Coro merupakan bahasa jawa dari kecoak, omong coro bermakna omongan ngelantur tapi dapat dinyatakan jujur. Maka ketenangan serupa apa lagi yang dicari di dunia yang fana ini selain kejujuran. Tulisan berikut merupakan contoh dari omong coro.

Translate

About Me

My photo
Hi, saya pungkas nurrohman yang mencoba dewasa dengan jalan-jalan

Sunday, 7 July 2019

Kopi Untuk Inspirasi atau Gengsi?


Kopi starbuck
Bukan Pungkas Saya
Tiba-tiba dipamerin foto cewek berkerudung megang gelas bertuliskan nama saya. Bukannya takjub, tapi saya pun menjawab dengan judes. "Mungkin itu bukan Pungkas aku kali yang dimaksud". Sang pengirim foto pun bertanya-tanya, mengapa saya dapat menyimpulkan seperti itu. Saya memang berniat bercanda waktu itu. Karena saya tahu ini yang di foto si Dita, seorang kawan di Jakarta yang dulu berkuliah dan memang dia anaknya se-usil itu. Tiba-tiba ngirim foto kayak gitu, pas kuliah tiba-tiba nyepik nggak jelas.
Kembali ke cerita tadi, saat saya balas dengan jawaban seperti itu Mamad kaget. Untuk mengobati rasa penasaran yang membuncah di hati Mamad saya meneruskan dengan perilaku sok go green. "Iya soalnya itu kalo aku gak mungkin pakek sedotan plastik seperti itu". Dan otomatis seisi grup pun berubah yang awalnya grup kawan kuliah, kini berganti grup diskusi terkait keberpihakan lingkungan. Seorang teman lain pun menanyakan, kalau memang go green apa saya bakal membawa tumbler dan meninggalkan gelas plastik?
Dengan singkat saya jawab tidak. Mungkin mereka mendapat celah untuk memperdebatkan kebijakan anti sedotan ini. Tentunya pasti akan aneh sedotan saya tidak memakai tapi malah tetap memakai gelas plastik yang notabene memiliki ukuran lebih besar dari sedotan. Dan saya pun menjawab, bukannya saya tidak akan membawa gelas sendiri ke Starbuck. Tapi saya pasti gak mungkin membungkus kopi dengan harga yang menurut saya mahal. Bayangkan! Satu gelas saya harus membeli dengan harga lima puluh ribu.
Kalau istilah orang di rumah saya, ya kenapa harus dibungkus? Kan harganya mahal. Harga mahal tersebut sudah termasuk jasa bersih-bersih kafe, jasa penyajian di gelas kafe yang tentunya akan dicuci kembali, dan jasa-jasa lain yang bisa diringkas dengan kalimat sewa tempat duduk. Maka dari itu bila hanya segelas harga lima puluh ribu ya mungkin bukan hanya nilai unsur biaya dalam segelas kopi. Tapi juga mempertimbangkan biaya-biaya yang saya sebut di atas. Rasanya sangat tidak adil bila biaya yang sudah diakumulasikan dalam harga yang kita bayar malah tidak kita nikmati.
Mungkin mereka sangat memahami kebiasaan perhitungan rumit tapi pelit ini, jadi jawaban mereka hanya "pungkas come back". Bila bercanda agak serius begini saya jadi ingat saat buka bersama dengan mereka. Saat itu makan di restoran cepat saji, mereka makan satu porsi nasi dengan dua potong ayam. Tapi saya memilih kebalikannya, yaitu dengan satu potong ayam dan dua porsi nasi. Karena memang porsi nasinya sedikit dan harga ayamnya lebih mahal dari nasi. Jadi saya memilih untuk memperbanyak nasi dan menikmati kremes dari tepung krispi ayam yang lebih tebal dari daging ayamnya.
Tapi malah akhir-akhir ini ada sebuah sindiran setiap hari ke Starbuck tapi gaji cuma UMR. Demi gengsi saja mereka melakukan itu. Menurut saya yang minum kopinya sehari dua kali, minum kopi tiap pagi itu bisa membuat lecutan inspirasi. Tapi kalau tiap hari ke Starbuck atau kafe-kafe kekinian, bukannya inspirasi yang keluar melainkan gengsi. Lha bagaimana? Kalian berangkat dari rumah niatnya minum kopi, dari sana beli es kopi yang manisnya udah seperti es kelapa muda. Ditambah lagi pesan snack yang harganya gak karu-karuan mahalnya.
Paitnya kopi tak tergapai malah paitnya merogoh kocek dalam-dalam yang kalian capai. Ujung-ujungnya ya capek, tiap hari begitu terus dengan uang yang tidak sedikit. Hal ini yang bisa membuat merugi dan pastinya akan membuat buntung. Ujung-ujungnya gesek kartu kredit dengan mudah. Untuk sebuah kopi saja harus berhutang, bagaimana akan keluar inspirasi kalau begini. Adanya malah inspirasi akan tertutup pikiran untuk membayar tagihan. Tagihan pasti akan membengkak karena bunga bila salah memperhitungkannya.
Inti dari semua ini hanyalah bagaimana kita menikmati sebuah sajian kopi. Bukan harus ke starbuck atau ke kafe kekinian. Boleh saja sesekali untuk menikmati dan menongkrong di kafe, tapi bukan setiap hari. Atau malah ngopi dengan cara dibungkus, dengan harga semahal itu rasanya kita akan rugi banyak. Saya memang katagihan kopi, tapi saya sangat jarang minum kopi di warung kopi ataupun kafe. Karena racikan setiap orang akan berbeda-beda, lain lagi dengan racikan kopi yang biasa saya minum di pagi dan sore hari.

4 comments:

  1. Wah... jujur aja ya saya kalau soal minum kopi suka manfaatin gratisan suguhan di seminar dll hehe. Kalau lagi di rumah kontrakan ya ngopinya biasa aja beli di warung...

    ReplyDelete
  2. Untung sy doyannya nyusu bukan ngopi. jadi gk kesindir sama tulisan ini. hahahah

    ReplyDelete