Coro merupakan bahasa jawa dari kecoak, omong coro bermakna omongan ngelantur tapi dapat dinyatakan jujur. Maka ketenangan serupa apa lagi yang dicari di dunia yang fana ini selain kejujuran. Tulisan berikut merupakan contoh dari omong coro.

Search This Blog

Translate

About Me

My photo
Hi, saya pungkas nurrohman yang mencoba dewasa dengan jalan-jalan

Friday, 19 March 2021

TeguKopi Kafe Atau Resto


TeguKopi
Pemandangan dari TeguKopi


Bali memang masih belum kembali namun Bali tetaplah Bali, yang menonjolkan eksotisme dan cita rasa khas tersendiri, seperti halnya sebuah kopi. Kali ini saya mencicipi kedinginan Kintamani. Saya yang biasa kepanasan di Papua ini memasuki pegunungan langsung terasa bergidik bulu kuduk. Hal ini yang menyebabkan saya mengurungkan diri untuk mendaki Gunung Abang. Tapi untungnya saya diajak meminum kopi di kafe dengan pemandangan gunung, jadi tanpa mendaki gunung saya tetap dapat melihat gunung dari ketinggian yang sama.

Awalnya saya diajak berkeliling danau Kintamani, lantas lama-lama saya diajak singgah untuk meminum kopi di TeguKopi. Sebetulnya secara sepihak saya mengatakan kafe yang rumah makan ini menjual panorama, bukan menjual masakan atau minuman. Karena saat berkunjung saya berstatus wisatawan lokal, maka saya memilih untuk memesan kopi pahit saja. Untuk menghangatkan kerongkongan serta lambung di tengah dinginnya Kintamani ini. Memilih kopi biasa karena lagi-lagi saya mencurigai nama kopi yang ditulis di buku menu ini adalah kopi ala-ala. Sehingga untuk merasakan getirnya kopi Kintamani akan kalah dengan rasa green tea serta susu yang notabene menjadi campuran kopi ala-ala di era kiwari.

Tak menunggu beberapa lama, kopi pun tersaji di atas meja makan. Lengkap dengan uap air yang menandakan kopi ini memang diseduh dengan air panas, serta pandangan gunung berapi yang menjadi latar belakang menjadikan sepahit apapun kopi ini tetap layak untuk dinikmati. Mungkin ini opini yang berusaha dibangun oleh sang pemilik TeguKopi. Dengan mengajak pengunjung melihat pemandangan gunung berapi, diharapkan pemandangan yang dilihat dengan mata dapat mempengaruhi lidah. Absurd tapi jenius.

Lain halnya dengan teman saya, yang berusaha mencekoki mulutnya dengan es TeguKopi. Entah ini yang aneh daftar menunya atau sang pemesannya. Di Tengah dinginnya Kintamani ada yang memesan es kopi menurut saya sudah sangat aneh. Sehaus apapun mulut ditengah suhu dingin, pasti tidak menginginkan air es. Kecuali jika kondisi tubuh tak menghendaki berada di kondisi dingin hingga mimisan, ini yang memang harus meminum es. Terlepas dari keanehan itu rupanya teman saya menikmati es kopi yang diklaim sebagai menu andalan kafe ini.

Untuk anda para pembaca yang kebetulan berada di Kintamani saat membaca artikel ini, saya menyarankan untuk mengunjungi kafe sekaligus rumah makan yang bergaya mewah ini. Harga menunya tidak semahal penampilannya, untuk makan dan minum per orang anda hanya merogoh kocek minimal 100 ribu. Makanannya juga beragam, meskipun bergaya eropa saya dapat pastikan tak ada makanan haram di daftar menu. Bagi anda yang enggan mengunjungi restoran dengan menu haram rasanya tempat ini layak untuk dikunjungi.

Pun juga jika anda pengabdi hasil fotografi yang sempurna, juga sangat saya sarankan untuk mengunjungi resto ini. Hanya dengan merogoh kocek di bawah 50 ribu untuk memesan kopi. Anda sudah dapat leluasa untuk mengambil gambar ke arah Gunung Abang. Ternyata Kintamani tidak melulu tentang danau dan desa Trunyan yang tidak mengubur jenazah. Tapi Kintamani juga ada TeguKopi yang siap memanjakan mata anda. Seperti yang saya sitir dalam kalimat pembuka, kafe ini memiliki ketinggian yang pas. Sehingga sudut pengambilan fotonya juga pas. Tempatnya juga cukup luas, sehingga saya dapat menyimpulkan anda akan tetap mendapat tempat duduk dalam kondisi seramai apapun tempat ini. Selamat meminum kopi.


0 comments:

Post a comment