Coro merupakan bahasa jawa dari kecoak, omong coro bermakna omongan ngelantur tapi dapat dinyatakan jujur. Maka ketenangan serupa apa lagi yang dicari di dunia yang fana ini selain kejujuran. Tulisan berikut merupakan contoh dari omong coro.

Search This Blog

Translate

About Me

My photo
Hi, saya pungkas nurrohman yang mencoba dewasa dengan jalan-jalan
Showing posts with label kehidupan. Show all posts
Showing posts with label kehidupan. Show all posts

Friday, 7 September 2018

Belajar Hidup dengan Rp.50.000


Pict by : Irene Radjiman

Mbah Jum adalah manusia buta yang dengan ikhlas mengamalkan amalan sunah dengan istiqomah. Saat sholat jum’at kemarin saya mendengar cerita ini, diceritakan langsung oleh khatib dan diperdengarkan oleh banyak orang di Masjid Baiturrahman, Kepanjen, Malang.
Mbah Jum berprofesi sebagai penjual tempe di pasar. Beliau merawat keempat cucunya sendiri, dengan bermodalkan uang lima puluh ribu perhari beliau sukses memberikan pendidikan agama yang baik. Buktinya dari keempat cucu tersebut semuanya sudah pernah mengkhatamkan Al-quran. Meskipun beliau buta sedari kecil namun amalan-amalan sunah tak pernah ketinggalan.
Setiap harinya durasi jualan tempe beliau hanya dua jam, tak pernah lebih dari dua jam. Menurut cucu terbesarnya yang biasa mengantar beliau ke pasar. Mbah Jum saat menunggu dagangannya pasti bersholawat secara perlahan, disaat pedagang lain menggunjing atau berbicara dengan pedagang lain, Mbah Jum tetap bersholawat.
Cara pelayanan beliau sangat mirip seperti kantin kejujuran. Karena mata beliau tak dapat melihat, setiap pembeli yang datang dipersilahkan untuk membayar sendiri dan mengambil kembaliannya sendiri. Bila dipikir secara logika, pasti si mbah yang menurut khatib berdomisili di Jogja ini akan merugi. Karena faktor kecurangan sangat mudah terjadi.
Saat pulangnya lagi-lagi beliau memilih untuk merugi karena Allah. Ketika hasil penjualannya lebih dari lima puluh ribu pasti akan disumbangkan untuk masjid. Karena modal untuk membuat tempe hanya dua puluh ribu sedangkan harga yang pantas untuk tempe dagangannya hanya senilai lima puluh ribu. Selebihnya pasti rizki yang diberikan tuhan, maka dari itu beliau kembalikan ke rumah tuhan (Baitullah).
Dengan pola pencarian rizki seperti itu Mbah Jum merasakan kedamaian, ketenangan dan keikhlasan dalam menjalani hidup. Sehingga tak ada masalah yang besar bagi beliau, meskipun tak dapat melihat beliau tetap dapat mendidik cucunya dengan baik. Hanya dengan modal lima puluh ribu dari hasil penjualan tempe, tidak lebih.

Monday, 5 March 2018

Berbalas Budi Adalah Keluhuran Budi



Berbalas budi memang sangat wajib bagi kita manusia yang tidak sempurna. Pastilah ada hutang budi yang harus dituntaskan untuk membalas kebaikan. Salah satu kebaikan yang saya balas kemarin adalah ketika saya diundang untuk memberikan materi pada organisasi pencinta alam kampus.
Pada suatu siang saat menjaga toko kelontong tiba-tiba ada telepon WA yang masuk. Ternyata anak-anak minta saya ngomong coro terkait menulis jurnalistik. Imajinasi pun saya tarik mundur ke belakang saat saya didelegasikan oleh “web sebelah” ke SMK Widya Dharma Turen. Tak dapat dipungkiri saya mengenal petinggi “web sebelah” juga dari organisasi tersebut. Betapa tidak sopannya saya jika menolak permohonan untuk mengisi materi.
Sejalan dengan ide dorongan hati tersebut saya menyanggupi permohonan tersebut, meskipun dadakan memintanya, pematerian dilaksanakan pukul setengah 8 malam saya mendapatkan kabar pukul 5 sore. Tapi berhubung saya sudah pernah berbicara di depan forum dengan audiens 70 orang, secara jumawa saya melangkahkan kaki untuk menghadiri pematerian tersebut. Setidaknya saya sudah tahu materi yang akan dan harus disampaikan nantinya.
Namun saat pematerian dibuka feeling saya mengatakan ini audien pasti boring. Apalagi dengan kemasan pematerian forum yang sangat formal, alhasil feeling saya benar. Pematerian yang tidak membuka alur diskusi dua arah akan seperti memberikan air pada gelas yang tertutup. Soalnya gelas yang diharapkan kemasukan air tersebut tertutup oleh keingin tahuan yang dibatasi. Di sisi lain saya tidak membawa materi apapun, selain materi yang muncul secara spontan.
Di akhir pematerian diberikan tantangan untuk para audiens. Tantangan tersebut yaitu mereka disuruh membuat header pada sebuah tulisan. Tema dari header tersebut ditentukan oleh kita. Diberikan waktu sekira lima menit, itupun mereka masih malu-malu untuk membacakan. Ya karena tidak ada jalur mediasi tadi, masih kalah dengan siswa SMK pada forum sebelumnya. Tapi hasilnya lebih bagus audiens kali ini, acungan jempol untuk para penulis pemula ini tak dapat diacuhkan. Header yang mereka buat sudah tergolong ciamik. Pelajaran kedua adalah untuk para kacang agar tidak lupa sama kulitnya, bagaimanapun kita pasti tidak akan seperti sekarang ketika “kulit” tersebut tidak memiliki jasa apapun untuk kehidupan kita.

Wednesday, 4 October 2017

Kecerdasan Dibawah Jembatan Seribu Mahasiswa




Kesububan pinternya para calon sarjana memang tak hanya isapan jempol semata, salah satu buktinya saya kunjungi kemarin. Untuk memburu bahan yang terus menerus habis saya dan beberapa kawan pemburu bahan tulisan menyambangi Mbah Jo. Mbah Jo sendiri adalah salah satu dalang wayang namun bukan wayang kulit. Sore itu saya menuruni bantaran kali metro yang menjadi pemutus UB dan apartemen megah di depannya. Jika disimpulkan rumah Mbah Jo ini tepat di bawah deretan pertokoan seperti Akeno dan deretan fotokopian dan warung-warung di sepanjang Jl. M.T Haryono.

Dengan rumah nyempil seperti itu beliau masih menyempatkan untuk berkarya dan belajar tentang kehidupan. Salah satu produk yang beliau hasilkan yaitu wayang suket. Sore itu kunjungan kami berbalut filosofi kehidupan dan sastra asli jawa. Dengan bermodalkan gawan kopi dan rokok seadanya Mbah Jo ini mulai menyuguhkan pagelaran wayang yang memukau. Di rumah yang tepat dibawah balai RW ini kami berempat dibuat terperangah dengan kemampuannya.
Mbah Jo Ketika Membuat Sekaligus Ndalang
Wayang sebetulnya berawal dari nama ayang-ayang yang berarti bayang-bayang. Maka dari itu jaman dahulu para penonton wayang dari balik geber bukan dari depannya. Jadi yang di lihat bukan warna dan pahatan tokoh-tokoh yang disuguhkan dalang. Melainkan yang dilihat adalah gambaran wayang itu sendiri di selembar geber putih yang di sorot lampu. Sedangkan suket atau rumput sendiri digunakan sebagai media dari wayang yang diproduksi untuk memberikan efek raket yang berarti erat. Entah mengeratkan jalinan silaturahmi yang ada atau mengeratkan berbagai kelas audiens yang menikmati pagelaran tersebut. Sangat sarat akan balutan filosofi memang wayang suket tersebut berasal.
Bagi pembaca yang ingin berdiskusi dengan Mbah Jo atau ingin beliau ndalangpun juga bisa menuju ke rumahnya. Di balik perawakan nyentrik yang ia miliki ada sifat humble, maka jangan sungkan untuk bersalaman dan SKSD (Sok Kenal Sok Dekat) dengan beliau. Tak hanya filosofi tentang kehidupan yang bernuansa norak dan tidak masa kini sama sekali. Mbah Jo ini juga sangat paham atas isu tentang konservasi, dan beliau juga bisa ndalang dengan bahasa inggris. Sangat keren jika kalian punya teman ekspatriat dan mengajak untuk belajar wayang. Selain anda sudah mencoba untuk promosi budaya kepada mereka juga akan memberikan kesan tersendiri bagi kawan kalian.