Coro merupakan bahasa jawa dari kecoak, omong coro bermakna omongan ngelantur tapi dapat dinyatakan jujur. Maka ketenangan serupa apa lagi yang dicari di dunia yang fana ini selain kejujuran. Tulisan berikut merupakan contoh dari omong coro.

Search This Blog

Translate

About Me

My photo
Hi, saya pungkas nurrohman yang mencoba dewasa dengan jalan-jalan

Friday, 12 March 2021

Bali yang Sepi


Kondisi Legian yang Sepi


Libur telah tiba, libur telah tiba, hore… hore… horee….. mulai dari hari sabtu kemarin saya mulai jalan ke Bali. Ditengarai otak yang mulai panas dan mental yang sudah mulai ndak sehat, saya memaksakan diri jalan ke Bali. Selama satu minggu agenda di Bali saya habiskan untuk merilis stres yang mulai memuncak. Seperti biasanya saya menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan random dengan motor.

Alasan mendasarnya lebih ke arah saya di Papua tidak bisa jalan-jalan. Selain kontur aspal yang memiliki kemungkinan besar untuk menyebabkan mabuk darat, aspal Papua juga sangat tidak ramah untuk dilalui dengan motor. Bisa dibilang begini karena jalanan Papua banyak polisi tidurnya. Tak terbayang memang membawa motor sejauh 100 km dan di beberapa bagian masih ada polisi tidur. Bisa-bisa malah kecelakaan dikarenakan konsentrasi sudah hilang dan di depan ada polisi tidur.

Maka dalam rangka merilis stres saya melakukan perjalanan ini, mulai dari ke gunung dan pantai sudah saya lalui. Pun juga dengan gaya liburan saya memilih untuk backpackeran alias liburan hemat. Destinasi yang saya tuju adalah rumah-rumah teman sebagai tempat persinggahan. Mengenal orang-orang baru lebih dekat dan menemui teman-teman baru yang selama ini hanya ditemui secara daring. Seperti biasanya ada keseruan tersendiri untuk berinteraksi sembari merilis emosi yang selama ini ada di lingkungan kantor.

Hal baru yang saya temukan selama perjalanan ini adalah bali terlalu sepi. Biasa jika ke Bali melihat banyak bule berjalan-jalan, namun tidak hari ini. Saat liburan ini terlihat jelas pelaku sektor pariwisata sangat terpukul di masa pandemi ini. Bagaimana tidak miris? Melihat parkiran Tanah Lot yang begitu lengang dengan satu atau dua bus. Pasti penghasilan toko-toko yang berjualan pakaian atau oleh-oleh juga mendapat pukulan telak atas kesepian ini.

Tak hanya di Tanah Lot, parkiran Krisna Blangsinga lengkap dengan air terjunnya juga terlihat lengang. Mungkin masih banyak yang takut dan enggan untuk bepergian. Saat ke Legian pun saya terperanjat ketika melihat banyak toko dan warung yang biasa memutar musik jedag jedug tutup. Spa yang biasa dihiasi dengan ibu-ibu yang menawarkan paket pijatnya pun kini juga terlihat sepi. Pantai kuta yang biasa berhias bule yang sedang berjemur dengan setengah bugil pun juga terlihat lengang.

Seakan diketuk oleh yang maha pencipta untuk merasakan tidak adanya kerjaan. Saya spontan merasa miris dan sedih saat melihat mereka tidak ada kerjaan. Mereka yang biasa kerja kini tidak memiliki pekerjaan, sedangkan saya yang sudah memiliki pekerjaan malah kepikiran untuk mundur dan merasa tidak cocok dengan pekerjaan yang saat ini sudah ada. Tuhan saat ini memang benar-benar menampar saya dengan kenyataan.

Mungkin ini dapat dikatakan kunjungan religi yang berbuah singkapan faedah dari sang maha pencipta. Untuk merubah pola pikir saya, agar senantiasa bersyukur karena ada pekerjaan. Saat ini memang tidak dapat dipungkiri setiap ada pekerjaan alih-alih saya bersyukur, malah saya mengerjakan dengan berbalut keluhan di sana sini. Sembari menikmati sunset di pantai uluwatu yang sedang sepi pengunjung ini, saya berdoa agar segera pulih dunia usaha. Pun juga segera pulih nalar dan mental saya yang senantiasa menuntut hak hingga lupa ada tanggung jawab.

0 comments:

Post a comment