Berhenti di SBN


Beberapa hari ini di twitter/x ramai tentang investasi di sukuk atau surat berharga negara. Gara-gara Raditya Dika di podkesnya kerap viral mengenai ungkapannya tentang surat utang negara. Saat tamunya bercerita mengenai kos-kosan ia tanya yieldnya berapa, yang membuat warganet geram adalah ketika tamunya yang sudah investasi besar untuk membangun kos-kosan tidak tahu yield itu apa. Berlanjut pada videonya saat diundang bibit, ia berbicara standar investasinya saat ini mulai tinggi, karena bare minimumnya investasi ia memakai surat berharga negara. Setidaknya dua video ini yang membuat titik viral surat utang negara yang diterbitkan oleh kemenkeu.

Sebagai gambaran, surat berharga negara seperti Sukuk dan ORI secara yield memang lebih tinggi dari deposito, namun jangka waktunya lebih lama dari deposito dan risikonya dapat dipastikan lebih aman dari deposito. Seperti yang saya ulas dalam artikel tentang SUN. Sebagai gambaran saat ini telah diterbitkan SR024 yang menjanjikan imbal hasil yang terendah adalah 5,5% per tahun. Sedangkan BI rate sebagai gambaran bunga deposito adalah 4,75% per tahun. Sehingga selisihnya ini akan mengambang dengan rumus BI rate + 75 bps. Sehingga jika BI rate naik, imbal hasil tersebut akan ikut naik. Namun saat BI rate turun imbal hasil tersebut tidak akan lebih rendah dari nilai saat ini. (referensi:Bareksa). Maka dari itu Raditya Dika memilih bare minimum dalam investasinya adalah instrumen tersebut.

Terlepas dari imbal investasinya yang tinggi, saya sejak tahun 2026 ini mencoba memikirkan lebih dalam mengenai keputusan saya dalam berinvestasi. Mengingaat di tahun ini pula investasi saya sudah jatuh tempo dan akan kembali menjadi uang. Yang butuh direnungkan adalah, apakah akan melakukan investasi di instrumen yang sama atau dijadikan instrumen lainnya?

Dalam perenungan tersebut saya melihat betapa kacaunya pemerintah saat ini. Dengan program makanan bergizi yang kerap menuai konflik karena beracun dan SPPG yang sewenang-wenang, hingga program koperasi merah putih yang sama sekali tidak mematuhi asas koperasi. Segala sumberdaya digelontorkan untuk kedua program prioritas tersebut, ditambah dengan keputusan presiden untuk bergabung dengan Board of Piece dan membayar sejumlah uang untuk gabung. Maka dari itu saya mulai penasaran, selama ini uang saya digunakan untuk apa?

Maka saya mulai berselancar di internet dengan memasukkan kata kunci Green Sukuk. Kebetulan instrumen yang saya miliki adalah ST012 dan ST013 yang termasuk sebagai Green Sukuk. Alhasil muncullah laporan penggunaan dananya secara rinci di website DJPPR. Sejauh yang saya baca, penggunaannya tidak ada yang janggal. Namun laporan ini memuat laporan ST012 dan ST013, saya pun penasaran. Bukannya selama ini pemerintah menerbitkan sukuk hampir sebulan sekali ya? mana laporan yang lain?

Mengingat saya membeli sukuk ini sejak tahun 2024 dengan tenor 2 tahun dan satu lagi memiliki tenor 4 tahun. Sehingga sepanjang tahun 2025 harusnya ada laporannya. Namun dalam laporan green sukuk tersebut tidak ada instrumen lain. Maka saya menanyakan hal ini ke admin DJPPR di twitter. Berikut jawabannya.

Dengan jawaban seperti itu, artinya uang yang saya pinjamkan ke negara nantinya akan masuk ke APBN dan menjadi program yang sudah saya sebutkan di atas. Saya jelas tidak setuju. Bayangkan, siapa yang akan ikhlas, bila kita meminjamkan sejumlah uang ke negara lalu dibelikan truk koperasi merah putih yang operasi bisnisnya hingga saat ini masih belum jelas. Lantas buat apa truk merah putih yang berasal dari India tersebut. Dan sialnya jika saya menginvestasikan ulang uang saya yang sekarang cair ke surat berharga negara, maka mereka ugal-ugalan seperti itu menggunakan uang saya.

Betapa bodohnya saya bila itu saya lakukan, maka sejak saat ini saya memilih untuk menggeser uang tersebut ke instrumen lain. Entah saham atau emas, karena tabungan emas saya beberapa tahun belakangan ini banyak yang terpakai untuk kebutuhan yang mendesak. Pun juga saham, beberapa tahun ini terpakai untuk kebutuhan yang cukup mendesak. 

Dan pada akhirnya, menurut saya investasi tidak melulu tentang imbal hasil yang kita dapat. Namun tentang seberapa bermanfaatnya uang kita untuk orang lain dan dapat menghidupi nilai-nilai yang kita perjuangkan.

Terimakasih telah membaca tulisan curhatan ini, semoga bermanfaat!

Tulisan ini dibuat bukan untuk mengajak untuk tidak berinvestasi ke surat utang negara, namun sekedar menyatakan pandangan saya terhadap pemerintah sebagai penerima uang investasi.

Komentar