Coro merupakan bahasa jawa dari kecoak, omong coro bermakna omongan ngelantur tapi dapat dinyatakan jujur. Maka ketenangan serupa apa lagi yang dicari di dunia yang fana ini selain kejujuran. Tulisan berikut merupakan contoh dari omong coro.

Pencarian

Translate

About Me

My photo
Hi, saya pungkas nurrohman yang mencoba dewasa dengan jalan-jalan

Friday, 30 November 2018

Industri 4.0 Sudah Ada di Kepanjen


Revolusi industri 4.0
Sumber: Medium.com
Akhir-akhir ini mulai ramai buah bibir industri 4.0 yang didengungkan semua disiplin ilmu, mulai dari ilmu komunikasi, ilmu teknik, ilmu sosial, dan serentetan ilmu-ilmu lainnya. Agar bisa dinalar dengan baik saya ingin menjelaskan era industri 4.0 versi saya.
Menurutku 4.0 ini hanya sebatas bantuan internet yang menjadi kabel tak terlihat dari sebuah industri. Kalau secara kasat mata memang tak seramai revolusi industri di Prancis. Karena memang tidak memakai kabel yang kasat mata. Pergolakanpun sebetulnya terjadi tapi sekali lagi tak kasat mata, bukan pergolakan kirim-kiriman santet, teluh, dan jin pemusnah kehidupan. Tapi pergolakan akan sistem dalam sebuah industri.
Contohnya, sistem penjualan. Penjualan yang awalnya door to door atau bila mengiklan pasti melalui koran atau media mainstream. Kini penjualan pasti melalui sosial media, atau malah yang dijual adalah aplikasi sebagai gerbang penjualannya.
Nah baru-baru ini juga Kepanjen mulai diserang era industri 4.0 ini. Meskipun Kepanjen masih belum terlalu ramai seperti Kota Malang yang tiap tahun kebanjiran mahasiswa yang lengket dengan HP, pusat pemerintahan kabupaten Malang ini tetap terkena imbas dari revolusi Industri.
Sekali lagi, imbas tersebut tak kasat mata tapi tetap menggerus, seperti kata pak Rhenald Kasali dalam buku Disruption. Salah satu yang diserang ya tentu omset penjualan. Yang awalnya berjualan secara tradisional laku bahkan laris, kini genap lima tahun revolusi tersebut bergema, perlahan-lahan sepi bahkan bangkrut.
Contoh nyatanya pada pasar Kepanjen. Sebelum sosial media Facebook menjadi tempat berkeluh kesah mbak-mbak muda, pasar yang di malam harinya menjadi wisata kuliner ini ramai. Bahkan ada namanya pasar senggol, karena saking ramainya orang berlalu-lalang sampai-sampai saling bersenggolan.
Saat ini? Ya pasti sepi. Di kota kecil ini sudah ada nasi goreng Gandrung yang bisa dipesan lewat telepon genggam.
Go-food
Sumber: Go-jek.com

Baru beberapa hari yang lalu muncul pula sales Mitra Bukalapak yang menawarkan aplikasi untuk grosiran. Nah ini malah merevolusi lebih jauh.
Betapa tidak? Sebuah aplikasi / dashboard dapat menjadi jawaban atas kebutuhan penjaja toko kecil-kecilan seperti saya. Mulai dari jualan pulsa, pembayaran air, listrik, sampai pada pengiriman barang grosir. Betapa merasa terbantunya pelaku UMKM seperti saya.
Dari pada harus ke pasar dikenakan parkir 2.000 dan juga BBM ini bisa menjadi solusi. Harganya sama sekali tidak ada selisihnya dan gratis ongkir tentunya. Sangat membantu bila enggan untuk menutup toko dan membeli barang-barang yang sudah kosong.
Sebelumnya bisa terbantu dengan adanya sales kanvas, biasanya per produk hanya satu orang. Tapi sales kanvas tersebut juga masih belum terlalu membantu, karena jadwal kunjungannya tak menentu. Bila barang di toko sudah habis sedangkan mereka belum juga datang pasti tetap harus ke toko grosir untuk memenuhi kebutuhan.
Sumber: bukalapak.com
Ini pasti akan tergerus dengan Mitra Bukalapak. Dengan satu aplikasi saja biasanya malam saya mencari kebutuhan yang telah habis besoknya sudah sampai di toko. Tentunya toko grosir juga akan terdampak, bila tidak mau beralih ke industri 4.0. Tetap ada kemudahan di balik mereka yang mulai punah karena tidak mau ikut beradaptasi.

0 comments:

Post a Comment