Coro merupakan bahasa jawa dari kecoak, omong coro bermakna omongan ngelantur tapi dapat dinyatakan jujur. Maka ketenangan serupa apa lagi yang dicari di dunia yang fana ini selain kejujuran. Tulisan berikut merupakan contoh dari omong coro.

Search This Blog

Translate

About Me

My photo
Hi, saya pungkas nurrohman yang mencoba dewasa dengan jalan-jalan

Friday, 24 April 2020

Kemampuan Dasar yang Hilang


Makan adalah skill mendasar manusia
Makan Adalah Skill Dasar Manusia
Di musim pandemi seperti ini semakin terlihat skill dasar yang seharusnya kita miliki mulai hilang. Terbukti dengan tutupnya toko ada kekhawatiran esok tidak bisa membeli bahan makanan. Tutupnya warung makan berhasil menimbulkan kekhawatiran tidak bisa makan. Dan tutupnya berbagai penyedia kebutuhan dasar kita yang membuat kekhawatiran bagi kita pemilik uang.
Karena selama ini kita sudah dimanjakan dengan kemudahan-kemudahan. Sekali lagi kemudahan tersebut harus kita bayar dengan nominal. Alih-alih kita belajar untuk membangun kemampuan menyediakan kebutuhan dasar manusia (yaitu makan), malah kita membangun kemampuan untuk mendapatkan uang yang ujungnya juga untuk makan.
Akibat paling seram dari semua ini yaitu kita akan kesusahan untuk mendapatkan makan meskipun hidup kita berkelimpahan uang. Kurang lebih seperti saat tulisan ini saya tulis. Banyak orang memiliki uang yang khawatir esok tidak bisa makan. Alhasil kita perlahan tersadarkan oleh cobaan ini, agar kemampuan dasar kita adalah untuk mencari makan. Bukan untuk menumpuk uang dan ujungnya juga susah mencari penyedia pangan.
Sebelum saya diberikan justifikasi yang aneh-aneh saya ingin mengatakan bahwa tulisan ini saya buat bukan untuk anda yang membaca, tapi untuk saya sendiri. Jika kebetulan anda membaca ini dan tersindir, saya memohon maaf sebesar-besarnya. Karena tidak dipungkiri akan muncul komentar, "Lha memang kamu selama ini bagaimana? Begitu juga toh?".
Ya benar, saya saat ini memang masih nyaman dengan berkelindan uang. Masak pun juga masih belum bisa memenuhi kedaulatan yang mestinya menjadi hak lidah saya. Masih sangat sering membeli lauk, atau meminta tolong Budhe sebelah rumah untuk memasakkan. Tapi jika boleh saya sedikit berimajinasi. Jika terus-terusan begini, pasti kita semakin jauh dengan kedaulatan pangan. Jangankan kedaulatan pangan sekelas negara, kedaulatan pangan untuk diri kita sendiri saja kita masih kesusahan.
Angan-angan saya tarik mundur kebelakang, saat masih kecil tentunya generasi 90-an akan ingat dengan game legende "Harvest Moon". Setidaknya kita bisa separuh dari game tersebut dalam mengaplikasikan kedaulatan pangan. Untuk sepenuhnya mengaplikasikan kedaulatan pangan seperti permainan tersebut pasti sangat susah. Karena akan banyak waktu yang dikorbankan untuk mengaplikasikannya secara paripurna.
Jika sedikit-sedikit kita sudah dapat memenuhi kebutuhan dasar kita sendiri, maka meskipun jalur logistik tersendat seperti masa pandemi ini. Kita akan tetap berdaulat atas diri kita sendiri. Tidak perlu khawatir atas alur distribusi, tidak perlu berebut beras di-supplier. Dan hal ini berujung pada penghargaan kita atas sepiring nasi beserta lauk pauknya yang terhidang di jam makan. Bukan hanya penghargaan sebagai objek foto saja, yang berujung jika (sudah) tidak fotogenik kita akan membuang begitu saja. Tapi penghargaan atas terhidangnya makanan tersebut, sehingga tidak ada makanan yang tersisa apalagi terbuang.

0 comments:

Post a Comment