Coro merupakan bahasa jawa dari kecoak, omong coro bermakna omongan ngelantur tapi dapat dinyatakan jujur. Maka ketenangan serupa apa lagi yang dicari di dunia yang fana ini selain kejujuran. Tulisan berikut merupakan contoh dari omong coro.

Search This Blog

Translate

About Me

My photo
Hi, saya pungkas nurrohman yang mencoba dewasa dengan jalan-jalan

Friday, 19 February 2021

Sampai Lupa Jumat


 Seminggu ini tak hanya penghematan yang saya lakukan, tapi juga kesibukan yang tidak henti-hentinya. Genap satu minggu ini emosi diajak naik turun memacu adrenalin. Sampai pada ujungnya saya lupa setor tulisan di sini, alasannya memang terkesan mengada-ada tapi ini nyata, saya lupa kalau hari ini hari jumat. Baru tersadar kalau ini hari jumat tepat setengah jam sebelum sholat jumat dimulai. Memang sedikit ugal-ugalan.

Seminggu ini kesibukan saya sebetulnya karena awalnya nganggur saja, lantas nekat ikut kompetisi di wikidata, untuk mencatat data demi data terkait kuliner khas indonesia. Kompetisi ini berlangsung mulai hari minggu kemarin hingga hari rabu. Pas hari rabu admin wikimedia mengumumkan di telegram, bahwa diperpanjang hingga minggu besok. Kompetisi pun semakin panjang dan saya yang tidak terbiasa mengerjakan banyak pekerjaan sekaligus otomatis bingung. Berujung ambyar sekaligus buyar. Tapi untuk kesibukan wikidata ini alhamdulilahnya masih rutin melakukan kontribusi setiap hari.

Kesibukan kedua, jelas nyusun laporan keuangan tahunan belum diaudit. Kerjaan yang hanya pengulangan tahun ke tahun ini sebetulnya mudah, jika yang diulang adalah hal yang sama. Nah masalahnya ini saya mencoba aplikasi penyusun laporan keuangan yang baru. Aplikasinya dari excel yang dibuat kementerian keuangan, memang tidak ada kewajiban untuk menyusun dengan aplikasi itu. Tapi jika tidak belajar sejak dini, nanti tiba-tiba kalau ada kewajiban untuk menyusun takutnya kaget dan gak siap. Maka dari itu saya memilih perlahan learning by doing. Tapi tenggat waktu tentunya tidak akan mau memahami.

Apalagi Jakarta, tetap ada sedikit kekesalan dengan orang ibukota. Terhitung per tulisan ini saya buat, pukul 23.00, sudah ada puluhan telepon masuk dan chat berisi tagihan pekerjaan yang dibungkus dengan kalimat sopan tapi menekan. Padahal pekerjaan ini juga bukan tanggung jawab saya, masih ada sub koordinator yang jarang masuk kantor dan pegawai yang siang tadi saya lihat juga sudah mulai mengerjakan lampiran yang diminta. Selalu ada kekesalan tertumpuk memang saat menyusun laporan akhir tahun, mungkin kekesalan ini seperti tahun lalu, yang akan selesai saat audit BPK terlaksana.

Kesibukan ketiga ini bersifat insidentil, tiba-tiba kemarin ditelepon oleh mas Angling seorang dosen teknik dan kebetulan rumahnya juga satu komplek dengan saya. Beliau meminta tolong untuk menyusun sebuah rincian kerja khas pemerintah daerah. Hari rabu saya ditelepon disuruh menemuinya di fakultas. Saya kira hanya seperti sebelumnya, yang diminta untuk memberikan paparan terkait pajak. Ternyata perkiraan saya meleset jauh. Beliau meminta tolong untuk memasukkan anggaran ke format rencana kerja anggaran pemerintah daerah. Karena ada sedikit kecurigaan (yang terlalu vulgar untuk dijelaskan) saya hanya mengerjakan untuk satu proyek saja. Selanjutnya hari kamis kemarin saya menolak untuk mengerjakan pekerjaan selanjutnya.

Jika dipikir-pikir ternyata pekerjaan pns ini lebih kearah menguras emosi daripada menguras tenaga. Dan juga saya bersyukur menolak pekerjaan yang ketiga. Jika pekerjaan ketiga saya ambil juga kira-kira malah lebih semrawut lagi. Kadar stres semakin naik seperti elektabilitas partai.

Ternyata tidak mudah untuk menulis secara rutin, meskipun seminggu sekali. Baru saya mulai awal 2021 sebagai bagian dari perubahan hidup. Eh malah hampir tidak setor untuk minggu ini. Ya semoga tetap bisa setor seminggu sekali lah, itung-itung sebagai diary saya setelah kesibukan seminggu. Akhir kata saya salut sama pak dahlan iskan yang sukses menulis setiap hari satu artikel di disway. Mengabarkan apa yang terjadi di dunia dengan sudut pandang beliau, tapi juga sesekali menceritakan diary beliau saat tulisan tersebut dibuat.

0 comments:

Post a comment