Coro merupakan bahasa jawa dari kecoak, omong coro bermakna omongan ngelantur tapi dapat dinyatakan jujur. Maka ketenangan serupa apa lagi yang dicari di dunia yang fana ini selain kejujuran. Tulisan berikut merupakan contoh dari omong coro.

Pencarian

Translate

About Me

My photo
Hi, saya pungkas nurrohman yang mencoba dewasa dengan jalan-jalan

Sunday, 27 January 2019

Belajar Beragam(a) di Manokwari


Asimilasi kebudayaan di tanah rantau memang cukup mencengangkan. Seakan menjadi budaya dari percampuran budaya yang terjadi. Salah satunya adalah budaya beribadah.
Asimilasi beragama masjid manokwari
Masjid di Manokwari

Saat awal datang di Manokwari saya merasa tidak ada yang salah. Namun setelah masuk masjid ada tradisi beribadah yang menurut saya unik. Entah ini tradisi beribadah yang salah atau tidak. Karena menurut saya hanya kesunahan saja yang diasimilasikan.
Tumpang tindih cara ibadah yang saya maksud adalah seperti di masjid Sidoarjo. Percampuran antara cara beribadah Muhammadiyah dan NU. Bila di masjid Sidoarjo percampurannya antara konstruksi dan cara beribadahnya saja, lain halnya di Manokwari. Di sini terjadi percampuran ibadah antara kedua ormas islam terbesar di Indonesia itu.
Salah satu contohnya saat sholat jum'at kemarin, saya sempat terperangah dengan cara khutbahnya. Asal tahu saja, NU biasanya jum'atannya awal pasti ada namanya bilal yang mengiringi sholawat saat imam menuju mimbar. Tapi tidak dengan muhammadiyah. Tapi di masjid tempat saya sholat jum'at tidak melakukan hal itu.
Dari sini saya mulai merasa ini mungkin bilalnya berhalangan hadir, karena sebelumnya sudah ada adzan dan setelah khotib naik mimbar sang muadzin melantunkan adzan lagi. Adzan dua kali biasanya sudah sepasang dengan bilal yang mengiringi sholawat. Tapi tidak dengan masjid ini.
Khotib pun tidak membawa tongkat seperti tradisi NU. Malah sang khotib berkhutbah di atas podium khas khotib Muhammadiyah. Dan terjadilah kebingungan yang mendalam saat saya mendengarkan khutbah. Sampai-sampai saya tidak sempat ngantuk saat mendengarkan sang khotib.
Meskipun berdirinya di podium khas Muhammadiyah, saat peralihan khutbah pertama ke khutbah kedua ada sholat dari ta'mir masjid. Dan saat khutbah kedua sang khotib berbahasa arab (mayoritas khotib muhammadiyah saat khutbah kedua dengan bahasa indonesia).
Artikel ini saya buat bukan untuk menyatakan salah kebiasaan yang ada di Masjid ini. Namun untuk memberikan pengetahuan bahwa ada lho hal unik dalam beragama seperti ini. Ya, memang bila artikel ini dibaca kamu yang suka mengkafirkan. Pasti akan menganggap hal ini salah. Tapi bukankah kita sebaiknya melihat hal ini dari sisi asimilasi keberagaman saja?
Bila kamu yang dari jawa menganggap hal ini salah dan kamu hanya menyalahkan dari sana, bukannya malah provokatif ya? Masalah bukannya selesai malah melebar ke mana-mana.
Soalnya bila dikritik dari jauh tanpa ada pertemuan langsung pasti tidak akan bisa melihat dan memetakan jamaah yang hadir. Jelas pemetaan jamaah dan jumlah masjid yang tidak sebanyak di jawa setidaknya akan memberi pengaruh pencarian “jalan tengah” pada cara ibadah. Jelas sudah ada terbentur berkali-kali sebelum menjadi terbentuk “pakem” seperti ini.
Cukup kita menempatkan hal ini berdasarkan keunikannya saja. Jangan merembet ke aqidah ataupun fiqih. Karena saya sebagai penulis artikel sama sekali tidak memiliki kiblat ke sana. Meskipun ini dalam hal beribadah saya hanya menyoroti bahwa ini unik. Bukan benar atau salahnya, melainkan uniknya.

0 comments:

Post a Comment