate

About Me

My photo
Hi, saya pungkas nurrohman yang mencoba dewasa dengan jalan-jalan

Sunday, 4 February 2018

Perburuan Jejak Sang Mayor


Meneruskan perburuan bukti sejarah mengenai Mayor Damar kali ini saya berinisiatif untuk sowan langsung ke penulis sejarah tentang kehidupan Pahlawan ini. Beruntung memiliki teman yang kuliah di jurusan sejarah Univ. Negeri Malang, dari dia saya mendapat beberapa chanel peneliti yang pernah melakukan studi tentang sang Mayor.
Ada dua peneliti semasa ia kuliah di UM yang pernah meneliti jejak sang Mayor. Saya pun berinisiatif untuk menghubungi kedua orang tersebut, hasilnya? Dapat di katakan masih kurang untuk menambah pengetahuan saya. Peneliti pertama hasil penelitiannya amsyong karena data disimpan di komputer dan komputernya rusak, peneliti kedua hanya memberikan laporan penelitiannya saja.
Mungkin sebuah proses pencarian jejak sang Mayor masih belum dapat dikatakan membuahkan hasil di sini. Saya memilih untuk membuka referensi terdahulu. Saat saya berkunjung ke perpustakaan museum Brawijaya.
Voila, saya menemukan nama Drs, Soepratignyo di sebuah laporan pembangunan monumen Mayor Damar yang ada di Dusun Bokor. Setelah mencari alamat beliau via mesin pencari Google, munculah sebuah informasi alamat beliau. Entah benar atau salah saya memilih untuk mengunjungi alamat yang tertulis di informasi tersebut.Sampailah saya di rumah pojokan Jl. Taman Siswa gang 3. Masuklah saya kesana dengan niatan bersilaturahmi dan mencari data. Saat itu saya menemui anak ke tiga dari Drs. Soepratignyo. Dari beliau saya mendapat informasi bahwa tepat 40 hari sebelum saya berkunjung pak Soepratignyo meninggal. Terhembuslah nafas panjang dari hidung saya, seakan ingin melepaskan penyesalan di dalam hati pada waktu itu.
Tapi kabar baiknya anak ketiga dari pak soepratignyo yang bernama pak Suroso menjanjikan untuk mencarikan buku ayahnya yang berjudul Mayor Damar Pahlawan Turen. Dan juga memberikan referensi sejarawan lain yang kerap mengunjungi rumahnya, salah satunya adalah pak Wayan.
Entah ada angin apa pada hari perburuan tersebut, seakan ada jawaban secara langsung dari masalah yang saya temui. Pada saat saya search Pak Wayan muncullah nama dosen sejarah UM yang beralamatkan di Jl. Kesumba.
Benar saja saat saya kunjungi dan menceritakan mendapat referensi dari putra Drs. Soepratignyo beliau sangat welcome terhadap saya. Alhamdulilahnya lagi saya berkunjung pada saat weekend, jadi beliau ada di rumah.
Bertemulah saya dengan pak Wayan Legawa di kediaman beliau yang asri tersebut. Saya mempertanyakan tentang Mayor Damar atau buku yang di tulis oleh pak Soepratignyo. Jawaban yang mengejutkan menelisik masuk ke telinga saya. Beliau bukan peneliti pahlawan lokal, namun saat ini hanya meneliti pahlawan nasional saja.
Dengan lemah lunglai saya menanyakan kenalan beliau untuk melengkapi misteri asal usul kehidupan Mayor Damar, beliau pun memberikan referensi untuk menemui kepala perpustakaan sejarah UM dan kepala jurusan sejarah. Berbekal informasi tersebut saya memilih untuk menyudahi perburuan jejak sang Mayor. Karena tidak memungkinkan juga untuk berkunjung ke kantor pada hari libur.
Hasil perburuan sementara memang masih sedikit, dengan bermodalkan wawancara rasanya perlahan-lahan tabir akan tersingkap.
Mungkin karena hal ini Bung Karno mewanti-wanti untuk tidak melupakan sejarah. Karena nyari datanya sesulit nyari jodoh.

0 comments:

Post a Comment