Coro merupakan bahasa jawa dari kecoak, omong coro bermakna omongan ngelantur tapi dapat dinyatakan jujur. Maka ketenangan serupa apa lagi yang dicari di dunia yang fana ini selain kejujuran. Tulisan berikut merupakan contoh dari omong coro.

Search This Blog

Translate

About Me

My photo
Hi, saya pungkas nurrohman yang mencoba dewasa dengan jalan-jalan

Saturday, 24 April 2021

ASN Harus Punya Dana Darurat


Yang pasti hanya ketetapan tuhan
Penghasilan PNS tidak

Akhir-akhir ini saya merenung tentang keberlangsungan hidup sebagai aparatur sipil negara. Karena setelah saling bercerita tentang profesi satu ini dengan mereka yang berdinas di instansi lain, saya menarik kesimpulan yang sama, yaitu pegawai negeri sipil adalah profesi yang paling cepat terdampak terhadap kebijakan politik. Jika arah politik bergeser sedikit saja, pasti profesi kita paling pertama terkena dampaknya.

Seperti contohnya di tempat saya berdinas, mulai januari kemarin kami belum menerima tunjangan kinerja karena perubahan kementerian. Regulasi kepegawaian yang seharusnya bisa "tembus" di kementerian sebelumnya kini gagal di kementerian sekarang. Sehingga ada sedikit penyesuaian terhadap unsur-unsur yang dapat dijadikan dasar dalam mengeluarkan tunjangan tersebut. Alhasil hingga sampai april kami belum mendapat tunjangan sebagai imbas dari penyesuaian regulasi tersebut.

Yang saya ceritakan di atas merupakan contoh yang termasuk bersih, lain halnya contoh kotor seperti penurunan jabatan karena pimpinan tidak menyukai kita sebagai subjek, dan contoh-contoh kotor lain sebagai dampak dari politik. Alhasil dampak yang diderita pegawai adalah berkurangnya penghasilan. Percaya tidak percaya berkurangnya penghasilan dapat mengganggu psikologi juga. Bisa-bisa kita akan terlilit hutang jika kita tidak siap.

Karena kesiapan orang pastilah beda-beda, jika penghasilan naik tentu semua orang akan siap, lain halnya jika penghasilan turun. Mayoritas pegawai terlilit hutang karena dampak perubahan arah politik di tempatnya bekerja. Ketidak siapan secara finansial membuat aparatur sipil negara enggan dalam mengubah kebiasaan yang biasanya berpenghasilan tinggi. Lagi-lagi di sini saya menyoroti terhadap pola pikir yang mayoritas mengatakan "pegawai negeri itu sudah pasti penghasilannya". Penghasilan jelas sudah pasti tapi nominalnya yang tidak pasti. Nominal yang sudah jelas-jelas pasti adalah gaji. Untuk tunjangan, honor kegiatan dan lain-lain dapat dikatakan naik turun.

Nah dari sini kalau saya boleh menarik kesimpulan terkait perencanaan keuangan, ternyata kita yang sudah dibilang penghasilannya sudah pasti oleh segenap warga negara indonesia ini tetap gak pasti juga. Buktinya bisa saja pergantian pemimpin jabatan kita turun. Atau tidak ada angin, tidak ada hujan tiba-tiba menjadi fungsional yang berdampak pada tunjangan jabatannya hilang. Maka dari itu rasanya tetap harus memiliki dana darurat untuk menjadi pengaman finansial. Mungkin hal ini sudah sering saya sebutkan, dana darurat standar adalah biaya hidup selama 3 bulan.

Jadi selama 3 bulan tersebut kita dapat beradaptasi terhadap penghasilan baru yang lebih rendah. Setidaknya kita mendapatkan waktu lebih untuk beradaptasi tanpa adanya bantuan fiskal berupa hutang dari orang lain. Karena jika kita sudah terpuruk ditambah lagi ada hutang ibarat kata kita sudah jatuh tertimpa bunga bank lagi. Sakitnya tidak hanya di pikiran, tapi juga di kantong karena terkuras.

0 comments:

Post a comment