Coro merupakan bahasa jawa dari kecoak, omong coro bermakna omongan ngelantur tapi dapat dinyatakan jujur. Maka ketenangan serupa apa lagi yang dicari di dunia yang fana ini selain kejujuran. Tulisan berikut merupakan contoh dari omong coro.

Translate

About Me

My photo
Hi, saya pungkas nurrohman yang mencoba dewasa dengan jalan-jalan

Monday, 26 February 2018

Samala Mblo! Bukan Samawa!



Kembali pada saat pelatihan kepenulisan, namun kali ini saya ingin membuat resensi atas sebuah buku dari mbak Via. Sebagai introduksi saya perkenalkan dahulu mbak Via. Dia adalah seorang perempuan yang bertemu saya saat pelatihan kepenulisan sejarah. Sebetulnya masih banyak orang hebat yang mungkin saya akan menceritakannya di chapter selanjutnya.
Tuh mbak Via-nya yang berkerudung kuning

Nah mbak Via ini kebetulan orang Pakisaji dan pensiunan redaktur sebuah media. Dia pernah tergabung dalam sebuah tim ekspedisi untuk mengulik jejak sejarah kerajaan Majapahit di Malang Raya. Tim tersebut menamakan diri -ekspedisi penggalian jejak sejarah- dengan nama Ekspedisi Samala. (Tolong jangan typo, ini Samala Bukan Samawa)
Salah satu page dalam buku Ekspedisi Samala

Samala sendiri berasal dari bahasa sansekerta, yang memiliki arti pemenang. Di buku yang memiliki anak judul “Menguak Kemasyhuran Majapahit dari Jendela Malang Raya” ini memang mengulik lebih dalam berbagai peninggalan sejarah yang ada di Malang Raya. Karena Mapajapahit merupakan kerajaan penguasa nusantara pada jaman tersebut rasanya judul buku ini memang sudah mencerminkan isinya.
Ibarat ketiban durian runtuh saya dapat berkenalan dengan mbak ini, kebayangkan, kita baca buku lalu dapat ngobrol langsung sama penulisnya. Mulai tanya tentang isi tulisan sekaligus metodologi penulisan dan penggalian data yang terkandung dari buku ini. Secara gitu ya, mbak ini saat itu adalah redaktur media, pastilah akan sedikit lebih rumit. Selain harus mengerjakan penggalian data untuk buku, para anggota tim ekspedisi ini juga di bebankan tugas rutin mereka sebagai jurnalis. Tidak terbayang kesibukan mereka pasti akan berlipat ganda saat buku ini ditulis.
Tanda tangan Jaya Suprana
Kembali ke isi buku lagi ya, sebelum ngelantur ke mana-mana. Buku ini secara luas memberikan berbagai pengetahuan tentang arca. Karena dalam satu tim tersebut memang sudah ada seorang arkeolog yang bernama pak Dwi Cahyono. Mulai definisi arca yang ditemukan sampai berujung pada sejarah pembangunan arca dan fakta yang terungkap dari adanya arca tersebut secara luas tertulis dalam buku ini. Pikir saya arca-arca ini akan menjadi bahan yang menarik untuk bahan tulisan saya di web sebelah, ternyata karena sangat minimnya informasi saya mengurungkan untuk rewriting bahan yang melimpah ruah di buku ini.
Terlepas dari hal tersebut, ternyata buku ini berasal dari laporan-laporan jurnalistik yang telah termuat di media tempat tim ekspedisi ini bekerja. Keren ya idenya, setali tiga uang mereka melakukan pekerjaan menulis. Sekali menulis sudah bisa menyelesaikan dua tugas yang mereka emban. Karena penerbitan buku ini sudah sejak 2014 maka untuk kamu yang ingin membaca buku ini rasanya sudah susah untuk mencarinya. Tapi hari gini masih susah? Kayak telepon pintarmu gak ada gugelnya saja.

0 comments:

Post a Comment